
"Ayo! Jawab! Siapa laki-laki brengsek yang sudah menghamili kamu! Jawab Va! Jawab!" Ucap Neysa marah dengan berlinangan air mata.
Deg.
Laki-laki brengsek
Hamil
Air mataku mengalir tanpa perintah, tak pernah terbayangkan oleh ku. Kejadian naas malam itu, menyisakan benih di rahim ku. Seketika pikiranku kosong, tak tahu apa yang harus aku lakukan.
"Jawab Va! Jawab!" Ucap Ega mengguncangkan pundak ku.
"Jangan diam saja Va! Kita harus temui laki-laki itu! Dia harus bertanggung jawab sama kamu! Ayo Va! Kasih tau kita! Siapa laki-laki itu!" Ucap Ega.
"Ma-af." Hanya kata itu yang mampu ku ucapkan.
"Ngga Va! Kita tau, kamu ngga salah. Pasti laki-laki itu yang maksa kamu kan? Ayo jawab! Siapa dia Va? Kita harus samperin dia, buat dia tanggung jawab sama kamu." Ucap Neysa menggebu-gebu dan aku hanya menggelengkan kepala.
"Ngga." Ucap ku yang mulai terisak.
"Kenapa ngga? Dia ngga mau tanggung jawab? Bilang siapa namanya? Aku jamin dia bakalan tanggung jawab sama kamu! Ayo jawab Va! Jawab!" Ucap Neysa, sambil menggenggam tangan ku.
"Percuma, dia tidak akan mau bertanggung jawab." Ucap ku lirih.
"Jangan pesimis, aku janji. Laki-laki berengsek itu pasti tanggung jawab sama kamu, sekarang coba kamu sebutin namanya. Apa kita kenal orangnya?" Tanya Neysa mulai berusaha menenangkan diri.
"Dia ngga mungkin mau bertanggung jawab, dia tidak ingat siapa aku." Ucap ku lirih dan kedua sahabat ku semakin terkejut.
"Ma-maksud kamu apa Va?" Ucap Ega yang mulai melunak.
__ADS_1
"Kamu mau cerita? Apa yang sebenarnya terjadi kepada kamu? Kita sahabat kamu, kita pasti ada di samping kamu. Apa pun keadaan kamu, kamu mau kan cerita? Biar kita cari solusi bersama." Ucap Neysa berusaha membujuk ku.
"A-ku d-i per-ko-sa." Ucap ku yang membuat mereka langsung memeluk ku kembali.
"Siapa laki-laki itu? Bilang sama kita! Kalau dia ngga mau tanggung jawab, kita laporin dia ke polisi." Ucap Neysa terus membujukku dan aku pun menggelengkan kepala.
"Dia laki-laki kaya raya, yang kebal hukum. Percuma lapor ke polisi, dia saja tidak ingat siapa aku lagi." Ucap ku dengan tatapan kosong, dan air mata yang mengalir.
"Kamu ngga usah khawatir, biar aku yang atur semua. Aku jamin dia bakalan tanggung jawab, sekarang kamu sebutin siapa namanya biar kita tau." Ucap Neysa lembut, berusaha menahan tangis melihat ku yang rapuh.
"Percuma, dia ngga akan inget siapa aku." Ucap ku lirih.
"Ta. . ." Ucapan Neysa terhenti, saat Ega memegang tangannya sambil menggelengkan kepala dengan air mata yang terus mengalir.
"Kalau kamu belum bisa cerita semua ke kita, ngga apa-apa. Tapi kamu harus selalu ingat, kamu punya kita berdua. Yang akan selalu ada untuk kamu dan nemenin kamu, kamu bisa cerita kapan aja. Kalau kamu udah siap, kita pasti dengerin dan berusaha mencari jalan keluarnya." Ucap tulus Ega sambil mengelus rambutku, kemudian kami terisak bersama sambil berpelukan.
"Emangnya bisa? Janin yang baru berbentuk gumpalan darah doang, bisa sedih dan nangis?" Ucap Neysa heran.
"Iya itu sih yang pernah aku denger, katanya kalau ibu nya sedih, bayi nya juga sedih." Ucap Ega cengengesan sambil menggaruk leher belakangnya.
"Dih sok tau kamu, makanya apa-apa itu kita tanyain ke Mbah go**e. Biar ngga sok tau kaya kamu." Ucap Neysa meledek Ega, kemudian membuka aplikasi tersebut dan mencari tahu.
"Udah ah males debat, Va kamu makan dulu iya. Kata Dokter ganteng, kamu harus banyak makan dan jangan stress. Ayo sini aku siapin iya, ini ada makanan dari Rumah Sakit." Ucap Ega yang sedang mengambilkan makanan yang di sediakan Rumah Sakit.
"Eh. . . Bener tau yang kamu bilang Ga! Lihat nih!" Ucap Neysa yang sedang membaca artikel di handphone nya.
"Tuh kan aku bener." Ucap Ega sombong.
"Alah cuman gitu doang juga semua orang tau kali!" Ucap Neysa kesal.
__ADS_1
"Lah buktinya kamu ngga tau! Iya kan? Hahaha. . " Ucap Ega sambil tertawa dan aku ikut tersenyum melihat tingkah mereka.
"Diem deh!" Ucap Neysa kesal sambil menghentakkan kakinya.
"Kamu yang diem, orang aku mau nyiapin makanan Eva ko! Udah sana jauh-jauh." Ucap Ega mengusir Neysa dari samping ranjang ku, aku pun hanya menggelengkan kepala melihat tingkah mereka.
"Jangan makan itu deh! Kita pesen aja, makanan Rumah Sakit ngga enak tau. Bentar aku pesan makanan aja, biar kamu makin nafsu makannya." Ucap Neysa yang kemudian sibuk mencari handphone nya.
"Ngga perlu Ney, ini aja udah cukup." Ucap ku lemah dan tersenyum.
"Orang tampilan nya aja cantik begini, masa iya ngga enak? Lagian ngga mungkin ngga enak dong, orang kamu masukin Eva di Ruang VIP gini. Iya pasti makanannya enak lah, dan juga udah sesuai dengan yang di perlukan Eva. Inget jangan ajakin Eva makan, makanan yang aneh lagi sekarang." Ucap Ega kesal.
"Ikh! Siapa juga yang mau ngasih makanan aneh, kan itu cuman 1 kali doang waktu itu. Ngga perlu di bahas lagi kali, udah nih udah aku pesen. Ngga perlu ngomel terus, kamu itu sekarang banyak ngomel nya tau!" Ucap Neysa yang juga kesal.
"Habis kamu itu selalu buang-buang uang terus, beli makanan yang viral atau beli apa yang viral-viral terus. Mending di tabung uangnya, iya ngga Va?" Ucap Ega kesal sambil melirik ke arah ku dan aku hanya tersenyum.
Sudah lama rasanya tidak menikmati momen ini, meski aku tau mereka hanya pura-pura berdebat. Agar aku terhibur dan bisa tersenyum kembali.
"Terimakasih iya semuanya, maaf sudah membuat kalian kecewa. Tolong jangan jauhi aku!" Ucap ku sambil menundukkan kepala, dan kemudian suasana menjadi hening.
"Kamu ngga pernah kecewakan kita ko, kita yang justru minta maaf. Di saat terpuruk kamu, kita tidak tau dan tidak ada untuk kamu. Kamu pasti sangat terpuruk." Ucap Ega kemudian memeluk ku kembali.
"Iya Va, maafin kita iya. Harusnya kita lebih peka sama kamu, tapi kita malah fokus sama urusan masing-masing." Ucap Neysa merasa bersalah.
"Ngga! Ini bukan salah kalian, mungkin memang ini takdir yang harus aku terima." Ucap ku berusaha tabah.
"Va. . " Panggil Ega dan aku pun melihat ke arah nya, dia menggenggam tangan ku.
"Apa pun yang terjadi, jangan pernah gugurkan kandungan kamu ataupun membuangnya. Bayi ini sama sekali tidak berdosa, biar lah dia tidak memiliki ayah. Yang terpenting dia memiliki seorang Ibu yang menyayangi dan mencintai nya, yang akan selalu ada untuk dia kelak saat dia dewasa." Ucap Ega sambil mengelus perut rata ku.
__ADS_1