
Jack saat ini sedang menghadapi satu masalah.
Masalah yang merepotkan diantara seluruh masalah.
Wanita.
Wanita adalah makhluk yang merepotkan, yang merumitkan masalah yang kecil, dan dipikiran mereka? tidak bisa ditebak apa yang ada dipikiran para wanita.
(A/N: Semoga ga ada perempuan yang baca 😥)
Jack menjatuhkan barangnya, tidak mencapai lantai, udara terdistorsi saat semua barang Jack menghilang, seolah ada sesuatu yang menyerapnya.
Mata Vivi berkedip, tatapannya tertuju pada barang Jack yang menghilang, dan tanpa sadar kepalanya tersentak, kaki kirinya melangkah mundur saat Vivi bergumam tidak percaya, 'Tidak mungkin.'
"Tidak ada yang tidak mungkin, yang tidak mungkin buatlah menjadi mungkin" Kata Jack saat Jack mengulurkan tangan, jari-jarinya menggenggam pergelangan tangan vivi, dan matanya menoleh untuk melihat Vivi, "Informasi ini sangat penting untuk kerajaan Alabasta."
Wajah Vivi ragu, kepalanya menunduk untuk memutuskan apa dia mempercayai Jack, sebelum memutuskan, Jack menarik tangannya, menyeretnya ke lantai atas.
"Tunggu-" suara manis Vivi tidak masuk kedalam telinga Jack, dan Jack terus menggenggam tangannya, tangan yang tidak pernah disentuh oleh lelaki siapapun kecuali ayahnya.
Langkah kaki berhenti, kaki kecil Vivi didepan sebuah pintu, matanya menatap pintu, yang telinganya sedikit merah, Vivi menarik lengannya.
Jack melepaskan tangan Vivi, tangan lainnya mengulur ke pintu, memutar gagangnya, Jack menarik pintunya, didepan pintu, Wajah manis Nami tersirat, tangannya melipat ke dada, dan wajahnya datar menunjukkan dia sedang marah.
"N-nami," Jack tersentak, menjelaskan dan berkata, "Aku bisa menjelaskan!"
Nami menatap Jack, tanpa berkedip, dia melirik gadis dibelakang Jack, yang bersembunyi saat mata mereka bertemu.
Nami mendengus, "Tidak ada yang perlu dijelaskan." Kemudian, Nami membalikkan punggungnya dan duduk disudut kasur.
Menghela nafas, Jack melirik Vivi, tangannya melambai menyuruhnya masuk dan berkata, "Masuk."
Jack sekali lagi mengejutkan Vivi.
Saat mereka didalam, Jack menyuruhnya duduk, Vivi menatap ke lantai, tidak ada kursi yang disediakan, Vivi tidak mengerti, apakah dia harus duduk dilantai atau bagaimana.
Kemudian, seolah ada yang tidak beres, lantai kayu mencuat, dua tunas pohon muncul, tumbuh, dan membentuk sepasang kursi yang posisinya saling berhadapan.
Dengan itu, Vivi menyisipkan tangannya ke belakang pantat, meluruskan roknya, Vivi duduk dengan hati-hati di atas kursi.
Jack melirik Nami, matanya fokus bagian tangannya, tangannya menyilang yang membuat dadanya terangkat, kemudian Jack berjalan keatas kamar, tangannya terulur, melingkar ke perut Nami, memeluknya dari belakang.
__ADS_1
"Maafkan aku." Jack berbisik di belakang daun telinga Nami, telinganya memerah, dan mukanya menoleh ke arah berlawanan.
Memutar matanya, Jack menghela nafas dan berkata, "Baiklah, jika kau bermain seperti itu."
Setelah mengatakan itu, Jack mengencangkan pelukannya, mengangkat Nami, Jack berjalan ke kursi.
"H-hei Jack, apa yang aku lakukan?" Nami memberontak di pelukan Jack. Tangannya menarik tangan Jack, dan kakinya menendang-nendang di udara.
Jack duduk di atas kursinya, melepaskan Nami di atas pahanya, tangan masih perut Nami, Jack menyandarkan dagunya di atas bahu Nami.
Nami terkulai, ujung telinganya memerah, dan wajahnya menurun ke bawah untuk menyembunyikan wajahnya, dan tangannya terangkat, menutupi wajahnya yang merah merona.
Disisi lain, Vivi dengan canggung menatap mereka berdua, jari-jari tangannya mengatup dibawah perut, saat melirik Jack, matanya tanpa sadar menoleh kesamping.
Jack menatap Vivi, dan Vivi memalingkan mukanya, alis Jack terangkat, dagunya bersandar di bahu Nami, dari tempatnya, jack berkata, "Aku tau rencana pemberontak yang direncanakan Crocodile. Tempat senjata rahasia atau rutenya, semuanya."
Seperti kilat menyambar, Vivi menoleh Jack dengan cepat, matanya melebar, tangan mungilnya bergetar, ekspresi memegang, seolah mengatakan 'aku tidak percaya apa yang Jack katakan.'
"Tidak mungkin." kata Vivi, matanya berkedip dengan ragu.
Jack mengangkat bahu dan berkata, "Aku hanya menawarkan informasi yang aku ketahui, tidak kurang tidak lebih."
Dahi Vivi berkerut, kelopak matanya tertutup, memikirkan apa yang harus dia lakukan, Vivi masih ragu, "Dari mana sumber informasinya, apakah dapat dipercaya?"
Vivi semakin ragu, nafasnya semakin lambat, wajahnya menunjukkan keraguan, Vivi menggigit bibirnya, "Bagaimana mungkin aku akan mempercayai sumber yang tidak diketahui kebenarannya. Aku mempertaruhkan nyawaku untuk informasi ini."
"Percaya atau tidak, itu terserah mu." Jack menutup matanya, menikmati kulit mulus Nami, Jack melanjutkan, "Aku juga mempertaruhkan nyawaku untuk informasi seperti ini."
Sekali lagi Vivi menggigit bibir, mata birunya tidak berkedip sama sekali, memutuskan untuk mempercayai Jack, bibir Vivi bergerak dengan ragu dan berkata, "Berapa banyak yang kau inginkan? kau tidak memberi informasi ini secara gratis kan?"
Jack membuka matanya, mata kanan yang beriak, bergetar, senyum lebar selebar lautan, dan mata ungu Jack menatap Vivi, dan berkata, "Aku menyukai orang yang cerdas seperti mu."
Tangan Jack mengusap perut Nami, jarinya merasakan kulit mulus Nami, melepaskan tangan kanannya, lalu mengulurkan ke depan, telunjuk Jack menunjuk Vivi dan berkata, "Aku ingin kau."
"....huh, aku?" Vivi menunjuk dirinya sendiri, dan Jack mengangguk.
Seolah waktu berhenti, pikiran Vivi kosong, wajahnya membeku untuk menanggapi perkataan Jack.
"Aduh!" Jack merasakan cubitan di bagian pahanya, matanya melirik tangan Nami yang memulas bagian pahanya.
Jack menjentikkan jari, menyadarkan Vivi, yang matanya menatap Jack saat berkedip beberapa kali.
__ADS_1
"kau tidak bercanda?" Vivi mengulang, "aku, sungguh?"
Jack mengangguk, membernarkan. "Aku tidak bernada"
"hey.." Nami menyela, "Bukankah situasinya canggung untuk pembicaraan penting?"
Jack dan Vivi menatap Nami.
Wajah Vivi memerah, matanya melirik antara Jack dan Nami, dan Vivi bisa melihat situasi canggung Nami.
kemudian, Vivi mengangguk kecil, membenarkan Nami. Salah satu pelajaran yang dia pelajari adalah pelajaran malam. Vivi banyak mengetahui itu dari buku yang ditulis, tapi tidak secara langsung.
Berbeda dengan Jack. Jack tertawa.
Menarik telunjuknya, Jack meletakkan tangannya di pipi Nami, mendorong wajahnya kehadapan nya, Jack mencium bibirnya dan menguncinya beberapa saat sebelum melepaskan, kemudian Jack menyeringai kepada mereka berdua.
Nami, yang mencapai batasnya, mengangkat pantatnya, kakinya yang ramping naik ke atas kasur, dan saat menemukan bantal, Nami mengambilnya dan memeluknya didepan mukanya.
Jack terkekeh sebelum melirik Vivi dan berkata, jadi, apa yang kau putuskan?"
Vivi menghela nafas, "Bisakah kau memberiku waktu?" Kemudian Vivi mengepalkan tangannya dan berkata, "aku perlu membicarakannya dengan ayah."
Jack mencubit dagunya, berpikir sebentar, lalu melirik Vivi, Jack mengangguk, "baiklah. Aku akan tinggal di penginapan ini 2 hari lagi, dan itu batas waktu yang kau punya."
"Terimakasih." Vivi mengerucut bibirnya, bibir kecilnya tersenyum, yang seakan beban dipundaknya sedikit menghilang, bahu Vivi merongsor, dan tubuhnya sedikit rileks saat bersandar di atas kursi.
Karena ada urusan baru, Vivi berencana meninggalkan ruangan Jack.
Vivi berdiri, menyelipkan rambut biru di atasnya telinga, tangan di depan Dadanya, Vivi berterimakasih, "Terimakasih. Aku akan secepatnya memberi kabar."
"Ya." Jack mengangguk.
kemudian, Vivi menaikkan kerudungnya, menutup sebagian wajahnya, kakinya melangkah ke depan, Vivi meninggalkan ruangan.
Di penginapan, lantai atas, nomor 2. Tempat Jack dan Nami menyewa kamar.
"Aku merasa deja vu." Kata Nami. "Kau pernah melakukan hal itu sebelumnya kepadaku!"
Jack tersenyum malu, tangannya menggaruk belakang kepalanya, mulutnya mengerucut untuk bersiul ke arah lain.
Jack tidak bisa membantah Nami, apa yang dikatakannya benar. Jack memberi mereka harapan, memanipulasi, kemudian, dengan sedikit bumbu, Jack menyudutkan mereka dengan pertukaran nya.
__ADS_1
"Binatang buas! Bajingan kejam! laki-laki tidak berperasaan!"
Nami mengutuk Jack, entah kenapa dia merasa kesal, dan Jack tersenyum kepadanya, di mata terbesit kilatan yang kelaparan, Nami melihat itu, tapi dia tidak bisa melakukan apa-apa, tanpa sadar Nami menelan ludah dan membiarkan dirinya dimakan serigala yang kelaparan.