
Hidung mungilnya berkedut, matanya menajam dengan kemarahan, dan tangannya terulur saat telunjuk rampingnya menuju Jack.
"K-kau!"
Jack, yang sedikit menundukkan kepalanya untuk menatap seorang putri yang marah, seolah dia melakukan sesuatu yang kasar, Jack mengerutkan kening.
Jack menarik tangan, menarik kembali cumi bakar yang dia ulurkan, dan berkata, "Jika tidak menyukainya, cukup bilang. Jangan merepotkan orang lain."
Mengangkat cumi ke mulut, Jack menggigit dengan utuh, mengunyahnya, lalu menelannya saat Jack membuang bilah lidi sebelumnya.
Kematangannya sempurna, menghasilkan dagingnya yang agak sedikit kenyal, yang membuat Jack ketagihan.
Memakan yang lainnya, Jack menutup matanya, menikmati setiap gigitannya, menelannya sebelum menyeka mulutnya.
Jack menoleh ke arahnya lagi, membungkuk dengan sejajar, Jack meletakkan mulutnya ditelinga nya, "Apa yang putri Vivi lakukan disini? Kabur dari kerajaan, atau hanya iseng-iseng?"
'Jika aku tidak salah, seharusnya Vivi belum bergabung dengan pasukan Crocodile, tapi, apa yang dilakukan disini?'
Jack tidak mengerti.
"Bagaimana kau mengenal ku!" Orang itu-Vivi, Mengangkat lutut, rambut ekor kudanya bergoyang saat dia melangkah mundur, mengepal lengannya ke depan, Vivi bersiap dalam posisi bertarung.
Memakan satu lagi, jumlah cumi bakar ditangan Jack tersisa dua tusuk. Kemudian, Jack mengambil keduanya dengan sekali gigit, membuang semua lidi ke jalanan.
Jack berkedip, mengangkat matanya, memandang Vivi, lalu menyeka mulut dengan punggung Tangannya, Jack membuka mulutnya, "Di kerajaan Alabasta, Banyak gosip tersebar di daerah sekitar ini. Semuanya mengatakan satu hal yang sama. Kerajaan Alabasta memiliki seorang putri yang sangat cantik, yang memiliki mata dan rambut biru."
Vivi tersipu, ditandai dengan kemerahan di telinganya, dia berkata dengan tidak percaya, "Kau hanya mengarang."
"Percaya atau tidak, terserah kau." Jack mengangkat bahu dan memutar matanya, wajahnya datar saat menanggapinya.
Ekspresi Vivi gusar, matanya birunya melirik mataku, mencari jejak kebohongan ku, dan aku menatapnya dengan kosong.
Sebagai seorang putri, dia telah diajari bermacam pelajaran, salah satunya tentang psikologi seseorang. Dengan mengetahui gerak-gerik mimik seseorang, dia dapat dengan mudah menebak orang tersebut.
Tapi...dia tidak bisa menebak Jack, yang meningkatkan kewaspadaannya terhadapnya.
"Apakah kau dari bagian crocodile?" Vivi menggertakkan giginya, mempersiapkan apa yang akan terjadi.
"Kita perlu ketempat tertutup." Mata Jack melirik ke atap bangun, telunjuknya menunjuk ke depan, memberi isyarat untuk bergerak.
Vivi yang cerdas, mengerti dengan isyarat Jack. Menarik kerudungnya, menutup sebagian wajah saat menunduk, Vivi berjalan dengan santai terlepas kejadian.
Jack membuat petunjuk di jalan berpasir dengan gambar anak panah, gambar itu menunjukkan jalan harus Vivi lalui untuk ke tempat yang dituju.
Jack menghela nafas, wajahnya mengerut tidak senang, rambutnya acak-acakan yang beberapa helai terselip bahu, Jack dengan malas menggertak, "Sebaiknya kau hentikan lelucon ini. Itu menggangguku sejak tiba disini."
__ADS_1
Tidak ada tanda-tanda, Jack sekali lagi memperingati, "Jangan bercanda, kau akan merasakan akibatnya."
Seorang wanita bertubuh jam pasir, memiliki kulit hitam dan mata hitam, muncul dari bayangan, di atas atap rumah.
Dalam posisi duduk, Wanita itu menunduk kebawah, melirik Jack, seolah dia adalah seorang idiot.
"Aku yang seharusnya mengatakan itu" Katanya saat bibirnya mengerucut, dan senyum terbentuk di mulutnya.
Jack mengangkat alisnya dan berkata, "Maksudmu ini?"
Saat mengatakan itu, Jack mengerahkan tangannya ke belakang punggungnya, yang hanya untuk mencabut sesuatu yang berbentuk seperti tangan. Tercabut, anggota tangan itu melebur dengan udara.
Mata wanita itu melebar, topinya sedikit goyang kebelakang, kedua alisnya terangkat, mengerahkan tangannya kebawah, dia mengirim lebih banyak kekuatan buahnya.
"Ayolah. ini akan menyenangkan jika di atas kasur, dan tidak untuk saat ini" Jack mengalirkan Chakra petir ke seluruh badannya dan berkata, "Bisakah kau hentikan ini, Nico Robin." Ada sedikit tekanan di akhir kalimatnya.
Anggota tangan yang tumbuh di seluruh tubuh Jack, hancur seperti tersetrum listrik, menjadi debu yang menyatu dengan udara.
Wanita itu-Robin, menggertakkan gigi, gigi putihnya terlihat dari mulutnya, "Seberapa banyak kau mengetahuinya?"
"Haruskah aku menceritakannya dari awal, dari bagaimana runtuhnya pulau penelitian." Pupil Jack beriak ungu, melirik Robin, matanya terangkat ketika melihatnya.
Robin melirik mata Jack yang aneh, tubuhnya seakan telanjang saat di tatapnya, dan tanpa sadar, Robin menutup bagian atas dan bawahnya menggunakan tangannya.
Ribuan jarum pasir dibelakang kepala Robin tanpa dia sadari, jarumnya yang runcing mengarah ke badannya, siap untuk melobangi tubuhnya, menunggu perintah.
Keringat mengalir deras di punggungnya, tangannya terangkat ke atas ketika dia melompat turun.
Dadanya bergoyang saat Robin turun, mempertahankan senyumnya dengan masam, dan dia berkata, "Aku menyerah."
"Kau seharusnya melakukan hal itu lebih awal." Jack terkekeh, dadanya naik turun, selaras dengan tawa kecilnya, "Yah, setidaknya kau bertindak cepat, memahami situasi."
Robin berkedip, tangannya terangkat untuk membenarkan topinya, dan berkata, "Itu adalah keahlian ku, yang membuatku masih berdiri sampai sekarang."
"Kau benar." Jack menguap, matanya tidak tertarik. Kemudian Jack menjentikkan jarinya, dan berkata, "Lakukan apa yang kau suka, aku tidak peduli. Hanya jangan bermain-main dengan ku, aku tidak peduli bahkan jika itu seorang wanita."
"Itu saja." Jack meregangkan tubuh, tangannya terangkat, lalu menurunkan tangannya untuk memasukkannya ke dalam kantong, Jack pergi dengan langkah besar, senandung di bibirnya.
"... Baiklah." Robin menurunkan lengannya, menatap punggung Jack, yang dapat dia rasakan, dia akan akan aman jika bersembunyi dibalik punggung itu.
Jack menghentikan langkahnya, kepalanya menoleh kebelakang, rambutnya tersapu dengan gerakan, kemudian mata Jack melirik ke wajah Robin, dan berkata, "Kalau kau mau, kau bisa bergabung denganku. Seseorang yang bisa membaca tulisan kuno, tidak terlalu buruk di kapalku."
Wajah Robin membeku, matanya berkedip beberapa kali, mulutnya menyungging senyuman, menggelengkan kepalanya sekali lagi, Robin bersembunyi dari kerumunan.
"Aku harap kau tidak menarik perkataanmu." Robin menghilang dengan senyuman diwajahnya.
__ADS_1
xXxXx
Sementara itu.
Setelah mengikuti petunjuk, Vivi menemukan dirinya di depan penginapan. Penginapan yang cukup besar untuk kalangan orang kaya.
Dia berhenti. Tidak masuk kedalam penginapan, menunggu Jack yang menghilang entah bagaimana.
2 menit.
3 menit.
-7 menit.
Orang yang dia tunggu tidak menunjukkan wajahnya. Vivi tidak menyerah, dia mengamati setiap pelanggan yang keluar masuk, yang sayang orang itu tidak pernah ditemukan matanya.
Vivi menggertakkan giginya, kakinya menghentak tanah sebelum dia mendengar suara yang dia tunggu, saat dia menoleh kebelakang, wajahnya datar.
"Vivi, kenapa kau berdiam diluar?" Jack memiringkan kepalanya, menatap mata birunya, yang tidak ada rasa bersalah diwajahnya.
Kedua tangan Jack penuh dengan makanan.
Bibir Vivi berkedut, matanya menyipit, tangannya tanpa sadar menggaruk rambutnya yang tidak gatal, tidak ada yang bisa dia lakukan, bahunya merosot dengan helaan panjang sebelum berkata, "Tidak ada."
Dia sangat lelah dengan pria ini.
"Oh, baguslah." kata Jack. "Masuk. Kita akan membicarakannya didalam."
"...Ya."
Jack yang penuh dengan makan, gembira masuk kedalam, yang bahkan pintu masuknya hampir tidak muat saat melewatinya.
Vivi hampir tidak berdaya, menahan keinginannya untuk kabur, mengikuti Jack dari belakang.
Saat masuk, mata penginapan tertuju pada Jack, wanita itu tersenyum dan berkata, "bocah, kemana saja kau-" mulutnya membentuk O saat dia melirik Vivi yang bersembunyi dibelakang Jack, "sebaiknya kau mencari alasan yang bagus untuk pacarmu."
Jack awalnya bingung, alisnya terangkat, matanya melirik pemilik penginapan, mencari apa yang dimaksudnya, kemudian butuh beberapa detik untuk Jack melebarkan matanya.
'Aku lupa dengan Nami!'
Dan tanpa sadar Jack menelan ludah saat matanya menatap tangga, yang lurus, menuju ke kamarnya.
xXxXx
(A/N: jujur. Author nya belum pernah menonton One Piece)
__ADS_1