One Piece: Buah Cakra

One Piece: Buah Cakra
Raja Alabasta ke-12, Nefertari Cobra


__ADS_3

Vivi terus mengulang-ulang percakapan antara dia dan Jack. Dia menuju ke sebuah karavan pedangan.


Di lapangan luas. Pedangan dengan karavan kudanya berdiam ditempat.


Pemimpin pedangan itu memiliki daftar ditangannya, matanya melirik kesana-kemari saat dia mengamati anak buahnya, dan tangannya bergerak lincah mencoret-coret daftar yang dibukukan.


Menebak pria itu adalah memimpin karavan, Vivi mengerakkan kakinya, mendekati pria itu, dan menyapanya saat didepannya.


"Tuan," Vivi memanggilnya. "Kalau boleh tau, kemana karavan ini akan pergi?"


"hmm?" Pemimpin itu mendengar suara disisinya, dan saat dia menoleh, dia melihat seorang yang memakai jubah. Pemimpin itu mengangkat alisnya dan berkata, "Alubarna. Apakah ada sesuatu yang Anda butuhkan?"


Vivi mengangguk, jubahnya sedikit bergerak, kemudian tangan muncul dipenuhi beberapa beri saat Vivi mengulurkannya, dan berkata, "Ya. Aku ingin menumpang di karavan kalian menuju Alubarna."


Pedagang berkedip, berpikir sebentar, lalu melirik Vivi, tidak merasakan bahaya, pedagang itu mengangguk dan berkata cerah, "Baiklah. Kamu bisa naik ke kereta itu terlebih dahulu, kami perlu menyelesaikan pekerjaan kami."


Melihat kereta yang ditunjuk, Vivi mengangguk, menaruh tangannya didepan matanya untuk melindungi debu pasir, Vivi naik ke belakang kereta.


Didalam dipenuhi dengan barang dagang. Vivi duduk di ruang yang cukup kosong, duduk diam didalam.


Alasan Vivi tidak menyewa transportasi adalah karena Vivi tidak ingin mengambil resiko. Dengan sekelompok pedagang ini, Vivi tidak perlu khawatir karena musuhnya tidak mungkin melakukan sesuatu secara terang-terangan.


Tidak lama kemudian, kereta itu berangkat, dan Sekitar lima jam, mereka tiba di sebuah kota.


Karavan berhenti didepan gerbang, kemudian pemimpin itu keluar, sedikit percakapan, lalu pemimpin itu kembali ke dalam kereta.


Gerbang terbuka, dan karavan masuk ke dalam kota, berhenti, mereka tiba di pusat perdagangan Alubarna.


Melihat keluar kereta, Vivi mengamati tempat kelahirannya, bibirnya manisnya melengkung.


Kemudian Kaki kanannya menjulur ke luar, turun dari kereta, mata Vivi sedikit cerah. Vivi ingin mempertahankan negara yang seperti ini, yang menjadi alasannya untuk melakukan apapun untuk itu.


Tekad terbentuk diwajahnya, matanya tegas, mengucapkan terimakasih kepada pedagang itu, lalu Vivi menuju istana Alubarna.


Istananya sangat besar, dikelilingi tembok yang menjulang tinggi, dan beberapa prajurit yang bertugas menjaga.


Meski negara ini miskin, istana tetaplah istana. Mereka besar dan indah.


Vivi muncul didepan gerbang, dan dua prajurit yang menjaga, kedua mata prajurit sedikit waspada.


Dan saat Vivi membuka kerudungnya, mata mereka membelalak, mereka mengenalinya, seorang putri didepan mereka, dan mereka membungkuk hormat.


""Maaf atas ketidaksopanannya tuan putri!"" kata mereka dengan seirama.


Vivi melambaikan tangan, senyum di wajahnya, dan berkata, "Tidak apa-apa. Aku mengerti, itu pekerjaan kalian, dan aku tidak mempermasalahkannya."


Setelah mengatakan itu, Kaki kecil Vivi melangkah, berjalan dengan anggun, Vivi masuk kedalam istana.


Sudah 6 bulan Vivi meninggal istana. Istana tetap sama, tidak ada yang berubah. Vivi menghela nafas saat mengingat kenangan masa kecilnya.

__ADS_1


Melewati koridor istana, Vivi masuk ke salah satu ruangan yang cukup besar, matanya berhenti pada pria yang duduk diatas kursi, dan setumpuk dokumen diatas mejanya.


Meski sudah sedikit terlihat tua, sorotan matanya sangat tajam, yang menunjukkan dia tetaplah seorang raja Alubarna saat ini meski sudah sedikit tua.


Mendengar suara pintu, pria itu mengangkat kepalanya untuk menoleh seorang wanita, matanya berkedip dua kali, dan saat ingin mengatakan sesuatu, tidak ada satu katapun yang keluar dari mulutnya.


"Ayah," Vivi angkat bicara, senyum di bibir kecilnya, dan berkata, "aku pulang."


"p-putriku..." Pria itu terkejut, reflek berdiri saat kursi terdorong kebelakang. Tangannya sedikit Gemetar, senyum hangat muncul diwajahnya.


Ayah Vivi menghampirinya, merentangkan tangan hati-hati, ayah Vivi menarik Vivi kedalam pelukannya.


Vivi membalas pelukannya, kemudian melepaskan ayahnya. Mendongkrak, Vivi menatap wajah ayahnya, saat menatap matanya wajahnya menjadi serius.


"Ayah. Aku memiliki percakapan penting untuk didiskusikan. Ini menyangkut masa depan negara ini!"


Melihat wajah putrinya, ayahnya-Cobra, menegakkan posturnya, wajahnya menjadi serius, dan berkata, "ikuti aku."


Cobra berjalan keluar ruangan, dan Vivi mengikuti ayahnya dari belakang.


Keduanya tiba di ruang makan. Meja makan memanjang ujung ke ujung, paling ujung, kursi yang paling mewah diantara lainnya.


Cobra duduk di sana, mengikuti, Vivi duduk di dekat ayahnya. Memanggil pelayan, cobra menyuruh pelayan membuatkan mereka minuman.


Tidak lama, pelayan datang membawa minuman. Sedikit mengangguk, Cobra melambaikan tangan, mengisyaratkan pelayan meninggalkan ruangan.


Pelayan tidak berkedip, mengerti, lalu menunduk sebelum meninggalkan ruangan, meninggalkan ayah dan anak sendirian diruang makan.


"Aku bertemu seseorang sebelum kemari." kata Vivi. Mulutnya berhenti sejenak, sedikit berpikir, Vivi melanjutkan, "dia memiliki informasi tentang rencana pemberontak Crocodile."


Mata Cobra melebar, wajahnya menjadi serius dan berkata, "Jelaskan dengan rinci!"


Kemudian, bibir Vivi bergerak, memberi tahu semua yang dia tahu tentang pembicaraannya dengan Jack, dan menjelaskan pertukaran apa yang terjadi jika mereka menerimanya.


Telinga Vivi sedikit memerah saat menjelaskan yang terakhir, dan mata Crocodile tidak luput dari itu, mulutnya sedikit berkedut, dan rasa sakit menusuk dadanya, seakan ada anak panah yang menembus jantungnya.


"Aku ingin mendengar pendapat Ayah," mata Vivi sedikit tidak yakin. "Aku tidak tau apakah harus mempercayainya atau tidak."


Cobra diam, matanya melirik mata Vivi, lalu wajahnya menjadi tegas saat Cobra memberi pelajaran kepada Vivi.


"Seorang pemimpin tidak boleh ragu dengan pilihannya. Sedikit keraguan, membawa dampak buruk untuk negara dan rakyatnya."


Setelah mengatakan itu, Cobra tersenyum, menatap Vivi dengan hangat, dan berkata, "Dan akhirnya, Kembali ke dirimu. Putriku, kau yang memutuskan, menolaknya atau tidak, itu pilihanmu. Aku tidak menuntut mu untuk mementingkan kerajaan daripada dirimu sendiri, dan membuang kebebasan mu sendiri."


Vivi mengangguk, mata birunya kembali cerah, dan sudut mulutnya melengkung. Tanpa ada sebab, telinganya memerah, berkedip dua kali, mata Vivi melirik ayahnya, dan mulutnya terbuka untuk mengatakan sesuatu.


"Tunggu sebentar?" Cobra memotong, sedikit gugup, dan berkata, "K-kau tidak akan menerimanya, kan?"


Seluruh wajah Vivi memerah, wajahnya menunduk kebawa ketika dia menganggukkan kepalanya, "A-aku menerimanya."

__ADS_1


"Tidak!!!"


"hahahaha!"


Teriakan keputusasaan Cobra bergema bersama suara tawa seorang yang lepas kendali di satu ruangan.


Ayah dan anak tidak sadar, ada sesuatu yang menyerupai bola mata yang mengawasi mereka sebelumnya.


xXxXx


Ditengah taman. Jack duduk di kursi, tangannya memiliki makanan, dan mulutnya mengunyah daging asap yang dia beli.


Mata kiri Jack menutup. Bidang penglihatannya di suatu tempat, tidak gelap, seperti ada sesuatu yang menyalurkan bidang penglihatannya.


Setelah satu jam seperti itu, akhirnya Jack membuka mata kirinya, sudut mulutnya melengkung, dan Jack menatap kosong didepan.


Memberi sisa daging yang Jack beli, yang kebetulan ada anak perempuan yang menatapnya, Jack menepuk kepalanya dan menghilang didepannya, meninggalkan debu pasir ditempatnya.


"?"


Anak itu memiringkan kepalanya dengan bingung, sebelum tersenyum saat menatap makanan yang ada ditangannya.


Jack meninggalkan Nami dengan uang yang dia berikan ke dalam kantongnya.


xXxXx


"!!!"


"!!!"


Telinga Cobra dan Vivi tidak luput dari itu. Wajah mereka menegang, Cobra menarik Vivi kebelakang nya, dan matanya melirik ke segala arah dengan cermat.


"Siapa?" Cobra berteriak, "Bagaimana kau bisa masuk ke sini?"


"Oh~ maafkan saya atas kelancangannya."


Sosok kabur melintas di atas kursi Vivi, detik berikutnya, Jack duduk diatas kursi Vivi. Mata Jack melirik Vivi, kemudian ke Cobra sebelum menyapanya dan berkata, "Yo."


Vivi melebar mata, rahangnya terbuka, dan tanpa sadar Vivi menyebut namanya, "Jack!"


"Apa?! Jack yang itu?"


Vivi mengangguk, dan Cobra menyipitkan matanya. Cobra mengamati, seperti apa yang membuat putrinya bertingkah. Setelah itu, Cobra tahu satu hal, yaitu wajah Jack tampan.


Setelah mengetahui penyusup itu Jack, Vivi menghela nafas lega dan berkata, "Apa yang kau lakukan disini?"


"Tentu saja kesepakatan." Jack tersenyum, matanya melirik keduanya, dan berkata, "jadi, bagaimana?"


xXxXx

__ADS_1


(A/N: Ibunya meninggal, kan?" 🤔)



__ADS_2