Our Path

Our Path
12


__ADS_3

KIM NAMJOON


KIM SEOKJIN


MIN YOONGI


JUNG HOSEOK


PARK JIMIN


KIM TAEHYUNG


JEON JEONGGUK


BTS


lautan ungu itu terlihat berombak dan indah. Ke enam pemuda di atas panggung itu, hanya bisa menunduk.


Para kekasih mereka mencoba memberikan semangat untuk keenam pemuda tersebut. Meskipun para kekasihnya mencoba menahan isak tangisnya, mereka tetap menyemangati ke enam pemuda tersebut.


Tujuh sorot lampu itu menyorot para pemuda tersebut, meskipun di antara jimin dan jungkook hanya ruang hampa yang tersorot. Ke enam pemuda itu menatap para kekasihnya.


"Apa kalian menikmati konser malam ini?" Jungkook bertanya pada para penggemar yang hadir.


"Neeee..."


"Yeoreobun.." jimin menghela nafas.


"..Kami ingin menyampaikan sesuatu pada kalian..." Jimin meremat mic di tangannya dengan kuat. Masih tk sanggup jika harus menyampaikan hal ini pada mereka yang tulus mencintainya.


"Namjoon hyung,,,, silahkan.." namjoon menatap jimin, lalu menatap para member bergantian.


"Sebelumnya aku ingin mengucapkan terimakasih pada keenam member. Mereka yang menguatkanku dan mau mendengar perkataan orang sepertiku."


"Aku sungguh tidak percaya bisa berada di sini, di hadapan kalian semua. Sungguh aku sangat berterimakasih. Tanpa kalian semua, BTS bukanlah apa apa. Untuk ARMY yang hadir disini maupun ARMY di luaran sana. Terimakasih banyak." Namjoon membungkuk lalu menarik nafas dalam dan menghembuskan nya dengan kuat, guna mengurangi sesak di dadanya.


"ARMY! Gomawo, thankyou so much for everything. Maaf aku tidak bisa membalas semua cinta yang kalian berikan. Terimakasih banyak."


Air mata mulai berjatuhan,


"Aku benar benar merasa gagal menjadi leader. Kami tidak bisa bertahan lebih lama dari ini. Aku tidak bisa mempertahankannya. Kumohon maafkan aku."


"Aku sudah berusaha semampuku. Tapi kami tidak bisa bangkit semudah itu. Kami bersama sama lebih dari tujuh tahun. Kami tidak bisa melupakan sosok Kim Taehyung begitu saja. Mianhae." Jin tak kuat menahan tangisnya.


"Rasanya sulit untuk bertahan dengan kaki pincang seperti ini. Meskipun kalian mendukung kami, kami tetap tidak sanggup."


"Jika 'taehyung' tidak ada, maka seharusnya kami juga tidak ada, bukan?"


Lautan cahaya yang bergelombang itu, telah berhenti. Cahaya ungu itu, mengingatkan mereka pada pemuda tersebut. Isakan mulai terdengar dari arah para penonton.


"jangan menangis! 'Taehyung' tidak suka melihat kekasihnya menangis." Lirih jimin, air matanya masih menganak sungai.


"BTS itu bertujuh, bukan ber enam atau ber delapan. Kalian tau itu bukan?" Yoongi akhirnya bersuara setelah sedikit menetralkan suaranya.

__ADS_1


"Kami kehilangan satu member, sangat berat untuk menjalani ini semua."


"Jika kami terus terpuruk seperti ini, aku menjamin 'Taehyung' akan kecewa pada kami. Meskipun tingkahnya aneh dan konyol, jujur saja, aku-ahh bukan aku saja, tapi kami. Kami merindukannya."


"Mendongaklah! Dia ada di atas kalian." Yoongi menenggadah, menatap langit berbintang yang terlihat di atasnya, dikuti yang lainnya.


Army bomb nya mati, para army mendongak dan memejamkan matanya yang sembab. Menautkan kedua tangannya seraya berdoa untuk sang idola.


"Sejujurnya, sangat sulit untuk memutuskan hal ini. Kami berusaha yang terbaik untuk kalian. Tapi sepertinya perjalanan kami sebagai Bangtan Sonyeondan telah berakhir. Tapi jangan khawatir, aku masih akan menjadi world wide handsome jin." Dengan derai air mata jin berusaha tersenyum.


"Uljimma, oppa!"


"Mari kita berjuang bersama, army."


"NEE..."


"Terimakasih karna telah mencintai kami bertujuh."


"Terimakasih karna mau berjalan bersama dengan kami hingga sejauh ini."


"Terimakasih karna telah membuat impian kami terwujud."


"Tanpa kalian kami tak akan bisa sejauh ini."


"Kim Namjoon! Kim Seokjin! Min Yoongi! Jung Hoseok! Park Jimin! Kim Taehyung! Jeon Jeongguk! BTS!"


Teriakan itu terus menggema di seluruh stadion selama sepuluh menit lamanya.


"ARMYY!" Jimin dan jungkook berteriak.


"BORAHAEEE!" Kedua maknae tersebut berteriak lalu membungkuk kan badan. Hyung line mengikuti kedua maknae mereka. Mereka saling tatap dan kembali membungkuk kan badan.


Konser berjalan lancar, meskipun diiringi isak tangis para member maupun army.


Tiga minggu setelah acara tersebut, semua masih baik baik saja. Meskipun banyak hal yang berubah. Begitupun dengan kegiatan para member.


Seperti sebelumnya, jimin kini sendirian sambil memakan sarapannya.


Kemana member lain?


Seokjin sedang berlatih untuk membintangi sebuah film. Hyung tertuanya tersebut mengambil tawaran sebagai aktor.


Sementara si maknaenya, berada di agensi untuk memulai debut solonya. Yups, jungkook menerima tawaran bang pd-nim untuk menjadi solo idol.


Berbeda dengan hyung tertua dan maknaenya. Namjoon, hoseok daan yoongi mulai membangun agensi nya sendiri bersama.


Jimin sendiri memutuskan untuk mengambil alih kafe ayahnya yang bercabang di seoul.


Kalau boleh jujur, dia ingin pergi saja dari dorm. Dia kesepian, hyungdeulnya dan jungkook selalu sibuk. Tak ada lagi perbincangan santai, tak ada lagi canda tawa yang biasa mereka lontarkan. Setidaknya setelah dia kehilangan sang sahabat masih ada member lain yang setia bersamanya.


Untuk sekarang menyapa saja rasanya sangat sulit. Jadwal mereka sangat padat, jimin tau hal itu. Tapi apakah dia egois jika mengharapkan mereka akan berkumpul kembali meski hanya satu, dua jam untuk berbincang. Setidaknya dia tidak terlalu kesepian.


"Makan jim! Makanan nya tidak akan masuk sendiri ke dalam perutmu." yoongi datang dan duduk di sebelahnya.

__ADS_1


"Jangan melamun, hyung." jungkook datang membawa beberapa bungkus makanan cepat saji.


Sementara jimin hanya menatap mereka bingung.


Apakah dia bermimpi?


Apakah mereka benar benar yoongi hyung dan jungkook, atau mereka hanya ilusi yang dia ciptakan sendiri?


"Jimin!"


"Ehh? Iya, hyung."


"Apa yang kau pikirkan, hmm?" namjoon berujar.


Jimin baru sadar jika seluruh member duduk bersamanya di meja makan seperti biasanya.


"Kalian tidak pergi?" jimin bertanya.


"Tidak, kami sepakat untuk cuti hari ini."


"Kenapa hyung?" jimin bertanya heran.


"Tentu saja, kita harus bertemu dengan nya, kami merindukannya, jim. Jadi ayo pergi bersama hari ini." Hoseok mewakili yang lainnya berujar dan mengelus puncak kepala jimin.


"Terimakasih karna masih tetap kuat setelah semua ini. Hyung yakin, kau pasti kesepian. Maaf karna kami jadi sedikit tidak perduli denganmu."


"Tapi percayalah pada hyung. Tidak ada yang berubah diantara kita, jim. Mungkin sekarang kita menapaki jalan yang berbeda. Tapi itu bukan sebuah alasan untuk melupakan semua yang telah kita lalui. Dan juga untuknya."


Ahh,, jimin sangat lega. Perasaan ragu yang sempat menghampiri menghilang begitu saja.


Seokjin mendekapnya.


Hangat.


Jimin menyukainya. Sudah lama dia tak mendapat pelukan. Berbicara saja mereka enggan. Aktifitas mereka sangat padat, berbeda dengan jimin yang bahkan bisa saja membolos untuk tak datang ke kafe. Cukup telphon maka semuanya beres.


"Terimakasih." jimin berujar lirih.


Para member bangkit dan ikut memeluk jimin.


Mereka lega, mereka bisa melewati semuanya.


Ke enam pemuda itu berjalan beriringan menuju tempat yang sudah lama mereka rindukan.


Di setiap langkah mereka, mereka masih mengharapkan keajaiban.


Sesampainya disana mereka dapat melihat punggung dua namja dan seorang wanita berada di sana.


"Annyeong haseyo ahjumma." jimin menyapa wanita tersebut terlebih dahulu.


"ahh,, kalian. Ingin bertemu taehyung ya?" keenamnya tersenyum dan melangkah lebih dekat kearah peristirahatan sahabat seperjuangan mereka.


"Hai, Tae! kami datang kembali,,"

__ADS_1


__ADS_2