
Keesokan harinya aku sibuk membantu Ibu di dapur, karena aku sudah selesai Sidang Skripsi. Jadi aku tidak perlu ke kampus dulu, namun aku berjanji kepada sahabat ku untuk tetap ke kampus membantu mereka.
"Alhamdulillah semua sudah selesai Bu!" Ucap ku setelah selesai menata kue di warung.
"Alhamdulillah terimakasih iya sayang, sudah sana kamu berangkat! Kasihan teman-teman kamu sudah menunggu, ini sudah jam 8 kamu masih di Rumah." Ucap Ibu.
"Hehehe. . . Kapan lagi coba aku jam segini masih bisa di Rumah, kemaren-kemaren kan sibuk banget sama skripsi Bu. Jam segini itu udah standby di Perpustakaan, dan fokus sama skripsi. Makanya sekarang aku mau santai-santai aja ke kampus nya." Ucap ku cengegesan.
"Iya Ibu tau banget! Sampe kurang tidur, kurang makan untuk ngerjain skripsi. Semoga lelah kamu terbayarkan iya sayang, kelak kamu akan menjadi orang yang sukses." Do'a Ibu tulus.
"Aamiin, terimakasih ibu do'anya dan Ibu harus selalu sehat. Nemenin aku sampai aku sukses kelak dan bisa bahagiain Ibu." Ucap ku sambil memeluk Ibu.
"Sudah sana, kamu berangkat. Itu ada yang mau beli kue, kamu hati-hati iya." Ucap Ibu.
"Iya Bu, aku berangkat iya. Assalamualaikum." Ucap ku dan kemudian aku mencium tangan Ibu.
Perjalanan terasa sangat lama, mungkin karena biasanya aku berangkat pagi-pagi sekali. Apalagi jam segini jam macet, namun tiba-tiba kepala ku terasa pusing mencium berbagai jenis parfum yang orang-orang pakai di Bis.
Sekuat tenaga aku berusaha menahannya, hingga akhirnya sampailah juga aku di kampus. Dengan berjalan perlahan, sambil memegang tembok atau tiang yang ada di jalan untuk menopang ku berjalan. Sampailah aku di dalam kampus dan di sambut hangat oleh sahabat-sahabat ku.
"EVAAAAA. . . Akhirnya kamu datang juga! Lama banget sih! Udah di bilangin datangnya pagi-pagi, tau ngga kita itu udah dari jam 6 di sini. Eh kamu nya baru datang jam segini!" Ucap Neysa yang terus berbicara.
"Udah deh Ney, kasian tau Eva. Dia kan kemaren abis Sidang, wajar dong kalau hari ini dia males-malesan dulu di Rumah. Emang ngga pusing apa habis sidang skripsi, nanti juga kita rasain. Udah syukur Eva masih mau datang buat bantuin kita, udah jangan banyak ngeluh!" Ucap Ega membela ku, sedangkan aku hanya diam sambil memijit pelipis ku yang terasa sangat pusing.
"Eh. . . Iya juga iya! Hehehe. . . Maaf deh! Maaf. . . Abis aku udah mentok banget ini! Udah bingung revisi terus ini judul, padahal ini baru judul! Belum bab 1, bab 2. Ah. . . Mumet banget ini kepala, ko kamu bisa sih Va? Tau-tau udah beres aja!" Ucap Neysa yang kesal.
"Udah sekarang kamu tarik nafas panjang, hembuskan. Biar tenang." Ucap Ega memberikan saran kepada Neysa dan Neysa pun melakukan nya.
__ADS_1
"Oke! Aku udah tenang, eh ngomong-ngomong ko Eva ngga ada suaranya?" Ucap Neysa dan kemudian mereka melirik ke arah ku.
"Loh, kamu kenapa? Muka kamu pucat banget! Kamu sakit? Ayo kita ke Dokter." Ucap Neysa panik.
"Iya ampun Va kamu pucat gini! Kalau sakit itu bilang, jadi ngga usah ke sini. Gimana coba kalau ada apa-apa di jalan tadi, ini minum dulu." Ucap Ega sambil memberikan sebotol air mineral dan aku pun meminum nya.
"Kita ke Dokter aja iya Va, ayo aku anter. Bentar aku telpon dulu supir iya, biar dia standby di depan." Ucap Neysa yang langsung menjauh menelpon seseorang.
"Ngga perlu, aku baik-baik aja." Ucap ku lemas.
"Udah jangan keras kepala, biar kamu sehat. Kamu sih terlalu di paksain kemaren, jadi aja badan kamu drop gini." Ucap Ega, sambil membantuku memijat kepala ku.
"Udah ikh! Aku ngga apa-apa ko." Ucap ku.
"Ngga apa-apa gimana? Ini muka pucat kaya gini! Masih bilang ngga apa-apa?" Marah Ega.
"Aku ke sini buat bantuin kalian! Bukan buat di bawa ke Dokter, udah iya! Kita balik lagi ke dalam." Ajak ku.
"Ngga." Ucap mereka serentak.
"Kamu pasti kecapean banget! Kenapa harus maksain sih? Padahal kan bisa ngerjain bareng sama kita loh! Jadinya sakit kaya gini kan! Untung aku ngga ngikutin kamu, sidang duluan! Bisa-bisa aku masuk UGD!" Ucap Neysa dan aku pun hanya tersenyum, tanpa sengaja aku melihat mobil mewah yang kemarin di pakai Kak Nathan ada di Parkiran kampus.
'Mobil kaya gitu banyak, Va! Bukan Kak Nathan doang yang punya! Lagi pula ini kampus elit banyak orang kaya yang bisa beli mobil kaya gitu.' ucap ku dalam hati, berusaha menenangkan diri dari keterkejutan.
Namun mengapa kami berjalan semakin mendekati mobil itu? Sedangkan mobil yang Neysa biasa pakai tidak ada di Parkiran, banyak pertanyaan yang tiba-tiba muncul di kepala ku dan membuat kepala ku semakin sakit. Aku hanya bisa mendengar sahabatku meneriaki namaku, namun setelah itu semua terasa gelap.
Saat pertama kali membuka mata, semuanya tampak putih. Lagi dan lagi aku terbangun di ranjang Rumah Sakit, tak tau apa lagi yang terjadi kepada ku saat ini. Namun kepala ku terasa sakit sekali dan di mana sahabat ku?
__ADS_1
Ceklek. . .
"Va. . . Kamu sudah sadar?" Tanya Neysa, Ega dan Kak Nathan yang baru saja masuk kedalam Ruang Rawat.
Namun ada yang berbeda dari mereka, raut wajah mereka dan bahkan mata mereka sembab. Ntah apa yang terjadi setelah aku tak sadarkan diri.
"Kalian kenapa?" Tanya ku lemah.
"Ki-kita baik-baik aja, iya kan Ga?" Ucap Neysa gugup sambil menyiku perut Ega.
"I-iya." Jawab Ega.
"Kalian jangan bohong, kalian kenapa? Jujur aja!" Ucap ku memohon.
"Dek! Kakak tunggu di luar." Ucap Kak Nathan dan di balas anggukan kepala oleh Neysa, lalu dia keluar dari Ruang Rawat ku.
Hening
Tak ada yang memulai pembicaraan, membuat ku semakin penasaran apa yang sebenarnya terjadi.
"Tolong jujur, ada apa?" Ucap ku lemah, namun tiba-tiba mereka menangis dan memeluk ku.
"Siap Va? Siapa? Jawab!" Tanya Neysa di sela tangis nya.
"Bilang Va! Siapa laki-laki itu! Biar kita kasih di pelajaran!" Ucap Ega marah.
"Maksud kalian a-pa?" Tanya ku bingung, jujur aku tidak mengerti apa yang mereka maksud.
__ADS_1
"Apa karna ini? Kamu memaksakan diri buat menyelesaikan skripsi kamu cepat-cepat? Iya Va?" Tanya Ega lagi dan aku masih diam, tidak mengerti apa yang mereka maksud.