Our Forced Engagment

Our Forced Engagment
'Kisah Yang Sama Persis'


__ADS_3

Malam hari.


"Tuan muda jeon, bukankah anda dan tuan muda cha satu sekolah? " salah seorang di pertemuan itu bertanya.


Eun woo tersenyum palsu, kemudian menggantikan jungkook untuk menanggapi pertanyaan bodoh itu. "Kami sangat akrab, iya kan dude? "


Jungkook yang kini tiba di sisi kanan eun woo balas tersenyum kaku, "benar, sangat akrab. bahkan kami saling berbagi rahasia. "


Seolah belum puas memanaskan suasana yang ada, eun woo menanggapi sindiran jungkook dengan mengambil segelas sampanye, tangan pemuda itu pura-pura tergelincir hingga cairan berwarna emas yang baru saja jungkook tuangkan tumpah mengenai jas serta sepatu rivalnya itu.


"Maaf sekali jungkook, tanganku mendadak terasa kaku dan,,,,oh Tuhan, sepatu mu jadi kotor"


Jungkook menggeram tertahan, menahan emosi melihat akting si brengsek itu yang nampak sangat meyakinkan, "Jas mu juga kotor. Ikutlah denganku eun woo, kita akan berganti pakaian di kamar ku.!! " ucap jungkook menekankan setiap kata.


"Hei anak-anak. " seru tuan jeon dengan tatapan memperingatkan. "Ingatlah, kalian sudah SMA bukan? jangan membuat keributan.! "


"Keributan kecil, layaknya sahabat lama. " balas jungkook, "Aku rasa masih bisa di tolerir ayah, benarkan paman cha? "


Pria paruh baya itu hanya mengangguk tanpa rasa khawatir sedikit pun.


"Ayo, eun woo, kita menghabiskan waktu berdua layaknya sahabat dekat. "


Tidak banyak bicara eun woo hanya menerima tawaran jungkook dengan senyum menyebalkan.


keduanya pun pamit undur diri meninggalkan ruang pertemuan tersebut. Eun woo yang memilih berjalan satu langkah di belakang jungkook, bersiul kecil saat mengikuti teman lamanya itu menyusuri lorong demi lorong yg mereka lalui.


"Silahkan masuk bajingan.!! " ucap jungkook dengan tatapan tajam kala membuka pintu kamar yang ia tempati.


Eun woo menyeringai kecil mendengar sebutan itu, "Wah, tidak ku sangka bahkan pengucapan mu begitu sempurna. " balasnya.


"Kau tahu? aku bahkan ingin terus mengulanginya di hadapan mu. " jungkook membalas lebih tajam lagi.


Namun bukannya marah, eun woo malah mengulurkan tangan dengan gaya menantang.


"Berhenti main-main, " Ucap jungkook hanya memandang uluran tangan eun woo dingin, tanpa berniat untuk menyambutnya. "Pakaian ganti yang baru ada didalam lemari, segeralah keluar jika kau sudah selesai. Jangan sampai paman cha mengira bahwa aku membunuh mu disini.!! " tegasnya.


Alih-alih segera berganti pakaian, eun woo malah berkeliling ruangan, memeriksa seluruh isi kamar jungkook hingga membuat sang pemilik jengah.


"Hidup di luar negri rupanya membuatmu kehilangan tata krama? " tanya jungkook setengah menyindir.


"Jadi kau tinggal disini? " eun woo tersenyum kecil, mengabaikan sindiran jungkook. "Lalu sinb? dimana dia, aku dengar kalian tingga bersama? "


"Apa sekarang gosip sudah menjadi kegemaran pewaris JH Corp yang terhormat? "


"Tergantung siapa yang menjadi bahan pembicaraan.. " jawab eun woo acuh. "Tapi ku beri saran,,,,melihat dari cara bagaimana kau memperlakukan sinb, akan lebih baik kalau kau melepaskan nya saja? lepaskan gadis itu, jika kau tidak ingin melihat dia berakhir menjadi sampah berada di sisimu.!! "


Meraih kasar kerah jas milik eun woo, jungkook mencengkeram pemuda itu dan menatapnya tajam. "Apa maksud mu dengan membahas tunangan ku?! "


Tanpa di duga eun woo malah melepaskan tawa geli, "Berhenti berakting perduli padanya. tunangan ku? oh astaga, apa kau tidak salah menyebut? bukankah ini,,, perjodohan kalian hanya sebatas bisnis, bahkan tidak pernah ada rasa cinta sedikit pun. "


"Cha eun woo, kau!!! "


Tangan jungkook sudah setengah melayang di udara saat dengan cepat eun woo balas mencengkeram kerah kemeja dia sama kasarnya. "Kau tidak bisa memiliki keduanya, jungkook. sungguh sangat serakah, kau tahu itu.!! "


******


"Lihatlah ini, sinb. lukisan yang sangat bagus. " ucap nyonya cha antusias, "Apa kau menyukainya? "


Gadis itu ikut menatap pada lukisan yang tadi nyonya cha tunjuk dengan anggukan pelan, "Benar, lukisannya sangat indah nyonya. Aku juga menyukainya meski aku tidak begitu paham dengan pesan didalam lukisan itu. "


"Lalu, bagaimana pendapatmu tentang lukisan ini? "


Sinb menatap lukisan sebuah boneka kayu dengan menggunakan pakaian yang robek di bagian sana sini dengan tatapan sendu. "Entahlah nyonya, aku... "


"Tidak papa, katakan saja apa yang kau rasakan?"


"Sedih." jawabnya "Entah karena apa? tapi saat aku melihat lukisan ini, rasanya sangat sedih. "


"Iya, kau benar. lukisan yang sangat cantik dan indah bukan? Petrushka Under The Moonligh,! " timpal nyonya cha yang kecantikannya masih terjaga meski usia dia sudah tidak muda lagi. "Choi sang eun, mengatakan jika lukisan ini ia buat untuk cinta pertamanya. "


"Tapi siapa itu petrushka? " tanya sinb mulai tertarik, membuat nyonya cha tersenyum.


Wanita setengah baya itu lantas menggandeng lengan sinb untuk kembali menyusuri lorong.


"Petrushka adalah manusia jerami buruk rupa yang ada di dalam tarian ballet. petrushka hidup bersama seorang balerina cantik yang ia sukai, namun sayang, si balerina cantik itu tidak pernah menyukainya. Dia lebih memilih Luke, pangeran tampan yang membenci petrushka. "


"Kenapa harus membenci petrushka ? Memang apa kesalahan dia? "


"Tentu saja karena dia buruk rupa. Itulah mengapa semua orang jahat dan membencinya, hidup dia bahkan berakhir tragis dengan Luke membunuh nya. "


Sinb terbelalak, cerita tentang petrushka tanpa sadar menyentuh hati, namun juga menampar nya.

__ADS_1


Bukankah kisah cinta petrushka hampir sama dengan kisah yang ia alami? hanya saja....


"Mungkin aku yang menjadi Luke, " gumamnya pelan hampir hanya seperti bisikan.


"Kau mengatakan sesuatu? " tanya nyonya cha.


Mempernaiki raut sendu di wajahnya, sinb lantas tersenyum lalu menggeleng lemah, "Tidak nyonya, bukan apa-apa. Aku hanya bergumam sendiri, mari,,, kita lanjut melihat lukisan yang lain? " tawar gadis itu pada akhirnya.


*****


Mengamati beberapa memar yang menghiasi wajahnya, eun woo tertawa kecil. Ia tidak menyangka bahwa sangat mudah membuat jungkook kehilangan kendali hanya dengan satu kata 'Sinb'. Apa begitu kuatnya pesona yang gadis itu miliki hingga mampu membuat seorang jeon jungkook menoleh padanya.


Eun woo tidak tahu, namun yang jelas, melalui sinb ia bisa menyusun rencana demi rencana untuk menghancurkan hidup jungkook.


Senyum pemuda itu masih terus tersungging saat ia membuka sebuah pesan yang baru saja masuk pada ponselnya, pesan yang sama sekali tidak pernah ia duga akan menerimanya.


'Tawaranmu masih berlaku kan, sunbae? Aku,,, apa yang bisa aku lakukan? '


Eun woo mengulas senyum lega. Menghubungi nomer orang itu, ia menunggu detik demi detik yang menegangkan sebelum panggilan akhirnya panggilan diterima.


"Kau tidak perlu melakukan apapun, caheyeon. " Ucap eun woo dengan nada penuh kemenangan, "Cukup menjadi dirimu yang seperti biasa, dirimu yang selalu menempel pada jeon jungkook, kau bisa? "


******


Sepanjang perjalanan sinb melangkah dengan gontai. 'Petrushka? ' pikirnya masam, sungguh benar-benar kisah yang begitu mirip dengan apa yang ia alami. Apa mungkin jika akhir untuk mereka bertiga pun akan sama? Apakah dirinya yang akan menjadi Luke lalu membunuh petrushka?


Semua pikiran itu terus berkecamuk hingga sinb tidak fokus memperhatikan jalan dan tanpa sengaja ia menabrak seseorang.


"Hwang eunbi?? "


"Maaf,, aku tidak____" ucapan gadis itu terhenti saat menyadari siapa orang yang baru saja ia tabrak.


Menatap terkejut, eun woo berbalik lalu menghampiri sinb dengan senyum tipis, "Sepertinya kita sering bertemu tanpa sengaja, ya?? "


"Apa yang sunbae lakukan disini?? " tanya sinb heran.


Gadis itu menatap penuh teliti pada penampilan rapih eun woo, terang saja, pemuda di hadapannya ini sangat berbeda.


"Pertemuan kecil dengan tunangan mu. " jawab eun woo mengembalikan fokus gadis itu.


"Kau juga ikut? "


Sinb baru akan menjawab, namun panggilan dari pengawal Lee di ponselnya berhasil menghentikan. Berpikir sejenak, ia akhirnya mengabaikan panggilan tersebut.


"Maaf sepertinya aku harus segera pergi. " pamit gadis itu berlalu pergi.


"Apa sekarang kau juga menjadi pelayan jungkook? "


Ucapan eun woo barusan sontak menghentikan langkah kaki sinb, gadis itu berbalik lalu menatap tajam padanya. "Apa maksud mu? "


"Telfon itu, pasti dari tunangan mu kan? Apa kau langsung berlari begitu dia memanggil?Layaknya seorang pelayan.! "


Mendelik sebal, sinb berusaha mengatur pikiran,dilarang membuat masalah dengan eun woo sekarang. Mereka disini bukan sebagai teman sekolah, melainkan sebagai perwakilan dari dua perusahaan.


"Saat ini aku sangat sibuk, jadi tolong, izinkan aku pergi untuk mengurus hal yang jauh lebih penting dari sekedar bercengkerama dengan mu.!! " ucap sinb penuh penekanan.


"Temani aku. " eun woo berkata tanpa basa-basi.


"Jika aku tidak mau? "


Eun woo tersenyum, "Kau nyonya jeon saat ini, keinginan tamu bukankah harus di penuhi? Temani aku sinb, atau aku bisa berbuat ulah dengan meminta ayahku untuk mencabut kesepakatan kerja sama dengan perusahaan calon suami mu.!! " Ancam eun woo sarkas.


******


Jungkook melangkah tegas dan penuh tekad, ia tidak menggubris setiap para karyawan hotel yang membungkook hormat, fokusnya hanya satu saat ini, menemukan dimana sinb berada lalu meminta tunangannya itu pulang.


"Apa sinb masih bersama nyonya cha? " jungkook bertanya pada pengawal Lee begitu mereka telah tiba di kamar.


Ia membuang jas ke sembarang arah, melonggarkan kerah kemeja yang serasa mencekik seraya memeriksa ponsel dengan sedikit umpatan.


Pengawal Lee melangkah mendekat dengan ragu, "Nona muda sudah selesai berkeliling hotel menemani nyonya cha dan para istri dokter lainnya, tuan. "


"Bagus, kalau begitu minta sinb untuk datang menemui ku sekarang.! "


"Se-sepertinya tidak bisa tuan, nona sedang menemani tamu yang lain. " pengawal Lee menjawab ragu.


"Apa tidak ada orang lain? " nada bicara jungkook yang hampir terdengar murka membuat pengawal Lee dan beberapa karyawan yang lewat menatap takut padanya. Coba meredam amarah, jungkook berkata dengan nada suara yang sedikit lebih pelan, "Minta sinb untuk datang padaku sekarang. "


"Ee,, i-itu. masalahnya tuan,, " pengawal Lee meneguk ludah gugup. "Tamu yang sedang di temani nona sinb adalah tuan muda cha. "


******

__ADS_1


"Kenapa tidak bilang jika akan membawaku ke tempat ini? "


Eun woo tertawa pelan, sinb nampak begitu sangat antusias setelah membagikan banyak makanan yang mereka bawa untuk puluhan anak-anak yang sudah berkerumun.


"Aku takut kau tidak akan suka. " ucap eun woo.


"Omong kosong. Aku suka tempat ini. " jawab sinb jujur, "Jadi,, apa rumah sakit milik keluarga mu yang membangun tempat ini? "


Eun woo mengangguk, "Ya, tempat ini adalah blue house, pusat rehabilitas untuk anak-anak penderita trauma. Mungkin baru beberapa tahun berdiri, namun aku berharap jika tempat ini akan semakin besar kedepan nya. "


"Kau sering datang kemari? "


"Seminggu sekali. Tapi mungkin setelah ini akan lebih sering lagi. "


"Kalau begitu ajak aku? aku bisa membawa banyak makan untuk anak-anak. " sinb berkata semakin antusias.


Eun woo lagi-lagi tersenyum, "Kau tahu, pertemuan yang kami lakukan tadi adalah menandatangani perjanjian yang Jeon Group dan JH lakukan? kontrak kerja sama, salah satunya dengan blue house ini. "


Sinb menatap eun woo penuh binar, "Dimalam amal Jeon Group nanti hasil lelang akan di sumbangkan sepenuhnya untuk blue house. " tambah eun woo.


"Benarkah? " tanya sinb terkejut.


Menanggapi binar dari sorot mata sinb, eun woo mengulum senyum senang. Hingga tanpa sadar mereka kini berjalan samapai ke taman. Menatap betapa riang anak-anak yang tengah asyik bermain disana membuat sinb merindukan masa kecilnya dulu.


"Aku benci menjadi dewasa. " gumamnya pelan, "Andai aku tidak pergi ke Paris, coba saja aku bisa ikut wendy dan peterpan ke neverland? "


Eun woo menoleh, "Kau tidak suka? menjadi pewaris? "


Gadis itu menggeleng lemah, "Menjadi pewaris? aku bahkan tidak pernah menginginkan nya. "


"Ironis? " timpa eun woo sendu, mengerti bagaimana perasaan gadis di sebelahnya ini, "Semua orang bahkan ingin menjadi seperti dirimu tanpa mereka tahu pengorbanan apa yang telah kau lakukan. "


Sinb tersenyum tipis, eun woo ternyata bisa sangat menyenangkan jika dia tidak sedang berada di sekitar jungkook. Menikmati pembicaraan yang terjalin diantara mereka seraya merasakan semilir angin musim semi yang menenangkan.


Namun dahi gadis itu mengernyit dalam kala melihat nomor jungkook menghubungi ponselnya.


"Maaf sekali sunbae, aku permisi sebentar. " pamit sinb yang di balas anggukan oleh eun woo.


Begitu sudah dirasa sedikit menjauh, ia lantas menjawab panggilan itu dengan hati berdebar.


"Kau sedang bersama eun woo? " bentak jungkook begitu sinb menjawab panggilannya.


"Aku,,,, sedang mengerjakan tugas penting. " gugup nya.


"Tugas? jika kau lupa tugas pentingmu itu adalah menemani nyonya cha, bukan putranya.!! "


Sinb menjauhkan ponsel dari telinga, lalu memandang kesal saat mendengar semua tuduhan yang jungkook ucapkan.


"Kenapa kau kasar sekali? " protes gadis itu sebal.


"Dimana kalian? aku akan menjemputmu sekarang? "


"Tidak perlu. Aku bisa pulang sendiri. "


"Dimana, Hwang Eunbi.?!! "


Gadis itu meringis kecil, tidak ada basa-basi sama sekali dari pemuda itu. Nada bicara jungkook sangat ketus hingga sinb yakin jika tunangannya ini pasti sedang marah besar sekarang.


"Mmm,, a-aku.. ini,, " Menggumamkan pertolongan pada Tuhan agar menolong dirinya, sinb terpaksa berbohong dengan mengatakan bahwa mereka sedang berada di jalan.


"Berbohong lah lebih baik lagi, tunangan. Apa kau sangat senang berselingkuh dengan si brengsek itu? Kau tidak ada kerjaan lain? " Jungkook semakin membentak kasar hingga tanpa pemuda itu sadari membuat sinb sakit hati.


"Aku berada disini juga sedang bekerja. " balas sinb mengatupkan gigi.


"Oh ya? kalau begitu terserahnu saja. Bekerja ataupun tidak, cukup ingat bahwa kau masih menyandang namaku. Jangan pernah mengotori nama itu dengan tingkah bebasnu.!! "


"Kenapa kau harus begitu marah? " sangkal sinb geram, "Dan jangan asal menuduhku, setidaknya lihat sendiri bagaiman dirimu.!! "


Klik.


Tanpa menunggu jawaban jungkook, gadis itu langsung mematikan panggilan begitu saja.


Tepuk kan lembut di atas bahunya membuat sinb menoleh lalu tersenyum tipis.


"Jungkook mengatakan sesuatu? Apa dia memintamu untuk pulang? " tanya eun woo geli.


Alih-alih menjawab, sinb malah menggandeng lengan pemuda itu dan tersenyum sedikit menggoda.


"Bukankah kau ingin lelang ini berhasil? kalau begitu ayo kita membantu anak-anak, habiskan waktu sepuasnya disini. "


**To Be Continue**

__ADS_1


__ADS_2