
"Assalamualaikum." Ucap ku sambil berjalan masuk ke dalam rumah, dengan jalan yang sedikit berbeda.
"Wa'alaikum salam, Nak." Ucap Ibu sambil menghampiri ku dan aku pun mencium tangan ibu.
'Maafkan anak mu yang kotor ini Bu.' Ucap ku lirih dalam hati, sambil mencium tangan Ibu lama dan kurasakan elusan lembut di rambut ku.
"Kamu sudah makan?" Ucap Ibu lembut sambil mengelus pipi ku.
"Sudah Bu, tadi makan di Rumah Neysa Bu." Ucap ku bohong.
"Iya sudah kamu istirahat dulu sana, Ibu mau ke dapur dulu." Ucap Ibu dengan senyum.
"Iya Bu, aku ganti baju dulu iya Bu. Nanti aku bantuin Ibu, sebentar iya Bu." Ucap ku bergegas berjalan dengan menahan sakit.
"Va, kamu kenapa?" Tanya Ibu khawatir.
"Emangnya aku kenapa Bu?" Ucap ku gugup.
"Jalan kamu kenapa begitu? Kamu kenapa? Ayo cerita sama Ibu." Ucap ibu khawatir.
DEG. . .
'Apa Ibu tau?' Ucap ku dalam hati.
"Apa kamu habis jatuh? Atau kamu habis kecelakaan? Apa jangan-jangan semalam kamu tidak pulang kamu bohong ke Ibu? Kamu bilang menginap lagi di rumah Neysa, taunya kamu kecelakaan? Ayo Nak jawab!" Cecar Ibu dengan berbagai pertanyaan, dan Ibu sambil memeriksa kaki ku hati-hati.
DEG. . .
'Iya Bu, aku bohong! Aku tidak menginap lagi di Rumah Neysa, maafkan aku Bu.' Ucap ku dalam hati.
"Va. . . Eva. . . jawab ibu Nak!" Ucap Ibu sambil menggoyangkan tangan ku, saat aku termenung.
"E-h. . . I-ya Bu." Ucap ku terbata-bata.
"Ayo jawab Ibu apa yang terjadi, Nak? Kita ke Dokter iya!" Ucap Ibu khawatir.
"Aku ngga apa-apa Bu, aku baik-baik aja. Ini cuman terkilir saja Bu, tadi sudah d urut ko. Ibu tenang aja iya." Ucap ku bohong.
"Benar sudah di urut? Pasti sakit sekali, kasian anak Ibu. Ibu buatkan beras kencur iya, biar cepat sembuh kaki kamu. Kamu tunggu sebentar iya Nak." Ucap Ibu penuh khawatir, kemudian berjalan menuju dapur.
__ADS_1
Kulangkah kan kaki menuju kamar, lalu menguncinya. Aku pun terduduk di lantai dengan air mata yang mengalir.
'Maafkan aku Bu, aku berdosa telah membohongi Ibu! Maafkan aku yang sudah kotor ini." Ucap ku menangis.
Tok. . . Tok. . . Tok. . .
"Eva sayang buka Nak, ini sudah Ibu buatkan beras kencurnya. Ayo sini, ibu oleskan. Biar cepat membaik." Ucap Ibu sambil mengetuk pintu.
"Sebentar Bu." Ucap ku langsung ku hapus air mata dan bergegas mengganti pakaian.
Ceklek. . .
"Maaf iya Bu, jadi merepotkan Ibu." Ucap ku merasa tidak enak.
"Kamu ini bicara apa! Sudah ayo sini mana kaki yang sakit?" Ucap Ibu sambil memegang mangkok berisi beras kencur.
Aku pun mengangkat kaki kiri ku, kemudian Ibu menaruh kaki ku di pahanya dan mulai membalurkan dengan beras kencur. Tak terasa air mata ku menetes, aku menyesal telah banyak berbohong kepada Ibu.
'Maafkan aku Bu, aku telah gagal menjaga diri ku sendiri dan telah mengecewakan Ibu!' Ucap ku dalam hati dengan air mata yang mengalir.
"Sakit sekali iya Nak? Atau Ibu memijat nya terlalu keras?" Ucap Ibu yang sedang memijat kaki ku.
"Kenapa harus minta maaf? Kamu kan sedang sakit, itu sampai menangis. Sabar iya sayang, semoga kaki mu cepat pulih." Ucap Ibu mengusap air mata ku dan mengelus rambut ku.
"Iya Bu, aku pasti cepat sembuh. Apalagi sudah di obati oleh ramuan ibu ini." Ucap ku terkekeh.
"Dasar kamu ini! Ramuan apaan? Ini kan cuman beras dan kencur doang, ada-ada saja kamu ini." Ucap Ibu menepuk pundak ku pelan.
"Tapi bener loh Bu, aku pasti langsung sembuh. Percaya deh, besok juga aku sudah sembuh." Ucap ku dengan senyuman dan menurunkan kaki ku.
"Aamiin, semoga saja besok lebih baik iya Nak. Iya sudah sekarang kamu istirahat saja iya, jangan banyak jalan dulu?" Perintah Ibu.
"Ngga mau, aku mau bantuin Ibu. Lagian bosen aku Bu kalau diam saja, boleh iya Bu?" Ucap ku memelas.
"Kamu ini keras kepala sekali, iya sudah boleh! Tapi sambil duduk saja iya sayang." Ucap Ibu penuh sayang.
"Siap komandan." Ucap ku.
Kami pun tertawa bersama dan berjalan menuju dapur, untuk membuat kue jualan kami hari ini.
__ADS_1
Setiap hari kami berjualan di warung yang sengaja di buat di depan halaman kami, kami menjual aneka kue bolu, kue kering, gorengan, dll.
Sehari 2 kali kami berjualan, karena memang banyak pembeli yang menyukai kue buatan Ibu. Pagi-pagi sekali Ibu sudah mulai berjualan, dan saat aku akan berangkat kuliah jualan Ibu sudah habis.
Sedangkan sore hari selepas shalat Ashar kami buka kembali, memang tak lama kami membuka warung. Karena kue yang kami buat juga tidak terlalu banyak, sehingga tak lama pun habis.
"Alhamdulillah sudah siap semua, biar Ibu bawa ke depan iya. Kamu istirahat saja iya, ingat jangan banyak jalan!" Perintah Ibu dan aku hanya tersenyum.
Setelah memastikan Ibu keluar, aku pun membersihkan peralatan yang kami gunakan tadi dan mencucinya. Setelah itu aku pun shalat Ashar terlebih dahulu, agar bisa bergantian dengan Ibu menjaga warung.
"Ini berapa Dek?" Tanya pembeli yang sedang memilih kue-kue kami.
"Yang ini semua 2.000 Pak, kalau yang ini 5.000 dan gorengan itu 1.000. Bapak mau yang mana?" Ucap ku ramah.
"Bapak minta di bungkus masing-masing 3 kue dan gorengannya iya." Ucap pembeli.
"Baik Pak, mohon di tunggu." Ucap ku sambil membungkus pesanan pembeli tersebut.
"Ini Pak, semuanya jadi 90.000 Pak." Ucap ku sambil menyerahkan bungkusan kue.
"Ini Nak." Ucap pembeli sambil menyerahkan uang 100.000 kepada ku.
"Sebentar Pak, kembaliannya." Ucap ku menahan pembeli tadi yang langsung akan pergi.
"Ambil saja kembaliannya." Ucap Pembeli tersebut, kemudian pergi dari warung ku.
"Terimakasih Pak, Alhamdulillah." Ucap syukur ku.
Hingga tak terasa semua kue sudah habis, dan ada sisa beberapa gorengan lagi. Dari kejauhan aku melihat seorang pemulung yang sedang mencari botol bekas di tong sampah, aku pun membungkus sisa gorengan yang belum terjual dan memberikannya kepada pemulung itu.
Setelah semuanya habis, aku pun membersihkan semuanya dan menutup warung dan berjalan masuk ke dalam Rumah. Ternyata Ibu sedang menyiapkan makan malam.
"Sudah habis semua Nak?" Tanya Ibu.
"Alhamdulillah habis Bu, ini uang nya Bu." Ucap ku sambil menyimpan kotak uang di meja makan dan berjalan ke dapur menyimpan box kue yang kotor.
"Iya sudah kamu siap-siap, sebentar lagi magrib. Kita shalat berjamaah iya sayang." Ucap Ibu dengan senyuman manis.
"Iya Bu, sebentar lagi. Ini tanggung sedikit lagi Bu." Ucap ku yang sedang mencuci piring.
__ADS_1
Kami pun shalat dan makan malam bersama, tak lupa kami pun bercerita tentang keseharian kami di luar. Meskipun cerita yang aku sampaikan adalah kebohongan, namun aku berharap Ibu tidak mengetahui nya.