
"Kalian sudah melihatnya atau belum? "
"Hei, aku tidak punya nyali untuk pergi kesana. "
"Benar, rasanya aku seolah berjalan ke tiang gantung diri. "
"Tapi aku agak penasaran tentang urutannya, tidakkah kalian juga merasa begitu*? " timpal anak-anak yang lain.
Jungkook pikir harusnya tadi dia bolos sekolah saja. Ia tidak pernah tahu bahwa hari ini akan menjadi hari yang dibencinya? Sinb sendiri merasa sama sekali tidak penasaran, namun saat sayup-sayup ia mendengar percakapan Seungkwan dan beberapa anak yang berada di dekat mereka, sinb tidak tahan untuk tidak bertanya.
"Kau tidak ingin melihatnya bee? " tanya Seungkwan begitu ia sadar bahwa gadis itu tidak menuju papan pengumuman sekolah.
"Melihat apa? " sinb bertanya datar.
Mengabaikan pelototan tajam yang jungkook berikan, Seungkwan malah berkata dengan girang, "Kau belum tahu ya jika papan pengumuman nilai hari ini akan di pasang.? "
"Haruskah semua orang mengetahuinya? " jungkook membalas sengit.
Seungkwan menoleh pada sunbae nya itu lalu menjawab dengan polos, "kau sengaja tidak memberi tahunya sunbae? "
"Untuk apa, toh memberitahu tahu hal seperti ini pada dia sama sekali tidak menarik.!! " jawab jungkook lagi kaku.
"Tentu saja sunbae tidak akan penasaran berapa peringkat yang kau dapatkan, sudah pasti tidak akan pernah berubah. " ejek seungkwan yang membuat jungkook hampir saja memukul kepalanya jika sinb tidak ada disana.
"Apa peringkat di sekolah ini sangat penting? " tanya sinb menyela penasaran, "Selama aku sekolah di Paris peringkat tidak lagi menjadi tren sekolah. "
"Hei, tentu saja penting. Kau tentu tidak lupa bukan jika negara kita ini menjunjung tinggi hierarki. " jawab seungkwan, "Asal kau tahu bee, tahu lalu aku berada di 40 besar. "
"40 besar? kau masih bisa membanggakan nya? " tanya sinb tidak percaya hingga jungkook sontak tertawa geli pada seungkwan.
"Tertawa saja sepuasmu sunbae, andai kau tahu sistem penilaian di sekolah ini seketat apa sinb, kau pasti akan memberiku hadian karena bisa masuk urutan itu. Ayo.... lebih baik kita lihat bersama, pasti eun soo dan yang lain sudah menunggu disana. "
Gadis itu menngguk, namun jungkook dengan cepat langsung menahan pergelangan tangannya, "Untuk apa kau ikut melihat? paling kau berada di peringkat 10."
"Tapi aku penasaran. " jawab sinb dengan tatapan memohon.
"Sunbae, jika sinb tidak penasaran dengan nilainya, mungkin dia akan penasaran siapa orang yang berada di peringkat paling bawah. " Pancing seungkwan sengaja.
Sialan, jungkook benar-benar sungguh akan membunuh bocah itu sekarang juga.
"Memang siapa dia? " sinb bertanya geli.
"Sama dengan tahun-tahun sebelumnya. " seungkwan tertawa kecil.
__ADS_1
"Aku sungguh tidak bisa membayangkan apa sebenarnya yang ada di dalam otak si bodoh itu, hingga dia bisa berada di peringkat terakhir. " gadis itu menggeleng pelan.
"Si bodoh yang tidak bisa kau bayangkan isi otaknya itu adalah orang yang saat ini berdiri di sebelahmu. Bukankah terakhir kali aku cek, kalian masih bertunangan? "
******
Menggenggam erat susu cokelat yang ia bawa dari rumah, eun soo berniat masuk ke ruang OSIS saat matanya secara tidak sengaja menangkap sosok yang tidak pernah ia bayangkan akan di temui nya pada saat ini.
"Oh astaga, iblis... ah bukan, " koreksi gadis itu begitu mulutnya menyebyt panggilan kurang ajar yang ia buat sendiri, "Maksudku eun woo oppa, apa yang sedang kau lakukan di ruangan ini? "
Eun woo menoleh, segera memperhatikan kedatangan eun soo hingga ia mengurungkan niat untuk masuk kedalam ruang OSIS.
"Kim eun soo? " sambut eun woo datar, "kau masih mengingat ku? "
Meneguk ludah gugup, gadis kim itu mengangkat dagu tinggi, bersikap seolah jika ia bukan anak kecil yang eun woo kenal dulu. "Tentu saja ingat. Pria menyebalkan seperti oppa sulit untuk di lupakan.!! "
"Benarkah? " balas eun woo mengulum senyum geli.
"Sekarang katakan jika aku sedang bermimpi, sungguh aku tidak percaya melihat seorang cha eun woo berada disini. "
"Kau sendiri? apa yang mau kau lakukan disini? "
Eun soo berdecak kecil, kemudian merapihkan bangga jas sekolahnya. "Ini adalah ruang OSIS, harusnya aku yang bertanya apa yang sunbae lakukan di depan ruangan ini? "
"Jangan bercanda oppa, aku wakil ketuanya, bahkan aku tahu siapa saja semua anggota dan... Heol, !! " teriak eun soo tanpa sadar, "Jangan bilang kalau oppa adalah si ketua OSIS baru? "
Eun woo tidak menjawab, pemuda itu hanya menyunggingkan senyum yang sangat menyebalkan.
"Oh tidak, bagaimana bisa? " eun soo bertanya terperangah.
"Kau meremehkan ku? "
"Bukan seperti itu, " secepat kilat eun soo menggeleng, "hanya saja oppa adalah pewaris tunggal, jadi bagaimana bisa seorang pewaris JH yang urusan bisnisnya lebih banyak dari jumlah siswa di sekolah ini, malah menjadi ketua OSIS? Yang benar saja, kau bercanda kan? "
"Kau lupa jika gelar pewaris saja tidak akan cukup untuk mengisi resume masuk universitas. "
"Tapi kenapa aku yang sebagai wakil ketua malah tidak tahu? " eun soo masih tidak Terima.
"Sekarang kau sudah tahu. "
Gadis itu menghela napas, memandang eun woo penuh penilaian, "Apapun itu, aku akan menilai sendiri apakah oppa pantas untuk menjadi seorang pemimpin atau tidak.!! "
"Terserah mu saja. " eun woo menjawab malas.
__ADS_1
Sungguh eun soo pikir ini adalah kiamat untuk dirinya, bekerja bersama dengan eun woo selama satu tahun penuh benar-benar tidak bisa di bayangkan.
Namun entah bagaimana, Tiba-tiba saja muncul ide menarik di atas kepala gadis itu. Bukankah ini adalah kesempatan bagus untuk melancarkan rencana yang telah ia susun?
"Ini, untuk oppa. Sebagai ucapan selamat datang dariku. " ucap eun sook tersenyum manis seraya menyerahkan kaleng minuman yang sejak tadi ia pegang.
"Kau sudah meracuninya? Kenapa mendadak baik padaku? " eun woo bertanya curiga.
"Ck, aku tidak meracuninya. Tetapi minuman ini memang berisi mantra.. "
"Mantra? " ulang eun woo terhibur akan tingkah lucu gadis dihadapannya itu.
"Eum, mantra, " eun sook menjawab dengan tatapan menggoda, "Ingat baik-baik, bekerja dengan ku membutuhkan itu... mantra agar oppa tidak jatuh dalam pesona ku. Munumlah, supaya oppa tidak menyesal dan menyukaiku sebelum tersadar. "
******
"278....?!! " pekik sinb tidak percaya, "Astaga jungkook, apa yang kau jawab di kertas ujianmu sebenarnya? "
"Aku sungguh tidak menyangka ternyata peringkat sunbae tidak berubah.. " Timpal eun soo tidak bisa memutuskan harus memberikan selamat atau bersimpati.
"Tiga tahun berturut-turut selalu sama, itu namanya kau konsisten sunbae. " Seungkwan tersenyum puas.
"Kau luar biasa sekali dude, aku sampai terharu. " Ejek min gyu seraya menatap geli pada sahabatnya itu.
"Kau harus mengatakan pesta sunbae,, " Imbuh eun sook antusias, ia terkikik geli didalam dekapan min gyu, membuat kakak nya itu juga tidak bisa menahan tawa.
"Selamat, jungkook.!! " Ucap eun woo yang berdiri tidak jauh dari mereka dan menahan tawa mendengar percakapan ketiga orang itu, "Aku tidak sabar melihat hukuman untuk seseorang yang berada di peringkat terbawah. "
"Apa ada hukumannya? " sinb bertanya heran.
Eun sook mengangguk cepat, "Tentu saja. Tapi sunbae selalu mengabaikan setiap hukuman yang harus dia jalani, itulah sebabnya sampai detik ini dia tetap berada di peringkat terbawah. "
"Apa nanti aku harus merekamnya, jungkook? " tanya eun woo mengejek di sambut tatapan geli anak-anak lainnya.
"Terserah.!! " jungkook balas senyum mengejek.
"Sekarang kau sudah lihatkan bahwa nilai di sekolah ini sangat penting, sinb. " ujar seungkwan.
"Jadi kira-kira apa hukuman kali ini? Sunbae, bersiaplah untuk bertempur. " eun soo berseru senang.
"Sepertinya kita harus pergi sekarang? Sinb,,,, apa kau ingin menyemangati sunbae? " Goda seungkwan membuat ia mendapat delikan marah dari gadis hwang itu.
"Ayo kita pergi teman-teman, " Ajak min gyu semangat dan di sambut dengan bubarnya para siswa yang tadi berkerumun, "Aku rasa jungkook sudah tidak sabar untuk menjalani hukuman, iya kan dude? " gurau nya membuat jungkook mendengus sebal.
__ADS_1
**To Be Continue**