
"Apa kalian melihat rumah ber cat biru? Di halamannya ada banyak tanaman bunga."
"Dengan pagar bercat putih itu?" Tanya hoseok yang melihat rumah dengan ciri yang dikatakan hansung.
"Iya, hyung. Apa kau melihatnya?"
"Iy-" belum sempat seokjin menjawab seorang wanita paruh baya mengintrupsi.
"Hansungg,, aishh,, kenapa dipapah gini? mana jio? dan- siapa kalian?"
"Hansung, baik baik saja eomma! tadi cuma sedikit kecelakaan. Mereka membantuku. Jio marah padaku dan meninggalkanku, untung saja, ada mereka."
"Annyeong haseyo ahjumma. Kami hanya datang membantu putra ahjumma, sekalian membawakan belanjaan nya." Jelas namjoon sambil memperlihatkan kantung belanjaan di tangan hoseok dan Jungkook.
"Wahh,, maafkan kami kalau merepotkan, saya ibu hansung dan jio, mari masuk terlebih dahulu. Kumohon jangan menolak." Wanita tersebut menggandeng hansung begitu sampai di rumah.
Mendudukan hansung di salah satu kursi, disana.
"Duduklah, nak. Aku tau rumah ini tak terlalu besar tapi hanya ini yang kami punya. Aku juga merasa tidak asing dengan wajah kalian ber enam."
"Ahh- bang- bang apa sih? Itu loh yang dulu anggotanya ada yang sudah meninggal, apa itu benar?"
"Ahh,, iya. Kami adalah bangtan sonyeondan. Kami awal nya memang bertujuh. Kami kehilangan salah satu member kami di bulan november dua tahun lalu." jawab seokjin agak canggung.
"Eomma,," hansung memanggil ibunya karna merasa tidak enak dengan situasinya.
"Maafkan saya. Saya tak bermaksud untuk menyinggung."
"Tidak apa, ahjumma. Lagi pula itu sudah takdir,, yahh,, meskipun aku belum bisa benar benar merelakannya."
"Jimm,,,"
"Sabar ya, nak. Jika kau terus seperti ini, temanmu itu akan sedih melihatnya."
"Tapi,, saya rasa hansung sangat mirip dengan taehyung. Aku tidak akan mungkin salah mengenali sahabatku. Apakah mungkin hansung adalah tae-"
"CUKUP!"
"Kumohon dengan sangat hormat tuan idol yang terhormat. Hentikan omong kosong kalian." Jio datang dengan tatapan tajam dan nada dinginnya ia memotong ucapan jimin.
"J-jio.."
__ADS_1
"Apa kalian tidak bisa menghargai perasaan ibuku? Dia yang melahirkan hansung hyung, dia yang menyusui hyungku. Kumohon jangan menyamakannya dengan taehyung teman kalian." Jio mempertegas ucapannya sambil menggenggam tangan hansung dan ibunya.
"Tapi aku yakin sekali, hansung adalah taehyung, mereka orang yang sama!"
"Jimin!"
"Apa hyung! Hyung pasti merasakan hal yang sama kan?"
"Ayo taehyung! Jangan bersandiwara di depanku. Kau kira aku tak tau semuanya, hah?"
"Jimin, hentikan!" Yoongi berusaha menghentikan jimin.
"Jawab aku taehyung! Katakan pada mereka bahwa kau adalah taehyung. Kim taehyung sahabatnya park jimin." Jimin berucap sambil menggoyangkan bahu hansung dan meremasnya kuat.
"Shh,,"
"Kau melukainya, jim/hyung!" Jungkook dan hoseok mencoba melepaskan remasan jimin pada bahu hansung yang terlihat kesakitan.
"Jangan mencoba berbohong padaku, tae!"
"Apa yang kau bicarakan? Aku tak mengenal kalian! Aku lahir dan tumbuh di seoul bersama keluargaku. Lagipula kenapa kau masih bergantung dengan taehyung itu? Kenapa kau tidak merelakannya saja. Dia sudah mati, dia sudah tenang. Kenapa kalian mem permasalahkan nya? Apa hebatnya si taehyung it-"
Plakk
"Kau boleh menghinaku? Tapi jangan libatkan taehyung! Kau memangnya siapa, hah? Kau memang bukan taehyung! Taehyung sangat menghargai perasaan seseorang. Orang buta sepertimu hanya akan membawa masalah, jika benar benar bahwa kim taehyungku berubah menjadi sosok sepertimu, Orang buta tak tahu diri. Aku pasti menyesalinya."
"Jimin apa yang kau katakan? Dimana sopan santu-"
"Haha,,, memang kenapa kalau aku buta? Apa ada yang salah dengan kebutaan ku? Memangnya siapa kalian? Tau apa kalian tentang hidupku? Ibuku dan jio saja tak mempermasalahkan kebutaanku. Lagian bukan kalian yang aku repotkan, kenapa kau mengurusiku?"
"Hansung-ah,,," ibunya memanggilnya lirih, menggenggam tangan hansung erat.
"Kalaupun aku menjadi taehyung! Aku akan malu mempunyai sahabat sepertimu! Keluarlah!"
Deg.
Lirihan dan ungkapan hansung seakan merobek pertahanan jimin, jimin tak pernah bermaksud untuk menyakiti hati pemuda itu. Perlahan namun pasti air mata jimin mulai turun.
"A-aku, h-"
"Pergilah! Untuk apa kalian berkunjung ke rumah orang buta tak tau diri sepertiku!"
__ADS_1
"Hansung-ah." Namjoon memanggil hansung.
"Apa? Hyung juga mau bilang bahwa orang buta sepertiku tak tau diri? Iya tau kok! Sudah sana pergi! Ayo eomma kita masuk."
"K-ku mohon,, hikss,, maafkan aku,, hikss," jimin langsung memeluk hansung kala dia akan masuk ke dalam bersama sang ibu.
"A-aku hanya,, hikss,, sangat yakin bahwa,,, kau,, hikss,, kau adalah taehyungku..."
"Jimin-aa." Member hanya bisa menatap sendu melihat jimin seperti ini.
"Hyung,,, ini taehyungku! Aku yakin hyung! Aroma nya masih sama. Aku tau itu! Tolong jangan bersandiwara tae!"
"Lepaskan! Apa sih yang kalian harapkan dari pemuda buta sepertiku? Jangan bermain drama dirumahku."
"Taehyung-aa,, jangan seperti ini! Aku selalu merasakannya, dan aku menemukanmu disini, aku menantikanmu." Jimin dengan berlinang air mata mencoba untuk terus berbicara pada hansung.
"J-jio,, bawa mereka keluar." Lirih hansung sambil berjalan menjauh bersama sang ibu.
"Keluarlah kalian, kalian dengarkan, apa kata hyungku."
"Kumohon maafkan kami." Para member membungkukkan badannya terkecuali jimin yang masih meronta diantara namjoon dan jungkook.
"Tidak! Itu taehyungku! Itu taehyungku!" Namjoon menyeret jimin keluar rumah, jimin masih terus teriak histeris.
"JIMIN! Sadarlah! Taehyung sudah mati!"
Plakk,,
"Hyung,,"
"Jimin-aa,, kumohon jangan seperti ini! Hyung tau kau masih terpukul karna kematian taehyung! Tapi jangan seperti ini!" Yoongi memeluk jimin. Meskipun yoongi terkesan cuek tapi dia sudah menganggap para memeber adalah keluarga keduanya. Dia sakit ketika melihat jimin, begitu terpukul seperti ini.
"Hyung,,, a-aku,,, aku hanya menginginkannya hyung! Aku ingin Taehyung,,, sesakk,, hyung! Tidak bisa,,, bernafas,, kenapa aku tidak mati saja hyung?" Jimin bersimpuh dalam pelukan yoongi memeluknya erat sambil mengeluarkan unek-unek nya selama ini.
"Aku,,, aku,, hikss,,, ingin menyusulnya,, hyung! Biarkan aku pergi,, hikss,, saja,,, kumohon, hyung! Semua ini,,, hikss,, sangat berat untukku..."
.
.
Kumohon maafkan aku
__ADS_1