
menarik pintu, aku masuk kedalam ruangan. ruangan bos sebelumnya.
tempat tidur, beberapa botol kosong, dan beberapa harta Karun didalam ruangan. Semuanya terlihat menjijikkan.
Ruangan yang tidak pernah dirawat atau dibersihkan.
Aku masuk kedalam, mengambil harta Karun di samping kamar tidur. Mungkin aku akan muntah untuk berlama-lama.
Melambaikan tanganku, portal terbentuk. aku mencengkram harta karun itu dan melemparnya kedalam portal. Aku tidak perduli jika sebagian hartanya milik pedagang.
Setelah selesai, tanpa aku sadari, aku sudah berada di luar. Tubuhku bergerak sendiri.
Berlari ke sisi kapal, aku mengambil nafas panjang. kemudian, aku bersandar di tepiannya.
Dari kerumunan, sepintas seseorang mengendap-endap masuk kedalam ruangan aku sebelumnya.
Sayangnya, aku melihatnya. aku melihat seorang wanita, lebih tepatnya seorang gadis dengan lekuk tubuh yang tidak berkembang itu.
Karena tidak ada yang tersisa, aku membiarkannya sesukanya, dan mengabaikannya.
Pemimpin pedagang dengan masang berdiri didepan ku.
Aku menatap pria itu dengan datar, keningku terangkat. "katakan!" kataku dengan garing.
Dia tidak bicara, sedikit gugup dan berkeringat, sebelum dia berkata "Tuan, bisakah kami sedikit mengambil kembali barang kami yang telah di rampok sebelumnya?"
"tidak." aku menjawab dengan cepat.
"tap-"
Aku memotong perkataannya dan memutar mataku. "aku tidak membantu secara gratis. Bukankah sudah aturannya, harta bajak yang telah dikalahkan akan beralih yang mengalahkannya?"
Dia memahaminya dan mengangguk dengan enggak.
"bagus." aku melambaikan tangan dan berbalik menghadap laut. "pergi, aku tidak ingin perkataan lainnya"
Dia menghela napas dan menjauh.
Sebelum dia pergi, aku menghentikan. "Tunggu!"
pemimpin pedagang itu berhenti, berbalik dan menatapku.
"Kalian bisa pulang menggunakan kapal ini."
"Begitukah, terimakasih tuan. Dan maaf merepotkan"
Dia pergi dengan gembira lalu menyuruh anak buahnya untuk bersiap.
Dibawah kapal. Lautan yang asalnya tenang, bergerak seolah ada sesuatu didalamnya.
Riak air terus bergerak. sebuah kayu dengan samar dibawah laut, melilit dan menyatu membentuknya sesuatu.
Setelahnya Kapal besar muncul dipermukaan laut. Kapal itu sedikit bergoyang dibawah riak sebelum berhenti, dan stabil.
Aku mengangguk dengan keseimbangannya.
__ADS_1
Menciptakan pasir awan di atas kakiku, aku melayang dan mendarat di kapal tersebut.
"hei, kau, Tunggu sebentar!!" Teriakan yang ternyata seorang gadis sebelum yang masuk kedalam ruangan itu.
Gadis itu berlari, melompat, dan mendarat di kapal ku, sebelum dia tersungkur dan terduduk kewalahan.
Dia terengah-engah, mengangkat kepalanya, dan telunjuknya menunjuk ke arah ku. "k-kau." dia menyesuaikan nafasnya. "kembalikan barang curian mu!"
Aku menurunkan pandanganku dan mengerutkan kening ku. "apa? sejak kapan aku mencuri." aku bertanya-tanya dimana aku pernah melihat wajah asing gadis itu.
Gadis itu berumur sekitar 15, 16. Memiliki rambut orange yang jatuh di pundaknya, wajah cantik jika ditambah sedikit lemak. Dan sifatnya, yang berbinar saat mengenai harta.
"jangan berbohong. aku tau kau yang mengambilnya." dia menepuk bajunya dan berdiri "dimana kau menyembunyikannya?!!" Dia menetap tajam kearah ku.
"oi, berhenti menuduhku anak kecil. sejak kapan aku serendah itu, mencuri sesuatu dari anak-anak." aku membantahnya "aku juga memiliki harga diri."
UPS, sepertinya dia marah.
"k-kau." dia menggertakkan giginya "aku bukan anak kecil. Nami, Namaku Nami, ingat itu!" kemudian dia menambahkan. "Dan dimana harta yang kau sembunyikan!!"
aku memiringkan kepala ku. "harta? harta yang mana?"
"jangan berpura-pura tidak tau. kau kan yang mengambil harta bajak laut sebelumnya?"
"hmm.." aku termenung sesaat sebelum menampik kedua tanganku "oh, yang ini ya." Aku melambaikan tangan dan portal muncul di depanku, menjatuhkan harta yang dimaksud.
"i-itu.." dia sedikit grogi setelah Melihat kemampuanku. Bahkan, dia tidak berani melanjutkan kata-katanya.
Aku tersenyum mengejek. "Dimana arogansi mu tadi, hah? siapa tadi..., Nami?"
Nami berdiri di sana, mematung. Wajahnya masang, tetesan air mata jatuh dimatanya.
Jika dia tidak mendapatkan uang itu, desanya akan kelaparan. Bahkan sudah beberapa bulan sejak desanya mendapatkan pasokan makanan. Mungkin beberapa warga akan mati kelaparan jika dia membawa tangan kosong.
Aku menghela nafas lelah.
Kenyataan tidak seindah di anime.
aku duduk bersila menghadapnya.
Menjatuhkan sikuku di bagian paha, telapak tanganku menopang daku ku, aku menatapnya. "katakan, apa yang akan kau tukar?!"
"hah?.." dia mengerjap. mengedipkan matanya beberapa kali, memahami perkataanku.
"jangan bengong. cepat katakan apa yang akan kau tukar dengan harta itu!" aku memperjelas.
"a-aku..." dia tampak ragu, terdiam. pikirannya berkecamuk. sayangnya tujuan sudah jelas. Akhirnya dia membuka mulutnya ketika dia menunduk kebawah. "Diriku. aku menawarkan diriku."
"pftttt...HAHAHA." aku tertawa. sudut mataku menitikkan air mata sebelum aku menyekanya. "aku tidak tertarik dengan yang kecil."
"kau... kau Bajingan!" dia menatap tajam ke arahku, dan dia berteriak "aku pasti akan tumbuh dalam beberapa tahun, tidak, 2 tahun saja sudah cukup!"
Dia tidak bisa membantah dan hanya bisa menunggu tubuhnya berkembang. Setelah tubuhnya sempurna dan ideal, dia tidak akan berhenti menggoda pria angkuh didepannya ini dan membuatnya memohon.
aku termenung memikirkan proposal nya. Menatap kearah nya dan memejamkan mata, aku mengangguk. "baiklah. tidak ada salahnya dengan berjudi." kataku dengan main-main.
__ADS_1
Membuka portal sekali lagi, dan mengeluarkan harta itu, aku mendorongnya. "ambil sebelum aku berubah pikiran."
Mata Nami berbintang, aura nya berubah. Dia berlari dan mendekapnya, membawa menjauh dariku.
Membawanya kedalam kapal, dan keluar dalam keadaan lega.
Kemudian dia menatapku, satu orang didalam kapal. Tidak ada anggota lainnya. dia menggaruk kepalanya, sebelum mengangkat bahu, dia berkata. "jadi, kemana kita akan berlayar?"
Aku tidak menjawab. Mengarahkan telunjukku dan menjilatinya, dan mengangkatnya ke atas sebelum aku mengangguk dengan pasti.
"ke arah selatan,!"
"dari mana kau tau?"
"mata angin" aku mengangkat bahu.
Dia memutar matanya, lelah dengan perilaku-ku. "beruntung aku adalah seorang navigator." dia menghela nafas sekali lagi.
Mengambil peta dari saku, Nami merencanakan jalur kapal yang akan mereka datangi.
Dia memutuskan berlayar ke pulau peradangan. Di sana, dia ingin membeli bahan makanan untuk desa nya.
Tapi, sebelum itu, dia harus bertanya kepada Tuannya terlebih dahulu. "Tuan-"
"Jack." aku memotongnya, dan kembali menikmati hamparan lautan senja.
"jadi, Jack.. boleh kah kita menuju ke pulau ini terlebih dahulu?" dia berdiri sampingku dan memperlihatkan petanya.
Aku tetap tidak mengalihkan pandanganku, tapi bertanya balik kepalanya. "apakah di sana ada makanan?"
"ya. disana memiliki berbagai macam makanan"
"yosh, kita ke sana."
".... ya." Melihat wajahku dari samping, dia mengakui bahwa aku tampan, sebelum dia menggelengkan kepalanya dan menghentikan pikirannya.
Tidak ada lagi yang dikatakan, dia menggerakkan kakinya ke kendali kapal.
Kapal bergerak, berlayar melewati hamparan lautan yang memantul kekuningan. Damai sesaat yang mereka rasakan.
"Nami, lihat ini"
Mendengar dipanggil, dia keluar.
Melihatnya keluar, aku tersenyum sebelum melambai kearahnya. aku menunjuk kebawah saat dia mengikuti arah telunjukku.
wajahnya beku, syok apa yang dia lihat. aku menertawakan wajah yang dia buat, sebelum aku berhenti dan fokus dengan keajaiban yang kami lihat.
Dia sadar, lalu menoleh kesamping. ekspresi wajahnya rumit saat dia melihat ku bersenang senang dengan sesuatu seperti itu.
Badannya berhenti tegang saat dia melihatku lepas tertawa tanpa menghawatirkan hal itu.
Dia rileks, mengendurkan tubuhnya, menikmati fenomena didepannya.
Monster laut seukuran 7 kali kapal yang mereka tumpangi, berenang dibawah kapal mereka. Tubuhnya bercahaya, menghasilkan kilauan indah dibawah lautan.
__ADS_1