
“Bodo deh gue nggak peduli. Mau kita temenan ato musuhan juga pokoknya lo tetep harus cerita!” Hani tidak mempedulikan muka Aray yang sudah sangat kusut karena menanggapi Hani yang keras kepala.
•••
“Ogah ah, lagi males nyerita gue.” Aray berdiri dan hendak pergi.
Namun tangan Hani menahannya. Hani menarik tangan Aray membuat Aray berjongkok kembali. “Tunggu dulu!”
“Mau apa lagi sih?” Aray menatap Hani dengan malas.
“Lo mau kemana?”
“Kelas. Tidur.”
“Jawab dulu pertanyaan gue!”
“Nggak! Lagian cuma buang-buang tenaga sama waktu doang nggak ada untungnya juga gue nyerita. Mending gue tidur.” Aray berdiri lagi.
Hani dengan cepat menarik tangan Aray lagi. “Gue nggak mau tau pokoknya jawab dulu!” Hani tidak pernah sekali pun sepenasaran ini dengan kehidupan orang lain. Tapi entah kenapa Hani tertarik dengan kehidupan Aray.
“Lo bisa diem nggak sih gue punya alasan sendiri buat nggak cerita.” Aray memalingkan wajahnya lagi.
“Kenapa?”
“Rahasia lah.”
“Jawab dulu pertanyaan gue yang tadi!” Hani mengerucutkan bibirnya dengan mata memelas.
Ini sungguh bukan sifat Hani. Benar-benar kemana Hani yang super duper cuek. Tidak tau kenapa Hani sangat tertarik dengan masa lalu Aray. Padahal ia tidak pernah akrab dengan Aray.
“Ya udah oke gue nyerah gue bakal cerita.” Aray menyerah karena percuma saja jika ia mengelak. Aray mendudukkan dirinya kembali.
“Jadi intinya gue pernah nggak naik kelas.” Aray benar-benar tidak ingin menceritakan ini terlebih terhadap Hani yang tidak tahu apa-apa tentang dirinya.
“Kenapa bisa nggak naik kelas?” Hani kini menyimak perkataan Aray, tidak seperti tadi.
“Tuh kan udah gue duga. Kalo gue ceritain, pasti lo bakal banyak nanya. Udah ah ogah gue nyeritanya.” Aray berdiri dan kali ini Hani tidak menahan tangan Aray.
“Tadi katanya lo bakal cerita.” Hani juga ikut berdiri karena ia cukup lelah terus-teruan duduk.
“Tapi kan nggak semuanya.” Aray tertawa menang.
“Nggak adil banget sih.”
“Lagian lo kenapa sih urusin idup orang. Apalagi idup gue. Mending jangan deh! Idup gue udah rusak.” Aray tersenyum tulus tapi di dalam senyumannya itu Hani tidak melihat ketulusan tapi senyuman palsu.
Hani juga ikut tersenyum. “Gue ngerti kok.” Hani menyadari bahwa kehidupan Aray juga tidak mulus. Hani menyadari bahwa Aray mempunyai masalah yang lebih berat darinya. Itulah kenapa mungkin Aray tidak terlalu suka berkumpul dengan teman-temannya di kelas. Mungkin alasannya juga sama seperti Hani.
“Gue tau kok lo punya masalah dan semoga lo bisa ngelewatin semua masalah lo.” Lanjut Hani.
Aray sedikit terkejut dengan perkataan Hani, namun ia berusaha untuk menutupinya. “Dih siapa yang punya masalah?” Hani tau kalau perkataan Aray bohong. “Tapi thanks ya lo udah care sama gue.” Aray mengacak-acak rambut Hani sambil sedikit tertawa.
Hani tidak menyangka kalau Aray si pembuat onar ini ternyata bisa bersikap lembut juga. Atau mungkin karena pengaruh umurnya yang memang lebih dewasa dari Hani.
“Gue cabut dulu.” Aray berbalik. Namun baru beberapa langkah ia berbalik lagi sambil melihat jam tangannya. “Oh iya, lo nggak mau ikut pelajaran olahraga? Udah terlambat 15 menit lho.” Aray tertawa karena ia terlalu asik mengobrol dengan Hani sampai lupa waktu.
Hani refleks langsung melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul 8:15. “YA AMPUN! KENAPA LO NGGAK BILANG DARI TADI TOLOL!” Hani berteriak dan langsung berlari melewati Aray.
“EHH HAN SIAPA SURUH TADI LO NARIK-NARIK GUE?” Teriak Aray tidak kalah keras dan menujuk-nujuk punggung Hani yang lama-kelamaan menghilang.
Aray tertawa. “Gila emang, lo kenapa sih Ray?” Aray bertanya sendiri sambil mengacak-acak rambutnya asal lalu ikut berlari karena ia takut dihukum oleh Pak Doni, Guru olahraganya yang galak.
•••
Hani benar-benar terlambat setelah melihat keadaan kelasnya yang kosong, menandakan bahwa pelajaran olahraga sudah dimulai sejak tadi. Hani bergegas mengambil baju olahraganya dan pergi ke ruang ganti perempuan.
Setelah selesai berganti pakaian Hani langsung pergi secepat mungkin menuju lapangan. Hani melihat teman-temannya yang sudah mulai olahraga. Basket. Dan itu lah materi olahraga hari ini. Salah satu olahraga yang tidak pernah Hani sukai sejak SMP.
Bukan karena Hani malas atau apapun. Masalahnya Hani tidak pernah bisa dengan satu jenis olahraga ini. Entah mengapa sekeras apapun Hani bermain basket tetap saja ia tidak bisa memasukkan bola satu pun. Bahkan mantan pacar Hani waktu SMP juga sering mengajari Hani bermain basket. Tapi Hani tetap tidak bisa melakukannya.
Pada akhirnya Hani hanya bisa pasrah karena nilai olahraganya di rapor adalah paling kecil. Hani menyerah untuk bermain basket, ia sangat tidak suka dengan pelajaran basket.
Hani sampai di lapang, dan langsung menghadap langsung ke Pak Doni guru olahraganya.
“Maaf Pak... Saya tadi mengosongkan tempat sampah dulu...” Kata Hani dengan nafas yang masih terengah-engah.
“Saya tidak butuh alasan kamu Hani. Intinya kamu sudah terlambat 20 menit.” Kata Pak Doni sambil melihat jam yang ada ditangan kirinya.
“Tapi Pak saya tidak bohong, tadi saya memang piket.”
__ADS_1
“Memangnya mengosongkan tempat sampah bisa menghabiskan waktu 20 menit. Saya tidak percaya sama kamu.”
“Maaf Pak.” Darel yang sejak tadi memperhatikan Hani yang sedang dimarahi oleh Pak Doni akhirnya angkat suara. “Tadi Hani memang piket dan mengosongkan tempat sampah, saya melihatnya sendiri.”
“Tapi seharusnya Hani melakukan piketnya pagi tadi bukan sekarang. Kalau sekarang akan mengganggu jam pelajaran saya.” Pak Doni tidak mau kalah berbicara dari kedua muridnya ini. Pak Doni memang seorang guru yang keras kepala dan galak. Tidak sedikit siswa siswi di sekolah takut kepadanya.
Darel tidak bisa membela Hani lagi karena hanya dengan satu jawaban dari gurunya itu membuat Darel kehabisan kata-kata. Darel juga berpikir sama seperti Pak Doni. Untuk apa Hani berlama-lama di TPA?
“Maaf Pak.” Hani pasrah karena ini memang salahnya.
“Ini bukan salah Hani Pak, tapi salah saya.” Seseorang berteriak dari tengah lapang menghampiri mereka dengan pakaian olahraga lengkap. Aray.
“Aray? Tumben kamu ikut pelajaran saya, ada angin apa?” Tanya Pak Doni, karena Aray sering absen dipelajaran olahraga. Alasannya hanya satu. Aray lebih memilih tidur di atap sekolah dari pada olahraga.
“Saya kangen hukuman Bapak.” Aray tersenyum manis. “Tapi keterlambatan Hani bukan salah dia Pak tapi salah saya yang terlalu lama menanyakan PR Bahasa Inggris saat Hani sedang beres-beres kelas. Jadi saya mohon kepada Bapak untuk tidak menghukumnya.” Aray memohon dengan sopan. Tentunya yang dikatakan Aray adalah kebohongan. Aray juga bingung kenapa ia mengorbankan jam tidurnya hanya untuk menyelamatkan Hani dari hukuman Pak Doni, dan tentunya ia juga akan dapat hukuman yang lebih berat.
“Ohhh.” Gumam Darel didalam hatinya.
“Ya sudah, karena waktu saya sudah terkuras, jadi saya ringankan hukuman Hani. Jalan bebek satu putaran lapangan ini. Tapi kamu juga saya hukum Aray karena kamu juga terlambat. Hukuman kamu jalan bebek tiga putaran.”
Hani bernafas lega, karena hukumannya yang terbilang cukup ringan.
“Lah Pak kenapa saya tiga putaran, Hani cuma satu putaran?” Aray protes karena ketidakadilan Pak Doni. Padahal dia sudah membantu Hani dengan keterangannya tapi malah ia yang terkena hukuman berat. Dari awal Aray memang sudah menyangka akan seperti ini.
“Karena kamu sudah telambat 25 menit dan membuat siswa lain terlambat.”
“Yahhh Pak nggak adil banget.”
“Cepat lakukan saja! Atau mau saya tambah?”
“Ogah.” Jawab Aray dengan tidak sopan dan langsung berjongkok untuk menjalankan hukumannya diikuti dengan Hani yang ada di belakangnya.
“Anak-anak semuanya berkumpul di sini!” Perintah Pak Doni dan langsung dituruti oleh siswa disana.
Sedangkan Aray dan Hani sedang kelelahan karena hukuman yang diberkan Pak Doni. Terlebih ukuran lapangan yang cukup luas membuat mereka mengeluarkan keringat padahal baru setengah putaran.
“Makasih ya.” Hani membuka perbincangan dari belakang Aray.
“Buat?” Tanya Aray datar.
“Makasih karena lo udah bela gue.” Jawab Hani dengan suara pelan, tapi Aray masih bisa mendengar sura Hani.
Hani hanya tersenyum kecil karena kebohongan Aray.
Aray berhenti dari kegiatannya dan berbalik menatap Hani. Hani juga menatap Aray yang tiba-tiba berhenti dengan tatapan heran.
“Kenapa berenti?” Tanya Hani yang juga ikut berhenti.
“Gue capek tau nggak?” Jawab Aray dengan muka lelah dan keringat yang sedikit keluar dari pelipisnya.
“Ya elah baru juga setengah jalan.” Hani tertawa meremehkan Aray.
“Ya lo enak cuma satu puteran, nah gue tiga puteran mana lapangannya juga gede, panas lagi.” Kata Aray semakin mengeluh.
“Nikmatin aja itung-itung kurusin badan.” Hani sedikit tertawa karena penyataannya yang ngasal.
“Kurusin-kurusin pala lo peyang. Gue udah kecil kek gini dibilang kurusin lagi. Emang lo mau gue jadi sekecil apa?” Aray mengubah ekspresinya menjadi kesal dan mendudukkan dirinya di lapang karena kakinya yang pegal.
Hani tertawa karena sikap konyol Aray.
“Yeuu malah ketawa lagi.” Aray semakin kesal karena Hani yang selalu menganggap perkataannya itu adalah sebuah lelucon.
“Muka lo sumpah kocak banget. Gue cuma bercanda kali. Baperan amat sih.” Hani masih sedikit tertawa.
Aray tidak mempedulikan Hani yang sedang tertawa. Ia melanjutkan hukumannya lagi.
“Oyy tungguin, jangan marah dong kan cuma bercanda.” Hani menyusul Aray yang sudah mendahuluinya.
Aray tetap tidak peduli dengan Hani. Intinya ia benar-benar kesal dengan Hani yang menurutnya tidak bisa bersikap serius.
“Hani! Aray! Ke sini kalian berdua!” Teriak Pak Doni dari ujung lapang yang cukup jauh dari posisi Hani dan Aray.
Aray yang mendengar teriakan Pak Doni langsung berdiri dan berlari diikuti dengan Hani dibelakangnya.
“Ada apa Pak?” Tanya Hani yang sudah berada dihadapan Pak Doni.
“Hukuman kalian sudah saja, dan sekarang giliran kalian untuk tes basket.” Kata Pak Doni sambil menunjuk bola yang ada dilapangan dengan dagunya.
“Yahhh Pak masa langsung tes sih.” Protes Hani karena ia belum bisa memasukkan bola ke ring.
__ADS_1
Sebagian siswa sudah dites sejak tadi dan sekarang giliran mereka berdua. Pak Doni tidak mau ada yang tes susulan jadi ia menghentikan hukuman Aray dan Hani agar bisa mengikuti tes nya.
Semua siswa berada dipinggir lapang termasuk Darel yang sedang menonton setiap murid yang melakukan tes.
“Ya itu sih terserah kamu, kalau kamu nggak mau nilai saya nggak maksa.” Jawa Pak Doni dengan muka datarnya.
“Biar saya saja Pak yang mulai duluan.” Aray yang sejak tadi diam langsung mengambil bola yang ada di tengah lapang. Ia berposisi siap untuk melempar hanya tinggal menunggu aba-aba dari Pak Doni.
Hani yang melihat Aray maju terlebih dahulu memilih untuk pergi dari tengah lapang menuju teman-temannya.
“Peraturaanya adalah masukkan bola sebanyak mungkin dalam waktu dua menit.” Ucap Pak Doni dari pinggir lapang dan hanya dibalas anggukan oleh Aray.
“1... 2... Pritttt...”
Setelah mendengar suara peluit Pak Doni, dengan cepat Aray langsung menggiring bola dan memasukkanya ke dalam ring.
Percobaaan pertama memang gagal karena Aray belum berlatih sama sekali. Percobaan kedua masih gagal. Tapi, percobaan ketiga dan seterusnya ia berhasil. Walaupun postur tubuh Aray yang kecil dan tidak memungkinkan ia untuk bisa memasukkan bola. Namun nyatanya salah, Aray terus menerus memasukkan bola tersebut ke dalam ring. Bahkan ia berlari dengan cepat untuk mengambil bola lain seperti pemain yang sudah handal.
Meskipun Aray sudah jarang bermain basket, tapi ia tetap tidak pernah melupakan teknik dasar permainannya. Ia sangat lincah saat memasukkan bola ke ring.
“Prittttt.” Suara peluit Pak Doni menandakan bahwa waktu telah habis langsung menghentikan Aray yang hendak berlari mengambil bola lagi.
Aray berhasil memasukkan 15 bola dalam waktu 2 menit. Itu adalah kemampuan yang luar biasa bagi Hani yang tidak bisa bermain basket. Bahkan Hani tidak menyangka bahwa Aray ternyata jago bermain basket. Sedangkan Darel berhasil memasukkan 17 bola dalam waktu 2 menit.
Darel juga sempat terkejut ketika menghitung score Aray yang beda tipis dengannya.
“Yess!” teriak Aray didalam hatinya karena ternyata bakat pemainan basketnya masih belum hilang.
“Ternyata kamu bagus juga Aray.” Puji Pak Doni ketika Aray berjalan melewatinya dan Aray hanya tersenyum.
“Sekarang giliran kamu Hani!” Ucap Pak Doni sambil melihat ke Hani yang masih duduk dengan Alexa, Vivi dan Vanesha.
“Gimana nih? Lo semua kan juga tau kalo gue nggak bisa maen basket.” Kata Hani sambil melirik ketiga sahabatnya itu.
“Nggak papa nyoba aja dulu.” Alexa menyemangati Hani.
“Gue juga nggak bisa kok.” Tambah Vanesha yang ada di sebelah Hani.
“Bener tuh. Gue juga bisa, padahal tubuh gue pendek gini.” Berbeda dengan yang lain Vivi malah menyombongkan dirinya.
“Ya elah cuma masuk 5 bola aja bangga.” Alexa menoyor kepala Vivi.
“Lo juga cuma masuk 6 bola doang bego.” Vivi juga menoyor kepala Alexa tidak kalah keras.
“Hani cepet tes nya.” Teraik Pak Doni membuat Hani terkejut dan terpaksa melakukan tes yang tidak penah ia sukai ini hanya demi nilainya yang semakin kesini semakin jelek.
“Lo pasti bisa Han.” Vanesha menyemangati Hani dengan suara pelan saat Hani berdiri dan hanya dibalas senyuman oleh Hani.
Hani memposisikan dirinya di posisi siap untuk mendrible bola dan...
Pritttt...
Peluit Pak Doni berbunyi menandakan kalau hitungan mundur 2 menit sudah dimulai. Cobaan pertama gagal. Kedua gagal. Dan selanjutnya pun tetap gagal.
“Ayo dong Han lo pasti bisa!” Guman Darel dalam hatinya.
“Masa lo nggak bisa sih?” Gumam Aray.
Hani tidak tau kenapa ia sangat tidak bisa dengan olahraga yang satu ini. Padahal hanya tinggal memasukkan bola ke dalam ring saja. Tapi susahnya minta ampun. Hani lebih baik mengerjakan soal matematika sebanyak 30 soal dari pada harus tes basket.
Dari dulu sampe sekarang nilai olahraga Hani tidak pernah masuk dalam kata baik. Itu karena satu jenis olahraga ini. Hani ingin berlatih tapi ia terlalu malas untuk berlatih dan Hani juga mempunyai banyak tugas sekolah yang harus ia kerjakan. Terlebih sekarang ia sudah menginjak kelas 3. Hani tidak boleh leha-leha lagi, ia harus serius umtuk menghadapi ujian yang sebentar lagi datang.
Nilai olahraga juga adalah salah satu penyebab Hani selalu dimarahi oleh Mamahnya. Mamahnya benar-benar ingin Hani memiliki nilai yang sempurna dalam semua mata pelajaran di sekolah. Itulah kenapa Mamahnya Hani melarang Hani bermain dengan teman-temannya bahkan hanya untuk sekedar berkumpul. Hani selalu dituntut harus begadang setiap malam untuk belajar. Tapi sayangnya Hani hanya manusia biasa yang bisa sakit. Ya. Selama ini Hani tertekan dengan sifat Mamahnya yang seperti itu.
Belajar. Belajar. Belajar. Hani muak dengan kata itu. Terkadang Hani merasa bosan dengan belajar. Hani ingin menghapus kata terkutuk itu dari kehidupannya. Tapi sepertinya kata itu tidak akan pernah terhapus sampai kapan pun.
•••
Tbc
*Maaf banget karena chapter 5 nya nyempil disini. Asli aku tuh lagi pusing gara gara apk mangatoon nya eror ehh malah ke hapus, untung cuma satu chapter yang ke hapus nya.
Oh iya buat kalian yang suka sama cerita aku vote ya please coment juga ramein.
Aku tuh bener bener butuh vote + coment dari kalian. Aku berterima kasih banget buat kalian yg udh vote udh stay di cerita aku sampe sekarang, walaupun yah cerita nya masih banyak kekurangan. Mungkin salah aku nya yang nggak bener pas nge revisi wk
Ywdh intinya jgn lupa vote + coment oke
Aku sayang kalian:*
__ADS_1