
Kami tiba di Alabasta saat sore hari. Bisa dikatakan, Geografis Alabasta adalah sebagian besar gurun pasir.
Cahaya yang menyengat meresap kulit. Terasa panas dan berpasir.
Aku turun, dan Nami mengikuti dari samping. Hanya ada pasir dan pasir yang dilihat.
Mengamati sekeliling, Aku berjalan dengan lemas dan berkata. "Kondisinya tidak enak dilihat. Hey Nami, bisakah kita kembali?"
"Tidak. Kita tidak memiliki bahan makanan di kapal." Nami menarik tanganku, menyeret ku ke salah satu bangunan.
Kami masuk, lonceng berbunyi saat melewati pintu. Dari konter, Seorang pria tersenyum saat melihat kami.
Ruangan itu cukup sederhana. Hanya kursi dan beberapa meja. Tidak ada pelanggan yang terlihat karena waktunya yang sudah hampir malam.
Aku duduk di depan konter, dan Nami duduk disampingku.
Menoleh ke pria itu, aku memesan dan berkata. "Dua daging dan minuman yang terbaik."
Aku melirik Nami, dan Nami menghela nafas, dan berkata. "aku juga. Tapi hanya satu daging dan minuman."
"Oke, silahkan tunggu"
Pria itu pergi ke dapur, memberitahu koki yang di dapur untuk pesan kami. Hanya butuh beberapa menit, pria itu membawa pesan kami ditangannya.
"Silahkan dinikmati."
Aku mengangguk dan mengambil memakan makananku. Nami melirikku sebentar, sebelum membuka mulutnya, dan memakan makanannya.
"Daging adalah yang terbaik" Aku mengangkat bir ku dan memasukkan ke mulutku. "Tidak mengira ada yang menjual minuman disini. Aku menduga tidak yang menjualnya, mengingat kondisinya."
Pria itu tertawa, menoleh ku, dia berkata. "Kau benar. Meski begitu, disini ada banyak menjual minuman keras karena daerah ini bersebrangan dengan kota judi."
Aku menyeringai saat mendengar judi. "pak tua, Bisakah kau memberitahu dimana tempat itu?"
Meski aku mengetahui nama tempatnya, tapi tidak dengan yang spesifiknya. Pria itu membuka mulutnya, memberitahu dimana jalan, yang aku simpan di kepala dengan baik-baik.
Aku berterimakasih dengan pak tua itu dengan beberapa tip, dan Pak itu menerimanya dengan senang hati.
"Terimakasih atas semuanya, pak tua. Kalau takdir berkehendak, kita akan bertemu lagi."
"Aku dengan senang hati menyambut kalian saat itu tiba."
Kami meninggalkan tempat itu, mencari penginapan yang direkomendasikan pria itu.
Aku tersenyum disepanjang jalan.
Nami melirikku, dan berkata. "Apakah kau benar-benar akan pergi ke tempat itu?"
"Aku akan kesana." Aku mengangguk. Kemudian, aku menarik pinggangnya, dan berkata. "Tidakkah kau ingin memiliki beberapa berry dikantongi mu?"
"Aku menginginkan, Tapi.." Nami ragu. Dia menatap mataku dan berkata. "Kau tidak akan membuat keributan, kan?"
Aku mengangkat alisku. "Kenapa kau menyimpulkannya seperti itu?"
"yah.." Nami memalingkan matanya, merendahkan suaranya dan berkata. "Saat kau dengan Arlong, kau mengejeknya dan membuatnya marah."
"Aku tidak mengejeknya." aku menjelaskan. "Aku benar-benar memujinya saat itu." Aku bahkan tidak tau kenapa Arlong marah saat itu.
__ADS_1
"Kau-" Melihatku bingung, mata Nami berkedip. Dia mengulangi dan berkata. "Dengan serius?"
"Serius." Aku menegaskan.
Nami menghela nafas dan berkata. "itu membuatku semakin khawatir."
"kau!" Aku mengulurkan tanganku ke bawah, memukul pantatnya. Nami mencicit, menggigit bibir bawahnya.
Menarik lututnya, aku mengangkatnya, menggendongnya seperti gendongan Putri, dan berkata. "Aku akan memberimu pelajaran malam ini"
Nami tersipu. Menendang-nendang kakinya untuk melepaskan. Sayangnya, dia tidak bisa.
Saat itu terjadi, aku melihat penginapan yang direkomendasikan pak tua itu. Bangunan itu cukup bagus dan besar.
Aku menunduk, menyeringai kepadanya saat berjalan masuk kedalam.
"Jack tungg-" Nami berteriak, dan aku tidak memperdulikannya. Kata-katanya terhenti ditengah kalimat.
Kami didepan pintu, semua kepala menoleh kami, dan aku tersenyum membalasnya.
Nami menutup wajahnya dengan tangannya, sikunya menusuk rusukku. Wajahnya memerah sampai ke ubun-ubun.
"Jack. Lepaskan!" Kata Nami dengan nada pelan.
Aku menertawakannya dan menurunkannya, lalu berjalan ke resepsionis.
Resepsionisnya adalah Perempuan paruh baya. Dia menertawakan perbuatan ku.
Menatapku, dia tersenyum dan berkata. "Kau pria yang beruntung, memiliki pacar yang sangat cantik"
"Aku tau." aku mengangguk, menyetujuinya.
Wanita paruh baya itu menggoda Nami, dia tertawa dan berkata. "Nak, jangan terlalu jauh. Pacarmu akan merajuk, dan melarang mu tidur dengannya."
kemudian, kami saling menatap, sebelum tertawa secara bersamaan.
Nami mencubit lenganku, dan aku menghentikan.
"Baiklah Baiklah, aku berhenti dan minta maaf"
"humpp!" Nami mendengus, memalingkan wajahnya.
Aku menghela nafas. Menoleh ke depan, aku menatap wanita paruh baya itu, dan berkata. "3 hari dengan kamarr yang terbaik."
wanita patuh baya itu, berpikir, menghitung jumlahnya, dan berkata. "Untuk tiga hari dengan kamar eksklusif, sekitar 1.000 berry."
Aku mengangguk dan menyerahkan uangnya. "Oke. Dan Terimakasih."
"Kesenangan untukku."
Kami menuju kamar kami, yang ternyata dilantai atas. Nami masih marah, menghentak kakinya saat berjalan.
"hey."
"hmpp!" Nami memalingkan mukanya.
"ayolah~"
__ADS_1
"hmpp!" Dia masih melakukannya.
Aku menghela nafas dan berkata. "Kau tidak memberiku pilihan."
kemudian aku mengangkatnya, menggendongnya kembali saat dia berteriak "kyaa!!" yang tidak aku pedulikan. Kami masuk ke dunia kecil kami tanpa peduli orang sekitar.
Di dalam ruangan. Aku melemparnya keatas kamar. Menyeringai, aku berjalan kearahnya, dan Nami tersipu, membuang mukanya.
xXxXx
Aku bangun. Sedikit menunduk, aku menatap Nami yang masih tidur disampingku. Tidak ada pakaian diantara kami.
Nami membuka matanya, berkedip beberapa kali sebelum terbangun sepenuhnya, menatapku.
Aku tersenyum, mencium bibirnya, dan berkata. "Pagi."
"hmm.."Nami mengangguk dan berkata. "Pagi Jack." Kemudian, dia duduk, meregangkan tubuhnya, dan keluar dari kamar, mencari pakaian.
Sebelum Nami memakai pakaian, aku menghentikannya. "Hey Nami, tunggu sebentar."
Nami menoleh ke arahku dan berkata. "Ada apa Jack?" Kemudian, dia mengerutkan keningnya. "Bukankah kau sudah cukup puas dengan tadi malam.."
Mulutku berkedut. Aku diam dan menjentikkan jariku. Air muncul dari ruang udara.
Volume air perlahan meningkatkan, mengambil bentuk gelembung sabun yang terbang saat ditiupkan.
Perlahan, air itu mendekati Nami, menyelimutinya, dan membersihkan seluruh badannya.
Nami berkedip saat melihat air menyelimuti tubuhku. Dia terdiam dengan kemampuanku.
Melihatnya diam, aku menyentuh bahunya dan berkata. "Ada apa?"
"Tidak. Tidak ada." Nami menggelengkan kepalanya, Dia ingin Jack memberitahunya sendiri. kemudian, Nami mengambil bajunya dan memakainya.
Aku mengangkat bahu sebelum memakai pakaianku. Celana pendek dan kaos tipis yang aku pakai, mengingat ini cuaca disini.
Turun kebawah, kami keluar dari penginapan. Di pasar. Aku dan Nami berbelanja sepuasnya. Bisa dibilang, hanya Nami yang berbelanja, dan aku hanya melihatnya memilih pakaian yang dia beli.
Apa yang kau katakan jika kau bisa mengendalikan emas? Dan karena itulah aku tidak perlu mengkhawatirkan sedikitpun uang.
Melihat seseorang menjual cumi bakar, aku menghampirinya.
Aku berlari ke depan, tanpa memperhatikan orang, tubuhku menabrak seseorang. Karena tubuhku keras, aku baik-baik saja. Sedikitpun tidak Bergeming.
Dia memijit pelipisnya. Mendongkrak, dia menatap ku, dan aku menatapnya. Tidak ada yang bicara.
Aku tau dia. Tapi, apa yang dilakukannya disini? Pasti sesuatu yang merepotkan. Karena merepotkan, mari kita berpura-pura.
Seolah tidak terjadi apa-apa, aku mengabaikannya. Tetap ke tujuanku sebelum.
Aku meneguk liurku sebelum mengulurkan lima jariku kepadanya, dan berkata. "paman, lima tusuk cuminya."
Paman itu tertawa dan menggelengkan kepalanya, dan berkata. "Nak, kau tidak boleh seperti itu." Menyerahkan pesanan ku, dia memberi saran. "Beri dia beberapa tusuk untuk meminta maaf."
Menggaruk belakang kepalaku, aku menghampirinya, memberinya dengan enggan dan berkata. "Ini. Aku minta maaf."
"K-kau!" Dan entah kenapa dia terasa dihina.
__ADS_1
xXxXx
(A/N: Tebak siapa itu!)