One Piece: Buah Cakra

One Piece: Buah Cakra
makan dan berbelanja


__ADS_3

Kami tiba ke tempat yang kami tuju. Sebuah pelabuhan didepan, kami ke sana dan berhenti.


Kapal-kapal bajak laut lainnya juga berhenti, bersusun sepanjang pelabuhan.


Kami keluar, beberapa orang menoleh. Melihat dan mengamati kami sebelum mereka mengabaikan kami. Bukan pedangan besar atau bajak laut yang terkenal, adalah alasan kami diabaikan.


Aku tidak perduli, dan menghiraukan mereka. kemudian aku menatap kerumunan. Beberapa orang melakukan perdagangan atau sekelompok pemabuk.


"Beginilah seharusnya kehidupan."


Meregangkan tubuh, aku berjalan keluar, ke jalanan. Mengabaikan beberapa orang yang menatapku saat aku mencari restoran.


Nami mengikuti ku dari belakang. Jelas gelisah dari raut wajahnya.


Sebelum itu, aku menarik tangannya. Nami hanya membiarkan dirinya diseret.


Melihat gang kosong, aku membawanya ke sana. Di sana, aku berbalik dan menatapnya, sebelum menjentikkan jari ku, membuka portal.


Bongkahan emas didepannya. Dia berbintang dan meraup semuanya, menyimpan dalam bajunya yang entah kenapa berhasil dilakukan.


Aku menatapnya. Menutup mata kiri ku, aku memperlihatkan mata kananku yang berpola riak ungu, dan berkata. "Kau akan menukarkan emas itu, dan aku akan membeli makanan-" aku diam, sedikit mengintimidasinya.


Nami meneguk liur dan mengangguk, tubuhnya berkeringat dingin.


"-Coba saja kabur" aku tersenyum. "kau akan merasakan akibatnya." kemudian aku membalikkan punggungku, melambaikan tangan ke atas dan keluar gang.


"ingat. Kita bertemu kembali di pelabuhan" kataku, menghilang dari gang.


Nami menghela nafas. Dia lagi-lagi terlibat dengan sesuatu yang merepotkan. Bahkan masalah Arlong, dia masih belum menyelesaikan urusannya dengannya.


Dia menepuk badannya, emasnya masih ada di sana. Dia tersenyum. Menginjakkan kakinya keluar gang, menempuh rute yang berbeda dari ku.


Aku menemukan tempat makan dengan banyak pengunjung. Saat masuk, beberapa mata menatap ke arahku.


Aku berdiam didepan pintu, menyapu sekeliling dan memperhatikan dengan seksama. Hanya beberapa bajak laut dan warga sipil mabuk saat aku lihat.


Beberapa tatapan sudah hilang minat saat aku menuju konter. Aku menarik kuris kosong dan duduk diatasnya.


Seorang wanita memakai bandana, menghampiriku dan tersenyum.


Meletakkan tangannya di pinggang, dia menatapku dan berkata "apa yang kau pesan, pria tampan?"


"Daging dan minuman yang terbaik" mengeluarkan 5.000 Belly, aku meletakkannya di atas konter dan mendorong ke depan.


Wanita itu mengambilnya dan mengedipkan matanya, dan berkata. "pesanan akan disiap" kemudian, dia berbalik memperlihatkan bokongnya yang berisi, ke arah dapur.


"Hey man. Daging disini sangat bagus, kau pasti akan menyukainya." Suara seorang pria yang terlihat energi disampingku.


Aku menoleh kesamping, alisku terangkat saat aku melihat rupanya.


Seorang pria telanjang dada. Kacamata di atas topinya, serta kalung yang memeluk lehernya.


Tanpa sadar, aku mengangguk dengan ambigu.


Dia tertawa, mengangkat gelasnya dan meminumnya dengan sekali teguk, sebelum kepalanya jatuh menimpa makanannya dengan bunyi gedebug.

__ADS_1


Mendengar suara itu, semua yang ada didalam, memalingkan kepala mereka ke sumber suara. Mereka melihat pria yang tidak bergerak, di atas makanannya.


"Hey, apakah dia baik-baik?"


"Dia tidak bergerak lagi."


"Seseorang periksa dia, apakah dia mati atau tidak."


Suara khawatir warga sipil terdengar di telinga. sementara bajak laut, mereka menatap ke arah kami dengan penasaran. dan menunggu apa yang akan terjadi pada pria itu.


Aku angkat suara dan mengeraskan nadanya. "Dia hanya tertidur"


Semuanya menoleh kearah ku. Keterkejutan di wajah mereka.


Aku mengabaikan mereka saat wanita itu datang dengan daging dan minuman dikedua tangannya.


Wanita itu meletakkannya di hadapanku.


Tanpa memperhatikan wanita itu, aku mengambil daging di gagangnya. Seperti diamine, gagangnya terbuat dari tulang.


Aku mengarahkannya ke mulutku dan memakannya. Dan, rasanya.... rasanya tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.


Hanya menaruh sedikit garam dan beberapa bumbu diatasnya, rasa dagingnya sudah menggugah selera.


Aku ragu. Apakah karena kualitas dagingnya ataukah koki nya, rasa dagingnya menjadi lebih baik. Aku menduga itu pasti karena dagingnya.


Itu hanya dugaan ku, dan aku tidak perduli.


Mengangkat minumanku, aku meminumnya. Rasa madu didalamnya. Cocok sekali dengan daging yang aku makan.


Sejujurnya, tidak hanya 5.000 Belly yang habis. Jumlah seluruhnya adalah 50.000 Belly dengan tumpukan piring disampingku.


Aku menggosok perutku dan berdiri dari kursi. Tanganku menyisip ke kantongku, mengeluarkan beberapa Belly dan menyerahkan ke wanita itu.


"Tips untuk keindahan." Aku mengedipkan mata kearahnya.


Dia tersipu persekian detiknya. Tangannya terulur, mengambil uang. Tidak sampai disitu, Dia mengambil tanganku, menjepitnya diantara oppainya, dan menyeret ku ke lantai atas.


"Wah, kau beruntung Brat."


"Sial. Padahal aku sering minum disini. Tapi, kenapa aku tidak pernah beruntung."


"Apakah karena faktor penampilan?"


kami meninggalkan rentetan kecemburuan dan menaiki tangga.


Aku menoleh ke arahnya dan berkata. "apakah kau selalu melakukan ini ke setiap pelanggan?"


"tidak." dia menggelengkan kepalanya. "aku hanya melakukannya dengan pelanggan yang aku suka." Dia tersenyum menggoda saat kami sampai didepan ruangan.


Dia membuka pintunya dan menarik ku masuk.


Ditarik kedalam, aku berakhir berbaring di atas ranjang. Aku mencari wanita itu dan menemukannya.


Dia berada di hadapanku.

__ADS_1


Wanita itu menurunkan atasannya, asetnya kelihatan dan bergoyang. Dia menggigit bibirnya saat dia menurunkan celananya.


Tanpa sadar, si kecilku bangun dengan gagah mencuat. Dia sekali lagi menggigit bibirnya saat melihat si kecil.


Merangkak ke atas ranjang, dia berhenti di celanaku. Mengulurkan tangannya dan menariknya kebawah, bibirnya tersungging saat...... :).


(A/N: Bayangin sendiri)


xXxXx


Aku melepaskan pelukan yang ada di lenganku dan duduk dipinggir ranjang. Jujur, itu sangat menyenangkan.


Meskipun aku kalah dalam teknik, tapi aku menang dalam bertahan. Rasa bangga menyelimuti hatiku.


Berdiri, dan mengulurkan tangan kelantai, aku mengambil pakaian ku dan memakainya.


sekali lagi, aku mengambil beberapa Belly dan meletakkannya di samping lampu tidur.


aku keluar dan turun kebawah. Saat turun ke dasar, beberapa tatapan tajam mengarah ke arahku.


Berapa lama aku di atas? 3 jam, 4 jam??


Aku benar-benar lupa tempat dan waktu. Mungkin teriakan wanita bandara itu mencapai kebawah, yang mana membuat diri mereka terasa dihina dengan setiap teriakannya.


Dengan malu, aku menggaruk kepalaku. Melihatku seperti itu, kekesalan mereka bertambah.


Mereka ingin memukulku setidaknya sampai kekesalan mereka menghilang.


Memutuskan untuk meninggalkan tempat ini, aku berlari. Tubuhku kabur dan menghilang ditempat, dan aku tertawa di sepanjang jalan.


Saat melihatku menghilang tempat, wajah mereka membeku. Mereka meneguk liur secara bersamaan, dan memutuskan untuk mengabaikan kekesalan yang mereka terima.


Mereka tidak berani dengan seseorang yang seperti itu.


Sampai di pelabuhan, aku naik ke atas kapal.


Dia atas kapal, Nami berjongkok, memeluk lututnya. Dia bergumam tidak jelas.


"Yo." aku menyapanya tanpa rasa bersalah.


Mendengar suara familier, dia mengangkat kepalanya. Saat melihatku, dia mengirim tatapan tajam.


kemudian, dia mengangkat alisnya, merasakan sesuatu yang berbeda dari ku. Karena dia sudah terbiasa, dia bisa menebaknya.


Nami menunjuk ke arahku, menggertakkan giginya. "Semua lelaki sama-sama bajingan!" Mengatakan itu, dia membalikkan punggungnya, menuju ke kendali kapal.


Dia tidak tau mengapa dia kesal saat mengetahui aku tidur dengan wanita lain.


Kapal bergerak, lepas landas dari pelabuhan dan berlayar menuju desa nya.


Apa yang terjadi padanya? kenapa dia tiba-tiba marah. Aku tidak mengerti. Bahkan setelah memikirkan seribu kemungkinan, aku tetap tidak menemukan jawabannya.


Aku mengangkat bahu. Melihat sekeliling, kapal penuh dengan barang-barang. Khususnya garam, sayur dan buah-buahan.


Tidak ada yang dilakukan, aku diujung kapal. Duduk dan bersantai menyaksikan matahari terbenam. Aku tidak pernah bosan meskipun aku melihatnya beberapa kali.

__ADS_1


__ADS_2