
"Aku tidak percaya kau sungguh benar-benar mengawasiku melakukannya. " Ucap jungkook berkata datar.
"Dan aku juga tidak percaya bahwa harus mengawasi tunangan ku menjalani hukuman seperti ini.!! " balas sinb tidak kalah datar.
Nyatanya, ia sungguh kesal dengan fakta tersebut. Meski penampilan jungkook saat berkeringat seperti saat ini benar-benar sangat menggoda, dengan lengan kemeja yang tergulung hingga batas siku, namun semua itu tidak bisa menutupi betapa sebal ia akan hukuman memalukan ini.
"Tidak ada yang salah dengan peringkat terbawah. " Bela jungkook untuk dirinya sendiri.
"Yakk, jeon jungkook. Kau sudah tidak waras? " bentak sinb tidak percaya.
"Kenapa memangnya? Peringkat terakhir pun harus ada yang mengisi, dan harusnya kalian semua berterima kasih padaku karena berbaik hati telah mengisi posisi itu. Bukankah aku sama saja dengan pahlawan? " jawabnya asal.
Menghembuakan napas pelan guna mengatur emosi, gadis cantik itu tidak dapat mencegah dirinya untuk tidak menggeretakkan gigi saat bicara, "Kau sudah kelas tiga jungkook, tidak kah kau tahu betapa sulit masuk ke Universitas? Sudahkah kau berpikir tentang rencana study selanjutnya? Apa nilai mu cukup untuk masuk kesana? Kau belum mempersiapkan semuanya, bukan?!" geram sinb.
"Aku bahkan tidak pernah ingin mengenal semua itu." jungkook menjawab acuh seraya tetap membersihkan jendela dengan menggunakan satu tangan asal-asalan.
"Bicara yang masuk akal, jungkook.!! " Protes sinb tidak sabaran.
Pemuda itu melengos sebal, semakin menggosok kaca dengan kasar. jungkook sudah sangat kesal mendapatkan hukuman seperti ini. Jendela di sekolah bukan main-main, hampir seluruh bangunan gedung terbuat dari kaca. Sekarang, ia harus bekerja ekstra untuk mendengar omelan sang tunangan yang tidak ada habisnya sejak tadi? Sialan memang, dia bukan anak kecil yang harus menjalani hukuman menjijikan seperti ini.
Membanting kasar tuas pembersih, jungkook sontak berjalan mendekat kerah sinb dan membuat gadis yang sedang berdiri pada pagar pembatas itu beringsut mundur.
"J-jungkook, kau ini kenapa? " sinb mendorong cemas begitu sang tunangan mengurungnya diantara pagar balkon dan tubuh tegap milik pemuda itu.
"Bisa kau berhenti menceramahi ku? " Ucap jungkook menakutkan, "Aku sudah cukup mendapat hukuman hari ini, jika kau tidak bisa diam juga, maka tidak ada jalan lain. Aku akan menciummu sampai lemas disini hingga kau bisa menutup mulut mu yang menyebalkan itu.!! " peringatnya seraya menatap bibir ceri yang sejak tadi terus mencerca dia dengan segala omelan.
Sinb tahu seharusnya ia tidak termakan oleh gertakan tersebut, lagipula, seorang jeon jungkook dan dirinya tidak akan pernah berciuman.
Tidak.! Bahkan hanya memikirkan nya saja sudah membuat wajah gadis itu memerah. Sebal sekaligus cemas di goda seperti saat ini, sinb sontak mendorong kuat tubuh jungkook, berusaha membuat tunangannya ini mundur namun, jungkook bahkan tidak beringsut sama sekali.
"Kau mau apa sebenarnya, hah?! " gugup sinb.
"Apa kau tidak bisa menebak? " alis mata jungkook terangkat keatas.
__ADS_1
Sinb menggeliat tidak nyaman, kemudian menjawab dengan horor, "Jangan bercanda jungkook, banyak yang akan melihat kita dari jendela kelas.!! "
"Kenapa? Bukankah itu keuntungan? " jungkook mengejek dengan tersenyum simpul "Kau terlihat seperti tunangan yang sangat peduli padaku saat ini, jadi tidak masalah bukan jika kita menunjukkan keromantisan di depan anak-anak."
"Jungkook, aku mohon... "
Gadis cantik itu hampir histeris hingga tanpa sadar ia memohon.
Menyadari betapa panik wajah sang tunangan kontan membuat jungkook menahan tawa geli. Ia merunduk lalu berbisik tepat pada telinga sinb, "Bantu aku, kau mau? "
"Maaf saja, " jawab sinb cepat, "Jika kau meminta ku untuk ikut membersihkan jende_____"
"Untuk menemani ku belajar. " Sela jungkook cepat dengan tatapan menantang.
".. Apa kau bilang?? "
"Temani aku belajar. " Ulang jungkook meyakinkan, "Kau bilang aku harus memperbaiki nilai. Maka dari itu, ajari aku. "
Jungkook menggedik kan bahu tidak perdulu, "Tidak perlu kau pelajari semua, cukup membantuku menjawab pertanyaan yang sulit saja. Atau jika memang kau tidak mengerti semuanya, kau bisa melakukan hal lain. Bagaimana?"
Sinb tidak tahu harus bagaimana cara menyembunyikan degub jantungnya? Bahkan kini ia merasa kalau wajahnya semakin terasa memanas. "Hal lain,,, apa?"
Senyum puas pemuda itu terukir.
"Menjadi asisten pribadi ku." Sekali lagi, jungkook berbisik lirih. Nampak sangat intens bagi siapapun yang bisa melihat mereka, meski pada kenyataan nya yang ia bisikan adalah, "Mengambilkan ku makanan, memijat kakiku, menyiapkan baju serta sarapan untukku, atau apa saja.... bukankah kau sangat hebat saat berperan sebagai tunangan yang sangat pengertian? "
Mendelik tajam, sinb lantas mendorong keras tubuh kekar jungkook kemudian meloloskan diri dari kurungan pemuda itu. Ia pergi meninggalkan sang tunangan disana, membuat jungkook tidak bisa menahan tawa menyaksikan langkah tegas gadis yang baru saja berhasil ia goda tersebut.
******
Chaeyeon menghapus kasar air matanya yang tidak bisa berhenti menetes. Ia sudah berjanji bahwa tidak akan menangis lagi saat berangkat sekolah pagi ini. Namun setiap teringat betapa dekat dan akrabnya jungkook dengan sinb membuat ia tidak bisa menahan diri untuk tidak marah dan kecewa.
Tanpa jungkook dan sinb sadari, sejak tadi chaeyeon terus memperhatikan keduanya, bagaimana mereka datang kesekolah di pagi hari bersama, mereka yang bertengkar di depan papan pengumuman nilai dengan lucu, hingga bagaimana mereka berdua berbicara saling berbisik mesra diatas balkon sekolah. Chaeyeon melihat semua itu, dan ia tidak bisa melakukan apapun.
__ADS_1
"Aku sungguh lelah. Aku tidak bisa melanjutkan ini semua. " Bisiknya sendu.
Sungguh, ia sangat tahu diri. Sampai kapan pun ia tidak akan pernah bisa menyaingi sinb, keberadaan gadis itu mungkin tidak sebanding dengan kenangan demi kenangan masa indahnya saat bersama jungkook. Namun kini, chaeyeon tidak dapat berkutik. Disaat jungkook seolah melupakan janjinya, ia bahkan harus menerima kemarahan sang ibu yang bertubi-tubi karena perpisahan mereka.
Chaeyeon takut. Ia benar-benar sangat takut.
Menghapus air mata yang kembali menetes dengan perlahan, ia berbisik lirih, seolah jungkook ada di depan dan mendengarnya, "Sekarang, mana janji yang kau bilang itu, jungkook? "
Keadaan kini telah berubah. Angin yang bertiup kearahnya masih sama, hanya saja angin itu tidak lagi membawa jungkook pada dirinya.
Berdiri menunggu lampu penyeberangan menyala dengan pikiran kosong, chaeyeon refleks ikut melangkah saat melihat ada seseorang yang juga sedang melangkah kedepan. Dan semua terjadi dengan begitu cepat, ia yang baru berjalan beberapa langkah seketika sadar bahwa orang yang tadi ia ikuti hanya mengambil barangnya yang terjatuh di tepi trotoar dan segera kembali.
Sementara chaeyeon, ia kini sudah hampir berada di tengah jalan.
Detik berikutnya, ia sudah jatuh tersungkur ditengah jalan beraspal. Tidak begitu keras, namun cukup membuat gadis malang itu sangat terkejut. Terdengar teriakkan panik dari beberapa orang yang melihatnya, membuat gadis itu seolah membeku di tempat.
Andai saja mobil yang hampir menabrak dia tidak segera berbelok arah dan mengerem mendadak, mungkin saja keadaan chaeyeon bisa lebih parah.
"Astaga, nona. Anda tidak apa-apa? " tanya seorang pria paruh baya yang keluar tergesa dari dalam mobil.
Chaeyeon menggeleng pelan meski lututnya terluka dan mengeluarkan darah, "Tidak paman, aku tidak apa-apa. " jawabnya memaksakan senyum.
"Apa nona bisa berjalan? "
"Saya bisa.. akh, " rintih chaeyeon begitu melangkah dan merasakan nyeri menghujam pada pergelangan kakinya.
"Kaki anda terkilir? Mari nona, saya akan mengantar anda kerumah sakit. " ujar pria paruh baya tersebut.
Di tuntun kearah mobil yang tidak begitu jauh dari sana, chaeyeon berjalan dengan sedikit tertatih dan mengernit saat menyadari sang pemilik mobil yang tengah duduk di kursi belakang kemudi sedang menatap intens padanya.
"Tuan muda Lee? " ucap chaeyeon terkejut.
**To Be Continue**
__ADS_1