
Sinb menatap sebal pada jungkook yang kini tengah duduk dengan santai diatas sofa, layaknya seorang raja. Pemuda itu bahkan menyunggingkan senyum menyebalkan saat tatapan sinb terus mengarah pada nya.
"Kenapa kau berada disini? " tanya gadis cantik itu heran.
Jungkook tertawa geli, kemudian menjawab,. "Jika kau lupa, ini masih rumahku.! "
"Memang benar. Tapi bukankah selama ini kau selalu tinggal di hotel. " Protes sinb tidak Terima.
"Mulai hari ini aku akan tinggal kembali di rumahku yang nyaman ini. "
"Apa?!! " Pekik sinb terkejut, "Kenapa begitu mendadak? Lalu bagaimana dengan ku? "
"Bukankah ayahku dan ibumu menyuruh kita untuk tinggal bersama. "
"Aku tidak mau. "
"Jika kau tidak suka, kau bisa mengabaikan keberadaan ku. " balas jungkook enteng, "Tapi bukankah ironis sekali, ini rumah ku. Eun woo saja boleh datang kemari setiap waktu, sementara aku yang pemilik tidak boleh. " ucapnya mendramatisir.
"Kenapa lagi-lagi kau membawa eun woo? Dan kapan pula aku pernah membawa dia kerumah? Kau ini kenapa sebenarnya? " Geram sinb tidak habis pikir.
"Kau tidak membawa si brengsek itu ke rumah? Ah, baguslah. Aku masih bisa mentolerir sikap kekanakan mu yang pergi bermain semalaman dengannya. Tapi aku tidak bisa mentolerir jika kau memiliki hubungan lebih dekat dari itu hingga menciptakan bukti skandal. "
"Kau mengancamku?" sinb menyahut dengan dengan menyilangkan kedua tangan di depan dada.
Jungkook sendiri menyeringai kecil, meletakkan kedua kaki keatas meja, "Tidak. Hanya saja, sepertinya kalian tidak sadar sedang bermain dengan siapa. Jadi, beritahu si brengsek itu jika kita masih sepasang tunangan.!! "
"Berhenti bercanda. " desis sinb mulai jengah, "Untuk apa sebenarnya kau pulang? "
"Ada tiga alasan, " jungkook lagi-lagi menjawab asal, "Pertama, aku pemilik sah rumah ini. Kedua, tunangan ku berada disini. Dan ketiga, jika kau lupa, kau bilang akan membantuku memperbaiki nilai. Jadi sekarang aku berbaik hati untuk menghemat waktumu datang kemari. " Senyumnya puas.
"Kapan aku menjanjikan itu padamu? "
Mengangkat bahu acuh, jungkook menjatuhkan punggungnya pada kepala sofa dan mendesah lega. "Aku sudah berada disini, tunangan. Jadi, apa yang akan kita pelajari sekarang?? "
******
Jungkook menatap malas deretan soal fisika yang berada dihadapannya. Ia tidak pernah suka pelajaran seperti ini. Menurut dia, pencetus ilmu fisika mungkin sangat bosan pada hidup, hingga mereka meneliti hal-hal menyebalkan seperti itu. Kenapa pula dari segala hal yang ada di dunia mereka harus mencari rumus menghitung arus listrik yang faktanya tidak bisa terlihat sama sekali.
"Bisa kau lebih fokus pada soalmu? " Keluh sinb berusaha bersabar, "Kau sudah menghabiskan waktu 15 menit hanya untuk memandang soal itu. "
"Aku sedang berusaha mengingat rumusnya, tunangan. " jungkook menyahut sebal.
Ia memang sedang berusaha mengingat, namun miris, ia tidak dapat mengingat satupun dari rumus-rumus itu.
"Kau sudah mengatakan hal sama untuk 5 soal yang sebelumnya. "
"Baru juga 5 soal. Bersabarlah sedikit, tunangan. "
"Tapi ini sudah satu jam, jungkook. Jika kau sedang ujian, kau sudah di usir keluar sejak tadi.!!"
__ADS_1
"Kau pikir mudah mengerjakan soal sialan seperti ini?! " Jawab jungkook ikut emosi.
"Soal ini memang mudah, " ucap sinb lebih pelan seraya memijat pangkal hidung lelah. "Bahkan aku yang satu tingkat berada di bawahmu saja bisa memahaminya. "
"Kau pamer?? " Sindir jungkook semakin sebal.
Gadis cantik itu menghela napas pelan, kemudian tersenyum kaku. "Bukan pamer, tetapi maksudku, jika memang tidak hafal rumus, kau bisa mengerjakannya dengan pendekatan logika. "
"ck, memang mudah jika hanya melihat dan berbicara.!" Jawab jungkook sengit.
"Kenapa kau malah jadi kesal padaku? Lihat,,, aku bisa mengerjakannya, ini hanya hukum ohm, kau hanya perlu melihat berapa kuat arusnya disini, lalu setelahnya kau bisa mengalikan dengan______"
"Kau bisa diam tidak? " Sela jungkook.
Sinb membanting pulpen keatas meja dengan sangat keras, "Sial, kau yang meminta di ajari. Lalu kenapa sekarang malah memintaku untuk diam, hah? "
"Aku tidak mengira ternyata kau se cerewet ini? "
"Aku tidak akan cerewet jika kau tidak begitu parah dan bebal. " Balasnya.
"Ah, terserah. " jungkook ikut membanting pulpen yang ia gunakan keatas meja. "Ku kerjakan ataupun tidak, sebenarnya nilai ini tidak penting. Hotel hanya membutuhkan nilai ku bagus di manajeman bisnis, aku tidak perlu belajar tentang tentang ini. "
"Lalu nilai mu untuk universitas? " sahut sinb terpana, "Jik kau tidak lulus SMA, apa kau tidak akan malu pada seluruh karyawan Jeon Group yang rata-rata menyandang gelar Amerika? "
Menyandarkan kepala pada sanderan sofa sebagai bantalan, jungkook mendesah lelah. Sialan, ia membenci semua pelajaran.
Sinb tidak bisa untuk menahan tawa kecil yang berhasil lolos dari bibir cerinya. "Apa kau semerana itu? "
"Kau tidak tahu, aku sangat membenci buku. "
"Tapi kau harus, jungkook. " ucap sinb memandang prihatin.
"Aku bosan. " keluh nya.
Melihat bagaimana sang tunangan yang benar-benar nampak kesulitan membuat sinb bersimpati, entah bagaimana, ia kini tiba-tiba berdiri dan membuat jungkook spontan langsung menatapnya bertanya.
"Tidak bisa seperti ini. Ayo, ikut aku. " Ajak sinb penuh semangat, meraih telapak tangan jungkook lalu menggenggamnya.
"Kemana? PR ku bahkan belum ada yang selesai." jawab pemuda itu malas.
"Akan aku bantu mengerjakan. Belajar tidak harus selalu di rumah. "
"Memang kau mau kemana, hem?? "
"Cafe." jawab sinb mulai berjalan kearah pintu, "Itu tempat anak-anak muda seharusnya menghabiskan waktu untuk belajar. Lagipula, aku merasa bosan terus berada di rumah sepanjang hari. Apa ada tempat yang ingin kau rekomendasikan? "
******
"Apa katamu? " Ucap nyonya hwang terkejut begitu sekretaris Jang mengabarinya tentang hal menarik, "JH menawari kita kontrak? "
__ADS_1
Sekretaris cekatan itu menatap penuh binar, senyum tipis terkembang pada sudut bibirnya.
"Benar nyonya, saya telah mengkonfirmasi sendiri pada presdir Cha. Beliau telah menyerahkan semua tanggung jawab pada tuan muda Eun woo. "
"Kalau begitu, ini berita yang sangat bagus,kan? " Ucap Hwang Jessica.
Sekretaris Jang mengangguk dengan cepat, "Jika JH ingin bekerja sama, ini akan menjadi langkah yang sangat bagus untuk Hwang Company, nyonya. Dengan bergabungnya perusahaan kimia anda dan JH hospital, anda tidak perlu lagi menyerahkan seluruh saham pada Jeon Group."
"Kau yakin? Lalu, apa ada syarat untuk masuk dalam tender yang JH ajukan? "
"Itu... " Jawab sekretaris Jang sedikit ragu. "Tuan muda cha bilang jika dia dan nona sinb harus.. harus, "
"Jangan bercanda, sekretaris Jang. " Nyonya Hwang mendelik lebar, bahkan tanpa di ucapkan pun, ia paham akan maksud dari kalimat sekretarisnya itu. "Sinb sudah terikat dengan jungkook. " sambungnya.
"Saya tahu, nyonya. Maka dari itu saya sempat ragu untuk menyampaikan pada anda. Jika memang nyonya tidak setuju, saya bisa menyampaikan penolakan pada pihak JH. "
"Tunggu, " Jessica menghentikan langkah kaki sekretaris itu, "Seandainya, ini hanya andai kata, aku setuju? Apa yang akan terjadi? "
"Saat nona sinb menjadi tunangan tuan muda Cha, maka pada saat itu juga Hwang Company akan menerima investasi tanpa batas dari JH. Perwakilan perusahan mereka bilang, jika semua perjanjian dan kontrak bisa di tanda tangani setelah Jeon Group tidak lagi menyokong perusahaan anda, nyonya. "
Mendengar rencana tersebut, jessica sontak tersenyum tipis. "Jadi, pria tua itu memintaku untuk menghianati Minho oppa? Baik, tolong biarkan aku berpikir sebentar. "
Sekretaris Jang mengangguk mengerti, pria itu masih setia menunggu disana meski jessica memutuskan semua dalam diam dan sepasang mata yang terpejam.
"Sekretaris Jang? " panggilnya pelan.
"Iya, nyonya. "
"Segera urus semua dokumen saham ku di Jeon Group. "
Sekali lagi pria itu mengangguk paham.
"Dan usahakan, jangan sampai perusahaan ku merugi. Minho oppa pasti akan berusaha menutup kerugian dari uang yang dia berikan untukku. Jadi, tidak masalah kau meninggalkan beberapa persen saham untuk mereka. Tapi tetap saja,,,, aku harus menjadi pemegang saham utama. "
"Akan saya usahakan sebaik mungkin, nyonya. "
"Dan satu lagi,,,, Jika kerjasama sudah di batalkan, para penagih hutang itu pasti akan tahu jika aku berada di Korea tanpa perlindungan dari Jeon Group lagi, sinb dan aku mungkin akan terancam. " Ucap jessica sedikit tertekan.
"Tenang saja, nyonya. Saya akan menyewa tim hebat setibanya anda di Korea nanti. "
Jessica mengangguk paham, kemudian menghela napas lega. Inilah saatnya, jika di tunda lebih lama ia bisa mati seorang diri di tempat ini.
"Jika tidak salah satu minggu lagi adalah malam amal, kan? "
Pertanyaan yang ia lontarkan dengan senyum penuh kemenangan itu di jawab oleh tatapan penuh tanya dari sang sekretaris.
"Efek terkejut memang selalu lebih menyenangkan. Baik, mari siapkan semua. Aku,,,, akan kembali ke Korea secepatnya. "
**To Be Continue**
__ADS_1