
“Rio! Kamu bisa duduk di sebelah Aray.” Ucap Bu Anita menunjuk kursi di sebelah Aray.
•••
“Baik Bu.” Rio berjalan menuju kursi yang ditunjukkan.
“Gue Rio!” Rio mengulurkan tangannya ke Aray setelah ia duduk.
“Nggak nanya.” Jawab Aray tanpa melirik Rio dan sibuk dengan buku yang sedang ia baca.
Rio menarik tangannya lagi dan berusaha tetap santai. “Nama lo Aray?”
“Udah tau kan tadi dari Bu Anita? Ngapain ditanyain lagi?” Aray masih tetap fokus dengan bukunya.
“Haha lupa.” Rio tertawa garing.
“Semuanya sudah mengerjakan tugas yang Ibu berikan?” Tanya Bu Anita membuka pelajaran dengan menanyakan tugas.
“Sudah!” Jawab semua murid serempak.
Tidak terasa waktu istirahat sudah tiba dan semua siswa disetiap kelas keluar untuk makan di kantin.
“Kantin kuy lah!” Jino yang sudah selesai membereskan bukunya langsung berjalan terlebih dahulu.
“Yuk cepet! Keburu penuh nih, sekalian ajak tuh si anak baru!” Jeto berdiri dan menunjuk Rio dengan dagunya.
“Biar gue aja.” Jawab Alexa sambil menghampiri meja Rio.
“Eeeets.” Bobby menahan tangan Alexa. “Nggak nggak nggak biar gue aja.”
“Apaan sih lo?” Alexa menepis tangan Booby.
“Biar gue aja, nggak baik cewek nyamperin cowok!”
“Suka-suka gue lah.”
“Uhok... Ekhemm... Haduhh bosen keselek mulu gue.” Vero batuk-batuk melihat Alexa dan Bobby.
“Hati-hati Bob! Siaga 1 penolakan lagi.” Teriak Darel dari kursi depan sambil tertawa.
“Eh Van mau ke kantin ya?” Rio menghampiri Vanesha melewati Alexa dan Bobby yang sedang meributkannya.
“Iya.” Jawab singkat Vanesha yang masih membereskan bukunya.
“Boleh ikut nggak?”
“Ya boleh lah.” Vanesha sedikit tersenyum ke Rio.
Akhirnya mereka semua pergi kekantin bersama tapi tidak dengan Aray. Aray tidak pernah ikut dengan semua kegiatan mereka. Ia lebih suka tidur dikelas daripada jajan dikantin.
Aray sebenarnya berteman dengan mereka semua, hanya saja ia tidak ingin berinteraksi dengan mereka. Aray lebih memilih bergabung dengan anak-anak yang sering berbuat onar karena menurutnya itu lebih asik walaupun banyak murid lain yang tidak menyukainya.
Aray juga sebenarnya anak yang pintar tapi ia terlalu malas untuk belajar dan mengasah bakatnya. Bahkan waktu SD sampai kelas 1 SMP ia selalu mendapat juara satu dan mendapat piagam-piagam dari sekolah. Aray juga cukup famous di SMP nya dulu karena bakat dan kelucuannya. Yah dulu Aray adalah seorang yang periang dan mudah akrab dengan teman-temannya.
Tapi semuannya berubah saat ia menemukan sebuah fakta yang menghancurkan dirinya dalam seperkian detik. Fakta bahwa selama ini ia adalah anak haram. Fakta bahwa ia lahir dari seseorang yang hina.
•••
Hari ini adalah hari piketnya Hani dan Darel. Darel sengaja memilih piket bersama Hani agar ia tidak perlu banyak bersih-bersih, karena pasti Hani yang akan membersihkannya. Hani sangat patuh pada jadwal piketnya karena ia tidak terlalu suka dengan keadaan kelas yang kotor.
Hani sekarang sedang membersihkan jendela tapi karena ia tidak terlalu tinggi membuat ia perlu naik ke atas meja. Tak lama kemudian disamping Hani ada seseorang dan itu adalah Darel yang sedang membantunya. Tapi bedanya Darel yang cukup tinggi itu tidak perlu naik kursi.
“Cari tempat lain aja, ini bagian gue.” Hani berbicara tanpa melihat Darel dan tetap fokus pada jendela yang sedang ia bersihkan.
“Males ah. Gue di sini aja, biar seru soalnya deket lo.” Darel tersenyum riang.
“Apaan sih.” Hani sedikit ikut tersenyum.
Setelah beberapa lama mereka berdiam muncul ide jail Darel untuk menjaili Hani yang sedang asik membersihkan jendela. Darel tersenyum miring mengingat kebanyakan perempuan takut dengan binatang yang namanya kecoa.
“Eeehhh... Awas ada kecoa tuh Han!” Darel menunjuk kebawah dengan ekspresi pura-pura panik.
“Hah? Mana?” Hani tidak terkejut sama sekali malah ia mencari-cari kecoa tersebut di bawah kakinya dengan muka datar. “Dimana Rel? Lo takut kecoa?” Hani sedikit mendongakkan kepalanya.
“Nggak kok, gue nggak takut sama kecoa.” Darel menjawab dengan wajah cengonya.
“Trus kenapa tadi lo panik banget?” Hani sedikit tertawa dan melanjutkan kembali pekerjaannya.
“Emang lo nggak takut sama kecoa?”’
“Kenapa mesti takut?”
“Nggak. Cuma nanya doang. Kecoanya juga udah nggak ada.”
“Nggak jelas dasar.” Gumam Hani.
Hani pindah tempat untuk membersihkan jendela yang lain. Tapi sebelum ia mengelapnya, ia membersihkan jendela tersebut terlebih dahulu dengan kemoceng. Darel yang melihat kalau masih banyak sarang laba-laba di jendelanya, berniat untuk memberitahu Hani.
__ADS_1
“Han! Itu laba-labanya bersihin lagi dong.” Darel menunjuk sarang laba-laba yang ada diujung atas.
Hani terkejut setengah mati. Karena laba-laba adalah binatang yang paling ia benci. Hani sangat takut dengan laba-laba, ia bisa saja menangis karena ketakutannya terhadap laba-laba. Bahkan lebih parahnya waktu SD ia sampai pingsan gara-gara dijaili oleh teman-temannya.
Hani membuang sembarang kemocengnya. “Mana... Man...” Perkataan Hani terpotong karena ia kehilangan keseimbangannya dan jatuh ke arah Darel. Untungnya Darel menahan tangan Hani agar ia tidak jatuh, walaupun sebenarnya Darel juga terkejut karena Hani tiba-tiba berteriak. Sedangkan Hani memegang pundak Darel.
“Becanda tau, tadi tuh cuma sarangnya doang. Nggak ada laba-laba kok.” Darel sedikit tersenyum dan memecah keheningan diantara mereka yang sedang dalam posisi seperti berpelukan.
Hani yang terkejut karena jarak wajah mereka lumayan dekat memilih untuk berdiri. “Ihh, apaan si.” Hani merasa kesal dengan Darel karena candaan Darel yang menurutnya berlebihan. Jujur tadi ia merasa sangat ketakutan karena laba-laba.
“WOYYY! LO BERDUA NIAT BERSIH-BERSIH NGGAK SIH? MALAH PACARAN MULU!” Teriak Vero dari dekat pintu.
“Iya! Diem lo cabe.” Teriak Darel yang tidak kalah keras.
“APA LO BILANG CABE? GUE TERONG YA, BUKANG CABE.”
“Serah lo dah.” Darel sedang malas berdebat dengan Vero yang notabennya tidak mau kalah itu.
“Gue mau ngosongin tempat sampah dulu.” Kata Hani ketus dan turun dari meja lalu pergi.
Tapi tangan Darel menahannya. “Lo marah?”
“Nggak.” Hani melepas tangan Darel dengan tangan yang satunya lagi lalu pergi.
Tapi dengan lincah tangan Darel menahan tangan Hani lagi. “Lo marah Han?” Darel mengulangi pertanyaannya lagi walaupun sudah dijawab oleh Hani.
“Nggak!” Jawab Hani singkat dan penuh penekanan.
Darel sedikit menarik tangan Hani membuat Hani maju selangkah. “Lo boong. Kalo lo marah, gue minta maaf, gue cuma becanda doang. Suer deh.” Darel memperlihatkan dua jari tangan sebelahnya lagi dengan bentuk huruf V sambil tersenyum manis.
Hani tidak peduli dengan muka imut Darel dan tetap memandang datar Darel. “Gue pergi dulu, bentar lagi bel.” Kali ini Hani melepas tangannya dengan paksa dan benar-benar pergi.
“Yah, beneran marah deh dia.” Darel melempar asal lap yang sedang pegang.
Hani pergi keluar dan mengambil tempat sampah kelasnya. Hani tidak kuat untuk mengangkatnya karena sampah yang sudah menumpuk. Jadinya Hani hanya bisa menariknya, untung saja jarak TPA nya tidak terlalu jauh.
Setelah sampai Hani tidak langsung membuangnya karena ia melihat Aray tidak jauh dari TPA sedang merokok sendirian. Hani meninggalkan tempat sampahnya dan menghampiri Aray.
“Ohhh jadi di sini tempat ngerokok anak berandalan kayak lo.” Hani tiba-tiba bersuara dari belakang Aray.
Aray berbalik dan terkejut karena ia kepergok oleh Hani. “Ohokk... Ohokk..” Aray tersedak asap rokok saking terkejutnya. “Lo ngapain ada disini?” Aray sedikit celingukan, ia takut jika tiba-tiba Hani menghampirinya bersama Guru.
“Gue lagi piket. Gue mah anaknya rajin banget, nggak kayak lo kerjanya cuma males-malesan, tidur di kelas, buat onar, sebenernya tujuan lo ke sekolah itu mau ngapain sih?” Hani mendudukkan dirinya di dekat Aray.
“Emangnya lo nggak liat gue lagi apa? Gue tuh lagi menikmati indahnya hari selasa.” Aray membentangkan tangannya dan memejamkan matanya.
Hani tertawa hambar. “Tapi sekarang hari rabu bukan selasa.”
Hani tertawa. “Pemandang TPA kek gini aja mesti lo nikmatin gitu? Gue sih ogah.”
“Ya perlu lah, tempat ini tuh tempat yang jarang ada siswa, jadi bisa dibilang tempat langka.”.
“Pantes aja nggak pernah ketauan ngerokok. Guru juga ogah kali kalo mesti datang kesini. Bego dasar!” Hani sedikit tertawa.
“Ya iyalah. Buat apa coba gue masuk Kelas Favorit kalo nggak punya otak cerdik.” Aray mengetuk-ngetuk kepalanya dengan jari telunjuk seperti orang pintar.
“Iya. Tapi cerdiknya dipake buat onar.”
“Kalo itu sih hak yang punya otak lah.”
“Dasar bego!”
“Biarin. Oh iya dari kemarin gue pengen nanya sama lo, kenapa sih lo gak pernah sopan sama gue?” Aray memasang wajah seriusnya.
Tawa Hani meledak. “Lo tuh emang udah bego bener ya. Ngapain juga gue harus sopan sama lo?”
“Ya iyalah, mesti.”
“Ya nggak lah, kita kan sekelas.”
“Tapi kan gue lebih tua dari lo.” Aray tidak mau kalah.
“Ya elah paling juga cuma beda beberapa bulan doang.” Hani sedikit tertawa.
“Beda beberapa tahun tolol.” Aray sedikit meninggikan suaranya karena kesal dengan Hani.
“Lah masa? Gue nggak percaya tuh, emang lo lebih tua dari gue? Tubuh cebol kek gini juga.” Bukannya serius menanggapi, Hani malah menyindir Aray yang sudah menahan kesalnya sejak tadi.
“Ni anak pengen gue jedorin deh kepalanya ke tembok biar amnesia sekalian.” Aray berbicara sendiri. “Emangnya lo nggak tau infonya?”
“Info apaan?”
“Tentang gue.”
“Nggak.” Jawab Hani dengan muka polos tak berdosa.
“Woyyy!” Aray melambai-lambaikan tangannya didepan muka Hani. “2 tahun ini lo kemana aja? Infonya udah nyebar di seluruh sekolah. Masa lo nggak tau sih.”
__ADS_1
“Emang harus banget gitu gue tau info tentang lo?” Hani masih tetap saja bercanda, walaupun dalam hatinya ia bertanya-tanya info apa yang belum ia ketahui selama ini.
“Ya perlu lah, info ini tuh berfungsi buat nyadarin orang-orang kayak lo yang nggak punya sopan santun sama yang lebih tua.” Aray mengubah posisinya menjadi lebih menghadap ke Hani.
“Ya udah deh info apa yang belum gue denger?” Hani akhirnya bertanya karena mulai penasaran dengan arah pembicaraan Aray.
“Eh emang beneran lo belum tau?” Aray bertanya untuk memastikan kalau Hani memang belum mengetahuinya. Karena Aray sendiri agak males untuk memberitahu Hani karena itu menyangkut masa lalunya.
“Iya.” Singkat Hani karena ia tiba-tiba malas untuk berdebat dengan Aray.
“Yakin? Beneran?” Aray memastikannya sekali lagi. Aray masih ragu dengan Hani yang belum tau berita yang sudah kadaluarsa ini.
“Iya iya bawel lo.” Hani menoyor kepala Aray sampai ia hampir jatuh.
“Intinya gue tuh lebih tua dari lo.” Aray menggaruk kepalanya asal, tanda bahwa ia malas untuk membahasnya.
“Sekarang umur lo berapa?” Hani mulai menanggapi Aray.
“Kalo lo?”
“Yeuu malah nanya balik. 17 kurang seperempat.”
“Ohhh. Kalo gue 19 setengah.” Aray berbicara sangat pelan dan Hani tidak mendengarnya.
“Hah? Berapa?”
“19 setengah.” Aray tetap memelankan suaranya karena ia malu untuk mengatakannya.
“Kalo ngomong yang keras dong, nggak kedengeran.” Hani mendekatkan telinganya ke Aray.
“19 SETENGAH BEGO!” Aray mengeraskan suaranya tepat di telinga Hani membuat Hani langsung mundur.
Hani terdiam menatap Aray dengan wajah cengo. “Apa? 19 setengah? Seriusan?” Hani tidak percaya bahwa Aray yang postur badannya pendek ini ternyata lebih tua darinya. Fisik ternyata bisa bohong.
Aray memberi tatapan iblisnya ke Hani karena Hani yang masih terlihat tidak percaya.
“Hehehe.” Hani cengengesan. “Wahhh gila gue sumpah nggak nyangka lo yang postur tubuhnya cebol kek gini ternyata umurnya udah tua.”
“Lo nya aja kudet.”
“Iya juga ya. Kenapa gue nggak denger gosipnya. Padahal temen-temen gue biang gosip semua, ceweknya apalagi cowoknya.” Hani berpikir kenapa ia tidak mendengar gosip yang sudah lama menyebar itu.
Tapi sebenarnya bukan hanya gosip itu saja yang tidak Hani dengar. Mungkin masih banyak gosip lama atau gosip baru yang belum Hani dengar. Atau lebih tepatnya tidak pernah Hani dengar. Itu semua karena Hani tidak suka yang namanya keramaian termasuk bergosip. Jika teman-temannya sudah berkumpul dan membicarakan orang lain, Hani lebih baik menutup telinganya dengan aerphone.
Selama ini Hani tidak terlalu peduli dengan masa remajanya. Ia tidak peduli dengan pacaran, ia tidak peduli dengan main-main walaupun terkadang ia juga ingin merasakannya. Yang ada di dalam pikiran Hani hanyalah belajar, belajar dan belajar. Sepintas Hani selalu berpikir kenapa ia tidak pernah menikmati masa remaja yang katanya menyenangkan dan malah terpaku pada tumpukan buku.
Hani ingin mencoba bersenang-senang dan tertawa lepas bersama teman-temannya. Hani ingin membuang semua buku-bukunya, semua catatannya dan bersenang-senang seperti anak seumurannya. Hani ingin melakukan itu semua tapi tetap saja ia tidak bisa, tetap saja buku adalah dunianya. Masa SMA yang katanya paling berkesan dan bermakna serta dinanti-nantikan, Hani tidak merasakan itu semua. Hani merasa hari demi hari ia disekolah biasa-biasa saja. Tidak ada yang menarik sama sekali selama 3 tahun ini.
Tidak terasa Hani cukup lama berpikir samapi raut mukanya pun berubah menjadi sendu seperti banyak pikiran.
Aray menjentik-jentikkan jarinya di depan muka Hani. “Oyy kesambet setan lo?” Aray menatap wajah Hani dari samping.
Hani yang menyadari jentikan tangan Aray langsung sadar. “Siapa yang kesambet coba?” Hani menepis tangan Aray dengan malas.
“Kirain.”
“Oh iya. Terus kalo umur lo udah 19-an kenapa lo masih di SMA tolol?” Hani sedikit meninggikan suranya.
“Nah kalo itu gue nggak mau cerita.” Aray sedikit memalingkan kepalanya karena ia sudah menduga kalau masa lalunya pasti akan terbawa-bawa. Dan Aray tidak pernah dan tidak akan pernah menceritakan masa lalunya kepada siapa pun kecuali orang yang memang sudah terlibat dengan masa lalunya.
“Yah yah pelit yah.” Hani pura-pura marah dan melipat tangannya didada.
“Emang gue mesti ceritain kehidupan gue sama lo?”
“Ya iyalah. Mesti!”
“Nggak lah. Emang lo siapanya gue?”
“Ya ampun kita kan temenan.”
“Nah nah. Emang sejak kapan kita temenan?” Kali ini Aray bertanya dengan nada sombongnya.
“Songong amat ni anak, mentang-mentang nggak pernah ngobrol di kelas jadi nganggep nggak temenan gitu?”
“Emang iya kan?” Aray menjawabnya dengan santai.
“Heh emang lo nggak punya temen?”
“Nggak.” Aray menatap lurus.
“Terus kita-kita ini lo anggep siapa lo? Musuh?” Hani kesal dengan Aray yang memberi kesan seolah-olah tidak membutuhkan teman.
“Nggak tau.” Lagi-lagi Aray menjawabnya dengan singkat dan masih menatap lurus.
“Bodo deh gue nggak peduli. Mau kita temenan ato musuhan juga pokoknya lo tetep harus cerita!” Hani tidak mempedulikan muka Aray yang sudah sangat kusut karena menanggapi Hani yang keras kepala.
•••
__ADS_1
Tbc
*Maaf ya buat chapter 5 nya ke hps, aku ups chapter 5 nya setelah chapter 7 atau 8... Maaf sekali lagi