
Sepanjang hari jungkook mengurung sinb didalam kamar gadis itu tanpa mengizinkan nya keluar barang sejengkal pun.
Jungkook juga memarahi semua orang yang berada dirumah, termasuk sopir dan pengawal yang tidak tahu apa-apa tentang insiden sinb bersama jonghyun. Bahkan bibi kim sang koki rumah yang dianggap tidak becus dalam menyiapkan sarapan sinb dengan baik pun ikut terkena amukan.
Tiga menit sekali, jungkook bahkan membuat sinb sebal dengan berbagai pertanyaan apakah ia lapar? atau ia ingin sesuatu? apabila sinb diam makan tunangannya itu akan meminta bibi kim memasak banyak makanan meski ia tidak berselera menyentuh makanan apapun. Hingga satu-satunya cara agar menghindar adalah dengan tidur. Namun, nyatanya hati sinb terusik dengan suara jungkook yang tengah berbicara pada sambungan telfon.
"Ya, dia sedang tidur. " Ucap jungkook pelan seolah takut membangunkan tidur tunangannya, "Tidak. Keadaan sinb sudah lumayan membaik. " tidak lupa pandangan mata dia menatap kearah tempat sinb berbaring. "Menjenguk? Kau yakin? Kau tahu bagaimana sikap sinb padamu, bukan? "
Menggigit bibirnya di balik selimut yang membungkus tubuh, sinb menahan diri agar tidak berteriak sebab orang yang sedang jungkook ajak bicara itulah yang telah menyebabkan dirinya tertabrak sepedah. Alih-alih berteriak sinb memilih tetap memejamkan mata, berusaha tidak perduli.
"Ingin bicara denganku? Apa tidak bisa melalui telfon saja? Penting sekali? Tolong jangan malam ini, chaeyeon. Sinb masih belum sehat, aku tidak bisa meninggalkannya sendirian. Bersabarlah.." Lirih jungkook.
Tenggorokan sinb seketika terasa gatal dan haus. Terbatuk kecil, ia terpaksa membuka kedua mata, membuat jungkook yang asik ber telfonan pun menoleh.
"Kita bicara lain kali lagi, Sinb sudah bangun. "
Mematikan sambungan telfon, jungkook yang tadi berdiri menghadap jendela kini berbalik arah dan berjalan mendekat pada sinb dengan menampilkan senyum yang mampu memikat banyak wanita.
"Sudah merasa baikan? " Ia bertanya lembut dan penuh perhatian.
"Siapa? " Balas sinb dingin. tidak ingin menjawab pertanyaan yang jungkook lontarkan disaat kepedulian pemuda itu hanya sebatas moralitas sebagai tunangan saja. "Jung chaeyeon? "
Jungkook mengangguk, "Ya, dia mengkhawatirkan keadaan mu. Aku tahu kalian tidak pernah akur, namun chaeyeon menitipkan salam, berharap agar kau cepat sembuh. "
Sinb tersenyum kecil. "Kekasihmu ternyata sangat perhatian. " sindir nya.
Jungkook hanya menggedikkan bahu acuh. "Oh iya, kau mau makan apa? "
Mendengar jungkook tidak membantah sindiran nya barusan, sinb yang merasa sakit hati pun hanya membuang wajah lalu mendengus pelan. Namun jungkook malah salah mengartikan sikap gadis itu sebagai penolakan makan.
"Dokter bilang meski kau tidak mau, tapi tetap harus makan jika ingin sembuh. "Sambung jungkook duduk disisi kanan ranjang sinb.
" Sebentar lagi juga akan sembuh." Tolak gadis itu enggan.
Posisi tubuh jungkook yang menjulang di hadapannya, membuat sinb merasa tidak nyaman. Apalagi tatapan pemuda itu nampak sangat intens dan mengintimidasi, menekan sinb agar mau menuruti ucapannya tanpa bantahan.
"Apa sekretaris kim sudah datang? " Tanya sinb memilih mengalihkan pembicaraan.
"Belum. kenapa? "
"Hari ini aku memiliki jadwal padat, bahkan siang tadi aku melewatkan kelas. Juga melewatkan acara minum teh bersama putri direktur song, dan sekarang tidak mungkin jika aku harus melewatkan acara pembukaan museum seni istri mentri kebudayaan. "
"Kau tidak perlu datang. " Larang jungkook tegas.
"Jangan bercanda, jungkook. Kau tentu tahu bahwa hotel mu saat ini sedang mengejar tender besar di kementrian. Jika aku tidak hadir, maka tender itu akan menjadi milik orang lain. "
Sinb yang masih pucat dan sedikit lemas memaksa bangun saat jungkook menarik tubuhnya untuk kembali berbaring.
"Sudah aku katakan, kau tidak akan pergi kemana pun. "
"Tapi tendernya___"
__ADS_1
"Apa aku terlihat peduli? " Potong jungkook tegas, "Tender itu bahkan nilainya tidak seberapa. Mereka hanya proyek selingan, bahkan jika sekalipun memang proyek besar, aku tetap tidak akan mengizinkan mu pergi dengan keadaan lemah begini. "
Tidak tahu lagi harus membantah dengan kalimat seperti apa, sinb memilih menuruti perintah jungkook dan kembali menarik selimut agar menutupi seluruh tubuhnya.
"Ini.. " Jungkook menyodorkan sepotong roti, "Makanlah meski hanya sedikit. "
Sinb menggeleng lemah.
"Kau ingin makan yang lain? " Tawar jungkook.
Bukan menjawab, sinb malah menyembunyikan separuh wajahnya dibalik selimut agar jungkook tidak memaksa lagi.
"Kalau begitu buah apel? Bibi kim bilang kau sangat suka buah apel. "
Lagi dan lagi sinb hanya menggeleng, menarik selimutnya semakin ke atas.
"Ingin makanan prancis? " Tanya jungkook berusaha sabar, "Atau mungkin khas itali? "
"Sudah aku bilang tidak mau. "
Menghela napas lelah, jungkook menyentuh selimut yang membungkus tubuh sang tunangan lalu menariknya kebawah. Ia menatap sinb dengan penuh rasa putus asa. "Aku berjanji akan melepasmu sebentar lagi. Jika kau tidak bisa menjaga diri sendiri dengan baik seperti ini, lalu bagaimana aku bisa melepasmu nantinya, hemm? "
Sinb menarik sudut bibir tersenyum, menampik usapan tangan jungkook yang menyibakkan helaian rambutnya ke belakang telinga.
"Tidak perlu sok peduli dengan keadaan ku. " Balas gadis itu sinis.
"Kenapa kau ini? Kau marah padaku? "
"Oh, atau karena aku melarang mu keluar? "
"Bukan."
"Lalu? Demi Tuhan sinb, katakan sesuatu karena aku bukan cenayang yang bisa menebak isi hati dan alasanmu tiba-tiba marah padaku. " Keluh jungkook merasa frustasi.
Namun sinb tidak ingin menbjhasnya, ia tidak akan tertipu . Akting jungkook memang sangat meyakinkan tapi sinb tidak bodoh.
"Aku hanya pusing. Dan ingin tidur, apa bisa kau pergi? "
Menghela napas pelan dan berharap keadaan sinb akan membaik esok pagi, jungkook memilih untuk menuruti keinginan tunangannya itu. Ia membantu sinb menutup jendela kamar, menyelimuti gadis itu hingga bagian bawah dagu lalu mematikan lampu.
"Selamat malam, sinb. " Ucapnya pelan.
Sinb tidak menjawab. Gadis itu hanya memunggungi jungkook dan tetap menahan agar air matanya agar tidak terjatuh hingga ia meyakini pemuda itu sudah pergi dari kamarnya.
Sinb tidak ingin apapun.
Dan ia tidak butuh siapapun.
"Pergi saja temui kekasih mu itu. Kenapa juga harus bersikap baik dan peduli padaku?! "
**
__ADS_1
Chaeyeon sangat marah? . Bahkan di kegelapan malam seperti saat ini pun, jungkook mampu melihat dengan jelas. Gadis itu hanya terus diam dan mengatupkan bibir rapat, bahkan saat tujuan dia datang kemari adalah berbicara empat mata dengannya.
"Aku akan pergi detik ini juga andai kau tetap diam dan tidak cepat bicara. "
Ucapan bernada dingin nya tersebut, sontak membuat chaeyeon tersenyum sedih.
Tidak salah lagi, ia baru saja menyakiti hati gadis itu entah bagaimana caranya? Namun aneh, meski sekarang ia tahu bahwa sudah menyakiti hati chaeyeon, ia sama sekali tidak merasa ingin meminta maaf.
Jungkook hanya membiarkan chaeyeon menangis dalam diam. Ia bahkan tidak ingin menyentuh tangan gadis itu, seperti yang biasa ia lakukan saat chaeyeon sedang bersedih.
"Maaf...Aku pikir kau akan senang dengan ke datangan ku. "
Jungkook mengangguk, "Aku senang. "
"Bohong. Seorang gadis miskin seperti ku tidak akan bisa dengan mudah di cintai oleh pria kaya, bukan? "
"Aku rasa kau tidak mengerti dengan apa yang sedang kau bicarakan saat ini, jung chaeyeon. "
"Aku sedang mengalaminya. Bahkan aku sudah lebih dari tahu tentang semua itu. " Balas chaeyeon berusaha menahan tangisan.
Menghela napas lelah, jungkook berkata. "Sebenarnya apa yang kau minta untuk aku lakukan sekarang? "
"Aku tidak tahu. " bisik chaeyeon dengan gelengan kepala lemah, "Aku hanya... aku merasa, kau sudah tidak lagi menyukai ku. "
"Aku sudah berjanji padamu, jika kau lupa. "
"Tapi apa kau masih mencintaiku? "
Jungkook tahu jika hubungan mereka ini adalah sebuah kesalahan, entah itu diakui atau tidak. Chaeyeon yang memaksa dia untuk melangkah, namun jungkook orang pertama kali yang memberi chaeyeon harapan.
Membuat gadis itu berharap lebih. Namun aneh, saat bagaimana rasa sukanya terhadap gadis itu tidak sehebat dan sedalam dulu, seolah rasa suka itu telah terkikis sedikit demi sedikit.
Sinb bahkan tidak pernah melakukan apapun, gadis itu hanya masuk dalam kehidupan jungkook lalu memporak-porandakan semuanya dengan sangat mudah.
"Kau tidak bisa menjawabnya, bukan? "
"Karena tidak peting aku suka ataupun tidak.!! "
"Keadaan kita saat ini sudah berubah, jungkook. Aku tahu itu. " Ucap chaeyeon masih menatap dalam manik sang mantan kekasih, "Sejak malam dimana kita memutuskan untuk berpisah, aku tahu kita sudah tidak akan lagi bisa kembali bersama. Aku tidak masalah jika memang harus menghapus semua kenangan. Tapi... "
Chaeyeon tahu bahwa jungkook sudah sangat bersabar dalam menghadapi dirinya, pemuda ini tidak mengusirnya saja sudah sangat lebih dari cukup.
"Tolong lakukan satu hal untukku. " pinta chaeyeon.
"Apa? " Jungkook bertanya dengan hati-hati.
"Kau tahu ibuku. " Mulai chaeyeon, "Bagaimana menakutkan nya dia untukku, hanya di depan ibu tolong akuilah aku sebagai tunanganmu. Sebagai orang yang pernah kau sukai, aku mohon. kau bisa kan? "
Pinta chaeyeon. Ia tahu bahwa dirinya sangat berdosa. Namun ia tidak peduli, mungkin ia akan di kecam oleh banyak orang, atau bahkan di permalukan. Satu yang chaeyeon tahu, ia hanya tidak ingin jika ibunya akan semakin membenci dia.
"Aku akan membalasmu dengan apapun, jungkook! Aku mohon, tolong selamatkan aku. Kau sudah meninggalkan ku begitu saja, setidaknya kau berhutang maaf padaku. "
__ADS_1
**To Be Continue**