One Night Stand (Membawa Kehancuran)

One Night Stand (Membawa Kehancuran)
Berusaha Menerima


__ADS_3

Hari itu aku terpaksa harus di rawat di Rumah Sakit, dan aku pun berbohong kepada Ibu. Jika aku menginap di Rumah Neysa, sehingga tidak bisa pulang dan aku bersyukur Ibu mengizinkan.


"Va, jangan melamun terus." Ucap Ega yang semalam menemani ku di Rumah Sakit dan aku pun tersadar dari lamunanku, kemudian tersenyum paksa.


"Cobalah menerima semua ini Va, semoga kelak anak mu akan membawa kebahagiaan untuk mu. Ingat anak ini tidak bersalah, jangan pernah membenci atau pun menghilangkan nya." Nasehat Ega tulus sambil mengelus perut rata ku.


"Mungkin memang ini takdir yang harus aku jalani iya Ga! Aku hanya tidak bisa membayangkan, bagaimana perasaan Ibu saat tau kondisi ku saat ini." Ucap ku sendu.


"Cepat atau lambat Ibu pasti tau Va, tapi aku yakin ko! Ibu pasti memaafkan mu, dan menerima anak ini. Sekarang yang terpenting kamu sehat, agar anak ini juga sehat dan kamu bisa pulang ke Rumah. Biar Ibu kamu ngga khawatir, oke!" Ucap Ega menyemangati ku dan aku pun tersenyum manis.


"Terimakasihnya banyak iya! Kalian memang sahabat terbaik ku, jangan tinggalin aku iya!" Ucap ku dengan mata berkaca-kaca.


"Ngga dong! Masa kita ninggalin kamu! Kita kan udah janji, akan selalu ada saat suka mau pun duka. Jadi jangan pernah berpikir kita akan meninggalkan kamu, karena kondisi kamu ini! Kamu tetap sahabat baik kita." Ucap Ega tulus dan aku pun langsung memeluk nya, namun tiba-tiba ada yang datang.


Ceklek. . .


"Ikh! Kalian pelukan ngga ngajak-ngajak iya?" Ucap Neysa yang pura-pura cemberut, sambil melipat tangannya di dada dan kami pun tertawa melihatnya.


"Malah ketawa lagi! Aku kan juga mau pelukan, kaya Teletubbies." Ucap Neysa yang kemudian menghampiri dan ikut memeluk kami.


Kami pun tertawa bersama, dan mulai bercerita satu sama lain. Juga kami pun sarapan bersama, sambil bersenda gurau. Hingga Dokter datang, dan memperbolehkan aku untuk pulang.


Ternyata semua biaya Rumah Sakit telah di bayar oleh Kak Nathan, kemarin saat aku masuk Rumah Sakit. Kak Nathan membayarkan deposito selama aku di rawat, sebenarnya aku merasa tidak enak. Namun mau bagaimana lagi, aku tidak memiliki uang jika harus membayar Rumah Sakit.


Neysa dan Ega pun mengantarkan ku pulang ke Rumah, sepanjang jalan mereka terus membayangkan saat nanti anak ku lahir. Mereka ingin ikut mengasuh dan menjaga nya, bahkan sudah menyiapkan nama untuk anak ku nanti. Sedangkan aku hanya sesekali tersenyum melihat tingkah mereka.


"Sudah! Jangan bertengkar! Lagian anak ini belum lahir, kalian sudah ribut soal nama." Tegur ku sambil menggelengkan kepala, kemudian mereka tertawa bersama.


"Abisnya udah ngga sabar banget deh! Pengen liat anak kamu!" Ucap Neysa sambil mengelus perut ku dengan lembut.


"Iya bener banget, aku juga ga sabar pengen anak kamu cepet lahir. Pengen aku gendong dan ajakin dia becanda, ah! Pasti lucu banget deh." Ucap Ega sambil membayangkan.

__ADS_1


"Pasti lucu lah! Siapa dulu mommy nya! Mommy Neysa." Ucap Neysa percaya diri.


"Enak aja! Pasti lucu kaya Bunda Ega dong!" Ucap Ega menyela dan aku pun jadi tertawa melihat tingkah mereka.


"Wah anak aku belum lahir aja! Udah punya banyak Ibu nya! Jadi Neysa di panggil Mommy dan Ega di panggil Bunda? Terus aku di panggil apa?" Tanya ku terkekeh.


"EMAK." Ucap mereka berbarengan, kemudian tertawa.


"Masa iya! Aku di panggil Emak!" Ucap ku sambil menepuk kening ku, dan mereka terus tertawa berusaha menghibur ku.


"Pokoknya nanti kalau jadwal check up aku harus ikut! Titik!" Ucap Ega.


"Eh! Aku juga lah pengen ikut! Emang kamu aja yang pengen liat Baby nya? Aku juga dong! Pengen liat dong calon keponakan aku!" Ucap Neysa penuh semangat.


'Andai kamu tau Sya! Kalau anak yang aku kandung, memang benar-benar keponakan kamu.' Ucap ku dalam hati dan tersenyum miris.


"Va. . . Va. . ." Panggil Neysa, sambil menggoyangkan bahu ku dan aku pun tersadar dari lamunanku.


"Eh. . . Iya! Udah nyampe iya! Maaf tadi aku melamun." Ucap ku merasa tidak enak dan mereka pun memandangku sendu.


Tak lama kami pun sampai di Rumah ku, ternyata Ibu sudah menutup warung dan kami pun berjalan menuju Rumah.


"Assalamualaikum." Salam kami berbarengan.


"Wa'alaikum salam, sebentar." Teriak Ibu yang sedang ada di dapur.


Ceklek. . .


"Wah ada tamu dari mana ini?" Ucap Ibu bercanda dan aku pun mencium tangan Ibu, di ikuti yang lain.


"Tamu dari kerajaan sebrang Bu." Ucap Neysa terkekeh.

__ADS_1


"Wah! Ibu harus gelar karpet merah kalau begitu." Kelakar Ibu dan kami pun masuk ke dalam rumah.


"Tunggu sebentar iya! Ibu buatkan minuman dulu, kalian duduk dulu." Ucap Ibu.


"Ngga perlu Bu, nanti kalau haus kita ambil sendiri ko. Ibu tidak usah repot-repot." Ucap Ega.


"Iya Bu, nanti kita ambil sendiri aja." Ucap Neysa.


"Iya sudah kalau begitu, Ibu ke dapur lagi iya! Kalau butuh sesuatu panggil aja Ibu iya." Ucap Ibu kemudian pergi meninggalkan kami.


"Siap Bu." Ucap kami.


"Kita ke kamar ku aja yuk!" Ajak ku dan kami pun masuk ke dalam kamar sempit milik ku.


"Ini obat dan vitamin nya jangan lupa di minum, inget iya kalau ada apa-apa kabarin kita." Ucap Ega, sambil menyimpan obat di atas meja kecil di kamar ku.


"Pokoknya kalau kamu ngidam pengen apa aja kabarin kita iya! Nanti kita cariin apa yg kamu mau." Ucap Neysa, sambil mengelus lengan ku dan aku pun tersenyum.


"Terimakasih iya kalian peduli banget sama aku." Ucap ku sendu.


"Udah iya! Kamu ngga boleh sedih-sedih lagi, ngga baik bumil sedih. Kasian dede bayi nya, nanti ikutan sedih." Ucap Neysa.


"Betul itu! Kasian Dede bayi nya, bumil itu harus happy selalu tau. Inget iya! Jangan pernah berpikir untuk menghilangkan nya, dia sama sekali tidak berdosa." Ucap Ega dengan mata berkaca-kaca.


"Kelak sayangi dia sepenuh hati, karena lebih baik hidup tanpa ayah. Dari pada benar-benar tidak pernah mendapatkan kasih sayang orang tua, seperti aku yang tidak pernah merasakan yang namanya kasih sayang orang tua. Bahkan aku saja tidak tau bagaimana rupanya kedua orang tua ku, padahal ingin sekali aku memeluk mereka 1 kali saja." Ucap Ega dengan berlinangan air mata dan kami pun memeluk nya.


"Jangan sedih, kan ada kita di sini yang sayang sama kamu." Ucap Neysa.


"Kita akan selalu ada untuk kamu dan akan selalu menyayangi kamu! Aku janji ngga akan menghilangkan nya dan akan menyayangi nya sepuh hati aku." Ucap ku yakin.


"Udah-udah ah! Ko jadi nangis gini sih! Inget bumil ga boleh sedih loh! Nanti baby nya mirip aku." Ucap Neysa mencairkan suasana.

__ADS_1


"Bumil? Siapa yang hamil?" Tanya Ibu yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar ku.


Deg.


__ADS_2