
"Hubungi aku jika terjadi sesuatu, aku tidak ingin merasa bersalah padamu. " Ucap taemin dingin, "Kau tentu ingat nomer ponsel ku, kan? "
Chaeyeon mengangguk samar, kemudian memalingkan wajah kearah lain. pemuda ini masih saja menganggap bahwa diri chaeyeon adalah sampah.
"Saya bisa pulang sendiri. Anda tidak perlu serepot ini untuk mengantar. " Sahut chaeyeon.
"Sudah aku bilang, aku tidak ingin ada komplain di kemudian hari karena masalah yang terjadi hari ini. "
"Saya tidak akan mengajukan gugatan pada anda hanya karena kecelakaan kecil seperti ini. " balas wanita itu dengan nada bicara teramat dingin.
"Sepertinya aku sangat pandai membuatmu marah, ya? Padahal ibumu pernah bilang kalau kau buka orang yang mudah marah. " Taemin berkata mengejek, seolah ia sangat menikmati raut kesal wanita yang tengah duduk disebelahnya ini.
"Maaf sebelumnya, tetapi tidak semua wanita hina seperti ku menyukai sikap sok seorang tuan muda.!! "
Ucapan chaeyeon yang terang-terangan itu membuat Taemin tertawa.
Benar-benar,,,, pemuda ini sangat tidak terduga. Semenit yang lalu Taemin menghinanya, namun sekarang, dia malah tertawa karena mendapat balasan dihina? Apa mungkin semua orang kaya sudah tidak waras?
"Aku menyukainya. " Jawab pemuda itu di sela tawa, "Kau tidak lagi palsu, dirimu seperti inilah yang lebih cocok untuk bersanding dengan ku. "
Chaeyeon tidak ingin mengerti apa yang sedang pemuda itu pikirkan. Ia hanya ingin menyingkir secepat mungkin dari sana, semua yang terjadi saat ini sedang sangat kacau. Dan chaeyeon yakin bahwa segalanya akan bertambah buruk jika ia bersama dengan Taemin lebih lama lagi.
"Saya turun disini saja, tuan. " Ucapnya cepat, "Halte bus sudah dekat. Dan kekasih saya akan menjemput disana. "
Taemin menoleh, "Kekasih? "
"Ya, kekasih. Tuan pikir saya tidak punya? "
Meniru dagu tinggi yang selalu orang-orang kelas atas tampilkan, chaeyeon membuat Lee Taemin sekali lagi menertawakannya meski pemuda itu tidak protes dan benar-benar berhenti di tempat yang chaeyeon minta tadi.
"Kalau begitu sampaikan salamku pada kekasihmu. " Ucap Taemin dengan kilat jail, "Dan maaf karena hari ini telah melukai kaki cantik mu. Sayang sekali, kesepakatan diantara kita tidak terjadi, andai terjadi_____"
Chaeyeon tersenyum kaku untuk memotong kalimat pria arrogant itu, "Saya tidak menyesal kesepakatan itu batal. Saya juga meminta maaf karena tuan Lee menjadi terganggu hari ini. Saya sungguh tidak pernah merencanakan. Permisi.!! "
Chaeyeon membuka pintu mobil milik pelukis terkenal itu dengan penuh amarah. Apakah menurut dia menghina orang lain begitu menyenangkan?
"Jung chaeyeon.... "
Taemin berseru memanggik nama gadis itu yang telah membelakangi.
Mendengar namanya terpanggil, chaeyeon lantas berhenti melangkah dan menoleh cepat. "Ya Tuan Muda? "
"Aku hanya ingin bilang,,, " Taemin tersenyum lebar, "Jika kedepannya nanti kita bertemu lagi, jangan memanggilku sehormat ini. Lee Taemin, kau bisa memanggilku dengan nama itu. "
***
"Sudah selesai? " Ucap sinb pada jungkook dengan hembusan napas lega begitu pemuda ini kembali ke meja mereka.
Sang tunangan yang saat ini sedang membawakannya dua potong hotdog berukuran besar serta dua gelas cola, juga balas menatapnya penuh kelegaan. "Sudah selesai? Aku menjawab hampir semuanya benar? kau yakin? "
Sinb tersenyum mengejek. "Kenapa? Kau tidak percaya bisa menyelesaikan semua soal ini? "
"Sudah ku duga. " Jawab jungkook menggigit hotdog miliknya dengan tersenyum bangga, "Aku memang tidak bodoh, hanya belum niat saja. "
"Kau tidak malu? " Sinb menggelengkan kepala malas, "Ini hanya sepuluh soal, dan kau membutuhkan waktu hampir dua jam, tunangan."
"Jangan mengejekku, tunangan. Bukankah suatu kemajuan aku bisa mengerjakan tugas bersamamu disini. " Balas jungkook dengan tersenyum sinis.
"Terserahmu saja. Aku sudah sangat lapar, jungkook. Berikan hotdognya. "
__ADS_1
Menggigit hotdog dengan begitu lahap membuat pipi sinb terkena sedikit saus.
Menyadari bagaimana cara gadis itu makan yang kekanakan, jungkook menahan tawa geli. hingga reflek mengulurkan selembar tisu untuk membantu tunangannya itu membersihkan pipi.
"Memangnya kau anak kecil, makan berantakan seperti ini, hmm? "
Sinb yang terkejut pun langsung menarik diri, ia merebut tisu yang jungkook pegang kemudian dengan canggung berkata. "Terima kasih, aku bisa membersihkan nya sendiri. "
Meski wajah gadis itu sudah semerah tomat matang, namun jungkook tetap menatapnya dengan seringai lebar. "Kau menyukainya atau kau belum pernah memakan ini? "
"Tentu saja aku menyukainya.!! " jawab sinb ketus.
"Apa yang kau suka? Hotdog, atau tunanganmu yang tampan ini hmm? " Goda jungkook senang.
Sialan. Batin sinb sebal.
Saat ini jungkook jelas sedang menertawakan dirinya. Menatap seringai jail sang tunangan yang sangat menyebalkan membuat ia ingin membalas pemuda itu.
Menopang kedua tangan dibawah dagu, tersenyum sangat manis, kemudian berkata dengan nada yang sangat menggemaskan, sinb sengaja ingin membuat jungkook kesal.
"Aku sangatttt menyukai oppa.. " ucap gadis itu dengan nada mirip anak kecil, "Apa oppa juga sangat menyukai ku, hem, hem...? "
Tawa jungkook yang tadi nya lebar seketika berubah kecut. Ia mengumpat lirih, "Brengsek.Jangan melakukan itu lagi, kau sangat menyeramkan, hwang! "
"Kau yang memulai duluan. " Balas sinb tidak kalah kecutnya, "Jangan coba-coba menggodaku lagi seperti itu. Kau membuatku hampir muntah. "
"Salah siapa aku diseret ketempat ini. "
"Aku merasa kasihan padamu. Kau terlihat sangat stres mengerjakan soal semudah itu, andai kau bisa melihat wajahmu tadi... oh astaga,"
"Sial. Berhenti tertawa, hwang eunbi. " Protes jungkook kesal.
Sinb malah semakin tertawa hingga tunangannya itupun ikut tertawa.
"Berhenti sekarang, kubilang. " jungkook kembali mengajukan protes dengan tawa geli yang sama.
Keduanya masih asik tertawa bersama hingga saat tiba-tiba ponsel pemuda itu berdering menantang. Tidak perlu waktu lama untuk membuat senyum lebar jungkook seketika lenyap.
Menatap layar ponselnya, kemudian menatap sekilas pada wajah sang tunangan, dan kembali lagi menatap pada sebuah nama yang tertera pada layar ponsel tersebut. Tentu saja, tawa indah sinb sontak ikut terhenti dengan sikap jungkook saat ini. Ia tahu siapa si penelepon. Bukankah hanya ada satu orang yang selalu berada diantara mereka.
Menyunggingkan senyum tipis, "Tidak kau angkat? " sinb bertanya pura-pura tidak perduli.Coba menyembunyikan ekspresi sebal dibalik gelas cola yang sedang ia minum. "Angkat saja, toh aku tidak akan mengganggu.!! "
Jungkook memasang ekspresi datar, kemudian menjauh dari hadapan sinb yang menyibukkan diri dengan makanan, menekan tombol 'Answering' begitu langkah kaki dia telah berada di pelataran cafe.
"Iya, jung chaeyeon..? "
***
Sejak malam dimana ia membuang jungkook dengan kalimat yang sangat jahat. Chaeyeon tahu, bahwa ia tidak akan mendapatkan tempat kembali di hati pemuda itu dengan porsi yang sama.
Mungkin jungkook memang tetap berada disini, berbicara dengannya, menjemput saat ia memohon pertolongan. Namun chaeyeon yakin,,,,, pikiran dan hati pemuda itu sudah tidak lagi ada untuk bersama dengannya.
"Terima kasih kau sudah mau menjemputku. " Chaeyeon membuka percakapan setelah mereka hanya saling membisu sejak tadi, "Tadi kakiku terkilir, mungkin akan bertambah parah jika aku pulang dengan berjalan kaki. " tambahnya memberitahu.
"Tidak masalah. " jawab jungkook tersenyum setengah hati.
__ADS_1
Menyentuh lengan pemuda itu dengan lembut, chaeyeon membuat jungkook yang sedang memandang gelapnya malam dari kaca mobil sontak menoleh. "Apa kau sudah makan? mau makan bersamaku? " tanya chaeyeon lembut.
"Kau belum makan? "
Menggeleng kecil, "Aku dan ibu akan makan malam bersama, apa kau mau ikut? "
"Tidak." jungkook menjawab cepat, "Aku tidak ingin mengganggu. Lagipun aku sudah makan. "
"Kau tidak mengganggu. Justru ibu akan sangat senang kalau kau ikut bergabung dengan kami, sudah sangat lama sejak kalian saling menyapa, kan? "
Jungkook mengeliat, menggerakkan lengan dan bahunya yang terasa kaku. "Maaf, tapi aku ingin langsung pulang saja. Tubuhku terasa sakit dan aku ingin istirahat. Ahjumma pasti juga sudah menyiapkan obat herbal. " Jawab jungkook seadanya.
"Ahjumma? " Chaeyeon bertanya terkejut, "Kau sudah kembali tinggal dirumah? "
"Ya, baru hari ini. "
"Kenapa kau kembali kerumah itu? "
Nada bicara chaeyeon yang terdengar tidak suka dan menghakimi membuat jungkook menatap pada wanita itu dengan pandangan memicing. "Bukankah aku bebas pulang kerumah ku kapan saja? "
"T-tentu,, tapi... " Chaeyeon menjawab sedikit tidak enak begitu jungkook berkata sedikit tajam padanya. Dengan membuat wanita itu melanjutkan, "Dirumah mu ada sinb. "
"Aku tidak perduli mau dia ada ataupun tidak, rumah itu tetap milikku. "
"Aku tahu. Tetapi bukankah tinggal dihotel jauh lebih baik untukmu.? "
"Saat terakhir kali kita bicara tentang hotel, kau bilang kau merasa sedih untuk sinb. Dan sekarang, saat aku ingin bertanggung jawab, kau memintaku untuk melakukan hal sebaliknya? " alis mata jungkook menukik tajam.
"Kau yakin jika itu hanya rasa tanggung jawab untuknya? "
"Aku hanya bertanggung jawab pada saham milik sinb, tentu kau tahu uang yang telah diberikan oleh perusahaan ku pada Hwang Company tidak sedikit hingga aku harus mengabaikan tunangan ku begitu saja. "
"Lalu aku? " Chaeyeon bertanya sendu, "Bagaimana denganku? Apa karena aku hanya benalu yang selalu menempel padamu? "
"Kau ini bicara apa? " bentak jungkook muak, "Kau pikir aku tidak ingin menuruti keinginanmu? Aku ingin, chaeyeon, tapi media terus melihat tingkah lakumu. Aku harus menjadi pewaris sempurna untuk mendapatkan kendali penuh atas Hotel. "
"Apa kau tahu, jungkook.. " chaeyeon berbisik, terdengar sangat lelah. "Mata dan ucapanmu tidak pernah mengatakan hal yang sama. "
Mencekal kuat lengan milik wanita itu, jungkook lantas berbicara dengan nada yang menakutkan. "Apa maksudmu?!! "
Chaeyeon membalas tatapan tajam tersebut.
"Kau bilang, kau hanya ingin bertanggung jawab pada uangmu. " Ucapnya dengan berani, "Tapi yang aku lihat saat ini tidak. Kau terlambat menjemputku karena sedang bersama dengan sinb. Kau bilang kau tidak perduli padanya, tapi yang aku lihat, kau menolak makan malam dengan ibuku karena kau ingin segera pulang dan ingin bertemu dengan gadis itu. Juga, kau bilang bahwa media terus melihat semua tingkah lakumu hingga kau harus selalu bersama dengan sinb. Tapi kau tahu, apa yang aku sadari? Kau bukan takut pada media, kau takut pada kepulangan Cha Eun Woo yang akan merebut tunangan mu.! "
Setelah kalimat yang begitu panjang tersebut meluncur, jungkook sintak melepaskan cekalannya pada lengan chaeyeon dengan kasar. Ia tidak berniat untuk menjawab apapun, tidak juga membela diri sama sekali. Ia hanya kembali menatap luar jendela lalu mengepalkan tangan kuat-kuat. Pertanda bahwa dirinya sangat berusaha keras untuk tidak meluapkan amarah pada wanita yang berada di sebelahnya itu.
Chaeyeon sendiri tahu jika perkataannya tadi sangatlah keterlaluan. Bahkan mungkin terdengar memalukan terus menagih janji berulang kali. Namun hanya dengan cara inilah yang bisa ia lakukan untuk dapat menyelamatkan hidupnya.
Sekalipun chaeyeon harus merendahkan diri sendiri.
"Aku minta maaf. Maafkan aku, jungkook. " Ucap chaeyeon pada akhirnya.
Ia memilih untuk mengalah. Dengan lembut pula, ia menopang kan tangannya diatas kepalan tangan jungkook, mereganggkan jemari pemuda itu lalu saling menautkan dalam genggaman.
"Maafkan aku, Mmm... " Ulangnya sekali lagi. Beringsut lebih dekat guna menyandarkan kepalanya pada dada bidang pemuda itu.
Jungkook terdengar menghela napas. Ia sama sekali tidak berusaha melepaskan genggaman tangan chaeyeon ataupun menyingkirkan kepala wanita itu yang bersandar nyaman padanya.
Tidak ada yang tahu bagaimana perasaan jungkook yang sebenarnya. Namun hal ini sudah lebih dari cukup untuk chaeyeon.
__ADS_1
"Chaeyeon.. " Panggil jungkook dingin. "Tolong jawab dengan jujur. Jika harus memilih, apa kau hanya akan menyukaiku saja, atau kau lebih ingin menempati posisi Nona Muda Jeon Group? "
**To Be Continue**