Our Path

Our Path
10


__ADS_3

"jim,,"


"Hmm,,"


Park jimin berubah. Dia bukan jimin yang selalu ceria, bukan juga jimin yang perhatian, bukan pula jimin yang selalu menghibur para member.


Yang ada sekarang hanya jimin yang selalu melamun, jimin yang selalu menangis tanpa alasan, jimin yang selalu berharap akan kembalinya sosok kim taehyung di tengah2 mereka.


"Jim!"


"Hn,"


"Tatap mata, hyung!"


"Hm, wae?"


Lihatlah kantung mata hitamnya itu, bibir pucat dan keringnya, serta mata sembabnya.


"Kau tau kan, bahwa kami sangat menyayangi taehyung?"


"..."


"Kau tau kan, betapa berharganya sosok kim taehyung untuk kita? Untuk bangtan Sonyeondan. Kita sudah tinggal bersama sejak lama."


"Aku menganggap kalian adalah keluarga keduaku. Kau harusnya tau jim,, kita semua merasa kehilangan. Tapi hidup terus berjalan." Mungkin ini kali pertama jimin mendengar petuah panjang dari yoongi yang notabene nya adalah member paling cuek.


"Hyung,, aku lelah, ingin tidur." Jimin berujar sementara yoongi hanya dapat menghela nafas.


"Istirahat lah! Besok konser kita di mulai." Yoongi membenarkan selimut jimin.


"Selamat malam."


.


.


.


"Bagaimana, yoon? Apa dia mau bicara?" Seokjin yang pertama kali mencecar yoongi kala pemuda putih pucat tersebut datang dan duduk di sebelah namjoon. Sementara yang lain berharap cemas menanti jawaban.


Yoongi menggeleng. "Tidak ada yang bisa kulakukan."


"Hahh,," namjoon menghela nafas panjang.


"Apa kita akan benar benar berakhir?" Tanya sang maknae sambil menatap leader hyung panutannya.


"Hmm,, kita fokus saja untuk konser besok malam." Ujar hoseok sambil menepuk pelan pundak jungkook.


...


"Benar benar sepi ya, hyung. Perasaan dulu dorm tak pernah sesepi ini." Ungkap jungkook sambil menerawang langit langit ruangan.

__ADS_1


"Kau benar, kook. Apa kau ingat, setiap kau, jimin dan taehyung bergurau bersama. Maka kami akan langsung menuju kamar kalian yang ramai."


"Seperti magnet, tawa kalian menarik kami untuk bergabung, bahkan yoongi hyung saja pasti ikut juga. Meskipun dia akan tertidur di kasur taehyung." Hoseok tersenyum mengingat memori mereka bertujuh.


"Senyum hansung,, seperti milik taehyung. Kalian menyadarinya kan?"


"Dia bukan Taehyung."


"Darimana kau bisa se yakin itu yoon."


"Aku yang melihat jasad utuh taehyung. Tubuh itu, tubuh taehyung. Meskipun wajahnya tak di kenali, aku ingat bekas luka di belakang daun telinganya. Sementara hansung tidak memiliki bekas luka itu."


"Bukan kah manusia memliki 7 kembaran yang tersebar?"


Setelah percakapan tersebut, mereka tenggelam dalam pikiran masing masing. Lamunan mereka buyar kala seseorang memanggil.


"Hyung."


"Kau mau kemana jim?" Tanya hoseok yang melihat jimin telah rapi.


"Aku ingin pergi sebentar."


"Ak-"


"Aku pergi sendiri. Kumohon percayalah padaku. Aku tidak akan berbuat hal yang membahayakanku, aku masih ingin bertemu dengan army."


Seokjin hendak protes, tapi namjoon mendahului nya.


"Apa kau gila namjoon?"


"Bagaimana jika jimin melakukan sesuatu yang membahayakan nya?"


"Hyung, biarkan jimin pergi. Kita harus percaya padanya. Bukankah, dia sudah bilang tidak akan melakukan hal yang membahayakannya?" Namjoon berusaha membangun kepercayaan para member.


Para member hanya mengangguk.


"Sekarang lebih baik kita beristirahat karna besok adalah hari yang kita tunggu."


"Hmm,, namjoon hyung, benar."


.


.


.


"Jadi,, apa yang bisa saya bantu?" Wanita paruh baya itu bertanya sambil memberikan segelas jus jeruk dan roti kering ke hadapan jimin.


"Saya ingin bertemu hansung." Jimin berujar mantap.


"Hansung sedang pergi, tunggulah sebentar lagi." Ujar wanita paruh baya tersebut sambil tersenyum hangat, senyuman seorang ibu yang ia rindukan.

__ADS_1


Jimin hanya tersenyum tipis,, sangat tipis, namun wanita itu masih tetap bisa melihatnya. Selanjutnya jimin memang meminum jusnya dalam diam, terhanyut dalam semua pikiran pikirannya.


"Apa yang nak jimin pikirkan, hmm?" Wanita paruh baya tersebut, beralih duduk tepat di samping jimin sambil mengelus pucuk kepala jimin.


"Ah,, tidak ada. Hanya beberapa hal saja." Jimin gelagapan menjawabnya, namun menikmati semua sentuhan halus di puncak kepalanya.


"Jangan terlalu dibebankan. Apakah itu tentang taehyung?"


"Yaaa,, sedikit banyak nya, tentangnya."


"Kau berteman dengan nya cukup lama bukan?"


"Yaa,, kami berteman sudah cukup lama."


"Beritahu ahjumma, satu alasan yang membuatmu percaya bahwa temanmu itu masih hidup, apalagi hingga menyebut anak ahjumma adalah temanmu itu?"


"A-aku hanya merasakan kehadirannya dalam diri hansung. Aroma tubuhnya, suaranya aku benar benar menghafalnya. Yang membuatku sangat mempercayainya adalah karna dia memanggilku menggunakan nama panggilan yang sering taehyung ucapkan. Maafkan aku, aku tidak bermaksud untuk menyinggung atau meragukan status keibuanmu."


Jimin benar benar merasa bersalah soal kemarin, ia benar benar siap jika wanita disampingnya ini memakinya. Namun presepsi tersebut diluar dugaan jimin. Wanita tersebut malah memeluknya dan tertawa kecil.


"Apa yang kau pikirkan, hmm? Aku tidak akan memukulmu atau memakimu, dari mana kau mendapat presepsi tersebut?"


"Ehh? Dari mana ahjumma tau?"


"Mimik mukamu itu, menjelaskan semuanya." Jimin hanya tertawa canggung.


"Di dunia ini, banyak hal terjadi. Jio dan hansung adalah penyelamat kehidupanku. Tanpa kehadiran kedua putraku tersebut, aku tidak akan bisa bertahan seperti ini."


"Suamiku meninggalkanku saat jio berusia 5 tahun dan tentunya hansung masih berumur 8 tahun. Suamiku mempunyai keluarga lain. Aku adalah seorang wanita simpanan. Yaa,, kau benar, jim. Hansung bukan putraku. Dia putra suamiku dengan kekasihnya yang lain. Hansung cacat, mereka tak ingin mempunyai anak cacat. Aku merawatnya seperti anakku sendiri."


"Aku membesarkannya, layaknya anak biasa. Mengajarkannya semua hal yang aku bisa. Jika ada waktu, jio juga turut mengajarkan apa saja yang ia kerjakan disekolah. Sehingga hansung menjadi pintar. Aku tak membiarkan dia sekolah, kami tak punya cukup biaya. Dan hansung tak keberatan."


Wanita tersebut menghapus sedikit air mata nya dan berdiri. Mencari sesuatu di bawah meja. Dia mengambil sebuah buku cukup tebal. Dan memberikannya pada jimin.


"Bukalah."


Jimin dengan perlahan membuka album tersebut. Lembar demi lembar, memandang semua foto foto tersebut dengan berlinang air mata.


"Ba-bagaimana bisa?"


Wanita tersebut hanya tersenyum.


"1 Januari 1996. Pukul 12 lebih 2 menit."


.


.


.


"Kenapa kembali?"

__ADS_1


__ADS_2