
"Sunbae... "
Eun woo menoleh saat sebuah suara di belakangnya memanggil dengan nada ceria yang terdengar sangat familiar.
Ia menghela napas kecil. Sepertinya, lorong ini adalah tempat di mana ia dan Eun soo telah di takdirkan sering bertemu tanpa sengaja.
"Pagi, " Sapa eun woo dengan tersenyum kaku.
"Sunbae mau kemana? " eun soo bertanya seraya berjalan mendekat sok akrab padanya.
"Perpustakaan." jawab eun woo singkat.
"Rajin sekali. "
"Ada tugas yang harus aku selesaikan. "
"Boleh aku ikut? "
Pertanyaan lugas eun soo tersebut membuat eun woo tanpa sadar tersedak ludah sendiri. "Kau mau ikut? "
"Aku bisa membantumu.. "
"Tapi aku memiliki janji temu setelahnya. "
"Tidak masalah. Lagi pula aku tidak akan mengekori sunbe sepanjang hari. Aku juga ada kelas. "
Eun woo menggaruk tengkuk bimbang. Ada apa sebenarnya dengan anak ini? Kenapa pula dia begitu ngotot ingin ikut?.
"Ada apa ? " Tanya eun soo berjinjit untuk mendekat dan menatap manik milik eun woo yang nampak gusar. "Sunbae tidak ingin dekat-dekat denganku karena takut padaku bukan? "
"Takut..? " Balik eun woo tidak bisa menahan tawa. "Memangnya kenapa aku harus takut padamu? "
Eun soo mengangguk lucu. "Menyukaiku.Sunbae takut jika selalu bersama denganku kau akan jatuh cinta padaku? "
**
"Sudah jelas badan lemas begini,dan kau masih berani bilang baik-baik saja. " Omel jungkook.
Ia menyesal telah mengikuti ajakan sinb dengan patuh. Ia pikir tunangannya ini benar baik-baik saja, namun saat gadis itu berjalan menuju klinik dengan selalu bertopang pada lengannya, tidak ada hal yang ingin jungkook lakukan selain kembali membuat perhitungan pada jonghyun.
"Aku memang sudah baikan. Hanya tinggal sedikit pusing saja." Bela sinb datar.
"Lalu tangan dan kaki yang penuh dengan plester ini apa? "
"Ah, luka ini? " Sinb menunjuk telapak tangannya dengan mendengus kecil. "Mereka akan segera sembuh dalam beberapa hari. Tenang saja. "
__ADS_1
"Memang akan sembuh. Tapi itu tidak akan mengubah fakta bahwa kau terluka begini karena ulah jonghyun yang tidak bisa berkendara dengan baik. " Ucap jungkook kembali mengomel.
Sinb yang bersiap untuk mendebat pun mengurungkan niat tersebut sebab pertengkaran mereka rupanya membuat dokter yang saat ini bertugas di klinik sekolah tertawa geli.
"Kau tidak perlu berlebihan seperti ini, jungkook. " Timpal dokter wanita itu memaklumi, "Tunanganmu baik-baik saja."
"Dokter yakin? " Tanya jungkook masih belum puas.
"Tentu.Sinb memang terjatuh dan mengalami sedikit lecet, tapi itu bukan karena ulah jonghyun."
"Dengar kan? " Ejek sinb,membuat jungkook menatap tajam padanya"Jadi berhenti mengomel. "
"Sinb tidak akan sampai pingsan andai dia tidak selemah pagi tadi. Aku sudah memeriksa, dan ternyata tunanganmu ini hanya kelelahan. " Lanjut dokter wanita yang masih sangat muda itu.
"Apa aku harus istirahat total, eonni? " Tanya sinb lemah.
"Sebaiknya, kau jangan terlalu sering tidur larut malam. Dan asupan makanmu juga harus teratur, jangan sampai terlambat makan. "
"Telat makan? " Ulang jungkook, "Sinb, kau tidak sarapan pagi tadi? "
"Eem, itu... " sahut sinb, coba mencari alasan.
Jungkook menatap tunangannya itu tajam, meminta penjelasan. Namun sinb memilih untuk mengalihkan perhatian dengan menjabat tangan sang dokter erat. "Terima kasih sudah merawatku tadi, eonni. "
Dokter wanita itu mengangguk saat sinb menarik lengan jungkook agar segera pergi dari ruang klinik itu. "Kau bisa langsung pulang, aku sudah memberikan surat izin pada wali kelasmu. "
"Jelaskan padaku. " Ucap jungkook begitu mereka berada di luar. "Kenapa bisa kau sampai telat makan? "
"Hanya belum lapar. "Jawab sinb cepat, " Berikan tas ku. Aku akan membawanya kembali ke kelas."
"Ke kelas? " Ulang jungkook memicingkan mata.
"Iya, ada masalah? Sini tasnya. "
Jungkook menolak untuk menyerahkan tas milik sinb yang sedang ia pegang. "Dokter sudah memberikanmu izin pulang. Kau tentu mengerti maksudnya, kan? Itu artinya sekarang kau akan ikut naik mobil denganku. Kita pulang, dan kau akan istirahat di rumah. "
Sinb buru-buru menggeleng kecil. Hampir menatap penuh permohonan pada tunangannya itu. "Aku ada ulangan di jam ketiga. "
"Apa kau sedang berdiskusi dengan ku? "
"Tidak. Nilai ulangan ku bisa kosong dan____"
Kesal. Jungkook lantas melingkarkan lengannya pada leher sinb, menyeret gadis itu agar ikut berjalan bersama dengannya.
"Jungkook, apa-apaan? Memalukan jika ada yang melihat nanti. " Protes sinb.
__ADS_1
Jungkook tidak menghiraukan sama sekali. Ia terus berjalan, "Protes saja tunangan. Cobalah lebih baik lagi untuk membantah dan aku akan menggendong mu detik ini juga. "
**
"Cari sampai dapat. " Perintah eun woo.
"Padahal aku sudah mencarinya dari tadi. " Jawab eun soo lebih pada diri sendiri, "Dimana sebenarnya buku itu? "
Mendengus kecil, ia seharusnya membiarkan saja eun woo kesusahan sendirian. Kenapa juga ia mau saja melakukan hal bodoh seperti ini?
"Ah, itu dia. " Pekik eun soo girang.
Ia dengan semangat langsung berjinjit. Coba menggapai buku yang ada di rak paling atas itu. Tidak ada kursi sama sekali yang bisa di panjat untuk mengambilnya, jadi eun soo memilih alternatif melompat-lompat sementara satu tangan dia bertumpu pada rak tertinggi yang bisa di gapai.
"Apa yang kau lakukan? " Tanya eun woo tidak habis pikir.
"Mengambil buku tentu saja. " Jawab gadis itu sembari tetap berusaha menggapainya, "Terlalu tinggi oppa, jadi aku... ah!! "
Eun soo reflek memejamkan mata, menunduk takut saat belasan buku tebal yang berada di rak paling atas jatuh menimpanya. Namun rasa sakit tidak kunjung ia rasakan, kala membuka sedikit mata untuk mengintip ia dengan terkejut mendapati sosok eun woo berdiri menjulang di hadapannya, menggantikan ia tertimpa buku-buku itu tanpa protes.
"Kau tidak apa-apa? " Tanya eun woo khawatir memastikan bahwa eun soo tidak lecet karena buku-buku berat yang sempat menimpanya tadi.
"Ti-tidak.. " Jawab eun soo tidak percaya bahwa eun woo akan melindungi dirinya.
"Syukurlah." Lega eun woo, "Jika sampai kau terluka min gyu pasti akan membunuhku. " Candanya yang tidak membuat eun soo sama sekali tertawa.
"Bodoh. Jika begini kau yang jadi terluka. "
Eun woo hanya meringis kecil menanggapi omelan itu. Ia menggerakan bahu lebarnya dengan hati-hati sementara eun soo duduk memunguti puluhan buku yang jatuh berserakan diatas lantai dengan wajah menunduk.
"Mana bukunya? " Pinta eun woo.
Tanpa bicara, eun soo langsung mengulurkan buku yang pemuda itu minta lalu meletakkan sisa buku yang lain di rak yang bisa ia jangkau.
"Terima kasih. Apa setelah ini kau akan langsung kembali ke kelas? "
"Iya, aku pergi dulu. "
Pamit eun soo yang langsung saja pergi tanpa menunggu tanggapan eun woo atau ucapan apapun dari pemuda itu. Ia meninggalkan perpustakaan tanpa menoleh ke belakang.
Eun soo baru berhenti saat ia merasa bahwa eun woo tidak akan dapat melihatnya lagi.
Menoleh ke kanan dan kiri.
Kosong, tidak ada orang!
__ADS_1
Dengan tangan yang sedikit gemetar ia menyentuh dada sebelah kiri. Memastikan bahwa jantungnya baik-baik saja, harusnya eun woo yang jatuh dalam jebakan bukan malah sebaliknya.
**To Be Continue**