One Piece: Buah Cakra

One Piece: Buah Cakra
Pelatihan


__ADS_3

Menutup mata dan menahan nafas, aku melompat ke sungai. Bersiap kemungkinan yang terjadi, aku memegang pinggiran batu dengan tangan kiri ku, bersiap untuk kemungkinan terburuknya.


Saat tubuhku menyentuh air, aku sedikit tegang sebelum menjadi tenang saat aku hanya merasakan dinginnya air sungai di seluruh tubuhku.


Tidak ada merasa aneh, aku menghela nafas lega.


Berenang kepermukaan, aku mencapai tanah sebelum aku melepaskan bajuku yang basah. Betapa bodohnya aku, berenang menggunakan baju yang hanya satu-satunya baju yang aku punya. Seharusnya aku telanjang saja tadi, juga, tidak ada satu orangpun di pulau ini.


Memeras baju, aku menjemurnya di dahan pohon yang terkena sinar matahari. Melihat ke celana, haruskah aku melepaskannya juga? tidak, tidak, aku masih memiliki harga diriku.


Aku menggeleng kepala.


Sepertinya celanaku agak sedikit sesak. Aku merasakan perubahan pada tubuh ku, meski aku berumur 10 tahun menurutku, tubuhku terlihat seperti anak berusia 12 tahun.


Dan juga, aku tidak pernah merasa lapar sejak aku memakan buah chakra. Merasakan kondisi tubuhku seperti ini, aku berargumen, aku dapat tidak makan selama setahun... Mungkin lebih.


Selesai mengevaluasi tubuhku, aku mengambil daun yang berada di pohon. Meletakkannya di dahi, mengalirkan Chakra dititik itu, aku mengendalikan manaku agar daun itu tidak jatuh.


Dan hasilnya, tidak terjatuh tanpa sedikitpun usaha. Tapi...bukankah ini terlalu mudah?


Mengambil 5 daun lagi, aku meletakkan di masing-masing wajahku. Tanpa sedikitpun usaha, aku berhasil mempertahankan di wajahku.


Apakah aku memiliki keahlian kontrol dalam mana? Dan berapa maksimalku? Karena penasaran, aku mengambil daun lagi, tapi juga berhasil.


Tanpa menghitung lagi, aku terus-menerus menempelkan daun di lengan kiri, lengan kanan, kaki, sampai seluruh badanku tertutup daun tanpa aku sadari. Menyisakan mata dan lubang hidungku untuk bernafas.


Mungkin karena memakan buah chakra, asal mula chakra berasal, aku dengan mudah memanipulasinya. Dan, Mungkin aku juga mendapatkan semua sifat chakra jika perkiraan ku benar.


Mengendalikan Chakra di telapak kaki, aku mempertahankannya dan menjaganya tetap stabil sebelum aku berjalan di permukaan air.


Perasaan terkagum-kagum, setiap langkah kakiku. Tidak pernah mengira, aku seorang abad 21, dapat berjalan di atas air tanpa sedikitpun tenggelam.


Aku tersenyum puas. Mungkin beberapa latihan sedikit menyenangkan.


xXxXx

__ADS_1


Di tahun pertama, aku mempelajari kontrol chakra dan sifat chakra. Kontrol chakra ku setingkat Rikkudo Sennin dalam hal bakat. Kenapa tidak Kagura? Dia hanya memiliki kekuatan mentah, tidak pernah mau melatihnya yang karena itu membuatnya kalah dalam hal bertarung.


Sifat chakra ada lima, dan aku memiliki semua sifat chakra. Dan kecocokannya, Jika dipersentase, aku dapat mengatakan 100% di setiap sifat chakra.


Di tahun kedua, aku mempelajari yin dan yang. Meskipun kali ini sedikit sulit, aku dapat mempelajarinya dengan baik, bahkan secara otodidak. Di bakat ini, dapat dikatakan aku lebih tinggi dari Rikkudo Sannin.


Alasannya sudah jelas. Hanya perlu satu tahun untukku mempelajari yin dan yang, sedangkan Rikkudo Sannin, yang sudah familiar dengan chakra sejak lahir, tidak dapat dia kuasai dalam satu tahun.


Mungkin itu wajar baginya, tidak seperti aku, yang mengetahui pengetahuan novel xianxia yang dapat aku terapkan.


Yin, setelah mempelajari dan menetapkan, kekuatan spritual ku meningkatkan tinggi. Tingginya spritual, memudahkan ku mengimajinasikan dan menerapkan teknik yang sangat rumit.


Dan Yang, yang meningkatkan fisikku berkali-kali lipat, setingkat wakil angkatan laut. Meskipun tidak menyamai ketua angkatan laut, tetap saja itu sudah cukup kuat. Digabungkan dengan segel tangan, itu cukup untuk melawan ketua angkatan laut dan bajak laut lainnya.


Tahun keempat dan kelima, aku meneliti Kekkei Genkai. Cukup lama untuk satu ini. Dari mengamati kecocokan antara satu elemen dan elemen lainnya, agar selaras, membentuk, dan berakselerasi yang menghasilkan Kekkei Genkai yang baru. Dibutuhkan satu tahun untuk semua itu.


Sisa tahunnya, aku menerapkan untuk pertempuran meskipun hanya pohon dan hewan buas lainnya yang menjadi karu- ehem, partner latihan ku.


Dari Elemen Uap, Elemen Lahar, Elemen Hangus, Elemen Es, Elemen Magnet, Elemen Ledak, Elemen Badai, dan Elemen Kayu. Meski elemen kayu yang aku minati.


Setengahnya lagi, untuk mempelajari mengendalikan dan membentuk Gudoudama sesuai keinginanku, yang sedikit sulit untuk aku pelajari.


Tahun ketujuh, aku mempraktekkan ilmu pedang. Menciptakan pedang dari Godoudama, menaikkan beratnya sekitar 2 ton, aku hanya mengayunkannya ke depan tanpa teknik mendasar, sekitar 2000 kali setiap hari, di hari pertama. (A/N: ini anime One Piece dengan Fisik yang gila, jadi jangan diperdebatkan)


Meskipun dengan faktor penyembuhan ditingkatkan, itu cukup untuk aku merasakan latihan di neraka. Dan Setiap bulannya, aku menaikkan beratnya sekitar 100 kilo, berakhir di 5 ton tanpa aku naikkan lagi.


Cukup latihan neraka nya. Sudah saatnya untuk keluar dari pulau ini, menjelajah dunia baru yang luas ini, yang banyak dipenuhi dengan lautan.


"Sudah saatnya kan, Piggy?" aku noleh babi raksasa disampingku, bersantai dipasir "tidakkah kau akan merindukanku?"


"oing! oing! oing!" wajah babi mengatakan sebaliknya.


"apa, kau tidak sedih?" Aku kecewa "kukira hubungan kita spesial" menoleh kesamping lain, seekor ular dengan berat 3 ton menjulurkan lidahnya "Tapi, hubungan kita seperti itu kan, snikky?"


Mendengar namanya dipanggil, ular itu menatap kerah ku dan memiringkan kepalanya, berderik "shi~ shi~ shi~" dia menjulurkan lidahnya.

__ADS_1


".…." aku terdiam.


Karena tidak ada satupun yang dapat ajak bicara, menghasilkan rasa gatal di mulut, aku mengajak bicara penguasa hutan ini setelah tahun ketiga di pulau ini.


Babi dan ular raksasa ini sebenarnya tidak akur, tapi karena aku, mereka terpaksa berdamai saat aku menendang pantat mereka untuk teman bicaraku.


Untungnya mereka cukup mengerti dengan perkataanku, dimana mereka menggerakkan tubuh mereka untuk membalas obrolanku.


Hmmm? aku merasakan sesuatu yang datang, 300 meter dari pulau, menuju ke sini. Memfokuskan mata, aku melihat kapal yang mengibarkan bendera bajak laut.


Aku menyeringai, bukankah aku beruntung? baru saja aku ingin keluar dan membutuhkan kapal. Dan sekarang, kapalnya menuju kesini dengan sendirinya. Mungkin karena jiwaku seperti Buddha, keberuntunganku sangat bagus.


Saat kapal bajak laut 50 meter dari pulau, babi dan ular itu baru merasakannya. Memberitahu, mereka berteriak, mengeluarkan suara khas hewan mereka kearah ku.


Yosh saat nya bekerja.


aku berdiri, melangkahkan ke depan dan berbalik. Menatap keduanya, aku tersenyum "baik teman-teman, kembali ke hutan dan bersiap sesuai rencana"


Keduanya memiringkan kepala, tidak pernah membahas rencana apapun. Tapi mereka mengangguk, berlari kedalam hutan, menghasilkan getaran di seluruh pulau.


xXxXx


"Bos, sebaiknya kita menghindari pulau itu. Aku rasa disana berbahaya" kata salah satu bajak laut, kepala botak dengan bekas luka di kepala.


kapten itu, memiliki rambut acak-acakan dan luka jahit di alis kiri, menatap tajam pria botak "dimana lagi kita bersembunyi selain di pulau itu?" kapten berhenti bicara, menghisap rokok dan menghembuskan asap, dia melanjutkan "Mencari persembunyian lain membutuhkan waktu, membuat kita tertangkap oleh anjing pemerintah!"


"t-tapi..bos, getaran tadi..." Botak itu menelan ludah, mengingat getaran sebelumnya dari pulau itu "bukankah itu sama saja, terbunuh?"


"lebih baik terbunuh daripada tertangkap anjing pemerintah" kapten itu menegaskan kembali "kau tidak tau, apa yang akan kau alami saat dipenjara" Kapten itu menatap pulau, dan menghisap rokoknya, mengabaikan botak yang berpikir dibelakangnya.


xXxXx


mc sekarang, 17 tahun meski terlihat sekitar 19 tahun


__ADS_1


__ADS_2