One Night Stand (Membawa Kehancuran)

One Night Stand (Membawa Kehancuran)
Berbohong 3


__ADS_3

Deg.


"Ko pada diam? Siapa yang hamil? Jangan bilang salah satu dari kalian hamil?" Tanya ibu lagi dan aku benar-benar terkejut, sekaligus bingung harus menjawab apa.


"Em-mm i-tu Bu! Temen sekelas kita! Iya temen sekelas kita, tadi kita habis telponan sama dia! I-ya kan?" Ucap Neysa berbohong, kemudian mengedipkan mata ke arah kami.


"Iya Bu! Temen sekelas kita itu ada bumil Bu, dia bawaannya melow terus. Jadi kita hibur dia deh tadi!" Ucap Ega menimpali.


"Syukur deh! Kalau bukan kalian yang hamil, Ibu kaget tadi dengernya. Kalian ini anak-anak baik, harus bisa menjaga diri. Jangan sampai terjerumus hal-hal seperti itu!" Nasihat ibu.


"Iya Bu." Ucap kami berbarengan.


"Iya sudah ayo kita makan dulu, Ibu sudah masak." Ucap ibu.


"Lest go, aku juga udah laper nih Bu." Ucap Neysa langsung menggandeng tangan ibu menuju dapur untuk mengalihkan pembicaraan dan aku pun bernapas lega.


Mungkin hari ini aku bisa mengelak, namun suatu saat nanti Ibu pasti akan mengetahuinya. Aku hanya berharap, jika hari itu terjadi. Semoga ibu bisa memaafkan aku dan menerima anak ini.


Seminggu kemudian. . .


Mual dan muntah ku rasakan setiap pagi hari, namun sebisa mungkin aku menutupi semua itu dari ibu. Nafsu makan ku pun berkurang, beruntung jika siang hari aku bisa beraktivitas normal dan tidak membuat Ibu curiga.


"Va." Panggil Ibu kepada ku saat aku sedang membereskan tempat jualan kami.


"Iya Bu." Jawab ku sambil menghentikan aktivitas ku dan melihat ke arah Ibu.


"Ibu perhatikan, sekarang kamu semakin kurus. Kamu pasti kecapean iya! Sudah, lebih baik kamu banyak istirahat! 1 bulan lagi kamu kan wisuda, dan kamu harus tampil maksimal dong." Ucap ibu sambil tersenyum mengelus kepala ku.


"Iya Bu!" Ucap ku sambil memeluk Ibu.


"Sudah sana biar ibu yang bereskan." Ucap Ibu.


"Tidak apa-apa Bu, ini sedikit lagi ko." Ucap ku, namun seketika kami pun terdiam. Saat mendengar suara mobil berhenti di depan warung kami, karena memang belum di tutup.


"Permisi." Ucap seorang laki-laki.


Deg.

__ADS_1


'Kak Nathan.' Ucap ku lirih.


"Iya! Eh. . . Nak Nathan!" Ucap Ibu dan aku terkejut, karena Ibu mengetahui nama Kak Nathan.


"Iya Bu, apa kue nya masih ada Bu?" Tanya Kak Nathan dan aku pun hanya diam membeku.


"Kue nya tinggal segini Nak!" Ucap Ibu sambil menunjukkan sisa kue dan gorengan yang belum terjual.


"Ngga ada lagi iya Bu?" Tanya Kak Nathan.


"Sudah habis Nak! Tumben kamu ke sini nya sore sekali? Pasti sibuk iya?" Tanya Ibu sambil membungkus kue yang ada.


"Iya Bu, lagi banyak banget kerjaan. Besok tolong di pisahkan iya Bu! Seperti biasanya saja, takutnya saya terlalu sore lagi." Ucap Kak Nathan, sambil menyerahkan uang.


"Iya nanti Ibu pisahkan! Ini kembaliannya." Ucap Ibu sambil menyerahkan uang kembalian.


"Tidak usah Bu, untuk Ibu saja! Kalau begitu saya permisi Bu, assalamualaikum." Ucap Kak Nathan.


"Alhamdulillah, terimakasih banyak iya Nak! Wa'alaikum salam." Ucap Ibu sambil mengantar Kak Nathan menuju mobilnya, sedangkan aku hanya terdiam dan menatap sendu.


"Va. . . Va. . ." Panggil Ibu sambil menggoyangkan bahu ku.


"I-ya Bu." Jawab ku.


"Kamu ini kenapa? Melamun terus?" Tanya ibu.


"Ngga ada apa-apa ko Bu." Ucap ku sambil tersenyum paksa.


"Ayo kita masuk." Ucap Ibu dan ternyata warung sudah Ibu tutup.


"Iya Bu." Jawab ku dan kami pun berjalan bersama menuju rumah.


"Kamu tau tidak Nak! Yang tadi itu namanya Nathan, dia setiap hari membeli kue dan gorengan kita." Ucap Ibu yang membuat aku terkejut.


"Apa Bu? Setiap hari?" Tanya ku heran.


"Iya Nak Nathan selalu membeli masing-masing 1 kue jualan kita dan memberikan uang lebih, katanya kue kita sangat enak dan dia cocok dengan kue kita." Ucap Ibu.

__ADS_1


"Sayangnya Nak Nathan anak orang kaya, coba dia seperti kita. Mungkin Ibu akan menjodohkan nya dengan kamu." Ucap Ibu terkekeh.


Semenjak malam naas itu, aku selalu kesulitan untuk tidur dan selalu mengkonsumsi obat tidur agar bisa tidur malam hari. Namun, kini aku sedang mengandung. Sehingga aku mengurangi mengkonsumsi obat tidur, alhasil sulit sekali mata ini terpejam.


Saat ini jam menunjukkan pukul 01.20, dan mata ini masih setia untuk terbuka. Namun ntah mengapa, ingin sekali aku makan mie ayam. Tapi di mana ada mie ayam yang buka jam segini?


Aku pun membuka aplikasi makanan online, dan semua penjual mie ayam sudah tutup. Aku pun menghela nafas kasar, mungkin ini yang di namakan ngidam. Hanya membayangkannya saja membuat air liur ku hampir menetes, dengan terpaksa aku keluar rumah dengan mengendap-endap.


Memberanikan diri berjalan keluar rumah yang nampak sepi, rasa takut mulai bermunculan. Namun, membayangkan memakan mie ayam membuat ku kembali bersemangat dan melanjutkan langkah ku.


Hingga tiba di jalan raya, aku melihat ke sana ke sini. Tapi tidak juga aku menemukan penjual mie ayam, aku pun menghela nafas kasar. Rasa sedih seketika menyeruak dan ingin rasanya menangis, tiba-tiba ada sebuah mobil berhenti di depan ku.


"Ngapain kamu di pinggir jalan malam-malam?" Ucap datar seorang laki-laki.


Deg.


Seketika jantung ku berdebar-debar, dan tak sanggup untuk menjawab pertanyaan nya. Aku pun hanya bisa terdiam, dan menunduk.


"Cepat masuk." Ucap Kak Nathan yang sudah membukakan pintu mobilnya untuk ku.


"Tidak perlu Kak! Aku bisa pulang sendiri, kalau begitu aku permisi Kak." Ucap ku menolak ajakannya, namun tanpa di duga. Kak Nathan menarik ku dan membawa aku masuk ke dalam mobilnya.


"Eh. . ." Aku pun terkejut dan hanya bisa terdiam tanpa berkata apapun, hingga kami tiba di depan rumah ku.


"Te-rima ka-sih Kak." Ucap ku terbata-bata.


"Nih!" Ucap Kak Nathan yang menyerahkan sebuah keresek kepada ku.


"Apa ini?" Tanya ku heran dan membuka bungkusan makanan tersebut, betapa terkejutnya aku ternyata itu adalah mie ayam.


"Jangan salah paham! Tadi saya membeli terlalu banyak! Jika di bawa pulang, pasti mie nya sudah tidak enak!" Ucap Kak Nathan.


"Beneran ini buat aku Kak?" Tanya ku dengan binar di mata.


"Kalau tidak mau tinggal buang." Ucap Kak Nathan cuek.


"Mau! Mau banget! Makasih banyak Kak!" Ucap ku langsung memakan mie ayam itu dengan lahap sekali, dalam sekejap mie ayam pun habis aku makan. Tanpa sadar ada saus yang menempel di baju ku, dan Kak Nathan mengelap nya dengan tisu.

__ADS_1


__ADS_2