One Piece: Buah Cakra

One Piece: Buah Cakra
Dua bersaudara


__ADS_3

Menunduk, aku melihat Arlong yang menyedihkan.


Dia bahkan tidak berani menatap mataku. Kakinya mendorong, menjauhkan pantatnya saat aku mendekat.


Tanganku memegang bilah pisau, melambai-lambaikan keatas. Kilatan hitam di setiap tebasan nya. Aku memainkannya seperti mainan bagiku.


Melihat kecepatan pedangku, Ekspresinya menegang, mulutnya bergetar saat menatapku. Dia tidak percaya apa yang dia lihat.


"baiklah." Aku menguap, memperbaiki postur ku dan berkata. "Apa yang harus aku lakukan kepadamu?"


"K-kau tidak bisa membunuhku." Jarinya menunjuk ke arahku, gemetar. Dia memaksa mulutnya untuk bergerak.


Menghunuskan pedang kebawah, kedua telapak tangan diatas gagang, aku meletakkan daguku, dan berkata. "Apa yang membuatmu mengatakan itu?"


"A-aku memiliki bangsawan dunia dibelakang ku" katanya, mencoba menakuti ku.


"Bangsawan dunia, ya." Aku diam, menutup mataku.


Arlong tertawa menang saat dia melihatku tidak bergerak. Tidak, sampai aku melambaikan pedangku, yang mengompres bilah udara, kearahnya, dan memenggal kepalanya.


Sesaat, Arlong, yang melihat tubuhnya sendiri, matanya melebar, sebelum redup dan meninggal. Dia bahkan tidak mengetahui kapan kepalanya putus dari lehernya.


Aku menghilangkan pedangku. Bekas partikel-partikel pedang tadi, melayang, dan membaur dengan udara.


Membalikkan punggungku, aku melihat kedua bersaudara yang tidak percaya. Aku tersenyum, dan mereka menatapku.


Nami, yang tidak tahan lagi, air matanya jatuh yang membasahi pipinya. Tubuhnya terkulai lemah, dan tangannya menutup matanya.


Dari depan, Nojiko memeluk Nami. Dia juga menangis saat Nami menangis. mereka bahkan tidak tau, seberapa besar perjuangan yang sudah mereka lakukan untuk bebas dari Arlong.


Dan, dalam sekejap, pria yang entah darimana, muncul seperti setitik harapan yang menerangi kegelapan.


Aku diam dan menunggu.


Mengirim chakra ke tanah, bumi terbelah. Awan pasir, yang diatasnya mayat, melayang dan membuangnya kedalam.


Memberi sedikit isyarat, tanah kembali menutup, menelan Arlong dan anak buahnya. Itu cara pemakaman yang tidak pantas untuk dilakukan, dan aku yang melakukannya.


Hasil dari pertarungan itu, kebun Nojiko rusak. Terlalu berantakan, dan harus memulai dari awal jika ingin merawatnya kembali.


Nojiko, yang didepan ku, menatapku dengan mata yang kendur, sebelum tersenyum dan memelukku saat dia berterima kasih di dadaku.


Aku memeluknya, menariknya lebih dekat. *********** menekan dadaku, dan aku sebagai remaja normal, tergoda oleh itu.


Memiringkan kepala kesamping, aku mendapat tatapan tajam dari Nami. Aku memberinya senyum kemenangan, dan dia, terlihat kesal entah bagaimana.


Saat aku melepaskan pelukan, Nami berjalan kerah kami. Nojiko yang enggan melepas ku, menjauh saat dia melihat Nami menatapnya dengan kesal.

__ADS_1


Nojiko bersiul dan membuang muka.


"Apa yang kau lakukan sekarang" Nojiko beralih ke wajah serius, khawatir dimatanya. "Bangsawan dunia tidak akan melepaskan mu dengan mudah."


"B-bagaimana kalau kita kabur." kata Nami. Menatap lurus ke mataku dengan rasa bersalah, dia melanjutkan. "Bersembunyi dan tinggal di pulau terpencil. Aku akan mengurus semua kebutuhanmu di sana."


Di One Piece, pulau-pulau terpencil atau belum di jejah, tidak dapat dihitung dengan jari. Terlalu luas untuk dijelajahi dengan umur yang pendek.


"heh. Memangnya apa yang harus ditakuti dari bangsawan dunia" aku mengejek, memberi wajah datar. Dengan kekuatanku, aku cukup kuat untuk berlayar di Grand Line.


Nami marah. Mengira aku tidak tau apa-apa tentang bangsawan dunia. "Kau tidak mengerti betapa mengerikannya pemerintah dunia saat-"


Memotongnya, aku memegang kedua bahunya, lalu menatap matanya yang bergetar dan berkata. "Aku tau! Dan aku cukup percaya dengan kemampuanku. Dari awal aku tidak akan melakukan ini dan segera menghilang di suatu tempat kalau aku tidak percaya dengan kemampuanku sendiri."


Aku memberinya penjelasan panjang lebar, dan Nami mempercayai perkataanku.


Nojiko mengangguk. Menyapu sekeliling, wajahnya masam dengan tangannya di pinggul. kebunnya hancur total, sedikitpun tidak ada.


Dia hanya menghela nafas, merosot kan bahunya. sepertinya, dia akan melakukan banyak pekerjaan setelah ini.


Aku memperhatikan Nojiko, dan mentertawakannya.


Melirik Nami, aku meraih pinggulnya dan berkata. "ingat dengan kesepakatannya, kan?"


"ya. aku mengerti." Wajahnya kemerahan. Dia bahkan tidak berusaha mendorongku menjauh.


"kesepakatan apa yang kalian buat?" Nojiko memperhatikan kami dari samping. Dia mendekat, menunggu jawaban.


Nami mencubit pinggangku, yang tidak ada rasa, dan berkata. "Aku menawarkan diriku, meminjam kekuatan Jack untuk mengalahkan Arlong." Nami menundukkan kepalanya, tidak berani menatap Nojiko.


Nojiko mendesah. Saat dia menatapku, mulutnya tersenyum, menarik lenganku ke dadanya, dia berkata. "Mungkin itu pilihan tepat untuk dilakukan."


Nami mengangkat kepalanya, matanya melebar, dan senyumnya terbentuk di mulut.


"Bagaimana dengan menginap disini terlebih dahulu?" Nojiko menawarkan. "Bangsawan dunia tidak akan bertindak cepat untuk seseorang seperti Arlong."


Arlong tidak lain hanya alat sekali pakai. jika dia mati, ya mati. mereka bahkan tidak perlu mengurusnya, dan mencari pengganti untuknya.


Untuk yang membunuhnya, mereka akan membunuhnya karen berani berbuat macam-macam dengan mereka.


Nojiko menatap tenda celanaku, memberi sinyalnya. Aku mengangguk antusias dan menyetujuinya.


Nami memperhatikan suasana kami, kepalanya memerah dengan Geraman. Dia tidak percaya apa yang merasa lakukan dihadapannya.


Dan jujur, dia sedikit kesal. Dia pertama dan Nojiko kedua, dia harus tau hal itu. Dengan mendengus, Nami menjauh, melepaskan dirinya, dan masuk kedalam rumah.


Nojiko dan aku saling menatap, diam, sebelum kami tertawa, dan mengikuti Nami kedalam rumah.

__ADS_1


Tanganku tergelincir kedalam pantatnya. Rasanya kenyal saat aku meremasnya. Nojiko mengangkat kepalanya, memberi senyuman ke arahku.


Dia menarik tanganku, bergegas, ke suatu ruangan. Ruangan itu santai. Hanya terdapat 1 kamar tidur, beberapa foto yang memperlihatkan 3 orang, dan Bungan kecil didekat jendela.


Aku duduk disudut kamar tidur, dan Nojiko berdiri di depanku. Menarik Pakaiannya satu persatu, Nojiko memperlihatkan tubuh beningnya saat dia merangkak ke arahku.


Duduk di pangkuanku, saling berhadapan. Mata hitamnya menatap mataku, sebelum mengerakkan mulutnya dan menciumiku.


Kami berciuman. Aku meraba-raba seluruh badannya, pantatnya bergetar saat dia mengerang didalam mulutku.


Pintu berderak, celahnya terbuka, dan Nami, jatuh kelantai dengan kedua lutut dan tangannya.


Nami mendongkrak, melihat kami, dia memalingkan wajahnya. Telinganya memanas, diikuti seluruh wajahnya yang kemerahan.


Memalingkan kepalanya, Nojiko melihat Nami. Dia menyeringai, dan tersenyum, sebelum berkata. "Apa yang dilakukan kucing liar di sini. mau ikut bermain?"


"itu..aku..." Nami skeptis, bingung mau memberi alasan apa, sebelum mengangguk saat dia menunduk.


Nojiko tercengang, sudut mulutnya terangkat membentuk senyuman. Dia melambai dan menyuruh Nami mendekat.


Nami mengangkat lututnya dan mendekat. Melepas pakaiannya, Nami lemparnya kesamping saat aku melihatnya.


Memutuskan bermain dengan Nami, aku mengulurkan tanganku ke dadanya. Asetnya bergoyang dengan goncangan.


"Fufufu~ sebaiknya kita melakukan sesuatu dengan yang satu ini~"


Dan saat itu, kami bermain sampai pagi berikutnya, dengan kedua bersaudara yang tidak sadarkan diri di atas ranjang.


xXxXx


Aku terbangun dengan tubuhku terhimpit dikedua sisi. Menunduk, aku melihat Nojiko dan Nami yang tertidur.


Mengulurkan tangan, aku meremas pantat mereka.


Mereka terbangun. Nojiko melihatku memainkan tubuh mereka, dan Nami mengirimku tatapan tajam.


"bukankah sekecil terlalu cepat bangun." Nojiko tertawa kecil.


"Binatang. Apakah malam tadi kau tidak puas?" Nami merasakan tubuh bawahnya masih sakit, tapi dia menahannya dengan kesenangan yang aku buat.


"Nami," Nojiko memberi. "kau bisa membiarkan aku mengurus semuanya."


Nami menggelengkan kepalanya. "Tidak. Biar aku juga melakukannya." kemudian, Nami mengikuti apa yang dilakukan saudaranya.


Itu adalah salah satu pagi yang indah sejak aku berasa di dunia ini.


xXxXx

__ADS_1


(note: hehh...)



__ADS_2