One Piece: Buah Cakra

One Piece: Buah Cakra
Tujuan Jack


__ADS_3

Di atas ranjang. Dua orang saling menatap, mengabaikan yang tertidur.


"Hei, Bagaimana kalau aku Hamil?"


"Aku akan bertanggung jawab"


Aku menatap Nojiko, dan Nojiko membalasnya saat dia mengusap perutnya.


"hmm.." Nojiko main-main. "Aku tidak mengira kau akan bertanggung jawab." Dia tersenyum kecil.


Aku menepuk dadaku dan berkata. "Aku tidak akan menarik kata-kata ku."


"Fufufu~" Nojiko tertawa dengan kelakuanku. "Aku harap kau tidak."


Di pelabuhan. Kerumunan orang mengerumuni dua orang. Laki-laki dan perempuan.


"Tuan dermawan. Terimalah ini atas rasa terimakasih dari kami." Yang berbicara adalah kepala desa yang sudah tua.


Aku melihat kepala desa itu, Mengangguk dan mengambilnya, lalu melemparnya kedalam kapal. Kapal penuh, yang diisi dengan semua jeruk dari para warga.


Para warga bubar. Mereka sibuk membagikan bahan pangan yang dibawakan oleh Nami.


"Nojiko, apa kau benar-benar tidak mau ikut?" kata Nami. "Setidaknya, kita bisa bersama."


Nojiko menggelengkan kepalanya. "Aku tidak bisa." Dia tersenyum dan menepuk kepala Nami. "Ada yang harus aku jaga disini. Kau tidak perlu menghawatirkan aku. Aku bisa menjaga diri sendiri."


Nojiko melirikku, lalu kembali menatap Nami. "Aku tidak perlu khawatir jika kau bersamanya."


Nami mengangguk dan naik ke atas kapal. Dia mengerti Nojiko ingin menjaga makam ibu mereka. Dia juga ingin, tapi dia sudah berjanji untuk ikut denganku.


Aku masih berdiri ditempat. Nojiko mendekat dan memelukku dari depan, lengannya membungkus punggungku.


kemudian, Nojiko berkata kecil. "Terlepas dari kesepakatan kalian. Aku hanya meminta tolong untuk menjaga Nami. Tolong jaga dia."


Aku melingkarkan tanganku ke punggungnya.


Mendorong bahunya, aku menatap mata hitamnya dan berkata. "Dia milikku. Aku tidak akan membiarkannya dalam keadaan berbahaya."


"Terimakasih."


Dia mengangguk, melepaskan pelukannya, dan aku naik ke atas kapal.


Nami dan aku melambai tangan, dan Nojiko melambai kembali dengan senyumnya.


Layar diturunkan, tali dilepas, Kapal bergerak diseret angin. Kapal perlahan menjauh dari pulau diikuti dengan perpisahan.


Nojiko menarik nafas dalam. Meregangkan tubuhnya, dia berjalan ke rumahnya, menyelesaikan pekerjaannya.


Duduk di atas kotak, Nami masih menatap tempat kelahirannya. Aku menghampirinya dan meletakkannya tanganku di bahunya.


"Tidak menghasilkan apa-apa jika menangisinya."


Nami melihatku dan mengangguk, menginjakkan kakinya ke kendali kapal. Tidak ada gunanya dia terus seperti itu. Dia akan memulai hidup barunya. Untuk sekarang, dia akan bersenang-senang.


Aku berbaring di atas kursi. Melipat tangan dibawah kepala, aku melihat seekor burung terbang di atas Kapal.


Burung itu berputar-putar di atas kapal dengan tas disampingnya.


Aku mengerutkan kening saat burung itu perlahan turun. Pembawa koran?

__ADS_1


Merogoh saku, aku mengambil beberapa Barry. Kemudian melemparnya keatas, yang burung itu ambil dengan paruhnya.


Burung itu menjatuhkan Koran dan terbang menjauh.


Aku mengambilnya sebelum ketanah, membacanya dengan alis terangkat.


Dicari; hidup atau mati.


Nama : Jack Sparrow, unknown.


Dia membunuh penguasa pulau dengan kejam. Tidak ada yang tersisa ataupun tubuh sang penguasa.


500.000 Beery.


aku membalik halamannya, dan melihat yang lainnya.


Dicari; hidup atau mati.


Nama : Nami, kucing pencuri.


Mencuri dengan kelihatannya di berbagai macam pulau. Lincah seperti kucing untuk ditangkap.


500.000 Beery.


"Ada apa Jack? sesuatu yang menggemparkan?"


Nami duduk disampingku, menyilangkan kakinya dan bersantai, kepalanya menghadap aku.


"Tidak ada." aku melempar koran itu kepadanya. "Hanya dunia yang terlihat indah."


Nami mengambilnya dan membacanya.


Aku mengangkat bahu, bersantai diatas kapal. Tidak ada alasan untuk marah, hanya membuang-buang tenaga.


Melihat aku dengan santai, Nami menghela nafas. Dia tidak pernah melihat orang sesantai seperti diriku.


Nami berdiri dari kursinya. Menghampiriku, dia melemparkan dirinya diatas tubuhku. Pipinya dan tangannya menyentuh dadaku saat dia berdiam diri seperti itu.


"Jack." kata Nami. "Apakah yang kau lakukan sekarang. Aku tidak melihatmu tertarik dengan sesuatu seperti seorang bajak laut lainnya."


Aku Memeluk pinggangnya, menunduk kebawah, dan menatap wajahnya, dan berkata. "Aku bukan bajak laut. Tapi kau benar, aku tidak tau apa tujuanku."


"Bagaimana kalau memikirkannya? seperti One piece... atau emas" Mata Nami berbinar diakhir kalimat.


Aku menertawakannya saat aku mencubit hidungnya. "Emas mungkin menarik tapi tidak." Aku menggeleng kepala ku.


Nami mengusap hidupnya, memberikan tatapan tajam. "Itu, karena kau tidak tau tentang keindahan emas. hmpp.." Dia mendengus dan memalingkan wajahnya.


"hahaha" aku tertawa sebelum mataku berfokus ke hamparan langit.


apa yang harus akas lakukan? tunggu sebentar-


Aku mengingat awal terbangun, aku di dunia ini. Dan kenapa aku berlatih keras sampai-sampai mengurung diriku sendiri selama bertahun-tahun.


Aku ingin berpetualang dan menjelajahi setiap pulau. Menggunakan pedang untuk terlihat keren, dan mencapai puncaknya. Puncak Seorang Swordmaster.


Sudut mulutku terangkat. Mengulurkan tangan, aku menarik wajah Nami mendekat, mulut kami berdekatan, aku menciumnya.


Nami merona, sedikit marah, tapi menikmatinya.

__ADS_1


Aku melepas ciumanku. "kita akan menyusuri Grand Line." kemudian, aku kembali menciumnya.


"hmmp!" Nami berkedip. Mendorong kepalanya, Nami marah dan berkata. "Tidak-" sebelum dia melihat mataku yang telah hidup menentukan tujuannya.


"...Baiklah." Nami mengangguk lemah sebelum menghela nafas, tersenyum.


"Terimakasih." Aku mencium kening Nami dan berkata. "Pertama-tama, untuk memulai awal petualangan kita-" Aku tersenyum canggung. "mari kita berhenti di pulau terdekat terlebih dahulu untuk mengisi perut."


"...."


"apa? Makanan adalah salah satu dua hal yang aku sukai."


Nami menggelengkan kepalanya dan berkata. "Tidak ada." Lalu dia berdiri dari ku, ke kursinya, mengeluarkan peta nya, Nami mencari tempat yang terdekat.


Kemudian, dia menatapku, tangannya menunjuk ke salah satu garis peta, dan berkata. "bagaimana dengan Arabasta? Meski tidak besar, tempat itu adalah yang paling terdekat."


Aku mengangkat bahu. "Terserah, aku tidak peduli." merentangkan tangan, aku berdiri dari kuris. "Yang penting mereka menjual makanan."


Aku ke tepi kapal, menunjuk keluar, dan berkata. "Lihat, sepertinya kita memiliki pengunjung."


Nami memutar matanya, mulutnya menguap, kemudian dia mengikuti arah telunjukku.


Matanya melebar saat kapal bajak laut mendekati kapal mereka. Menoleh kesamping, Nami memegang tanganku, dan menarik aku.


"Tunggu sebentar. Lihat ini." Aku masih ditempat, dan Nami melihatku.


Aku menggenggam tanganku, meninju dari atas kebawah seolah memukul sesuatu.


Nami membelalakkan matanya, tubuhnya bergetar.


Dari jauh, pasir berkumpul, menggumpal, dan membentuk menyerupai lengan. Lengan itu seukuran Kapal.


Telapak tangan itu mengepal, bergerak dengan massanya, meninju dari atas, menghantam kapal bajak laut.


Dengan pasir yang berton-ton beratnya, kapal itu remuk, terbagi dua sebelum menghilang ditelan lautan tanpa seorang yang tersisa.


Air laut bergelombang, mencapai kapal mereka. Kapal bergoyang, yang menyebabkan Nami tidak seimbang dan jatuh.


Sebelum jatuh, aku menariknya, dan memeluk pinggangnya.


Nami melotot ku, dan aku menyeringai, menertawakannya.


"Kau menenggelamkan semuanya." kata Nami. "setidaknya, biarkan kapalnya. Mungkin ada beberapa barang berharga yang ada di sana."


Aku berkedip beberapa kali, memikirkannya, dan berkata. "kau... kau benar." Kenapa aku tidak memikirkan hal yang sesederhana itu?


Nami mendengus, berjalan ke kendali kapal, meninggalkan aku yang termenung. kemudian dia memegang kemudi kapal, meluruskan jalurnya ke tujuan mereka.


Bahuku merosot, kembali ke kursi.


Mengulurkan tangan ke pinggul, sebotol minuman keras bergantung, aku mengambilnya, membukanya lalu meminumnya.


"Yup. Dunia sangat indah jika dilihat sebelah mata."


xXxXx


(A/N: kau bisa tertipu dengan penampilannya 🗿)


__ADS_1


__ADS_2