
"Hansung-ah." jimin bergumam, pelukannya dipererat, para member juga.
"Eunghh,,,, se-sak,,,,," lirihan hansung membuat ke enam nya melepaskan pelukannya spontan.
Hansung hampir ambruk jika saja jimin tak menahannya. Badannya melemas, karna tak kuat menumpu tubuhnya.
"Hyung! Gwenchana?" jio mendekat, sambil mengecek pergelangan tangan dan dada hansung. Membawa sang kakak duduk di salah satu kursi yang tersedia tak jauh dari tempat mereka berdiri.
"Eunghh,,, s-sakit,, hahh,,, hh,," lirih hansung pelan, sambil terus meremat lengan jimin yang memang berada di sampingnya.
Jimin merasakan betapa kuatnya hansung meremat lengannya, mungkin nanti akan ada bekas merahnya. Tapi itu bukan masalah bagi jimin. Sekarang hansung terlihat sangat kesakitan, para member lain yang masih terlalu syok tidak bisa berbuat apa apa. Apalagi mereka juga belum mendengar semua kisah sebenarnya.
"Kita kerumah sakit, ya?" ajak wanita yang mereka tau adalah eomma jio dan hansung.
".. Ani,, pulang s-aja,, eungh,,"
"Kita ke rumah sakit saja ya, taetae hyung!" Jungkook mencoba menyakinkan hansung, melihat hansung yang kesakitan membuatnya ikut meringis.
"P-pulang,,,"
Karna terus meminta pulang, dengan berat hati mereka mengikuti permintaan hansung. Jimin dan yoongi ikut bersama mobil yang di kendarai jio. Sementara yang lain ada di mobil yang bangtan bawa.
"Eunghh,,, hahh,,, hh,,"
"Usap dadanya, jim. Itu akan membuat hansung lebih baik."
Jimin mengusap dada hansungung dengan hati hati. Jimin juga bisa merasakan detak jantung sang sahabat berdetak dengan cepat dan tak beraturan.
"P-elan hyung,," lirih hansung saat di rasa, rasa sakitnya kian menjadi.
"Ini udah pelan tae,,," ucapan jimin terdengar bergetar, dia panik mendengar ringisan keluar dari mulut hansung.
"Kita kerumah sakit, tidak ada bantahan." yoongi berucap dengan sedikit khawatir.
Hansung menggeleng lemah, tangannya berusaha menggapai tangan yoongi. Yoongi yang peka pun menggenggam tangan hansung.
"Hyungg,,"
"Hyung disini, hansung."
"Mianh-ae,,, maaf,,,, karna tae hyung,, kalian melepas mimpi ka-hahh,, eunghh,,"
"Sstt,,, tidak apa, diamlah. Kita pulang." yoongi dapat merasakan tangan hansung yang basah, seperti orang yang baru saja mencuci tangannya.
Perjalanan tak memakan waktu lama, karna bisa dibilang mereka menaiki mobil dengan kecepatan tinggi. Jio di bantu jimin membawa tubuh hansung ke kamar.
Dengan telaten eomma nya memasang nassal canul nya pada hidung bangir hansung.
Jio dan ibunya memilih meninggalkan ruangan. Memberikan tempat bagi ketujuh nya untuk saling bercakap.
__ADS_1
"Apa sudah lebih baik?" jin berujar sambil duduk di samping ranjang. Mengelus puncak kepala hansung.
"Jin hyungg,,,"
"Iya, ini hyung. Kami disini,, uljimma.." Jin mengusap air mata hansung yang meleleh, meskipun beberapa air matanya terserap kain yang menutup matanya.
"Mianhae hyung.." lirihnya pelan.
"Gwenchana, jangan salahkan dirimu seperti ini."
Namjoon berjalan pelan mendekati ranjang. Mengelus rambut hansung dengan pelan.
"Kenapa tidak jujur pada kami, hmm?"
"Namjoon hyung,, mianhae,,, hikss,,, a-aku-"
"Sstt, tidak apa. Kita bicarakan ini nanti. Jangan menangis! Istirahatlah." namjoon kembali mengelus puncak kepala hansung sayang.
"Apa ini sakit, sungie?"
"Hoseok hyung,,,"
"Sini hyung usap dadamu." hoseok mengusap dada hansung dengan hati hati.
"Mianhae,," hansung tidak tau harus bagaimana, dia hanya mampu meminta maaf pada ke enam orang yang selalu menyanyangi hyung kembarnya. Yang menghadapi masa sulit karena kematian hyung nya yang bahkan baru beberapa bulan saling berbagi kebahagian dengannya, yang di hari kematiannya sempat menawarkan untuk bertemu dengan kedua orangtua kandung mereka.
"Sungie.." tanpa mengidahkan hoseok, jungkook langsung menggantikan posisinya. Mengenggam tangan hansung dengan kedua tangannya.
Hansung meraba tangan yang mengenggamnya. Lalu mengelus puncak kepala adiknya itu
"Tidak, seharusnya aku yang berterimakasih pada kalian. Terimakasih karna telah menjaga hyungku dan menyanyanginya hingga akhir hayatnya."
Seseorang meninggalkan ruangan,, hansung tau bahwa hyung kesayangannya telah membuat sebuah luka tanpa dia sadari setelah kepulangan nya. Terlebih untuk sahabat bantetnya tersebut.
"Jimin hyung,," gumam hansung pelan.
"Tidak apa, biar hyung yang susul jimin. Tidak usah khawatir. Istirahat lah sungie." Yoongi berusaha membuat hansung untuk tidak terlalu memikirkan nya.
Hansung mengangguk lemah. Dia kehabisan banyak tenaga. Dia sangat lemas sekarang.
.
.
.
"Jimin,," Wanita paruh baya tersebut mendekat kearah jimin yang sedang menatap hamparan bunga mawar di depannya.
"A-ahjumma,, wae?" Jimin kelagapan sambil menyeka sudut matanya.
__ADS_1
"Apa yang kau pikirkan, hmm?"
"Aku? T-tidak, hanya tentang pekerjaanku."
"Apa taehyung dulu merepotkan mu ketika disini? aku yakin dia sering kesini dan bermain dengan hansung." Tanya jimin mengalihkan perhatian.
"Tidak, dia dan hansung memiliki sifat yang hampir sama. Aku dan jio tak keberatan."
"Taehyung sempat berfoto dengan hansung. Aku melihatnya di album itu. Apa itu benar?"
"Ya."
"Jadi sejak kapan taehyung tau bahwa dia mempunyai adik kembar?"
"Sebelas bulan sebelum kejadian itu." Wanita itu menerawang langit biru yang membentang di atasnya.
"Apa kau meragukannya?"
"Tidak juga."
"Apa kau kecewa dengan taetae hyung?" Jio mendekat ke arah jimin.
"Diam berarti iya."
Jio menghela nafas, sepertinya dia harus menceritakan nya.
"Hyung harusnya tau apa yang terjadi padanya dua tahun yang lalu, tepatnya enam bulan sebelum dia memutuskan untuk keluar dari bangtan. Dan nekat untuk pulang ke daegu yang mengakibatkan hal tak terduga itu."
Jimin mengernyit tanda bahwa dia tak mengerti apapun.
"Apa yang terjadi dua tahun lalu?" Yoongi bertanya. Jio menoleh dan mendapati ke lima pemuda lainnya berdiri di belakangnya.
"Bukankah enam bulan sebelum kejadian itu adalah masa liburan kami sebelum persiapan comeback." Ungkap jin mengingat ingat.
"Ahh,,, Taehyung juga sama sekali tidak bisa dihubungi." Sahut jimin.
"Bukankah itu karna handphone nya hilang?" Hoseok bertanya.
"Lebih baik kita bicarakan hal ini di dalam." Sang ibu mengusulkan dan di angguki oleh keenam nya.
"Jadi?"
Mereka duduk melingkar.
"Sebenarnya, taehyung hyung melarangku menceritakan hal ini..."
"..Karna sejauh ini hanya bang pd nim saja yang tau."
"Jangan berbelit belit, katakan apa yang terjadi?" Ucap yoongi datar.
__ADS_1
"Taehyung hyung hilang...." ungkap jio. Semua mata yang sedari tadi memperhatikan membulat seketika begitu kalimat terakhir diucapkan. Taehyung memang sering kali menghilang, namun dia bisa menemukan jalan kembali sebelum orang lain menyadari bahwa dirinya menghilang.
"....dia diculik, disekap dan di siksa selama sembilan hari..."