Our Pride Class

Our Pride Class
•Chapter 1•


__ADS_3

Hari ini adalah hari pertama masuk sekolah setelah libur semester 1. Pagi ini Hani bangun kesiangan dan tidak sempat menebeng mobil Vanesha. Terpaksa ia harus berlari melalui jalan pintas, karena bila ia naik bis maka ia akan terlambat karena macetnya kota Jakarta.


Hani sudah selesai siap-siap, ia mengikat tali sepatunya dengan kuat lalu berdiri dan mangambil tas nya. Hani menarik nafasnya dalam-dalam dan berlari menuju sekolah tercintanya.


Di rumahnya, Hani tinggal bersama Mamahnya. Papahnya Hani sudah meninggal waktu Hani Kelas 1 SMA karena sebuah kecelakaan yang melibatkan dirinya. 


Sebelum berangkat sekolah Hani tidak pernah mengucapkan salam kepada Mamahnya, sekali pun tidak pernah. Bukan karena Hani tidak sopan, tapi karena mereka berdua memang tidak pernah akrab semenjak Papahnya Hani meninggal.


Hani seorang anak yang baik dan penurut, tapi karena didikan Mamahnya yang keras membuat Hani menjadi orang yang agak dingin. Dari SD Hani selalu mendapat juara 2 bahkan sampai sekarang, tapi ia tidak pernah sekali pun mendapat juara 1. Itulah alasan mengapa terkadang Hani kesal dengan dirinya sendiri, karena menurutnya dirinya itu tidak berguna.


Hani sebentar lagi sampai ke sekolah, Hani berlari tak tentu arah karena ia sudah merasa capek dan tidak ingin terlambat dihari pertamanya masuk setelah libur. Saat berbelok Hani bertabrakan dengan seorang laki-laki yang sepantaran dengan dirinya, dan itu adalah Aray. 


“Aaaw... Lo bisa jalan nggak sih? Gue udah telat nih.” Hani bangun dan langsung marah-marah.


“Lo juga nabrak gue kali, minta maaf kek, main marah-marah aja.” Aray menunjuk Hani.


Dia Aray, sering disebut bocah betina karena tingginya yang hanya 150 cm dengan rambut agak gondrong dan kulit putih, jadi deh kayak anak perempuan. Berandalannya Kelas Favorit, sering bolos, sering tidur di kelas, dan tidak pernah mengerjakan tugas, sering keluar masuk ruang BP pula. Nggak tau tuh kenapa bisa masuk Kelas Favorit.


“Ogah!” Hani buru-buru lari ke gerbang diikuti dengan Aray.


Hani sampai di gerbang yang ternyata sudah ditutup. “Yah! Udah ditutup lagi. Gara- gara lo sih!” Hani menyalahkan Aray yang sejak tadi ada di sampingnya.


“Idih nyalahin gue lagi, ini gara-gara lo!” Aray langsung membantah.


“Lo!”


“Lo!”


“Udah-udah. Sekarang kita harus pikirin gimana caranya kita bisa masuk tanpa ketauan sama guru.” Hani menenangkan dirinya sendiri dan berpikir.


“Kita? Lo pikirin aja diri lo sendiri! Gue sih udah biasa kayak gini.” Celetuk Aray.


“Ya in aja deh kalo sama orang yang sering keluar masuk ruang BP.” Hani sedikit membuang mukanya.


“Gue kan anak baik jadi gue silaturahmi sama guru BP, biar makin deket mungkin aja bisa jadi best friend forever sampai maut memisahkan.” Aray menyandarkan tubuhnya di tembok.


“Jijik! Kalo berandalan sih bebas.” Hani berkata pelan namun masih terdengar oleh Aray,


“Apa lo bilang?” 


“Nggak.”


“Lo bisa manjat gerbang nggak?” Aray bertanya dengan nada kesal.


“Ya bisa lah. Emang gue cewek apaan nggak bisa manjat gerbang.”


“Lah? Lo bego apa bloon sih? Kenapa lo nggak manjat dari tadi tolol?!” Aray menahan emosinya yang hampir meledak.


“Hehehh... Gue lupa.” Hani cengengesan tanpa dosa.


“Dasar lo tuh emang kelewat cerdas jadi idiot kan.” Aray masih kesal dengan Hani.


“Ya maaf. Tapi makasih ya atas pujian cerdas lo buat gue.” Hani tersenyum sombong.


“Tapi gue juga minta maaf ya, abis itu gue bilang lo idiot.” Aray berbicara datar tanpa beban.


Ekspresi Hani langsung berubah seketika. “Nyesel gue ngomong.” Hani mengakhiri pembicarannya dan mulai memanjat, namun ia berhenti dan turun lagi.


“Kenapa turun lagi?” 


“Cuma mau kasih peringatan aja, awas kalo lo berani ngintip.”


“Gak guna amat gue ngintipin lo, seksi juga nggak.”                                                                             


“Jahat.”


Hani dan Aray mulai memanjat gerbang sekolah dan kebetulan satpamnya masih liburan jadi aman-aman saja. Hani dan Aray meloncat bersamaan, namun sebelum berbalik mereka mendengar suara seseorang yang batuk. Hani dan Aray membeku tidak berani berbalik dan saling melirik satu sama lain.


“Nggak beres nih.” Gumam Aray sambil menggelengkan kepalanya dan melirik Hani.


“Gue setuju.” Gumam Hani sambil menganggukkan kepalanya. Mereka seperti sedang bertelepati.


Hani dan Aray perlahan berbalik dan melihat seseorang yang tadi batuk, dan itu ternyata Pak Doni, Guru BP di sekolah, yang terkenal galaknya.


“Huahh...!” Aray berteriak seperti orang yang melihat hantu, dan Hani malah cengengesan. 


“Kalian terlambat?” Tanya Pak Doni ketus, soalnya dia anti banget sama siswa yang terlambat.


“Hehe! Iya Pak.” Jawab Hani.


“Udah tau kan telat, pake nanya lagi.”


“Lalu kalian manjat gerbang?” Tanya Pak Doni lagi.


“Iya Pak.” Aray tertawa garing.


“Udah tau manjat gerbang, pake nanya lagi.”


“Hari ini kalian habiskan jam istirahat kalian di perpustakaan sebagai hukumannya, cepat masuk!” Ucap Pak Doni tanpa basa basi, singkat jelas padat namun nyesek. 


“Euhh... Gue lagi nggak mood banget ke perpus.” Hani garuk-garuk kepala.


“Apa lagi gue, salah lo sih!”


“Lo tuh!”


“Lo!”


“Dasar bocah lo!”


“Dasar idiot.!”

__ADS_1


“Nyebelin!”


“Biarin.”


Hani dan Aray pergi ke kelas setelah beres dengan permasalahan mereka. Untuk Hani sendiri, ia agak heran dengan dirinya sendiri. Ia tidak pernah berbicara sesantai itu dengan orang yang baru akrab. Di dalam kelas Hani memang tipe anak yang agak pendiam. Tapi dengan Aray tadi, Hani bisa berbicara santai.


Beruntung saat mereka masuk Kelas ternyata tidak ada Guru karena sekarang masih awal masuk sekolah, jadi sering jam kosong.


“Hey! Gimana semalem?” Tanya Darel saat Hani sudah sampai di kelas.


“Gimana apanya?” Hani duduk di kursinya.


“Mimpiin gue nggak?” Darel menompang dagunya dengan kedua tangannya.


“Nggak guna gue mimpiin lo.” Hani menatap malas Darel.


"Ish.” Darel memalingkan wajahnya.


Darel, si peringkat 1 yang famous banget. Gimana nggak famous coba, Darel adalah kapten basket, tinggi, putih lagi. Darel juga pernah memenangkan juara1 olimpiade sains tingkat nasional. Darel dan Hani adalah teman dekat, karena Darel sering curhat dan meminta saran kepada Hani tentang masalah yang ia miliki.


“Ya udah deh, maaf, jangan cemberut! Jijik gue liatnya.” Kata Hani sambil melihat wajah Darel yang berpaling.


“Woy! Baru juga masuk udah pacaran aja, kasian yang jones pada liatin.” Vero tiba-tiba datang.


Vero, dia cowok tapi mulutnya kayak emak-emak tukang gosip yang sering nongkrong di tukang sayur keliling, nyerocosnya minta ampun. Biang gosip. Cabenya Kelas Favorit.


“Wah bau-bau makanan nih.  Eh anak cewek bagi makanannya dong. Laper gue.” Bobby loncat, iya loncat, kayak makhluk hidup yang ada di kebun binatang ke meja Alexa dan Vanesha.


“Ihhh... Nggak mau!” Alexa mengambil semua makanannya yang ada di meja.


Alexa. Ahlinya dalam hal makanan, tidak ada makanan yang belum pernah ia coba. Banyak makan tapi badannya tetap saja kurus.


“Nazis! Jangan deket-deket gue lo Bobby!” Vanesha sedikit bergeser.   


Vanesha. Cewek tajir dengan kacamata mata minusnya, cerewet dan keras kepala.


“Pada pelit lo semua.” Kata Bobby dengan muka sedihnya.


Bobby. Dulu anak-anak kadang manggilnya pelakor (tenang dia normal kok). Pengemis makanan, sering mengaku kalau dirinya itu cucu Ratu Elizabeth (dulu, sekarang udah tau diri). Kalau ngomong nggak ada bedanya sama Vero. Murid yang paling sering dikacangin.


“Haha! Makanan minta, nggak modal amat si, pantes aja sampe sekarang jomblo. Ngomongnya cucu Ratu Elizabeth, tapi makanan minta. Kenapa? Nggak dikasih jatah ya? Nggak disayang ya? Gue juga maklumin sih kalo lo nggak disayang, orang bentukannya aja kayaknya gini, kagak ada bule-bulenya. Kasian amat sih idup lo, sabar ini ujian, atau mungkin adzab, makanya tobat dong, idup lo kebanyakan dosa. Ini cuma saran sih dari gue.” Kata Vivi panjang lebar, dan hanya ditanggapi dengan tatapan bingung oleh ketiga temannya.


“Lo ngomong apa barusan Vi? Sorry gue nggak konek.” Tanya Alexa.


“Gue juga nggak tau tadi gue ngomong apa. Tadi gue ngomong apa sih?” Tanya balik Vivi dengan muka seperti bayi tanpa dosa.


Vivi. Sebenernya pinter sih, tapi sayang agak bego dikit. Nggak punya malu, malah cenderung malu-maluin.


“Oii! Tau nggak tetangga gue ada yang poligami lho.” Kata Jino tiba-tiba mendatangi Sobur.


Jino. Otak poligami.


Sobur (Sobat Buruk). Baik sebenernya, cuma panggilannya aja yang buruk. Nggak tau nama aslinya siapa, panggil aja Sobur biar cepet.


“WAHHH GILAA!! TAEHYUNG NYA GANTENG BANGET BROIII!!” Teriak April yang sedang nontong MV BTS, Boy Band kesayangannya.


April. Penggemar K-pop dan pecinta roti sobek oppa.


“Perasaan masih gantengan gue deh.” Vero berjalan melewati April.


“Allana! Allana! Ihh abi bogoh.” (Ihh aku cinta kamu). Maul mengikuti Allana sambil memegang setangkai bunga mawar yang ia ambil dari kebun yang berada di depan ruang guru.


Maul. Aslinya orang Bandung, jadi bahasanya agak campur. Pejuang cinta bertepuk sebelah tangan. Patut ditiru bagi pejuang cinta yang punya mental baja.


“Bisa diem nggak sih?” Allana sedikit berteriak karena jengkel.


Allana. Kembangnya Kelas Favorit, OSIS, cantik, berprestasi, ramah, jadi rebutan para cowok termasuk Maul.


“Eciee ciee.. Allana!” 


“Tendang bolanya cepet!”


“Oper sini! Oper ke gue!”


“Apaan sih? Nggak jelas.”


“Hhehe.”


“WOY! LO BERDUA JANGAN PACARAN DI KELAS!”


“Cepet dong bagi makanannya!”


“MAKANYA BELI DONG!”


“ABIS ITU DIPOLIGAMI. Edan nggak?”


“WAH BRENGSEK BANGET TUH OM OM.”


“GOL... GOL...”


“TAEHYUNGG!”


“ALLANA! TUNGGU! JANGAN TINGGALIN AA.”


“HIDUP TANPA CINTA BAGAI TAMAN TAK BERBUNGA.”


“GUE AMBIL YA MAKANANNYA?”


“MAKANAN GUE.”


"BERISIK OII.” Teriak Jeto.

__ADS_1


Hening...


Dan yang terakhir Jeto. Satu kata aja untuk dia. Leader. 


Itu adalah keadaan Kelas Favorit saat jam kosong, tapi mereka akan sangat serius jika sudah belajar. Hanya saja otak mereka selalu geser saat jam kosong.


Karena merasa terganggu dengan keributan temannya, Hani memilih tidur di mejanya, ia sangat lelah karena malamnya ia selalu begadang untuk belajar. Tiada hari tanpa berlajar dalam kehidupan Hani. Bahkan saat libur semester pun ia masih belajar, bahkan ia jarang untuk sekedar kumpul-kumpul bersama temannya.


Hani selalu merasa tertekan dengan semua hal yang terjadi padanya, ia memang hidup, tapi ia tidak merasakan arti hidup yang sesungguhnya. Dengan kata lain ia tidak bahagia. Tidak, bila ia belum mendapatkan peringkat 1.


“Han! Lo sakit?” Tanya Darel yang melihat Hani sedang tidur.


Hani sedikit mengangkat kepalanya. “Gue nggak papa kok.” 


“Yakin?” Darel menatap Hani dengan tatapan khawatirnya.


“Iya! Udah santai aja.”


Kring...


Bel pergantian pelajaran berganti, dan pelajaran selanjutnya adalah Matematika. 


“Gurunya masuk nggak ya?” Tanya Alexa yang tak tentu kepada siapa.


“Kayaknya masuk deh.” Jawab Vero.


“So tau lo.”


“Kan gue peramal tanpa bayaran.”


“Lo kira lo Dilan?” Alexa melempar bungkus makanannya ke Vero.


“Kalo gue Dilan, lo mau nggak jadi Milea nya?” Tanya Vero sambil cengengesan.


“Amit-amit.” Tandas Alexa.


“Wah! Kode keras tuh.” Teriak Vanesha.


“Ekhem ekhem!”


“Ciee... Alexa pipinya merah tuh.”


“Okhem!” Jino batuk jaim.


“Ohok!” Jeto batuk cool.


“OHOK! OHOK! EKHEM! OHOK HACHIM HACIUH! Keselek batu akik nih gue!” Bobby batuk lebay.


“Halah nggak usah muna deh lo Bob.” Vero menoyor kepala Bobby.


Bobby yang mendengarnya langsung menatap tajam Vero. Nggak tau kenapa suasananya jadi dingin. “Maksud lo apa?”


“Wess! Santai Bob. Cuma becanda aja.” Vero senyam-senyum nggak jelas.


“Awas aja lo! Kalo ampe bocor gue bocorin pala lo!”


“Bob! Apaan dah? Lo maen rahasia-rahasiaan sama kita?” Tanya Vanesha yang sensi banget sama yang namanya rahasia.


“Kagak.” Jawab Bobby singkat.


“Lo berdua nyembunyiin sesuatu? Ato jangan-jangan... Lo berdua homoan lagi?” Vanesha menampilkan ekspersi cengonya.


“Amit-amit Sha gue homoan ama si Vero. Gue kalo homoan juga milih-milih kali. Masa bentukkan kek gini gue homoin. Lagian siapa yang homoan sih?” Bobby langsung nyolot tidak terima dengan perkataan Vanesha.


“Pagi semuanya!”


Pasti sudah tahu lah itu siapa. Yap, perdebatan mereka terhenti oleh seorang Guru yang masuk ke kelas mereka tanpa diundang. Semua siswa sangat fokus saat Guru sedang menerangkan, dan kalau soal pelajaran sih jangan ditanya, mereka pasti jagonya. 


Bisa dibilang angkatan Kelas Favorit yang sekarang adalah angkatan paling cerdas sekaligus paling nakal. Tuhan memang Maha Adil, ia memberikan kecerdasan yang tinggi, namun ia juga memberikan kenakalan yang luar biasa. 


•••


“Bete... Bosen... Laper... Bete... Bosen... Lap...”


“Heh! Lo tuh bisa diem nggak sih? Berisik tau!" Perkataan Aray terpotong oleh Hani yang membentaknya.


“Lo yang berisik, inget ini tuh di perpustakaan, dilarang berisik.” Aray menjawabnya dengan malas sambil menenggelamkan wajahnya ke meja.


Sekarang Hani dan Aray sedang di perpustakaan untuk menjalankan hukuman mereka. Hani memanfaatkan kesempatan ini untuk belajar. Sedangkan Aray dari tadi hanya baca komik dan berbicara sendiri.


“Ya makanya lo diem, kalo nggak gue robek tuh mulut!” Hani menatap tidak suka kepada Aray.


“Pedes amat sih omongan lo. Lo kira nggak bosen apa di perpus? Kalo buat anak kutu buku kayak lo sih pasti seneng-seneng aja.” Aray sedikit mendongak.


“Enak aja lo ngomong, gue bukan kutu buku gue cuma suka baca aja.”


“Apa bedanya sih?”


“Ya beda lah mana ada kutu buku yang secantik gue.” Hani mengibaskan rambutnya.


“Bodo gue nggak mau denger, gue mau tidur.” Aray kembali menenggelamkan wajahnya ke meja.


“Dasar tukang tidur!”


“Eh keliatannya ada yang lagi dihukum bareng berandalan nih.” Tiba-tiba dari belakang ada seseorang yang menyapa Hani. Hani sedikit berbalik dan menatap perempuan itu dengan senyum sinis dan tatapan dinginnya. “Gimana kabar lo? Mantan sahabat.” Perempuan itu melempar tatapan sombongnya.


    “Baik. Kalo lo gimana Gin? Atau bisa gue sebut PHO?” Hani tertawa sinis.


•••


Tbc...

__ADS_1


__ADS_2