One Night Stand (Membawa Kehancuran)

One Night Stand (Membawa Kehancuran)
Tanpa Sengaja


__ADS_3

Kak Nathan membersihkan noda saus di baju ku, tepat di perutku dan tanpa sadar dia mengelus perut ku. Aku pun membeku, dengan perlakuan nya itu.


"Maaf! Tadi ada saus di baju kamu." Ucap Kak Nathan dan aku hanya mengangguk.


"Terimakasih banyak Kak sudah mengantar aku pulang dan memberikan mie ayam ini!" Ucap ku tulus.


"Sama-sama, lain kali jangan keluar malam!" Ucap Kak Nathan.


"Iya Kak, kalau begitu aku masuk dulu. Assalamualaikum." Ucap ku pamit.


"Wa'alaikum salam." Jawab nya dan aku pun menutup pintu mobil dan berjalan masuk ke dalam rumah dengan mengendap-endap kembali.


Aku pun membaringkan badan ku dan mengelus perutku.


"Kamu senang sayang? Kita bisa ketemu ayah dan makan mie ayam, bahkan tanpa sadar ayah mengelus kamu Nak!" Ucap ku tersenyum sambil membayangkan kejadian yang baru saja terjadi, hingga tanpa sadar aku pun tertidur nyenyak sekali.


Pagi hari pun tiba, aku terbangun dengan badan yang segar. Betapa terkejutnya aku pagi ini sama sekali tidak merasakan mual atau pun ingin muntah, bahkan nafsu makan ku pun bertambah dan membuat Ibu senang.


"Bu hari ini aku ijin keluar boleh? Ega dan Neysa meminta bantuan untuk skripsi mereka Bu." Ucap ku sambil memakan nasi goreng kunyit untuk ke dua kali nya pagi ini.


"Iya boleh! Kamu pergi saja Nak! Kelihatannya kamu hari ini bahagia sekali? Pasti karena mau bertemu dengan sahabat-sahabat kamu?" Ucap Ibu.


"Kaya nya begitu Bu, hehe. . ." Ucap ku sambil terkekeh.


"Makanya kamu jangan bantuin Ibu terus di warung! Kamu harus menikmati masa muda kamu Nak." Ucap Ibu sambil tersenyum hangat.


"Aku lebih suka bantuin Ibu dari pada pergi-pergi ngga jelas." Ucap ku.


"Kamu ini! Eh itu seperti ada suara mobil berhenti! Apa Neysa menjemput kamu Nak?" Tanya Ibu.


"Ngga ko Bu! Kita janjian di kampus, mungkin hanya numpang parkir saja Bu." Ucap ku.


"Sepertinya begitu." Ucap Ibu, namun tak lama kami pun saling pandang saat mendengar salam seorang laki-laki dari luar.


"Assalamualaikum." Ucap nya.


"Siapa itu Bu?" Tanya ku heran.


"Ibu juga tidak tahu, ayo kita lihat." Ucap Ibu dan kami pun beranjak keluar, maklum rumah kami kecil sehingga suara dari luar pun terdengar hingga ke dalam rumah.


"Wa'alaikum salam, iya ampun Nak Nathan! Ibu kira siapa?" Ucap Ibu dan membukakan pintu.

__ADS_1


"Bu maaf mengganggu pagi-pagi, apa kue nya sudah ada iya?" Tanya nya.


"Ada Nak! Mari kita masuk dulu, kebetulan Ibu lagi sarapan. Kamu ikut sarapan dulu iya! Nanti Ibu bungkusan pesanan mu." Ucap Ibu sambil mengajak Kak Nathan untuk sarapan bersama.


"Boleh Bu! Kebetulan saya belum sarapan." Ucap Kak Nathan tanpa malu, berbeda sekali sikap nya saat bersama ku.


"Aku sini duduk! Ini makanan kesukaan putri Ibu ini! Tapi maaf iya cuman seadanya, semoga kamu suka iya Nak!" Ucap Ibu sambil mengambil kan makanan ke dalam piring Kak Nathan, sedangkan aku hanya diam di dekat pintu melihat interaksi mereka.


"Va! Kamu ko malah diam di situ? Sini dong! Temani Nak Nathan dulu! Ibu mau menyiapkan kue untuk Nak Nathan." Ucap Ibu dan aku pun berjalan perlahan menuju meja makan.


"Iya Bu." Ucap ku dan duduk dengan gugup di samping Kak Nathan yang asik dengan makanannya.


Aku pun terbengong melihat betapa lahap nya Kak Nathan makan Nasi goreng kunyit buatan Ibu hingga habis tak tersisa.


"Ngapain kamu bengong? Kamu udah kenyang kan? Sini untuk saya saja!" Ucap Kak Nathan yang langsung mengambil nasi yang ada di piring ku.


"Ta-ta-pi." Ucap ku terbata-bata.


"Kenapa? Ngga ikhlas? Anggap saja ini bayaran mie ayam semalam!" Ucap nya ketus dan aku pun langsung membelalakkan mata terkejut dengan ucapan nya.


"Jadi Kakak ngga ikhlas ngasih mie ayam semalem? Kalau ngga ikhlas kenapa di berikan ke aku?" Tanya ku ketus.


"Terpaksa." Ucap nya dan tak lama terdengar bunyi sendawa Kak Nathan, lagi-lagi aku pun terkejut.


"Terimakasih banyak iya Bu! Nasi goreng nya enak banget Bu, boleh tidak saya pesan nasi goreng seperti ini setiap hari?" Tanya Kak Nathan.


"Tentu boleh Nak! Kamu bisa ke sini setiap hari dan sarapan bersama kami." Ucap Ibu.


"Baik Bu, besok saya akan kembali ke sini. Kalau begitu saya permisi, dan ini uangnya Bu." Ucap Kak Nathan sambil menyerahkan uang kepada Ibu.


"Aduh ini ke banyakan Nak! Sebentar Ibu ambil kembaliannya dulu." Ucap ibu, namun di halangi oleh Kak Nathan.


"Tidak usah Bu, untuk ibu kembaliannya." Ucap Kak Nathan ramah.


"Kamu ini kebiasaan! Terimakasih banyak iya Nak! Semoga rezeki kamu semakin berlipat ganda." Ucap ibu sambil mendoakan.


"Aamiin, kalau begitu saya permisi. Assalamualaikum." Ucap Kak Nathan kemudian meninggalkan rumah.


"Wa'alaikum salam, hati-hati Nak!" Ucap Ibu.


"Eva. . . Eva. . ." Panggil Ibu yang menyadarkan aku dari lamunan ku.

__ADS_1


"Eh iya Bu!" Ucap ku.


"Kamu benar-benar butuh refreshing Nak! Sudah sana pergi dengan teman-teman kamu, biar tidak melamun terus." Ucap Ibu sambil membereskan meja makan.


"Sini Bu, biar aku aja!" Ucap ku ingin mengambil alih piring di tangan ibu.


"Tidak usah! Sudah sana kamu pergi, hati-hati di jalannya iya." Ucap Ibu, kemudian berlalu menuju dapur.


"Lah! Aku di usir ceritanya?" Ucap ku bercanda.


"Iya sudah sana! Ibu usir kamu, biar kamu cepat bertemu teman-teman kamu. Siapa tau nanti kamu tidak melamun terus, kaya ayam sakit aja!" Ucap Ibu kemudian tertawa.


"Waduh! Di samain sama ayam sakit! Tega sekali ibu ini!" Ucap ku merajuk.


"Hahaha. . . Sudah sudah sana! Nanti bis nya penuh." Ucap Ibu.


"Iya sudah deh! Berhubung sudah di usir oleh Ibu, aku pamit pergi iya Bu. Assalamualaikum." Ucap ku mencium tangan ibu.


"Sudah sana-sana! Hati-hati iya di jalannya, wa'alaikum salam." Ucap ibu dan aku pun berangkat menuju halte bis, lagi-lagi aku di buat terkejut.


"Cepat masuk!" Ucap seorang laki-laki di dalam mobil dengan kaca terbuka, membuat aku terbengong.


"Kamu tuli?" Ucap nya lagi.


"Ti-dak perlu Kak! Aku bisa naik bis! Permisi." Ucap ku menolak, dan bergegas pergi.


"Tidak ada penolakan." Ucap nya dan menarik tangan ku menuju mobilnya, pada akhir aku pun di antar ke kampus oleh Kak Nathan.


Karena banyak hal yang membuat aku terkejut, tiba-tiba saja perut ku merasa keram dan aku pun meringis.


"Kamu kenapa?" Tanya Kak Nathan, kemudian tak lama menepikan mobilnya.


"Perut aku keram Kak." Ucap ku sambil meringis.


"Yang mana? Yang ini?" Tanya Kak Nathan sambil mengelus perut ku dan ajaib nya perut ku sudah tidak keram lagi.


"Sudah Kak! Udah enakan ko!" Ucap ku canggung.


"Kita ke Rumah Sakit sekarang." Ucap Kak Nathan.


"Ti-dak perlu Kak! Aku baik-baik saja! Cuman keram dikit tadi, sekarang sudah lebih baik." Ucap ku dan kami pun melanjutkan perjalanan, namun aku di buat heran.

__ADS_1


"Loh Kak! Ini bukan jalan ke kampus!"


Ucap ku heran.


__ADS_2