
Kapal kami tiba di sebuah pulau. Tidak ada teriakan, canda tawa atau seseorang disekitarnya.
Pulau itu sunyi. Senyap. Seolah, tempat ini bukan pulau melainkan, tempat yang terasingkan.
Turun, menepaki jalanan, aku menoleh ke belakang. Nami berlari, keluar dari kapal, dan masuk ke dalam pulau meninggalkan aku.
Saat ingin memanggilnya, aku berhenti ketika Seseorang memanggilku.
Menoleh kesamping dan sedikit menunduk, aku melihat seorang ibu, yang menggendong bayi dikedua tangannya yang kurus. Bajunya yang compang camping menjelaskan situasinya.
"Tuan. Bisakah anda menukarkan buah ini dengan sedikit garam?"
Bibir kering ibu itu bergerak, matanya menunjukkan belasan kasian, dan menatapku dengan harapan. Di lengannya terdapat buah jeruk.
Aku mengangguk dan mengambilnya.
Menyelipkan tangan lain kebelakang punggung, aku mengambil daging dan susu yang aku beli, dan menyerahkannya ke ibu itu.
Mata ibu itu kelihatan cerah. Dengan hati-hati, dia mengulurkan tangannya dan mengambilnya.
Ibu itu menangis, membungkuk beberapa kali kearah ku. Lalu memasukkan susu itu ke mulut anaknya yang menangis.
Aku hanya tersenyum dan melambaikan tangan sebelum dia pergi menuju rumahnya.
kemudian, Aku mengelilingi desa ini. Keadaannya cukup mengerikan. Kondisi setiap rumah, tidak cukup bagus untuk ditinggali.
Dan, Setiap kali aku berpapasan dengan seseorang, mereka selalu menjauh dan menghindari ku. Seolah aku ini seseorang yang menakutkan dan berbahaya.
Tidak, sampai aku melihat kebun yang hanya menanam satu jenis Buah. Buah jeruk, yang terjaga dan terawat dengan baik.
Berjalan, aku mendekati kebun itu, yang ternyata kebun seseorang. Berhenti didepan rumah, aku melihat wanita yang sedang berjemur di atas kursi.
Wanita itu memiliki aset yang besar, yang terselimuti didalam kaosnya. Sebagian Poninya terselip peta merah, dan sebagian lainnya dibiarkan terurai.
Mengulurkan tangan, aku memetik yang terdekat. Memilih yang Besar dan matang.
Wanita itu hanya memperhatikanku, dan saat aku mengambil jeruk, dia tetap diam.
Aku berjalan kearahnya dan berdiri di sampingnya. Batang pohon muncul, memanjang, dan berhenti saat membentuk kuris santai.
Melepaskan diriku, aku bersantai di atas kursi, saat aku mengupas kulit jeruk dan memakannya.
"Jeruk yang manis disini." kataku, menggigit jeruk itu.
"oh, ah... Terimakasih." Dia menoleh ke arahku dengan alisnya yang terangkat, masih waspada.
"Tidak ingin menanam yang lain? dan..." Aku mengangkat tangan. Tidak ada senjata di keduanya. "Aku tidak memiliki masalah isini.
"e-eh, ya." dia mengendurkan kewaspadaan dan bersantai kembali, lalu menggeleng kepalanya dan berkata. "Tidak. aku tidak menanam yang lain."
"Kenapa? Bukankah akan membosankan memiliki satu jenis yang sama di setiap desa."
__ADS_1
Dia menghela nafas. "Seperti yang kau lihat, tidak ada pedagang yang datang kesini"
Pajak disini sangat tinggi mengingat keadaan. Dan setiap kali pedangan ingin berdagang di sini, Arlong menarik pajang yang terlalu tinggi untuk para pedagang.
Pedagang yang merasa kerugian, mereka berhenti menyetor bahan pangan yang menyebabkan desa ini kelaparan.
Lebih parahnya lagi, Arlong, sebagai penguasa tidak melakukan apapun. Sehingga para warga, setiap hari memiliki kasus kematian yang sama, yaitu mati kelaparan.
"Apa yang kau lakukan disini?"
Aku menoleh kearahnya, lalu ke hamparan langit dan berkata. "Kau tidak akan percaya. Aku ditinggalkan seseorang di desa ini."
Dia tertawa kecil. "itu...itu sangat buruk." Melihatku tidak berbahaya, dia mengulurkan tangannya. "ini Nojika."
Mengangkat bahu, aku mengulurkan tangan, berjabat tangan, dan berkata. "Jack." Aku berhenti, mengedipkan mata kearahnya. "Dan aku membutuhkan seorang wanita cantik untuk menyembuhkan hati ku."
Dia melebarkan matanya, menyentuh kedua pipinya seolah tersipu. "Mungkin, aku akan berdiam disini beberapa waktu, menemani seseorang yang terlihat sedih."
Aku menariknya mendekat. "Dan siapakah seseorang yang menyedihkan itu?"
"Entahlah. menurutmu siapa?" Nojika tersenyum tipis. Dia menjauh dariku. "aku bukan wanita gampangan"
Mengangkat tangan, aku melepaskannya dan membiarkan menjauh. "wanita seperti itu yang sangat ingin aku dapatkan."
"oh, ho. aku menantikannya." katanya. "Btw, siapa yang kau sebutkan itu?" Dia berantusias menunggu jawabanku.
Aku mencubit daku ku dan berpikir. "Nami. kalau tidak salah." kataku, saat aku mendapatkan tatapan marah darinya.
Aku mengerutkan kening. Mengulurkan tangan, aku menariknya saat dia jatuh diatas ku, dan memeluknya diantara pinggangnya.
Nojiko menatapku dengan marah. Dia berusaha mendorong dirinya, menjauh dariku, Sayangnya, kekuatannya tidak ada artinya dibandingkan milikku.
Tatapan tajam diarahkan ke arahku. Aku hanya tertawa melihatnya, dan sebelum aku melepaskannya, seseorang berteriak didepan kami.
"kau." dia menunjuk ke arahku" apa yang kau lakukan kepadanya!" kemudian dia menoleh kerah Nojiko. "Dan Nojiko, kenapa kau membiarkan dirimu dipeluk oleh pria asing?"
Nami menyilangkan lengannya.
Mendengar suara Nami, Nojiko gelisah.
Dia mendorong dirinya dan menghampiri Nami, memberikan penjelasan kepadanya. "Tidak seperti yang lihat Nami." Nojiko menatapku. "dia memelukku dengan paksa, dan aku tidak bisa melakukan apa-apa kepadanya."
Nami menatapku dengan kecewa. "Kau. Dasar hewan buas."
"Aku tau, aku tampan" Aku mengangguk, menjelaskan.
"kau-" Suara Nami tidak terdengar dengan suara gemuruh di tanah.
"Oya, apakah pria kecil ini yang membuat pencuri kecil kita mengkhianati kami?" homonoid ikan berbicara mengejek.
"manusia rendahan, tidak tau mana yang terbaik." salah satu anteknya, yang juga homonoid ikan menambah.
__ADS_1
Pemimpin homonoid ikan- Arlong itu, melihat ke arahku dengan seringai. Dia ingin manusia itu merasakan ketakutan dengan kehadirannya.
Di atas kursi, aku mengangkat tanganku, memasukkan jariku ke lubang kidung, aku mengoreknya.
Dan dengan respon lambat, aku berdiri, berjalan kesamping Nami, dan berbisik kepada tanpa menekankan perkataanku. "Hey Nami. Sejak kapan ikan bisa bernafas di atas air?
Kedua bersaudara menahan tawa saat melihat wajah bingungku. Aku memiringkan kepal dengan respon mereka.
Karena tidak ada respon yang diinginkan, aku meninggalkan mereka, berjalan maju, dan berhenti didepan Arlong.
Aku mengangkat daguku agar bisa menatapnya. Menilainya, aku memberi jempol kepadanya, lalu menepuk pahanya karena ukurannya, dan berkata. "Man, aneh. kau adalah jenis manusi ikan pertama yang aku lihat. Menarik menarik."
Arlong kesal. mulutnya berkedut, dengan urat muncul di dahinya.
Dia mengangkat kakinya, mengarahkan ke arahku, dan menendangnya dengan cepat. Sekilas gerakannya kabur, dia menarik kakinya kembali saat debu ditendang, mendorongku kebelakang.
"Jack!!" Teriak Nojiko, menutup mulutnya, dia terkejut.
"Kalau kau mati, bagaimana dengan kesepakatan kita?" kata Nami. Dia ingin menghampiriku.
Melihatnya, Nojiko menarik tangan Nami, menghentikannya saat Nami menoleh kepadanya, dan dia menggelengkan kepala kepadanya.
xXxXx
Kakinya mati rasa, seolah dia sedang menendang sesuatu yang keras, dan...berpasir?
Arlong mengangkat kakinya. Disela-sela kakinya terdapat pasir yang menempel. Saat dia melihat pria yang dia tendang, sebongkah pasir menghalanginya.
Pasir itu perlahan melebur ke tanah dan menghilang. Merentangkan tangan, aku meraih pedang dan menggenggam gagangnya dari udara kosong.
Meletakkan sisi tumpulnya di atas bahu, tangan lainnya mengorek telinga, aku mengejeknya. "Apakah manusia ikan masih belum mempelajari tata Krama manusia?"
"Manusia rendahan. Tembak dia!" Arlong berteriak memerintahkan anak buahnya.
Anak buahnya, sekitar 9 orang-makhluk, mengangkat senjata mereka, mengarahkan kearah ku dan menembaknya.
Rentetan peluru berterbangan kearah ku.
Aku memberi chakra kedalam Pasir. Pasir melayang, membentuk perisai saat peluru berhenti dalam jalurnya dan terjatuh ketika mengenainya.
Mereka terus menembakkan pistolnya, yang sama, terbuang sia-sia. Karena tidak ada guna untuk melanjutkannya, aku mengakhirinya.
Aku mengangkat tanganku keatas. Pasir terbang. Bergerak dari bawah, menutup kaki mereka, kemudian seluruh badan mereka tertutup pasir.
Perlahan pasir itu bewarna merah saat aku menggenggam tanganku. peluru berhenti, dan aku melepaskan pelindung pasir ku.
Aku berjalan sambil memamerkan pedangku.
Arlong terkena tekanan. Tanpa sadar dia melangkah mundur, dia terjatuh dan terduduk di atas tanah ketika kerikil menghalangi kakinya.
(A/N: •••••••)
__ADS_1