
Dari pemakaman sampai ke rumah, Darel tidak henti-hentinya menangis. Darel mengurung diri di kamarnya. Ia tidak mau keluar. Tidak mau makan. Ia juga tidak ingin bertemu dengan Papahnya.
•••
Hari itu Darel sangat kacau sampai kamarnya menjadi acak-acakkan. Darel berpikir saat itu, apa dia masih bisa melanjutkan hidupnya? Saat orang yang paling ia sayang meninggalkannya. Saat itu Darel masih dalam usia yang labil.
Tiga hari Darel mengurung diri di kamarnya, tiga pula ia tidak makan apapun. Sampai akhirnya Papahnya Darel membuka pintu kamar Darel dengan kunci cadangan. “Darel! Makan dulu.” Suruh Papahnya Darel yang berada di depan pintu.
Darel menatap Papahnya dengan mata yang masih merah. Darel sangat benci dengan Papahnya.
“Sebentar lagi Papah akan menikah dengan perempuan yang waktu itu datang ke rumah. Mungkin kamu juga tau.” Ucap Papahnya Darel dengan santai.
Darel tersenyum sinis sekaligus miris. “Apa cuma itu yang mau Papah omongin setelah liat keadaan anak Papah kayak gini? Kalo dipikir-pikir, apa Papah yang sebajingan itu masih bisa Darel panggil dengan sebutan ‘Papah’?” Darel memalingkan wajahnya dan menatap jendela.
“Jangan lupa makan makanan kamu!” Papahnya Darel pergi dan mengunci pintu kamar Darel lagi.
Setelah Papahnya Darel pergi, dengan cepat Darel mengambil sebuah pisau yang ada di lacinya yang ia ambil dari dapur. Siapa tahu Darel ingin menyusul Mamahnya, dan waktu itu Darel berpikir seperti itu. Berpikir untuk mengakhiri hidupnya. mungkin rasa sakit ini yang Mamahnya rasakan sehingga berani untuk bunuh diri.
Darel memegang pisau itu dengan tangannya yang bergetar. Air matanya menetes lagi. Darel mengarahkan pisau itu ke urat nadinya. Tapi pisau itu berhenti di jarak satu cm dari pergelangan tangannya. Tangan Darel tidak bisa digerakkan. Justru tangannya semakin bergetar. Akhirnya karena Darel merasa jengkel, ia melempar pisau itu ke sembarang arah.
Satu bulan setelah kejadian itu, Papahnya Darel dan Mamahnya Aray menikah. Darel memilih untuk kabur saat acara pernikahan mereka berlangsung daripada harus melihat Papahnya bersama wanita lain yang sebentar lagi menjadi Ibu tirinya. Darel tidak bisa melihat mereka yang sedang tertawa, sedangkan Darel masih terbayang almarhum Mamahnya.
Mamahnya Aray mencoba untuk mengambil hati Darel dengan perhatian-perhatian kecil seperti seorang Ibu pada umumnya. Tapi Darel mengabaikan itu, karena dia bukan Mamahnya yang sayang dengan tulus kepadanya.
Waktu berjalan begitu cepat, sampai akhirnya Darel masuk ke SMA. Darel tidak menyangka jika ia akan satu angkatan bahkan satu kelas dengan anak dari wanita menyedihkan itu. Darel tidak pernah melupakan wajah itu. Darel sudah mendengar dari Papahnya, jika anak laki-laki itu adalah Kakaknya. Darel tidak akan pernah menerima persaudaraan itu.
•••
“Gue yang dulu emang lemah ya?” Darel tersenyum miris dan menatap Hani. Darel terkejut saat melihat Hani dengan air mata yang yang mengalir di pipinya.
“Kenapa lo nangis?” Tanya Darel.
“Hah?” Hani tidak menyadari kalau ia menangis sejak tadi. “Nggak tau.” Jawab Hani polos.
“Dasar aneh.” Darel tersenyum dan mengacak-acak rambut Hani.
“Kenapa lo baru cerita sekarang?” Tanya Hani dengan pandangan lurus.
“Ya itu. Karena gue nggak mau ada orang yang tau kalo dulu gue orang yang lemah, apalagi lo.”
“Gue ngerasa bukan temen yang baik buat lo tau nggak.” Hani menundukkan kepalanya.
“Yaelah, udah nggak usah dipikirin. Kan emang gue yang nggak mau cerita. Lo temen yang baik kok, Cuma satu yang nggak gue suka dari lo.”
“Apaan?” Hani langsung bertanya.
“Lo nolak gue.” Kata Darel frontal membuat Hani sedikit terkejut.
“Hah?” Hani pura-pura tidak tau maksud Darel.
“Nggak kok. Kayaknya lo emang nggak bakal ngerti, udah gede juga.” Darel tersenyum dan mengacak rambut Hani lagi. “Udah sana masuk! Nanti telat.” Lanjut Darel.
“Lo?”
“Gue ke toilet dulu.”
“Oke. Gue duluan ya.” Hani beranjak dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan Darel.
•••
Di dalam kelas, semua siswa ribut dengan temannya masing-masing karena Guru yang telat datang. Ada yang makan, belajar, bergosip membuat suasana di kelas sangat ramai namun hangat. Jangan kira jika guru telat seperti ini mereka akan belajar sendiri-sendiri. Justru mereka tidak beda jauh dengan kelas lain saat tidak guru. Maklum lah, mungkin siswa cerdas juga butuh bersantai.
“Woyy.” Bobby menghampiri Alexa dan duduk di dekatnya.
“Paan?” Alexa hanya fokus pada makanan yang sedang ia makan.
“Bagi dong makanannya!” Bobby tersenyum dan mengangkat-ngangkat alisnya.
“Nggak nggak ahh, nggak boleh.” Alexa membereskan makanan.
“Pelit amat sih, minta dong satu.”
“Ogah, beli sendiri dong.”
"Malesss, katin jauh.”
“Bomat.”
“Bagi dong Lex. Satu aja. Ya ya ya?” Bobby mengangkat satu jarinya dan memasang wajah memelas.
“Nggak mau.” Alexa menekankan perkataannya.
"Ya udah gue ambil aja.” Bobby mengambil paksa makanan Alexa dari kantong kresek dan kabur.
“Bob jangan yang itu.” Alexa mengejar Bobby yang membawa makanan kesukaannya. Alexa selalu memakan makanan kesukaannya itu di akhir, tapi sekarang Bobby malah membawanya.
“Biarin. Makanya jangan pelit dong.” Bobby menghindari tangan Alexa yang hendak merebut makanannya lagi.
“Iya iya deh, lo boleh minta tapi jangan makanan kesukaan gue dong.” Alexa masih terus mencoba mengambil makanannya.
“Ohhh jadi ini makanan kesukaan lo. Justru gue makin nggak mau balikin.” Bobby tertawa lalu kabur lagi.
Mereka terus berlarian kesana-kemari membuat sebagian orang sedikit risih karena berisik.
“OIII BOBBY, ALEXA... JANGAN PACARAN DI KELAS! KESIAN BANYAK YANG JONES.” Teriak Jeto yang sedang berkumpul dengan Vero dan Rio.
“Iya, kan lo jonesnya.” Kata Vero sambil tertawa.
“Lo juga jones kali.” Sahut Rio.
“Lo juga sama jones.” Vero tidak mau kalah.
“Udah... Udah... Udah... Intinya kita semua jones.” Jeto mengakhiri pembicaraan mereka.
Sedangkan Bobby dan Alexa masih terus berlarian. Alexa tidak rela jika makanan kesukaannya diambil oleh Bobby. Jika harus ke kantin, Alexa males. “Bob balikin dong Bob makanan gue! Gue cape banget nih.” Alexa berjongkok karena kakinya yang kelelahan.
“Gue nggak mau. Wlee. Gue buka ya.” Bobby meletakkan tangannya di ujung bungkus makanan Alexa.
“Yaahh jangan!” Alexa berdiri dan mengambil makanannya. Namun ia kalah cepat dengan Bobby yang baru saja menghindar.
__ADS_1
“Eits. Nggak bisa.” Bobby melangkah mundur.
“Hhhh... lo tuh kenapa sih Bob? Dari tadi gangguin gue mulu. Lo punya dendam sama gue?” Alexa sangat kesal dengan Bobby. Karena tidak hanya sekarang Bobby selalu mengganggunya, tapi tadi pagi dan kemarin-kemarin pun Bobby tidak henti-hentinya mengganggu Alexa.
“Nggak. Lucu aja liat ekspresi kesel lo. Bikin gue pengen lebih jailin lo.” Bobby menjulurkan lidahnya dan tertawa.
“Nggak sopan lo.”
“Biarin. Suka-suka gue.”
“Au ah... makan aja tuh, terserah lo.” Alexa berbalik dan kembali ke tempat duduknya.
Bobby yang melihat itu, mengikuti Alexa untuk menggodanya lagi. “Ngambek niyee.” Bobby mencolek-colek tangan Alexa.
Alexa menepis tangan Bobby.
“Yahh ngambek beneran.” Bobby sedikit tertawa dan terus mengikuti Alexa.
Hani yang baru saja tiba di kelas hanya menggeleng-geleng kepala melihat kedua temannya itu. Hani menghampiri Vero dan duduk di sebelahnya. “Si Bobby lagi PDKT?” Tanya Hani dengan mata yang masih melihat Bobby dan Alexa.
“Yoi.” Vero tersenyum dan mengangkat alisnya.
“Mereka cocok, yang satu ngeselin yang satu lagi pemarah.” Hani sedikit tertawa.
“Iya yah, Kok gue baru nyadar.” Vero ikut tertawa.
“Oh iya. Gue mau nanya sama lo.” Hani menatap Vero. “Tadi lo marahin Darel?” Tanya Hani to the point.
“Kapan?” Vero pura-pura pikun tapi sebenarnya ia tahu arah pembicaraan Hani.
“Pas di UKS.”
“Nggak kok.” Vero menyangkal.
“Nggak usah boong deh. Tenang gue udah tau semuanya kok.” Hani tersenyum.
Vero terkejut dan menegakkan posisi duduknya. “Lo udah tau semuanya?” Vero memelankan suaranya.
Hani mengangguk.
“Aray yang kasih tau?” Tanya Vero.
“Darel juga.”
“Darel juga?” Vero terkejut karena Hani sudah mengetahui semuanya dari kedua orangnya sekaligus.
“Iya.”
“Ohhh. Tadi gue emang agak marahin Darel. Karena dia emang salah.” Vero memilih untuk mengaku.
“Lo belum tau cerita dari Darel. Jadi lo nggak bisa marahin Darel dong.”
Vero mengerti. Sepertinya Aray belum mengatakan semuanya kepada Hani. “Jadi maksud lo Aray yang salah gitu?”
“Nggak juga. Menurut gue dua dua nya nggak ada yang salah.”
“Udah gue duga ternyata lo emang belum tau semuanya.” Vero tersenyum.
“Nggak! Lo belum tau. Jadi jangan belaga sok tau.” Kata Vero tegas.
Hani terkejut dengan perkataan yang dikeluarkan oleh orang yang terkenal dengan kecabeannya. “Emangnya apa yang belum gue tau?”
“Tunggu si Aray cerita aja.”
Hani bungkam seketika dengan perkataan Vero yang secara tidak langsung membuat lidahnya kelu dan tidak bisa berkata apapun.
•••
Sekarang bel pulang sudah berbunyi. Hari ini Gina tidak pulang dengan teman-temannya, ia memilih pulang sendiri karena ia juga membawa mobil sendiri. Tapi saat di parkiran Gina tiba-tiba berhenti karena melihat ada Darel dan Hani yang sedang mengobrol. Gina mendekati mereka agar ia bisa menguping pembicaraan Darel dan Hani. Gina bersembunyi di balik mobil orang lain dan sedikit berjongkok.
Darel berniat untuk mengajak Hani pulang berdua hari ini, tapi Hani menolaknya. “Kenapa nggak mau? Bareng aja, gue bawa helm dua kok.” Darel duduk di jok motornya dan Hani berdiri tepat di depannya.
“Gue nggak mau, gue naik bis aja.”
“Yahh kenapa?”
“Lagi pengen naik bis aja.” Hani tersenyum.
“Oke! Kali ini gue nyerah deh.” Darel menghembuskan nafas lembut.
“Sorry ya, hehe. Oh iya itu plester lo ganti dulu, takutnya nanti infeksi.” Hani menunjuk bibir Darel yang terbalut plester kecil.
“Hah?”
“Kebetulan tadi gue ke kantin, sekalian aja beliin plester buat lo. Nih.” Hani menyodorkan plester beruang yang ia bawa dari tas nya.
Darel tidak membawa plester itu dan hanya menatap sendu plester itu. ‘Kenapa?’ itu adalah pertanyaan yang sekarang ada di dalam otak cerdas Darel. Tapi secerdas-cerdasnya Darel, ia tetap tidak bisa menjawab pertanyaan itu lagi.
“Kenapa cuma diliatin doang. Nih ambil!” Hani menggoyangkan tangannya.
Darel masih terdiam dan tidak berniat untuk mengambil plester itu.
“Lambat banget sih.” Hani mengambil tangan Darel dan meletakkan plester itu di tangan Darel.
Namun dengan cepat Darel berdiri dan membuang plester itu. Ia menarik tangan Hani sehingga terjatuh ke dalam pelukannya. Darel memeluk Hani dengan satu tangan dan memejamkan matanya.
“Kenapa gue mesti liat adegan gini sih?” Batin Gina yang masih setia bersembunyi di balik mobil.
Hani sangat terkejut karena lagi-lagi Darel memeluknya di parkiran. Namun bedanya sekarang Hani tidak memberontak, ia membiarkan Darel memeluknya tapi ia juga tidak membalas pelukan Darel. Pikir Hani mungkin Darel sekarang sedang frustasi karena masalahnya dengan Aray dan Vero. Jadi Darel butuh tempat bersandar untuk menumpahkan semua kesedihannya.
“Kenapa?” Satu kata yang keluar dari mulut Darel membuat Hani bingung, kenapa Darel tiba-tiba bertanya sepeeti itu.
“Apanya?” Tanya Hani balik.
“Gue nggak ngerti sama jalan pikiran lo.”
Hani semakin bingung dengan perkataan Darel. “Lo kenapa?”
“Kenapa lo lambat banget sih sama masalah cinta?”
__ADS_1
“Maksud lo?” Hani tidak menduga kalau ini yang sedang Darel pikirkan.
Darel melepaskan pelukannya dan menatap Hani. “Kenapa lo masih perhatian sama gue? Kenapa lo baik banget sama gue? Tapi kenapa lo nolak gue juga?”
“Emang salah ya kalo gue perhatian sama sahabat gue sendiri?”
“Salah. Kalo sekarang lo tambah baik sama gue, lo malah bikin gue makin susah buat move on dari lo.”
Hani terdiam dengan sikap jujur Darel. Selama ini ia tidak tahu jika ternyata Darel masih berusaha move on darinya. “Trus gue harus gimana sama lo? Benci?” tanya Hani.
“Gue juga nggak tau. Gue bingung sama diri gue sendiri. Gue labil.” Darel mengacak-ngacak rambutnya frustasi.
“Gue nggak tau gue mesti ngomong apa sekarang.” Hani kehabisan kata-katanya.
“Ngomong ‘Ya’ kalo gue tanya ‘Lo mau jadi pacar gue ato nggak’.”
“Apa cuma itu yang ada di pikiran lo?”
“Iya. Lo cewek pertama yang bikin gue kayak bukan diri gue lagi.” Darel menatap sendu Hani.
“Lo nggak bisa berhenti buat sayang sama gue?...”
“Nggak.” Jawab Darel dengan cepat.
“Karena gue nggak bisa sayang lebih dari temen sama lo.” Lanjut Hani.
“Darel ternyata nggak kapok-kapok ya.” Batin Gina.
Seketika rasa sakit di dada Darel kembali lagi setelah ia mendengar jawaban Hani yang sama seperti kemarin. Hani memang beda untuknya. Hani adalah perempuan yang istimewa baginya, dan yang istimewa memang sangat sulit untuk didapatkan.
“Kenapa?” Ucapan itu lagi yang keluar dari mulut Darel.
“Gue nggak tau. Tapi yang jelas gue udah muak sama kata sayang.” Hani tersenyum kecut.
“Lo nggak bisa percaya sama kata sayang lagi?”
Hani mengangguk. “Karena ujung-ujungnya rasa sayang itu pasti bakal ilang, dan bikin sakit. Gue nggak mau ngalamin lagi.”
“Lo nggak percaya sama gue?”
“Bukan kayak gitu. Gue cuma nggak mau rasa sayang lo sia-sia cuma buat orang yang benci sama itu.”
Kini Darel yang dibuat bungkam oleh Hani. Darel tidak tau jika sebenci itu Hani terhadap perasaan sayang. “Gue bakal nunggu lo.” Kata itu lah yang diucapkan Darel setelah lama berpikir.
“Lo pasti bakal bosen.” Hani tersenyum meledek.
“Siapa bilang? Gue bukan orang yang suka main-main kayak yang lainnya.” Darel seperti tertantang saat melihat tatapan Hani yang tidak mau kalah.
“Kita liat aja, lo pasti nggak beda jauh dari Rendi.”
“Sorry gue bukan tipe cowok yang suka mainin cewek.”
“Oke.”
“Ya udah cepet naik. Balik sama gue aja.” Darel mengambil helm cadangannya dan menyerahkannya ke Hani.
“Sekali nggak mau, tetep nggak mau.” Hani hendak berbalik, tapi...
“Tunggu!” teriak seseorang yang tidak jauh dari mereka. Gina.
“Gina lo ngapain di sana?” Tanya Hani yang terkejut melihat Gina yang sepertinya sudah lama di sana.
“Lo nguping?” Tanya Darel.
“Nggak. Cuma kedengeran doang.” Gina menghampiri Darel dan Hani. “Maaf ya Rel. Bisa pinjem gebetannya bentar nggak?” Gina melirik Hani dengan ujung matanya.
“Nggak bisa. Dia mau pulang.” Darel menarik tangan Hani.
Hani melepaskan tangan Darel dari tangannya. “Lo duluan aja. Siapa juga yang mau bareng sama lo.” Mungkin ini salah satu alasan Hani untuk tidak pulang dengan Darel, dan menghindari kemarahan Mamahnya.
“Tuh kan bisa. Seharusnya lo contoh gebetan lo yang baik ini.” Gina menepuk bahu Hani dengan senyuman yang terkesan tidak ikhlas.
“Ganggu aja lo.” Darel menatap tajam Gina. “Hati-hati ya.” Ucap Darel ke Hani lalu memakai helmnya dan menghidupkan motornya sebelum ia melesat pergi dari lingkungan sekolah.
“Mau apa?” Tanya Hani langsung.
“Lagi pengen ngomong berdua aja sama mantan sahabat gue ini.” Gina tersenyum lagi.
“Udah nggak usah basa-basi, lo mau ngomong tentang Darel?” Tanya Hani yang sudah tau jika setiap bertemu dengan Gina ia pasti akan melarangnya dekat dengan Darel.
“Makin pinter aja lo, nggak salah jadi peringkat dua.” Gina tersenyum meledek.
“Mau ngomong apa lagi?” Hani sedang tidak mood untuk diajak basa-basi.
“Gue mau ngomong, kalo nggak suka sama Darel nggak usah dideketin.” Jawab Gina.
“Gue nggak deketin dia. Gue bersikap seadanya kayak dulu.” Hani menyangkal.
“Iya. Tapi lo yang dulu tuh perhatian sama Darel.”
“Trus lo nyuruh gue buat jauhin Darel gitu? Biar sekalian lo bisa dapetin dia?”
“Ya bisa dibilang kayak gitu. Tapi ini juga buat kebaikannya Darel kok, karena semakin lo perhatian sama dia, semakin dia kesiksa sama perasaannya sendiri.”
Hani terdiam karena sebagian dari apa yang Gina bicarakan benar. Mungkin Darel kesulitan untuk move on darinya jika Hani sendiri seperti terus memberikan harapan kepada Darel. Tapi kenapa di sini seperti Hani yang bersalah, padahal dia ingin menyelesaikan semuanya secara baik-baik.
“Lo nggak bisa ngomong kan? Makanya mending Darel buat gue aja. Lo lepasin dia seutuhnya.” Kata Gina sambil duduk di depan mobil orang lain.
Hani tersenyum miring saat mendengar perkataan Gina. “Gue nggak bakal jauhin Darel, bagaimanapun juga dia sahabat gue. Kalo mau dapetin Darel usaha sendiri dong!”
“Lo mau nyiksa Darel terus-terusan?” Tanya Gina yang mulai tersulut emosi.
“Nggak kok, karena gue percaya perasaan Darel sama gue nggak bakal tahan lama, nanti juga ilang.” Hani menjawabnya dengan santai.
“Lo bener-bener berubah ya sejak lo putus dari Rendi. Emangnya Rendi berpengaruh banget sama lo?”
“Kenapa jadi bawa-bawa Rendi, ini nggak ada hubungannya sama dia.”
“Lo nggak nyadar banget ya. Sejak lo putus cinta, lo berubah drastis. Darel yang selama ini suka sama lo nggak lo lirik dan lo malah deket sama Aray.” Gina menatap Hani dengan tatapan penuh emosi.
__ADS_1
•••
Tbc...