
Chaeyeon berniat untuk keluar dari toilet saat ia tiba-tiba mendengar suara dua orang gadis terkikik seraya menyebut nama jungkook dan dirinya, penasaran, chaeyeon memutuskan untuk tetap diam di dalam sana lebih lama.
"Jika aku menjadi sinb, mungkin aku akan menyewa seseorang untuk memberikan efek jera pada si gadis pelayan itu. "
chaeyeon menutup mulut rapat ketika mendengar bagaimana seseorang gadis muda yang seumuran dengannya begitu mudah membicarakan tentang mencelakai orang lain.
"Benar." timpal seseorang lainnya, "kenapa sinb diam saja saat chaeyeon mengincar tunangannya.? "
"Apa mungkin jika rumor yang beredar tentang dia jatuh miskin itu benar? apa itu alasan mengapa dia bersedia tunangan dengan jungkook meski tahu jika si benalu seperti chaeyeon merusak hubungan mereka? "
"Sinb miskin? tidak mungkin, aku dengar ibunya saja saat ini sedang keliling dunia. " jawab gadis lainnya.
"Tapi sekaya apapun hwang eunbi, chaeyeon tetaplah pemenang. Aku tidak menyangka si gadis pelayan itu bisa membuat jungkook sunbae bertekuk lutut dibawah kakinya. "
"Mungkin saja.. " terdengar suara dengan jijik, "Chaeyeon telah memberikan apa yang tidak mau sinb berikan, kau tahu kan bagaimana reputasi dia. "
"Benar juga. Aku yakin, si gadis pelayan itu pasti memberikan apapun dengan mudah, termasuk harga dirinya sekali pun. "
Gunjingan para gadis itu di akhiri dengan tawa menghina yang membuat chaeyeon tidak bisa menahan tangisan.
"Kau pasti tidak akan percaya dengan berita ini. Aku dengar setelah berpisah dengan jungkook sunbae, chaeyeon sekarang sedang mengincar putra dari Daeho Group. "
"Ew, perusahaan milik galeri seni itu? bukankah perusahan mereka bisa di bilang bermasalah? "
"Itu sesuai untuk wanita sepertinya. aku dengar chaeyeon bahkan sudah bertemu dengan pewaris Daeho Group.!! "
"Haah,, malang sekali nasib choi min gi. " sahut seseorang dengan nada bersimpati, "Padahal dia masih di bangku yang sama dengan kita. "
"Memang benar, tapi sepupu ku bilang, putra sulung Daeho Group lah yang datang untuk menggantikan adiknya saat itu. "
"Benarkah? si pelukis tampan itu? wah wah, kasihan sekali. gadis pelayan pasti akan berakhir hanya sebagai simpanan saja. "
Chaeyeon meremas kuat rok seragam sekolahnya, mengusap kasar air mata yang telah merembas keluar, ia menunggu hingga dua gadis yang membicarakan dirinya tadi pergi, kemudian menelepon seseorang.
"Jungkook... " ucapnya dengan suara bergetar menahan amarah, "Apa kau sudah melakukannya? Kau sudah memutuskan pertunangan mu dengan sinb, kan?! "
******
Sinb tidak bisa fokus pada apapun yang ada disekitarnya. ia menolak untuk keluar kelas, bahkan hanya berbicara sedikit dengan eun soo hari ini. saat jam pelajaran berlangsung pun ia tidak bisa mengerti sama sekali dengan apa yang di sampaikan oleh guru.
Pikiran sinb terpecah pada apa yang malah tadi jungkook katakan, bagaimana bisa dalam satu waktu pemuda itu dapat bersikap penuh perhatian, lalu pada detik berikutnya dia berkata dengan sangat tajam.
"Padahal kita bertunangan, tapi kenapa rasanya begitu sulit untuk menemui mu. ? "
Sinb melengos saat mendengar suara yang sangat familiar tersebut.
"Untuk apa kau kemari? " tanya gadis itu tanpa mendongak dari halaman buku yang pura-pura ia pelajari.
Dan tanpa pikir panjang, jungkook langsung mengambil posisi duduk dihadapan sinb. "Eun soo bilang kau menguring diri ditempat ini, jadi aku memutuskan untuk mendatangimu. "
__ADS_1
"Siapa yang mengurung diri? " jawab nya, "aku hanya sedang belajar, ini berbeda. "
"Begitu serius hingga menolak makan siang?! " sindir jungkook.
Apa yang harus ia katakan sebagai jawaban? jujur saja sinb masih belum siap untuk bertemu dengan jungkook. Ia masih ingat begitu jelas bagaiman pemuda dihadapannya saat ini membuat jantung dia berdegub kencang malam tadi.
Sinb tidak suka perasaan seperti ini.
"Bagaimana kakimu? apa baik-baik saja? " tanya jungkook.
"Hanya luka ringan. "
"Bagus, kalau begitu aku tidak perlu menggendong mu lagi. "
"Aku tidak meminta.! " sinb mendesis sebal, jungkook dengan santai mengungkit fakta itu di depan anak-anak sekelasnya.
pemuda itu mengerling jahil, "Tapi kau menyukainya. "
Menolak terpancing, sinb menghenbusakan napas, coba mengatur kesabaran. ia tidak perduli dengan gumaman lirih dari anak-anak yang ada didalam kelas.
"Pergi lah. Aku sedang malas bertengkar saat ini."
"Siapa yang ingin bertengkar? aku datang kemari karena merindukan mu. " balas jungkook menahan tawa.
"Menyingkir dari hadapan ku jika tidak ingin aku memukul wajahmu menggunakan buku tebal ini.!! " peringat gadis itu.
"Kau mabuk? " jawab sinb terperangah, " kenapa bicara mu melantur seperti ini, hah? "
Mengangkat kedua bahu acuh, pemuda itu menyingkap lembar demi lembar buku pelajaran yang dibaca sang tunangan, lalu detik berikutnya mengerutkan kening.
"Buku ini yang kau baca? sejarah peradaban romawi kuno? oh astaga, membosankan sekali. " cibir nya.
Nada bicara jungkook yang terkesan mengejek itu membuat sinb sebal, "Kembalikkan buku ku. "
"Kau akan gila jika terus membaca buku seperti ini. "
"Bukan urusan mu.!! " balas sinb sengit.
"Kau tidak lapar? ayo makan bersama. "
"Jangan bercanda. " jawabnya sinis, "Aku akan semakin tidak bernafsu jika makan dengan mu. "
"Kalau begitu pulang bersama.? "
"Jungkook, sekali lagi kau bicara_____"
"Hwang eunbi, kau benar-benar... " pemuda itu pura-pura menyerah, ia mengembalikan buku milik sinb kemudian bersedekap geli menatapnya. "Apa sekarang kau sedang marah padaku karena tadi malam tidak mengantarmu sampai keatas ranjang? "
Sinb langsung mendelik, bukan karena fakta jungkook berkata seperti itu, namun karena makna dari omong tersebut yang mungkin akan menimbulkan hal berbeda bagi orang lain yang mendengar. apalagi semua anak kini sedang mati-matian menahan tawa karena omongan jungkook barusan
__ADS_1
"Baik. kau menang!! " tukas sinb mengatupkan gigi, "Mari hentikan permainan gila ini, hmm? "
"Kenapa? kau malu mengakui nya?? "
"Memang apa yang harus aku akui?" jengah sinb, menghela napas kasar.
"Bahwa kau ingin aku ikut masuk ke dalam kamar.. " senyum jungkook.
"Kau pikir aku sudah gila.?! "
"Kenapa? toh sangat menyenangkan bukan? " tantang nya dengan tersenyum simpul yang menyebalkan.
Menggertakkan gigi kuat, sinb akhirnya melempar buku buku yang ia pegang kemudian berteriak kesal, " Itu sama sekali tidak menyenangkan.!! "
******
Eun soo terperangah di tempat, ia sungguh tidak menyangka dengan apa yang baru saja dirinya dengar. Ini benar-benar nyata, seharusnya tadi ia menyela siapapun gadis-gadis yang sedang membicarakan sinb dan chaeyeon. namun setelah ia pikir bahwa bukan sinb lah yang sedang di jelekkan, lalu untuk apa pula ia membela? jadi, eun soo hanya memutuskan untuk menunggu sampai gadis-gadis itu pergi hingga ia tidak sengaja mendengar suara itu.
" Jungkook, apa kau sudah melakukannya? kau sudah memutuskan pertunangan mu dengan sinb, kan? "
Eun soo membekap mulut, itu.... suara milik chaeyeon.
Bgaimana bisa wanita itu..
Tanpa pikir panjang lagi, eun soo keluar lalu menggedor pintu toilet yang didalamnya sedang ada chaeyeon.
"Siapa,,? " teriak gadis itu terdengar panik.
Chaeyeon keluar, sementara eun soo yang nampak sudah di liputi amarah pun langsung menceka lengannya, membuat chaeyeon tidak dapat menghindar.
"Apa maksud perkataan mu tadi? " tanya eun soo mendesak.
Gadis itu menggeleng panik, "Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan eun soo? "
"Aku sudah mendengar semuanya, aku mendengar semua. Dasar wanita murahan.!! " teriak eun soo marah.
Hinaan itu sungguh menyakitkan, hingga tanpa sadar tangan kanan chaeyeon yang bebas melayang tepat di atas pipi mulus eun soo cukup keras. Putri satu-satunya pemilik sekolahan ini memegang pipi dia yang terasa sangat panas, sementara chaeyeon sendiri kini menatap nanar pada gadis itu.
"E-eun soo, m-maafkan aku. Aku tidak bermaksud... "
Uluran tangan chaeyeon yang hendak menyentuh pipinya langsung ia tepis kasar, eun soo mundur beberapa langkah dengan tatapan penuh ke bencian.
"Jangan pernah menyentuh ku. " desis nya penuh amarah, "Kau sangat menjijikan.!! "
Eun soo telah pergi dari toilet itu, namun chaeyeon masih belum pulih. gadis itu terlalu terkejut hingga ia tidak bisa berhenti menatap kedua tangannya yang bergetar setelah menampar kencang pipi eun soo.
' aku harus bagaimana? ' batin nya.
**To Be Continue**
__ADS_1