Our Forced Engagment

Our Forced Engagment
Menunjukannya Dengan Jelas


__ADS_3

Jungkook menatap tajam sekretaris kim yang hanya balas menatapnya dengan raut terlampau sopan.


"Sekali lagi aku peringatkan padamu, kim bisseo. Jangan pernah lagi memberikan tunanganku jadwal yang begitu padat. "


"Baik tuan saya mengerti. Setelah ini akan saya revisi ulang seluruh jadwal nona muda. " Balas kim bisseo.


"Apa setiap hari sinb selalu seperti itu? Sulit makan? "


"Beberapa hari belakangan saya mendapat laporan dari ahjumma bahwa nona memang jarang sekali menghabiskan makanannya. "


Jungkook menyumpah tertahan.


Ia tidak tahu mana yang lebih membuatnya kesal, fakta bahwa sang tunangan sedang marah tanpa sebab padanya, atau fakta bahwa gadis itu melewatkan banyak waktu makan.


"Apa hari ini juga? "


"Hari ini... " Sekretaris kim nampak ragu, " sebenarnya nona melarang saya untuk mengatakannya pada anda ,tuan.Tapi sejak pagi tadi nona memang terus mengeluh sakit kepala. "


"Dan kau menurutinya untuk tidak mengatakan padaku? "


Sekertaris cantik itu meringis kecil, mengerti bahwa jawaban yang ia katakan barusan memang sudah wajar jika membuat sang atasan marah.


"Saya hanya takut kalau nona muda akan merasa terbebani jika tuan mendesaknya untuk beristirahat, sebab nona sinb, Dia...mungkin saya salah, namun nona tidak pernah suka jika harus berada dirumah hanya seorang diri. "


Jungkook tidak tahu apa yang di harapkan oleh sekretaris kim dengan memberitahunya hal ini, namun sekarang sebuah rasa bersalah mulai menggerogoti.


"Tuan muda, " panggil sekertaris kim, "Apa boleh saya mengatakan sesuatu? "


'Sialan'. batin jungkook.


Rupanya kim bisseo berniat untuk membunuhnya detik ini juga.


"Mungkin ini bukan hak saya untuk memberitahu Anda, tetapi tuan muda... bisakah tuan lebih sering untuk menemani nona sinb? Meski sikap nya sangat keras kepala namun nona muda memiliki hati yang lembut. Tolong jangan sering-sering memarahinya. Dan juga,,, " helaan napas lirih keluar dari mulut sekretaris kim. "Nona sangat merindukan ibunya, sudah berulang kali nona diam-diam mengunjungi rumah keluarga hwang meski ia tahu bahwa tidak akan menemukan apapun disana. "


"Lalu, kau ingin aku bersikap bagaimana? " tantang jungkook seolah ingin menghapus berbagai rasa simpati apapun itu yang sedang ia rasakan saat ini untuk sinb.

__ADS_1


"Saya tidak akan memaksa anda, hanya saja tuan muda lah yang sekarang di miliki oleh nona sinb. Jika bukan anda yang ada di sisinya, lalu kepada siapa lagi nona bisa menyandarkan punggung dan juga keluh kesahnya. "


**


Lee taemin melangkahkan kaki lambat-lambat. Bukan karena ia suka mengulur waktu, melainkan karena ia berharap dapat melihat reaksi marah dari seseorang yang akan ia temui.


reputasi dan sikapnya sangatlah bertolak belakang, siapapun yang tidak mengenal dia pasti akan berpikir bahwa gadis itu adalah gadis baik-baik. Tidak ada tatapan menggoda, tidak pula suara yang penuh dengan rayuan. Bahkan taemin merasa ragu jika gadis itu akan kehilangan sikap tenangnya lantaran janji temu mereka tidak tepat waktu seperti yg telah di rencanakan.


Mata sendi itu...??


Sialan. Taemin sama sekali tidak bisa melupakannya.


Sorot mata itu sudah menatapnya dua kali dengan tatapan sama. Mata yang membuat taemin menyumpah kala malam hari menjelang sebab membuatnya kehilangan kontrol diri.


Setiap kali ia berusaha memejamkan mata, tidak bisa melupakan satu fakta bahwa ia pernah menghina gadis itu dengan penghinaan yang paling menyakitkan.


Dan kini, taemin mungkin akan kembali mengulangi nya lagi.


Memejamkan kedua mata, taemin coba mengatakan pada diri sendiri bahwa ini bukanlah masalah besar. Tidak masalah merusak apa yang memang sudah rusak, dan mungkin saja nanti pada saatnya tiba gadis itu tidak hanya menjual waktunya.


Taemin sudah siap untuk dimaki atau apapun itu atas keterlambatan dirinya. Saat ia membuka pintu dan melihat sebuah pemandangan yang mampu mengulas sedikit senyum. tidak ada keributan, apalagi sorot mata penuh amarah. Yang ada hanya dengkuran halus serta suara lirih mesin jahit yang lupa di matikan.


"Dia tidur..?? " Taemin berguman pada diri sendiri. "Jadi dia bisa tidur di tempat seperti ini . "


Taemin lantas berjalan dengan langkah perlahan, bermaksud untuk memberitahukan kedatangannya. Saat ia mulai menatap gadis itu dengan pandangan sedikit berbeda, perlahan menunduk pada wajah cantik yang sedang tertutupi beberapa helai rambut tersebut.


"Jung chaeyeon. " Bisik taemin pelan, " Nama yang sangat indah, seharusnya hidup mu juga begitu. "


**


Sinb mengetukkan sepasang kakinya tidak sabaran pada rerumputan di tengah lapangan golf yang sangat luas. Ia memandang arloji dengan kesal, jungkook sama sekali belum nampak datang. Apa mungkin dia marah?


Tunangannya itu memang sudah mewanti-wanti sinb agar tidar datang, demi memulihkan kondisi tubuhnya terlebih dahulu. Namun gadis cantik itu malah membangkang. Jika boleh jujur, sebenarnya sinb merasa sangat bosan setengah mati terus berada di dalam kamar seharian tanpa melakukan apapun.


Tetapi semarah apapun jungkook pada dirinya, bukankah pemuda itu harus tetap datang? harusnya jungkook tahu bahwa dia adalah satu-satunya tameng yg sinb miliki sekarang.

__ADS_1


Dan kini ia harus menghadapi banyak sapaan dari para tamu hanya seorang diri.


Sinb hanya tersenyum sekilas pada setiap nyonya maupun nona muda yang silih berganti menyapa, ia berusaha bersikap netral saat salah satu dari mereka mencoba untuk mengulik sekandal ibunya lebih dalam.


"Maaf nyonya-nyonya, bisakah saya berbicara sebentar dengan nona sinb? " Tiba-tiba sebuah suara menyeruak di tengah kerumunan tersebut.


Begitu suara sekertaris kim menyela, para wanita-wanita yang sepertinya tidak pantas untuk menyandang status istri dari para pejabat tersebut seolah terusir dengan sendirinya.


"Kim bisseo, kau sungguh luar biasa. " Puji sinb tidak dapat menahan senyum.


Sekertaris kim pun ikut menyunggkngkan senyum, " Sudah saya katakan nona, kapanpun anda selalu bisa mengandalkan saya. "


Sinb mengangguk, Kemudian menoleh pada sekeliling. 'Apa dia masih belum datang? ' gumamnya dalam hati.


"Mencari tuan muda? " tebak sekretaris kim.


"Hah? "


"Sepertinya tuan muda masih dalam perjalanan, nona. "


Sinb mengerucutkan bibir kecewa, membuat kim bisseo menatap geli pada nona mudanya itu.


"Nona dan tuan muda menunjukkan nya terlalu jelas. "


Sinb menoleh, "Apa maksudmu? " tanyanya terkejut.


"Maksud saya, " Sekretaris cantik itu menjawab dengan seringai lebar. " Kemarin tuan muda memarahi saya karena mengirimkan jadwal yang begitu padat untuk nona. Tuan bahkan mengancam akan memecat saya jika sampai nona kelelahan lagi seperti yang sebelumnya. Dan sekarang, tidak ada yang lebih menarik perhatian nona muda selain kedatangan tuan. Jika seperti itu, bukankah asumsinya sudah sangat jelas? "


Terang saja ocehan sekretaris kim itu sontak membuat sinb menyilangkan kedua tangan dengan kesal. "Kau ini bicara apa sebenarnya, kim bisseo? Jangan asal bicara. "


Menatap lurus kedepan, sekretaris kim kembali berkata. " Tentu saja bicara tentang rasa suka yang tumbuh diantara nona dan juga tuan muda."


"Apa? Suka?! " Sepasang mata sinb membola sempurna.


Sementara sekretaris kim hanya tersenyum dan mengangguk kan kepala.

__ADS_1


**To Be Continue**


__ADS_2