Our Pride Class

Our Pride Class
•Chapter 3•


__ADS_3

Darel mengingat perkataan Hani tadi dan tersenyum miris. “Apa lo serius sama perkataan lo tadi?” Darel berbicara sendiri.


•••


Bel pulang berbunyi, dan semua siswa tampak berhamburan keluar dari Kelasnya masing-masing. Semuanya ingin cepat-cepat sampai ke rumahnya.


“Hey para sahabat!” Teriak Bobby dari kursi paling belakang yang membuat semua anak-anak menoleh. 


“Apaan Bob?” Tanya Vero.


“Main kuy ke rumah gue! Mumpung bokap nyokap lagi kagak ada di rumah.” Kata Bobby yang sudah siap dengan jaket dan tas nya.


“PS lo udah dibenerin belum?” Tanya Jeto yang berada di sebelahnya.


“Udah. Tenang aja, maen dah sepuasnya.”


“Wifi lo udah dibayar kan? Gue mau download MV BTS.” Tanya April yang sedang sibuk dengan handphone-nya.


“Silakan. Puas puasin dah.”


“Kalo gitu sih kuy lah gue ikut.” 


“Kulkas lo penuh nggak?” Tanya orang yang sering makan, tidak lain adalah Alexa.


“Wah kalo itu mah penuh tiap hari juga.”


“Ada cemilannya nggak? Percuma penuh juga kalo isinya buah ama sayuran mah.”


“Ada. Tenang aja, kalo masih kurang borong aja tuh supermarket biar si Vero yang bayarin!” Bobby meyakinkan Alexa.


“Napa jadi ke gue? Buat beli kuota aja gue masih ngutang apalagi buat traktir jajan, gila kali tuh si Bobby.” Vero yang mendengarnya langsung sewot.


“Awas lo kalo boong.” Kata Alexa sambil menunjuk Bobby.


“Iya iya. Apa sih yang nggak buat lo.” Bobby tersenyum manis.


“Idihh pengen muntah gue.” Alexa bergidik takut.


“Wahhh keras Bob, selamat lo ada kemajuan!” Vero menghampiri Bobby dan memegang pundaknya.


“Gue mencium bau-bau PJ nih.” Ucap Vanesha sambil menyenggol lengan Alexa.


Jino menghampiri Alexa. “Hati-hati! Jangan ada kata poligami diantara kalian kalo udah jadian.” 


“Otak lo pengen gue cuci kali ya?” Vanesha menoyor kepala Jino.


“Apaan sih lo semua? Siapa yang jadian? Gue ogah kali pacaran ama si Bobby!” Alexa sangat kesal dengan teman-temannya yang terus meledeknya.


“HAHAHAHA...!” Tawa semua siswa yang ada di sana pecah seketika.


“Ahhaha jleb banget Bob.” Darel tidak kuat menahan tawanya.


“Hahaa... belum juga lo nembak Bob udah ditolak mentah-mentah aja.” Tawa Vero pecah.


“Bob! Semoga nanti malem lo nggak beli baygon.” Jeto memegang pundak Bobby dengan wajah iba.


“Nasib lo lebih sadis dari ditinggal cerai Bob.” Jino menambahkan sambil tertawa.


Sedangkan dua orang yang sedang diledek itu hanya diam karena terlalu malas untuk mendengarkan ocehan teman-temannya ini.


“Udah deh! Jadi nggak nih maen ke rumah gue?” Bobby bertanya dengan raut muka kesal.


“Wisss jadi lah.” Ucap mereka serempak.


“Han lo ikut nggak?” Vivi bertanya kepada Hani yang sejak tadi hanya diam mendengar celoteh teman-temannya sambil sesekali tersenyum tanpa berniat untuk ikut berbicara.


“Hm? Kayaknya kali ini nggak deh, gue harus belajar, lain kali aja ya.” Hani tersenyum tipis.


“Yahh kok gitu sih Han? Perasaan kalo ada kumpul-kumpul lo nggak pernah ikut deh.” Alexa mengerucutkan bibirnya.


“Kalo Hani nggak gue juga nggak deh.” Darel menghampiri Hani. “Lo pulang sendiri kan? Biar gue anter.” Darel tersenyum.


“Lah kok gitu? Kalo mau main ya main aja, kenapa jadi ikut-ikutan?” Tanya Hani heran.


“Nggak papa. Cuma kalo nggak ada lo nggak asik aja... Hehe.” 


“Lo main aja gue pulang sendiri juga bisa.” Hani mengambil tasnya lalu berdiri, namun tangannya ditahan oleh Darel membuat Hani berbalik lagi.


“Nggak. Gue mau lo pulangnya sama gue.”


“Ohok... Ohok... kayaknya di kelas banyak nyamuk deh, awas Han nanti demam berdarah!” Vero menyela dengan batuk yang dibuat-buat.


“Eh Ver lo keselek sendal jepit?” Bobby menepuk-nepuk punggung Vero dengan keras.


“Sakit bego!” Vero mengelus-ngelus punggungnya.


Semuanya hanya melihat tingkah Vero dan Bobby dengan tawa yang mengiringi.


“Gue juga kayaknya nggak bisa deh soalnya gue ada les.” Ucap Vanesha setelah melihat handphone-nya.


“Ah lo mah les mulu, pinternya kapan?” Jeto meledek Vanesha.


“Biarin lah.”


“Kalo lo gimana Ray?” Tanya Vero kepada Aray yang sedang membereskan barang-barangnya.


Diantara mereka semua yang paling akrab dengan Aray hanyalah Vero. Mereka sering main bareng, bahkan hanya Vero yang mengetahui kalau sebenarnya Aray mempunyai masalah yang sangat besar dalam hidupnya.

__ADS_1


“Lain kali aja, mau tidur gue.” Aray mengambil tas nya lalu pergi.


“Ya udah yuk cepet! Keburu sore nanti.” Bobby berjalan terlebih dahulu meninggalkan teman-temannya yang masih membereskan barang-barangnya.


“Yuk lah!”


•••


“Lo kenapa sih mesti nganterin gue?” Tanya Hani yang sedang berada di parkiran bersama Darel.


“Mau aja emang nggak boleh?” Darel memakai helm-nya.


“Nggak! Nggak boleh! Gue nggak mau ngerepotin temen gue.”


“Temen? Lo anggep gue temen?” Tanya Darel yang sudah berada di atas motor.


“Iya lah! Masa lo gue anggep musuh.”


“Tapi gue pengen anggep lo lebih dari temen.” Kata Darel dengan muka santainya.


“Maksud lo?” Hani bertanya dengan wajah kikuk.


“Nggak jadi.” Darel tersenyum dan memakaikan helm Hani. “Yuk naik!” Lanjut Darel.


Hani langsung naik dan berpegangan pada pundak Darel.


“Please deh Han gue bukan tukang ojek, jadi lo pegangannya di pinggang gue aja!” Darel menarik tangan Hani agar berpegangan di pinggangnya.


Hani menarik tangannya lagi. “Ogah ihh alay.”


“Bukan alay, tapi buat keselamatan.”


“Perasaan kalo gue naik ojek sering pegangan di pundak selamat-selamat aja.” Hani masih tidak mau kalah.


“Cuma pegangan di pinggang aja apa susahnya sih?” Darel mulai kesal karena sifat keras kelapanya Hani.


“Iya iya bawel amat sih lo. Cepet jalan udah sore nih!” Hani memukul helm Darel dan berpegangan di pinggangnya.


Darel melajukan motornya dengan kecepatan sedang, mengingat ramainya jalur lalu lintas. Darel dan Hani sampai dalam waktu 15 menit dan Hani pun turun dari motor.


“Nih!” Hani melepas helm Darel dan memberikannya. “Makasih ya!” Dengan cepat Hani langsung pergi karena ia tidak mau Mamahnya melihat ia diantar oleh laki-laki.


“Ehh tunggu.” Darel menahan tangan Hani. “Lo nggak nawarin gue buat masuk dulu?” Tanya Darel yang masih memegang tangan Hani.


“Nggak.” Jawab Hani singkat sambil melepaskan genggaman tangan Darel di tangannya.


“Tega banget sih lo, udah gue anterin juga.”


“Emang siapa yang nyuruh lo nganterin gue? Udah sana cepet pulang!”


“Galak amat sih lo jadi tuan rumah, main usir-usir aja.”


Darel memakai helm-nya lalu pergi. Tapi sebelum itu ia sempat tersenyum manis lalu melambaikan tangannya.


Hani bergegas masuk ke rumahnya karena ia takut kalau Mamahnya memarahi dia karena ini sudah lewat dari jam pulang Hani biasanya. Hani berdoa sepanjang jalan menuju pintu agar Mamahnya tidak melihat Darel yang mengantarnya.


Hani membuka pintu dan mendapatkan Mamahnya sedang menontong TV di ruang keluarga. Hani menebak pasti Mamahnya sudah melihat Darel. Hani berlalu masuk ke kamarnya yang ada di lantai dua tanpa menyapa Mamahnya.


“Makan siang kamu sudah ada di kamar, mandi dulu terus makan! Abis itu langsung belajar!” Kata Mamahnya Hani tanpa melihat Hani.


“Mah! Hani boleh nggak main sama temen Hani. Hani kan udah belajar waktu libur juga.” Hani menatap Mamahnya dengan wajah lelah.


“Nggak boleh! Kamu harus tetap belajar, nggak ada gunanya juga kamu main sama temen-temen kamu.”


“Tapi Mah Hani capek begadang belajar terus, Hani cuma pengen main.”


“Hani! Kamu berani melawan Mamah? Ingat nilai kamu sudah turun, jadi kamu harus sering belajar!” Mamahnya Hani meninggikan suaranya.


“Mah! Hani tau nilai Hani turun tapi Hani bukan robot yang bisa ngelakuin semuanya tanpa istirahat. Hani juga remaja biasa Mah. Hani butuh main.” Hani juga tidak kalah meninggikan suaranya.


“Main? Main dengan pacar baru kamu yang tadi nganterin kamu?” Mamahnya Hani menatap tajam anak tunggalnya itu.


“Dia temen Hani, cuma temen!” Hani menekankan kata ‘cuma’ nya.


“Tapi buktinya dia udah buat kamu bisa ngebantah Mamah.”


“Kenapa Mamah jadi nyalahin temen Hani?”


“Pokoknya kamu nggak boleh temenan sama dia atau pun temen kamu yang lain. Mereka itu bawa pengaruh buruk buat kamu. Mereka cuma remaja yang tau main saja.” Ucap Mamahnya Hani dengan tegas.


Hani tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Mamahnya, bisa-bisanya ia menyalahkan teman-temannya yang jelas tidak salah apapun.


“Tau apa Mamah soal temen Hani? Mikirin kebahagiaan Hani aja Mamah nggak pernah!” Hani pergi ke kamarnya dengan perasaan sedih.


Hani membanting pintu kamarnya dan menguncinya. Hani melempar tasnya ke sembarang arah lalu menghempaskan tubuhnya di kasur. Hani sangat lelah dengan sifat Mamahnya yang sekarang, Mamahnya sangat beda, Mamahnya yang dulu sudah hilang.


Hani tidak sadar bahwa pipinya sudah basah oleh cairan bening dari matanya. Hani menghapus air matanya dengan kasar dan pergi menuju meja belajar.


Hani melampiaskan semua amarahnya dengan belajar, belajar dan belajar. Hani tidak peduli dengan perutnya yang sudah keroncongan, yang ia pikirkan hanyalah belajar dan melupakan semua penyebab amarahnya memuncak.


^_^


Vanesha sekarang sedang berada di tempat les sambil membereskan bukunya lalu pergi. Tapi saat di luar gedung ia merasa melupakan sesuatu. Kemudian ia mengecek kembali bukunya dan ternyata buku catatan rumusnya tertinggal di bawah meja. Vanesha dengan malas berbalik dan mengambilnya lagi.


Setelah sampai Vanesha tidak menemukan bukunya di mana pun. Vanesha terus mencarinya karena buku itu sangat penting baginya.


“Lo Vanesha bukan?” Tiba-tiba ada laki-laki yang menghampirinya.

__ADS_1


“Iya gue Vanesha.” Vanesha sedikit mendongak karena laki-laki itu cukup tinggi.


“Ohh untung deh, tadi gue nemuin buku lo di lantai, jadi gue mau ngembaliin buku lo.” Laki-laki itu mencari sesuatu di tasnya dan menyodorkan buku dengan nama ‘Vanesha’. “Nih.”


Vanesha mengambil bukunya lalu tersenyum kepada laki-laki itu. “Thanks ya! Kalo nggak ada lo gue pasti bingung mau ngerjain PR gue gimana.” Vanesha sedikit tertawa untuk mencairkan suasana.


“Santai aja!” Laki-laki itu tersenyum tipis.


Vanesha melihat jam tanganya yang menunjukkan kalau sekarang sudah malam. Vanesha terlalu lama mencari buku catatanya hingga ia lupa waktu.


“Kalo gitu gue balik sekarang ya. Sekali lagi makasih.” Vanesha tersenyum ramah lalu berbalik hendak pergi.


“Perlu gue anter nggak?” Suara laki-laki itu menghentikan langkah Vanesha,


“Nggak perlu, lagian deket kok.” Vanesha tersenyum untuk kesekian kalinya.


“Yakin? Ini udah malem lho.”


“Iya nggak papa.”


“Ya udah deh, hati-hati di jalan!”


“Oke, bye!”


Setelah Vanesha pergi laki-laki itu tersenyum. “Vanesha” Laki-laki itu berbicara sendiri.


•••


Hani terbangun dari tidurnya yang tidak nyenyak. Lagi-lagi ia begadang untuk belajar dan tidak memiliki banyak waktu untuk tidur. Itu sudah menjadi kebiasaan Hani beberapa bulan terakhir, mengingat sebentar lagi ia akan lulus dan banyak ujian yang menantinya. 


Hani beranjak dari kasurnya untuk mempersiapkan kebutuhan sekolahnya. Hani keluar dari kamarnya dan langsung keluar rumah untuk berangkat tanpa sarapan terlebih dahulu. Itu karena ia sudah tahu bahwa Mamahnya tidak akan menyiapkan sarapan untuknya. 


Begitulah keseharian Hani. Ia berangkat tanpa sarapan dan memilih jajan di kantin untuk mengganjal perutnya. Saat pulang, makanan selalu sudah tersedia di kamarnya, setelah makan ia akan menghabiskan waktunya dengan belajar sampai begadang. Bila Hani tidak belajar sehari saja sudah dipastikan bahwa ia pasti akan kena hukuman dari Mamahnya. 


Hani berjalan-jalan santai di koridor setelah sampai. Hani selalu senang dengan keadaan koridor saat masih pagi karena jarang ada yang lewat. Hani tidak terlalu suka dengan keramaian dan ia lebih suka dengan tempat-tempat yang sepi dan sunyi di mana ia bisa fokus ketika memikirkan suatu hal. 


“Han!” Tiba-tiba ada seorang perempuan yang mengagetkan Hani dari belakang dengan menepuk pundaknya.


“Vivi?” Hani sedikit tersentak karena Vivi ada di belakangnya. “Tumben udah berangkat.” 


“Bangunnya kepagian.”


“Ohh.”


“Lo begadang lagi ya? Kantung mata lo keliatan lagi tuh.” Vivi menunjuk mata Hani yang menghitam.


“Keliatan ya?” Hani tertawa hambar. “Iya kemarin ada soal yang nggak gue ngerti, jadinya begadang deh.” 


“Han, lo jangan terlalu maksain diri dong! Gue jadi kasian liat lo lesu gini. Inget ya, belajar itu bukan segalanya, lo juga perlu seneng-seneng!” Vivi tersenyum sambil memegang pundak Hani.


Hani membalas senyuman Vivi lalu menurunkan tangan Vivi dari pundaknya. “Gue nggak papa kok. Udah biasa.”


“Gue ke kelas dulu ya.” Lanjut Hani dan meninggalkan Vivi yang masih menatapnya dengan tatapan sendu.


Walaupun Vivi orangnya agak cerewet dan tidak bisa diam, tapi dia adalah orang yang paling bisa diandalkan saat salah satu temannya ada masalah. Semua teman-temanya sering curhat kepada Vivi dan hati mereka selalu terasa tenang. Tapi tidak dengan Hani karena ia tidak pernah berbicara apapun kepada Vivi atau yang lainnya tentang masalah yang ia punya. Intinya Hani adalah orang yang sangat tertutup.


^_^


Hari ini semua siswa tampak ribut karena wali kelas mereka memberitahukan bahwa akan ada murid baru, pindahan dari SMA yang tidak jauh dari letak SMA mereka. 


Setelah beberapa menit, ada orang yang mengetuk pintu kelas mereka.


“Silakan masuk!” Jawab Bu Anita wali kelas mereka.


Setelah mendengar itu tampaklah seorang laki-laki dari luar dengan seragam rapi. Ia sangat tinggi untuk ukuran tinggi siswa SMA, ia memiliki rambut berponi dan kulit putih.


Siswa itu tersenyum ramah kepada semua siswa di kelas. “Kenalin nama gue Rio, gue pindahan dari SMA 04 dan semoga kita bisa temenan.” 


“Ganteng tuh Van, gebet noh!” Alexa berbicara pelan sambil senyum-senyum.


Vanesha yang duduk di sebelah Alexa sedikit terkejut melihat murid baru itu. “Lo aja! Lho bukannya dia...” Vanesha menggantung kata-katanya dan berusaha mengingat laki-laki yang masih berada di depan itu. Tidak lama Vanesha mengingat bahwa laki-laki itu adalah orang yang menemukan buku catatannya kemarin.


“Lo kenal Van?” Tanya Alexa.


“Kemarin gue sempet ketemu dia di tempat les.” 


“Seriusan lo? Beruntung banget sih lo ketemu cowok kayak dia.” Alexa berbicara sambil terus menatap Rio yang sedang membicarakan sesuatu dengan Bu Anita.


“Kenapa? Lo suka sama dia?” Tanya Vanesha to the point.


“Nggak kok. Mungkin aja dia jodoh lo.” Alexa menyenggol lengan Vanesha.


“Nggak minat! Buat lo aja!”


“Gue bilang nggak ya nggak, gue cuma suka sama tingginya doang, kayak oppa oppa gue.” Jawab Alexa dengan bodohnya.


“Ihhh gaje lo.” Vanesha kesal sendiri.


“Suka-suka gue lah.” Alexa so ngambek tapi kepalanya menyender ke bahu Vanesha.


“Idih.” Vanesha menyingkirkan kepala Alexa yang ada di pundaknya. “Awas ahh jangan deket-deket?”


“Biarin.”


“Rio! Kamu bisa duduk di sebelah Aray.” Ucap Bu Anita menunjuk kursi di sebelah Aray. 


•••

__ADS_1


Tbc


__ADS_2