Our Path

Our Path
11


__ADS_3

"kenapa kau kembali?" Jio menatap tajam, pemuda yang duduk manis di samping ibunya.


"Ada apa, ji?" Hansung yang memang tidak tau apapun bertanya pada jio di sebelahnya. Mereka masih tak beranjak dari pintu.


"Hansung-a, ada yang datang."


Hansung yang mendengar suara ibunya pun tersenyum lebar. Meraba raba ruang hampa tersebut hingga tangannya berhasil digengam hangat oleh sang ibu.


"Eomma~"


"Bagimana keadaannya?"


"Baik eomma, sangat baik. Eomma tak perlu khawatir." Hansung menjawab dengan riangnya.


Dengan sayang sang ibu mencium seluruh wajah sang putra. Mulai dari kening, kedua mata, pipi hingga hidung bangir nya. Yang di tanggapi geli oleh sang anak.


"Berhenti eomma. Ini sangat geli." Tawa hansung terdengar memenuhi ruangan.


"Jadi, kenapa kau kemari?" Jio bertanya dengan nada dinginnya.


"Jio,,, Dia hanya datang berkunjung dan meminta maaf. Benarkan?"


"Benar, aku hanya ingin meminta maaf soal perkataanku kemarin mengenai hansung." Penyesalan terdengar di setiap perkataannya.


"Tidak apa apa, lagipula, aku juga minta maaf, soal perkataan ku kemarin." Hansung juga ikut meminta maaf, menundukan kepalanya sambil memilin ujung kaosnya.


"Aku akan memaafkanmu jika kau mau mengabulkan satu permintaan ku."


"Yakk! Kau melunjak ternyata. Tidak, hyung! Jangan dengarkan dia. Tidak di maaf kan tidak apa. Aku tidak akan membiarkan hyung kelelahan karna di jahili dia." Jio berdiri di depan hansung, berpose sebagai temeng di depannya.


"Baiklah. Apa permintaanmu?" Hansung menerimanya tanpa pikir panjang.


"Yakk! Hyung bagaimana sih? Sudah dibilang jangan mendengarkannya. Kenapa meng iyakan sih. Bag-"


"Aku ingin pelukanmu, hanya itu." Pernyataan jimin membungkam jio.


"Hanya itu?" Tanya hansung sekali lagi, takut kalau pendengarannya ikut bermasalah.


"Ya,, hanya itu. Kau sanggup?"

__ADS_1


"Baiklah, itu adalah hal kecil. Dimana kamu? Sini kuberikan pelukan terhangat untukmu." Hansung mengapai gapai udara hampa di depannya. Memberikan sinyal pada jimin, untuk mendekat.


"Aku disini." Jimin menggapai kedua tangan hansung. Menggenggam nya erat, menangkupkan kedua tangan hansung di belahan pipinya.


Hansung meraba kembali wajah jimin, menghapus jejak jejak basah yang tertinggal.


"Uljima."


Hansung merasakan kedua pipi jimin terangkat, menandakan sang pemilik wajahnya sedang tersenyum kearahnya. Hansung menampilkan senyum kotaknya.


"Aku tidak menangis, aku bahagia. Aku menangis karna bahagia." Jimin menempelkan keningnya di bahu hansung yang lebih tinggi darinya.


Namun hansung segera merengkuhnya.


"Hmm,,, menangislah, jika itu membuatmu lega."


"Hikss,, hikss,," isakan kecil itu mulai terdengar, pelukan kedua pemuda dengan tahun kelahiran yang sama itu semakin mengerat.


"Menangislah, hyung. Jangan ditahan. Bahuku masih cukup tangguh untuk menampung air matamu." Hansung berujar sambil mengeratkan pelukannya.


"Hikss,, hikss,, taehyung-a,,"


Jimin menatap hansung dengan derai air mata. Meskipun tak dapat melihat netra taehyung yang tertutup blindfold warna merah itu. Dia sangat yakin pada pemuda di depannya ini.


Hansung semakin menggenggam erat kedua tangan jimin yang bergetar. Genggaman panas hansung. Jimin tak bodoh untuk tau bahwa hansung tidak baik baik saja.


"Te-terimakasih. Sekarang istirahatlah. Ku rasa kau demam."


Jio yang mendengar kata demam dari jimin, segera menggantikan posisinya di depan hyung tersayangnya tersebut.


"Kau demam hyung. Ayo istirahat." Jio mengalungkan lengan hansung di pundaknya.


"Biar ku bantu." Jimin mengalungkan lengan hansung yang lain di pundaknya.


Hansung menoleh dan tersenyum ke arah jimin.


"Terimakasih."


Jio tersenyum tipis, melihat interaksi hansung dan jimin. Setidaknya jimin terlihat lebih cerah dari pertama ia bertemu kemarin. Mungkin jimin terlihat sedikit lebih bernyawa.

__ADS_1


"Makan malam lah disini, jim. Aku rasa hansung dan jio tidak keberatan. Benarkan hansung? Jio?"


"Hu'um, hansung tidak keberatan kok."


"Jio?"


"Hmm,, baiklah, sekali ini saja." Jimin tersenyum mendengar jawaban jio.


.


.


.


"Hyung?"


"Jimin-a, kau dimana, cepatlah pulang." Suara hoseok mengawali.


"Aku makan malam diluar hyung. Hyung makanlah dulu, mungkin aku akan pulang sedikit terlambat, hyung, hehe.."


"Wahh,,, jimin-ie kita sedang sangat bahagia kelihatannya. Kenapa hmm? Cerita pada hyung dong!" Jin tak kalah heboh mendengar nada ceria jimin.


"Hehe,, tidak kok."


"Jangan jangan hyung sedang bersama yeoja ya~?" Suara maknae menggoda hyung bantetnya tersebut.


"Yakk! Kau merusak moodku, kook."


"Maaf hyung! Habis hyung sih tiba tiba menelpon dengan nada ceria seperti ini, aku kan jadi curiga hyung."


"Singkirkan pikiran negative kalian hyung, kook. Aku baik baik saja. Tidak mabuk juga tidak kencan. Hanya sedang bahagia saja."


"Baiklah, baiklahh,, jaga dirimu baik baik, jim. Hyung percaya padamu." Nasehat dari namjoon mengahiri percakapan sore itu.


.


.


.

__ADS_1


"Kau lihat itu, taehyung? Betapa berharganya dirimu untuk orang lain terutama jimin dan para member."


__ADS_2