Our Forced Engagment

Our Forced Engagment
'Ambil saja, aku tidak perduli'


__ADS_3

Sinb pernah sakit, namun ia tidak pernah merasa sepening pagi ini. Rasanya kepala dia berdenyut sangat hebat. Ia bahkan tidak tahan saat melihat cahaya, seolah jika kedua matanya begitu sensitif dan hal ini benar-benar tidak biasa.


"Nona anda sungguh tidak ingin sarapan? Apa saya meminta ahjumma saja untuk membawakan bekal anda kesekolah? " kim bisseo bertanya khawatir.


"Aku tidak lapar. Dan tadi jadwal ku setelah pulang sekolah kemana? " Sinb mengalihkan dengan balik bertanya.


"Een, itu,,, Nona akan mengunjungi peresmian museum seni terbaru milik istri mentri kebudayaan. " Jawabnya kembali memeriksa jadwal sinb diantara buku yang saling bertumpuk. "Setelah dari sana, nona akan meminum teh dengan putri direktur cheng dari cabang hongkong yang kebetulan sedang berlibur disini. Dan untuk malam hari Nona.... "


Menyentuh kepalanya yang tiba-tiba berdenyut pusing, sinb lantas memejamkan mata sebentar hingga rasa sakitnya sedikit mereda. Apa yang barusan ia lakukan ini sontak membuat kim bisseo buru-buru menopang tubuhnya agar tidak ambruk.


"Nona, anda yakin baik-baik saja? Nona sangat pucat. " Tanya sekertari itu semakin cemas.


"Hanya sedikit pusing biasa. "


"Apa perlu saya memberitahu tuan muda? "


"Apa jungkook sudah pulang? " Sinb bertanya antusias.


"Tuan muda tidak pulang tadi malam, mungkin beliau menginap di kamar hotel. "


"Ooh." balas gadis itu mendadak merasa kecewa.


"Saya akan mengabari tuan sekarang. "


"Tidak." Cegah sinb menarik tangan sekretaris kim, "Tidak perlu menghubunginya. Aku baik-baik saja, jangan pernah beritahu dia. "


"Tapi Nona.... "


Sinb tidak akan pernah merendahkan harga diri dengan memohon belas kasihan dari seseorang, terlebih jika orang itu Jeon Jungkook. Jadi alih-alih mengizinkan sekretaris kim menelepon sang tunangan, sinb berkeras untuk berangkat sekolah sekarang.


Menghela napas pelan, sekretaris kim mengangguk, "Baik. Saya akan meminta sopir untuk mempersiapkan mobil anda, Nona. "


Berpegangan pada nakas meja, sinb menatap kim bisseo berlalu pergi seraya mendesah kecil. Ini sudah jam 8 pagi, dan jungkook mengantarkannya pulang jam 10 malam kemarin. Namun dengan bodohnya ia khawatir hingga menunggu pemuda itu pulang kerumah sampai jam 3 pagi.


"Dia bahkan tidak mengirimi ku pesan satu pun. Apa dia bersama dengan si gadis pelayan itu lagi? "


**


Chaeyeon yang sejak pagi berdiri menunggu di tempat parkir sekolah. Gadis itu tidak tahu apa yang akan ia lakukan? Namun hari ini ia berniat ingin berbicara serius dengan sinb. Jadi begitu ia melihat sinb yang turun dari mobilnya, chaeyeon langsung berjalan mendekat.


"Sinb, bisa kita bicara sebentar? "


Gadis bersurai hitam panjang tersebut menatapnya dingin, seolah dia bertanya melalui sorot mata tentang apa yang akan chaeyeon utarakan.


"Aku mohon padamu. " pintanya penuh pengharapan.

__ADS_1


"Aku tidak pernah memiliki urusan dengan mu. " Balas sinb datar.


"Sebentar saja? Kumohon.. "


Chaeyeon kini menyentuh tangan sinb lalu membawanya ke pinggir lapangan basket, tempat yang sepagi ini biasanya masih sangat sepi dan hanya ada beberapa anak yang membawa sepeda saja nampak melalui jalur tersebut.


"10 menit.. " Sinb mengatakannya dengan tajam, meski kini wajah pucat dia membuat chaeyeon bertanya-tanya.


"Sisa 9 menit. " sambungnya.


Tersentak dari pemikiran acak chaeyeon mulai memfokuskan diri. Dengan berani ia mengatakan apa yang ingin ia katakan sejak lama.


Mulai dari kisah percintaannya dengan jungkook, harapan dan janji yang mereka buat bersama, hingga tentang keadaan dirinya yang sangat membutuhkan kehadiran jungkook saat ini.


"Aku harap kau bisa mengerti, sinb. Aku dan jungkook saling mencintai. "


Chaeyeon mengakhiri orasinya dengan baik. Membutuhkan keberanian, dan ia akan memuji diri sendiri karena sudah berani mengutarakan apa yang ia inginkan pada sinb.


"Apa yang harus aku mengerti?! " Sinb bertanya dengan gigi yang terkatup rapat.


"Bisakah,,, " Chaeyeon memohon dengan mata yang telah berkaca-kaca. "Bisa kau membantuku agar tetap bisa bersama dengan jungkook? " Ucapnya tanpa ragu ataupun segan.


Sinb tertawa kecil. "Apa kau pikir aku menghalangi hubungan kalian? "


"Kau tunangannya, sinb."


"Tolong, aku sungguh memohon padamu, sinb. "


Sinb menghela napas kasar, pembicaraan dengan chaeyeon sungguh membuat kepalanya bertambah semakin pusing dari yang sebelumnya.


"Tidakkah kau pernah berpikir bahwa ini keterlaluan? Lagipula saat malam itu kau bilang jika hubungan kalian hanya berteman. "


"Kami memang hanya berteman sekarang," Jawab chaeyeon putus asa. "Kami memutuskan berpisah saat kau bertunangan dengannya. "


"Kalau begitu bukankah sudah jelas? " Sinb membalas dengan suara yang terdengar semakin melemah.


Chaeyeon yang merasa perlu memohon lebih baik lagi lantas menjatuhkan diri tepat dibawah kaki sinb, meratap sedalam mungkin demi permohonan yang ia inginkan.


Sementara di perlakukan seperti itu, sinb sendiri merasa tidak habis pikir dan langsung menarik kakinya kuat hingga ia mundur beberapa langkah dari jangkaun chaeyeon. Tanpa sengaja dari arah berlawanan, sebuah sepeda yang tengah melaju kencang menabrak tubuh lemas sinb hingga terjatuh.


"Hwang Eunbi..!! " Pekik sang pengendara sepeda bergegas bangun, "Astaga, kau berdarah. "


Sinb juga berusaha untuk bangun, namun ia tidak bisa. Kepalanya seolah berputar, dan tubuhnya serasa terlalu lemas, ditambah dengan lutut yang berdarah, serta telapak tangan juga tergores aspal.


Chaeyeon yang melihat pun bergegas bersimpuh di hadapan gadis itu lalu mengecek kondisinya."Sinb, kau baik-baik saja? "

__ADS_1


"Sepertinya kau yang memang jauh lebih membutuhkan dia." Ucap sinb lemah seperti melantur.


Chaeyeon menggeleng cemas, "Kita bicarakan ini lagi lain kali saja. Ayo, aku akan mengantarmu ke klinik sekolah. "


Bantuan yang chaeyeon berikan di tepis kasar oleh sinb, "Terserah jika kalian mau tetap bersama ataupun tidak di belakangku, bahkan di depan mataku sekali pun, aku tidak perduli. Berhenti mengganggu hidup ku. "


"Sinb, dengarkan aku.. " pinta chaeyeon frustasi.


Ia menatap panik pada sinb begitu tubuh gadis itu melunglai dalam pegangannya.


"Ambil saja jika kau sangat menginginkan nya. Aku.... "


"SINB!! "


Pekik chaeyeon tepat saat kedua mata sinb tertutup rapat.


**


"Sunbae!! " Panggil seungkwan dengan napas yang terengah, "Gawat sunbae, gawat. Ayo ikut aku.! "


Ia langsung saja mencengkeram lengan jungkook, berusaha menarik pemuda itu keluar kelas.


"Apa-apaan.. " jungkook menampik kasar ajakan seungkwan, "Kau baru melihat hantu, hah?! " ucapnya sarkas.


Seungkwan memutar mata, mengabaikan ejekan seniornya itu. "Sunbae! Tunanganmu... sinb, "


Baru saja Ia menyebut nama sinb, namun jungkook langsung menatapnya tertarik. "Kenapa dengan sinb? "


Seungkwan mulai menceritakan semua kronologi kejadian yang ia dengar dari para siswa secara singkat.


"Ayo sunbae, kita ke klinik. Semua anak-anak sudah disana untuk melihatnya. "


Namun alih-alih merasa khawatir, jungkook malah bergeming di tempat dan tetap membaca buku yang tidak pernah sekalipun seungkwan tahu pernah seniornya itu lakukan.


"Kau sungguh tidak akan melihatnya, sunbae? " Tanya seungkwan terpana.


"Tidak.!! "


"Astaga.Kau gila? Sinb itu tunanganmu.."


Jungkook menatap tajam pada seungkwan, membuat juniornya itu meneguk ludah gugup.


"Baik. Terserah sunbae saja kalau begitu. Meski tunanganmu mati juga toh bukan aku yang akan rugi.!! "


Ucap seungkwan yang langsung saja pergi berlalu, meninggalkan jungkook yang kini menutup buku dengan kasar.

__ADS_1


"Sialan.Dia pikir aku perduli dengan gadis itu.!! "


To Be Continue


__ADS_2