
"Apa masih ada yang sakit?? " Tanya eun soo dengan tatapan khawatir.
Sinb menggeleng kecil seraya memperlihatkan telapak tangannya yang ditempeli plaster. "Hanya tinggal perih sedikit. "
"Syukurlah.! Oh iya bee, kenapa jonghyun sunbae bisa menabrakmu? "
Enggan menjawab pertanyaan yang eun soo ajukan sebab ia tahu pasti akan berbuntut panjang. Jadi dengan acuh sinb hanya menggedik kan bahu.
"Kenapa hanya begitu tanggapan mu? " Ulang eun soo kesal seraya menirukan gerak bahu sinb, "Memangnya kau anak kecil hingga bisa tertabrak sepeda? "
"Yak, kim eun soo. Kau pikir dia ingin tertabrak? " sahut seungkwan geli.
Min gyu juga ikut tertawa melihat rasa penasaran adiknya itu. "Jonghyun mungkin tadi sedang tergesa saja hingga tidak sengaja menabrak orang lain. "
"Oh, atau mungkin... " Ucap eun soo dengan tatapan penuh menyelidik, "Hal ini ada hubungannya dengan si gadis pelayan yang ikut mengantarmu tadi? Tapi baik kau ataupun dia tidak ada yang mau mengatakan alasan sebenarnya kenapa kalian bisa bersama. "
"Chaeyeon ada disini? " Sinb bertanya terkejut.
Ia pikir, gadis pelayan itu sudah pergi meninggalkannya.
Sinb pikir bahwa orang lain lah yang telah membawa ia ke klinik. Bahkan tunangannya saja tidak perduli sama sekali, lalu kenapa chaeyeon harus perduli?
"Lebih tepatnya, jonghyun dan chaeyeon yang membawamu ke klinik. " Jawab min gyu.
"Lalu dimana mereka sekarang, oppa? " Tanya sinb.
"Entahlah, aku juga tidak tahu. Tapi mungkin, mereka sudah kembali ke kelas. "
"Aneh sekali. " Timpal eun soo semakin menatap curiga pada sinb. "Aku tidak salah, kan? Kau dan chaeyeon pasti sedang menyembunyikan sesuatu? Kenapa? Heol, apa mungkin dia mengintimidasi mu? "
Min gyu menyenggol siku sang adik dengan gemas, "Kenapa malah menyalahkan chaeyeon? "
Eun soo merenggut sebal saat di tegur oleh kakaknya itu. Sementara sinb seolah sedang memikirkan sesuatu, dia yang memang biasanya tidak banyak bicara, tapi hari ini menjadi lebih pendiam lagi dari yang sebelumnya.
Menghela napas sebal karena jungkook yang tidak datang juga. Min gyu bermaksud untuk menghubungi sang ayah guna memintakan izin untuk sinb pulang saat sebuah pesan tiba-tiba ia Terima.
"Gawat." Pekik Min gyu spontan bangkit dari kursi yang ia duduki. "Sinb, sebaiknya kau saja yang turun tangan. Jonghyun sedang dalam bahaya sekarang. "
"Kenapa dengan nya? " Tanya gadis itu mendadak merasa tidak enak.
"Dia sedang menerima hukuman. "
"Hukuman? " ulang sinb, "Hukuman apa? Dan siapa yang memberikannya? "
"Siapa lagi memang? " Min gyu tersenyum kecut seraya menatap sinb, "Jonghyun sungguh sial. Dia orang yang jarang terlibat masalah, tapi sekalinya ada, dia malah melukai tunangan pemilik hierarki tertinggi di sekolah ini. Jika dia tidak sial, lalu apa namanya. " Sambungnya menggeleng iba.
****
Jonghyun terhuyung kebelakang dengan bibir yang terluka. Semua orang yang ada disana tidak berani untuk menolong. Bahkan berkata-kata pun tidak, melaporkan pada guru juga tidak ada gunanya. Toh, jungkook hanya akan terbebas dari hukuman dan berakhir memukuli mereka juga.
"Katakan sekali lagi yang kau ucapkan barusan, Kim jonghyun.!! " Tantang jungkook dengan tiupan kecil pada jemari tangannya, seolah ia baru saja mengenyahkan kotoran dari sana.
__ADS_1
"Aku... " Jonghyun berusaha tetap berdiri, "Aku tidak bersalah. Aku tidak bersalah. "
Teriakkan Jonghyun barusan membuat semua yang ada disana terkesiap kaget. Mereka sama sekali tidak menyangka jika seorang seperti Jonghyun akan begitu berani dalam membela diri sendiri.
"Jadi sinb yang bersalah?? " Ucap jungkook dengan santainya mencengkeram kerah baju Jonghyun.
"Dia sendiri yang masuk ke dalam jalur lintasan sepeda. " belanya.
"Dan, apa kau tidak lihat jika dia sedang berada di jalur itu? "
"Aku akan meminta maaf padanya. "
Jungkook menyeringai tipis, "Minta maaf ya? Tapi bukankah seharusnya kau juga terluka, sama seperti bagaimana sinb mengalami luka.? "
"A-aapa...? " Tanya Jonghyun mulai ketakutan.
"Aku bilang. " Tekan jungkook, "Kau harus terluka seperti kau melukai sinb. Jadi, bagaimana aku harus membalasnya? Lecet di tempat yang sama, babak belur? Atau pincang? Ucapnya nampak berpikir, " Cepat. kau harus pilih salah satu. "
Dan tanpa bisa di cegah, Jonghyun langsung berlutut meminta maaf dengan ketakutan.
"Berdiri.!! " Bentak jungkook.
Meraih kerah baju Jonghyun kembali, lalu mencekiknya dengan kasar ke loker sekolah."Suka ataupun tidak, kau harus merasakan yang sama. Apa kau pikir aku akan diam saja saat melihat kau melukai tunangan ku?!! "
***
Sinb tidak percaya saat melihat bahwa jungkook sungguh melakukan apa yang minta gyu katakan di klinik tadi. Tunangannya itu pasti sudah gila.
"Jeon Jungkook. Berhenti.!! "
"Terima kasih, sinb.. " Ucap Jonghyun dengan suara bergetar.
"Brengsek.!! " Umpat jungkook kesal.
"Berhenti ku bilang. " Balas sinb, menekankan tangannya kuat pada dada bidang jungkook. Ia berdiri diantara Jungkook dan Jonghyun agar tunangannya ini tidak lagi memukulinya.
"Menyingkir dariku, sinb.!! "
"Kau ingin di panggil oleh direktur yayasan? "
Jungkook memandang kearah Jonghyun yang sudah berlalu pergi di bantu oleh teman-teman pemuda itu. Ia mengumpat lirih, menepis tangan sinb agar berhenti menyentuhnya.
"Kau ini kenapa, hem? " Bisik sinb pelan, berusaha agar tidak menarik perhatian siswa lain yang sudah mulai membubarkan diri satu persatu.
Jungkook balas menatap tajam pada tunangannya itu, "Kau yang kenapa? Bukankah sekarang kau harusnya berada di klinik? "
Sinb tidak mundur sedikit pun meski ia melihat betapa besar kemarahan jungkook yang terpancar dari sorot mata pemuda itu.
"Aku baik-baik saja. Kau bisa lihat sendiri, bukan?"
Jungkook mengamati seluruh tubuh sinb namun nampak sangat tidak puas. "Kenapa kau tidak bisa menjaga dirimu sendiri dengan baik hah? Apa kau terlalu bodoh hingga masuk ke jalur sepada?!! "
__ADS_1
"Seolah kau perduli saja. " Cibir sinb terdengar hampir seperti bisikan, "Kau bahkan tidak mendatangi klinik bersama dengan yang lain. Tidak perlu berakting lagi, toh tidak akan ada yang melihat mu, jungkook. Aku muak jika harus terus melihatnya sendirian.!! "
**
"Wah, aku sungguh tidak percaya akan melihat pertunjukan drama nyata tepat di depan mata seperti ini. "
Eun soo mengatakannya dengan nada yang sangat datar. Seungkwan sendiri, nampak terpaku.Coba memahami keadaan dua orang yang berada di bawah sana.
"Bukankah jungkook sunbae terlalu berlebihan? " Ucap eun soo lagi.
Seungkwan menghela napas lirih, "Siapa sangka sunbae ternyata akan menunjukkan nya secara terang-terangan seperti itu. "
Eun soo ikut menghela napas, "Hubungan mereka terlalu rumit untuk di pahami oleh orang yang memiliki otak biasa seperti kita. "
"Tapi aku rasa, mereka sedang jatuh cinta. "
"Kau juga berpikir hal yang sama dengan ku? "
"Tentu saja. Semua orang pun bisa melihatnya. " Balas seungkwan . "Sekarang yang menjadi pertanyaan, siapa yang akan sunbae pilih? Gadis yang sejak dulu dia sukai, ataukah si gadis baru yang mampu membuat dunianya porak-poranda?"
Eun soo menopang kan dagunya di pagar balkon lantai dua. Tempat dimana yang mampu membuat mereka berdua bisa menyaksikan perdebatan antara jungkook dan sinb dengan leluasa.
"Jika aku bisa mengajukan tiga permintaan pada dewa, aku akan dengan senang hati mempertaruhkan semua yang ada demi mengetahui isi hati chaeyeon. "
"Kenapa memang? Apa kau iri karena sunbae menyukai si gadis pelayan itu? " Goda seungkwan tidak mengerti situasi.
"Jangan bercanda. " Balas eun soo dengan tatapan tajam. "Kita tahu sunbae kaya raya. Gadis manapun pasti mau jika menggantikan posisi sinb, begitu pula dengan chaeyeon. "
"Lalu? Kau membencinya? "
"Sekarang? Mungkin iya. Tapi dulu? Tidak. "
"Apa maksudmu? " Seungkwan bertanya tidak mengerti.
"Aku tidak pernah menyukai chaeyeon. Tapi dulu juga aku tidak pernah membencinya saat dia dan sunbae bergandengan tangan pergi ke manapun. Namun sekarang, aku serasa ingin menjambak rambut panjang dia. Gadis pelayan itu harusnya sadar jika saat ini sudah ada sinb di sisi sunbae, jadi kenapa pula dia terus berkeras menginginkan tempat yang bukan untuk dirinya. " Jelas eun soo panjang.
"Aku juga tidak habis pikir dengan jalan pikiran gadis itu. " Timpal seungkwan.
"Kau tau Boo? Aku rasa itu bukan cinta, melainkan dia hanya terobsesi. "
Seungkwan menghela napas kecil, menatap dalam kearah eun soo. "Obsesi atau apapun bentuknya, kita tidak tahu apa yang sudah chaeyeon lalui. Ini pilihan dia. "
"Tidak kah kau merasa lucu? Chaeyeon itu tidak pernah memilih, dia hanya parasit yang terus menempel pada satu orang ke orang yang lain. Oh, lihat itu.... " Seru eun soo berbinar kearah seseorang yang nampak berjalan seorang diri.
Seungkwan mengikuti arah pandangan eun soo, sontak langsung menggeleng memperingatkan sahabatnya itu. "Tidak.Kau tidak boleh! "
"Memangnya aku kenapa? " Eun soo bertanya sok polos.
"Jangan mencari masalah. " Balas seungkwan penuh penekanan. "Jika kau tidak sadar. Menggoda Cha Eun woo itu adalah hal yang paling terlarang. "
"Menggoda Eun woo? Ah, benar juga. Terima kasih ide mu sangat bagus. " Jawab eun soo langsung berlari pergi mengabaikan ucapan seungkwan.
__ADS_1
"Yakk, Kim eun soo!! Aish, sial. Dia sudah mendatanginya. Matilah aku, astaga. Kenapa dengan anak itu sebenarnya?! "
**TO BE CONTINUE**