
Lagi dan lagi aku terbangun dengan infus yang berada di tangan ku, namun kini Ruangan yang tampak putih semua. Mungkin aku berada di Rumah Sakit atau Klinik, aku pun tak tau pasti.
Ceklek. . .
"Selamat siang, bagaimana perasaannya Dek?" Tanya seorang Suster ramah.
"Siang Sus, sudah mendingan sus." Ucap ku pelan.
"Syukurlah kalau begitu, mohon tunggu sebentar iya! Dokter sebentar lagi akan datang untuk memeriksa keadaan kamu." Ucap Suster, sambil menulis sesuatu di bukunya dan melihat keadaan ku.
"Iya Sus." Ucap ku pelan.
Tak lama Dokter datang, dan memeriksa keadaan ku.
"Tekanan darah kamu masih rendah! Jangan terlalu banyak pikiran, istirahat yang cukup dan makan, makanan yang sehat. Besok juga kamu sudah bisa pulang, jika tekanan darah kamu sudah normal." Ucap Dokter menjelaskan
"Tapi saya sudah enakan Dok, boleh tidak saya pulang sekarang? Saya mohon Dok, saya harus pulang. Saya tidak bisa di rawat lama-lama Dok, saya mohon iya dok!" Ucap ku memohon agar dapat segera pulang.
"Tidak bisa, tubuh kamu masih lemah. Lebih baik kamu istirahat saja di sini iya! Kalau begitu saya permisi." Ucap Dokter yang kemudian keluar Ruangan, sedangkan aku menghembuskan nafas kasar.
"Apa yang harus aku lakukan? Agar segera keluar dari sini! Ibu pasti khawatir sekali." Gumam ku bingung.
Ceklek. . .
"Selamat siang, mohon maaf mengganggu. Saya ingin mengantarkan ini." Ucap Suster sambil menyimpan bungkusan itu di nakas samping ranjang pasien ku.
"Siang Sus, itu apa iya? Saya tidak pesan apa-apa." Ucap ku bingung.
"Tadi ada seorang laki-laki yang menitipkan kepada saya, dan saya di minta untuk menyampaikan saja. Dia berkata, di dalam nya ada identitas laki-laki itu." Ucap Suster menceritakan.
"Iya sudah terimakasih banyak iya Sus, maaf jadi merepotkan Suster." Ucap ku merasa tidak enak.
"Tidak merepotkan, kebetulan saya sudah selesai jaga. Kalau begitu saya permisi dulu " Ucap Suster pamit pulang.
__ADS_1
"Iya Sus, terimakasih." Ucap ku, tak lama setelah Suster keluar, aku mencoba bangkit dan membuka bungkusan itu.
Di dalam nya berisi bubur, salad dan susu kemasan. Aku pun menyimpan makanan itu, dan mulai mencari tau dari siapa makanan ini. Akhirnya aku menemukanmu sebuah surat, dan mulai ku baca.
_______
Eva
Maaf saya tidak bisa menemui mu secara langsung dan mengucapkan permohonan maaf saya, atas apa yang terjadi malam itu.
Saya benar-benar menyesal, tidak seharusnya saya melampiaskan semuanya kepada kamu. Yang tidak tau apa-apa, saya benar-benar tidak sadar melakukan itu.
Saat itu saya mabuk berat, sekali lagi saya mohon maafkan saya. Dan tolong berikan saya kesempatan, saya ingin bertanggung jawab atas apa yang sudah saya lakukan kepada mu.
Beberapa kali saya mencoba untuk berbicara kepada kamu, namun kamu menolak. Bahkan kamu pingsan, saat melihat saya. Dokter mengatakan kamu mengalami trauma yang berat, dan saya harus menjauhkan hal-hal yang membuat trauma kamu kambuh. Karena itu saya tidak bisa menemui kamu saat ini.
Makan lah dan segera sehat, saya sudah menjadwalkan psikiater untuk kamu. Saya harap kamu tidak menolaknya, setelah kamu merasa lebih baik. Kita akan berbicara, dan mencari jalan yang terbaik untuk ke depannya.
Nathan
Seketika air mataku mengalir kembali, bayangan malam kelam itu kembali menghantui ku. Aku terisak, memegang lutut ku dengan badan yang bergetar menahan tangis.
Menyesal?
Semuanya sudah terlambat, tak ada yang bisa di perbaiki dan tak ada yang perlu di bicarakan kembali. Aku harus segera bangkit dan mengakhiri semua ini, jangan sampai ada yang mengetahui hal ini.
Aku harus kuat!
Aku harus bisa!
Demi Ibu!
Ku hapus air mata ku dan ku tatap makanan yang ada di depan ku, perlahan ku buka dan aku memakannya. Aku memerlukan tenaga yang banyak, untuk menghadapi hari esok yang lebih berat dari sebelumnya.
__ADS_1
Setelah selesai, aku pun berusaha bangun dan mengganti pakaian ku yang diletakkan di dekat tas milik ku dengan susah payah. Setelah selesai, aku pun keluar dari Ruangan mencari Suster.
"Sus." Panggil ku.
"Loh! Kenapa keluar kamar? Jika perlu sesuatu, tinggal pencet bel di samping ranjang." Ucap Suster menjelaskan.
"Sus, bisa minta tolong infusnya di buka!" Ucap ku pelan, sambil mengangkat tangan ku yang terpasang infus.
"Memangnya kenapa? Apa tangannya sakit? Atau bengkak?" Tanya Suster sambil memeriksa tangan ku.
"Saya ingin pulang Sus." Ucap ku yang mengalihkan pembicaraan.
"Begini saja iya, kita kembali ke Ruang Rawat kamu dulu iya! Nanti saya panggilkan Dokter., Ca tolong kamu panggilkan Dokter jaga." Ucap Suster kepada rekannya sambil menuntun ku kembali ke Ruang Rawat dan aku pun hanya pasrah menuruti nya.
"Badan masih lemas seperti ini, kenapa ingin pulang? Lebih baik tunggu hingga membaik, nanti kalau tiba-tiba semakin parah bagaimana?" Ucap Suster tersebut menasehati ku.
"Saya harus kembali Sus, Ibu pasti khawatir. Saya tidak ingin membuat Ibu khawatir, saya mohon biarkan saya pulang." ucap ku memohon.
"Tapi kondisi kamu saat ini masih lemas, bagaiman jika nanti kamu pulang dan kembali pingsan? Ibu kamu akan lebih khawatir." Ucap Suster.
"Saya mohon sus, bantu saya agar bisa segera pulang." Ucap ku.
"Sudah kamu istirahat dulu, biar Dokter nanti yang memutuskan. Ayo pelan-pelan naiknya." Ucap Suster sambil membantu ku berbaring.
"Sebentar iya, nanti saya kembali lagi." Ucap Suster ramah dan aku hanya mengangguk.
Tak lama suster datang, dengan membawa infus yang berbeda.
"Saat ini Dokter jaga sedang sibuk di UGD! Kalau kamu mau pulang boleh saja, cuman setelah habis 1 labu lagi dan sudah tidak lemas. Maka kamu boleh pulang, nanti Dokter akan datang untuk memeriksa kamu setelah pasien UGD selesai." Ucap Suster, sambil mengganti infus ku.
"Terimakasih banyak iya sus." Ucap ku.
"Sama-sama, iya sudah sekarang kamu istirahat dulu. Saya permisi iya!" Ucap Suster kemudian keluar dari ruang rawat ku.
__ADS_1
Tak lama aku pun tertidur, ntah berapa lama aku tertidur. Saat aku terbangun hari mulai malam dan tak lama Dokter jaga pun datang untuk memeriksa ku dan memperbolehkan aku pulang, karena keadaan ku mulai membaik.
Aku bersyukur ternyata biaya Rumah Sakit telah di bayar oleh Kak Nathan, dan aku hanya perlu mengambil obat. Setelah itu aku pun pulang, dan bersikap biasa saja di depan Ibu.