
“Baik. Kalo lo gimana Gin? Atau bisa gue sebut PHO?” Hani tertawa sinis.
“Lo masih inget?” Gina tersenyum manis yang membuat Hani pengen muntah di tempat.
Gina. Kelas 12 IPS 1. Cantik banget, baik kalo ada maunya, banyak cowok yang suka sama dia, setiap hari lokernya pasti penuh sama surat cinta dan hadiah dari para fans nya. Gina adalah sahabat Hani waktu SMP, tapi persahabatan mereka putus gara-gara Gina merebut pacar Hani waktu Kelas 1 SMA.
Waktu itu Hani ingin memberitahukan sesuatu kepada pacarnya, yaitu Rendi dan mengajak Rendi bertemu. Waktu itu hubungan mereka sudah 5 bulan. Setelah sampai di tempat tujuan, Hani mencari-cari Rendi dan ia menemukannya. Namun Rendi tidak sendiri ia bersama seorang perempuan, dan perempuan itu adalah Gina. Sahabat dekatnya saat itu.
Hani sangat terkejut saat melihat mereka berdua melakukan sesuatu yang membuat mata Hani berair dan dadanya sesak seketika. Kaki Hani saat itu lemas dan tidak bisa bergerak sama sekali. Namun Hani berusaha untuk berlari dari tempat itu dengan sekuat tenaga. Air mata Hani sudah membasahi kedua pipinya, sesekali ia menghapusnya dengar kasar. Hani menutup mulutnya dengan satu tangan agar suara isakannya tidak terlalu terdengar. Hani terus berlari dengan menunduk, ia tidak peduli dengan orang-orang yang menatapnya dengan tatapan bingung.
Dari hari itu Hani tidak pernah berhubungan dengan Gina maupun Rendi. Bahkan Rendi sudah menelepon Hani puluhan kali dan mengirim pesan ratusan kali, tapi Hani tidak menggubrisnya sama sekali. Sampai suatu hari Hani membalas pesan Rendi dengan dua kata yang membuat Rendi berpikir lebih baik Hani tidak usah membalas pesannya jika pesannya berisi “kita putus”.
Rendi mencoba bertanya kenapa Hani yang memutuskannya tanpa alasan. Memang bagi Rendi ia diputuskan tanpa alasan, tapi bagi Hani semua alasannya sudah tidak perlu dibicarakan.
“Ya iya lah, masa gue lupa sama tingkah busuk lo yang bisanya cuma main di belakang.” Hani berdiri menatap Gina.
“Yaelah Han nggak usah serius gitu dong, waktu itu gue cuma main-main aja kali.” Gina berbicara dengan nada santai dan tak bersalah.
“Itu karena lo nggak ngerasain apa yang gue rasain, kalo aja lo ada diposisi gue mungkin lo udah mati kali gara-gara stres.” Hani mati-matian menahan emosinya agar tidak pecah.
“Ya ampun Han, ini tuh cuma masalah sepele doang, kalo lo nggak terima ya lo pacaran aja lagi sama Rendi. Gue juga udah putus kok sama dia. Atau mau gue bantuin buat dapetin dia lagi?” Gina memasang wajah so iba, tapi dalam hati ia tertawa melihat mantan sahabatnya ini menahan marah karena ulahnya.
Hani tersenyum tipis sebelum ia berbicara. “Sorry, gue nggak mau sama cowok **** bekas cewek kegatelan kayak lo. Mending lo balikan aja lagi, soalnya cocok sama sama tolol. Oh ya, masalah gue waktu itu bukan cuma itu doang.” Hani menekankan kata ‘bukan’ nya. “Ya kali gue nyampe stres cuma gara-gara cowok.” Hani tertawa hambar.
Gina masih berusaha senyum dan tidak marah karena perkataan Hani agar sifat aslinya tidak keluar. “Yah padahal gue udah putusin Rendi buat lo, tapi lo nya malah nggak mau. Nggak papa deh lagian gue juga udah punya pacar baru yang pastinya lebih sempurna dari Rendi.”
“Tapi gue nggak peduli tuh.”
“Lo perlu tau. Mungkin aja lo bakal iri karena gue udah ada yang baru sedangkan lo belum.” Gina tertawa menang.
“Sayangnya gue udah nggak tertarik sama yang namanya pacaran, sekalipun ada cowok keren yang nembak gue, gue nggak bakal terima.”
Gina tertawa sinis. “Sombong banget lo jadi cewek, lo kira lo cantik? Lo sempurna? Tampang dingin aja so so an bakal ada yang mau.” Gina mulai kehabisan kesabarannya.
“Siapa yang bilang gue harus sempurna buat dapetin cowok? Gue emang dingin, tapi seenggaknya gue nggak pake tampang so polos buat ditembak sama cowok. Murah amat!” Hani benar-benar bahagia dalam hatinya karena sebuah perasaan yang timbul saat ia menang dari Gina. Tapi Hani memperlihatkan itu hanya dengan senyum tipisnya.
“MAKSUD LO APA?” Gina membentak Hani, untung saja penjaga perpustakaannya sedang keluar. “Lo nyindir gue?”
“Bagus deh kalo lo peka, jadi gue nggak perlu jelasin.” Hani masih tersenyum tipis.
Pertengkaran mereka terhenti karena ada tiga orang perempuan yang menghampiri mereka. Itu adalah Gea, Sharla dan Kesya, teman-teman Gina yang sejak tadi sudah ada di sana. Mereka memang berniat untuk mencari buku, namun Gina melihat Hani jadi ia meninggalkan teman-temannya yang sedang fokus mencari buku.
“Ada apa Gin?” Tanya Gea yang langsung berada di samping Gina.
Gina tiba-tiba merubah ekspresinya menjadi ekspresi takut.
“Gue sih niatnya cuma pengen nyapa temen gue, tapi dia nya malah marah-marah nggak jelas.”
Hani tersenyum miring karena mantan sahabatnya ini sudah punya keahlian baru yaitu bermuka dua.
“Lo Hani kan?” Tanya Sharla.
__ADS_1
“Iya.”
“Oh jadi ini cewek yang sering lo ceritain ke kita Gin?” Gea tertawa memandang Hani, padahal tidak ada yang lucu.
“Yang katanya rebut pacar lo waktu Kelas 1 kan?” Kesya menambahkan.
Gina sering cerita tentang Hani kepada teman-temanya itu. Tentang gimana buruknya Hani. Bahkan Gina sampai berpura-pura menangis saat bercerita tentang Hani yang tentunya hanyalah kebohongan. Itu semua Gina lakukan agar ia mendapat simpati dari teman-temannya.
“Apa? Rebut? Nggak kebalik tuh? Gin mending lo stop deh jadi cewek kayak gini. Nggak ada gunanya tau nggak. Lo semua juga, mau aja dibohongin sama Gina yang cuma modal tampang polos doang tapi dalemnya busuk!” Hani mulai geram kembali. Ia tidak menyangka kalau Gina benar-benar berbeda dari Gina teman SMP nya.
“Bahasa lo boleh juga ternyata.” Kata Sharla maju selangkah.
“Jangan pernah sekali-sekali lo nyakitin Gina, dia sahabat gue. Apa belum cukup lo buat sedih sahabat gue dengan cara lo ambil pacarnya? Dasar liar!” Bentak Gea yang kelihatan sangat akrab dengan Gina.
“Sahabat? Lo udah kenal Gina berapa lama? Baru kenal kemarin aja udah ngomong sahabat. Nggak usah ngaku sahabat kalo belum tau sifat aslinya. Nggak usah ngaku sahabat kalo cuma dimanfaatin doang. Nggak usah ngaku sahabat kalo ujung-ujungnya lo semua bakal dikhianati.” Tandas Hani.
“Emang dulu lo udah jadi sahabat yang baik buat Gina? Ngaca dulu sebelum nuduh orang.” Lagi-lagi Gea yang menjawab. Hani heran kenapa disaat ada teman-temannya Gina justru diam seribu bahasa.
Hani menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. “Bingung gue ngomongnya. Kalaupun gue ngomong lo semua juga nggak bakal percaya.” Hani mulai malas melayani sandiwara yang dibuat oleh Gina.
“Gini nih emang, kalo udah punya temen baru pasti punya geng baru juga. Cuma mau ingetin aja, kalo punya geng jangan main keroyokan.” Lanjut Hani sambil mendekat ke Gina dan memegang bahunya.
“Maksud lo?” Gina menurunkan tangan Hani dengan pelan dari bahunya. Hani yang melihat itu benar-benar ingin menjambak rambut Gina sampai botak sekalian.
“Biasanya sih kalo di film-film geng kayak lo semua tuh bisanya cuma main keroyokan. Tapi gue yakin kok, lo nggak sehina itu Gin.” Hani berniat untuk pergi namun dengan cepat tangannya ditarik oleh Kesya yang menariknya ke posisi awal.
“Eits lo mau kemana? Urusan kita belum selesai!” Kata Kesya yang masih memegang tangan Hani.
Aray yang sedang tidur merasa terganggu dengan ocehan mereka semua. Tapi sebenarnya dari tadi ia tidak tidur dan asyik mendengarkan pertengkaran Hani dan yang lainnya. Aray berniat untuk membantu Hani, namun niatnya terhenti karena ia mendengar suara laki-laki yang sangat ia kenal.
Aray tersenyum miring mendengar perkataan Darel.
“Darel?” Gina sangat terkejut karena ia kepergok oleh Darel. Darel sejak tadi menguping setengah percakapan mereka di luar.
Darel berniat membawakan minuman untuk Hani karena ia tahu bahwa Hani sedang dihukum.
Gina menutupi keterkejutannya. “Oh iya kenalin Han, pacar baru gue. Pasti kenal dong kalian kan sekelas.” Gina tersenyum sambil memeluk lengan Darel.
"Oh jadi lo udah punya pacar baru Rel? Kenapa nggak pernah cerita? Biasanya juga sering curhat.” Hani terkejut karena Darel berpacaran dengan perempuan seperti Gina yang bukan tipe Darel sama sekali.
“Dia bukan pacar gue Han.” Darel melepaskan tangan Gina yang ada di lengannya.
Satu tahun ini memang Gina selalu mengejar-ngejar Darel, tapi hasilnya nihil karena Darel selalu mengacuhkannya. Darel tidak suka berhubungan dengan perempuan manja seperti Gina.
“Darel lo ngomong apa sih?” Gina mencoba untuk bersikap tenang.
“Ya emang siapa yang pacaran sama lo? Akrab aja nggak.” Darel menjawab dengan nada kesal.
“Kok lo tega sih sama gue?” Gina mulai mendrama dengan wajah sedihnya itu.
Hani yang melihat itu, rasanya ingin segera pergi dari perpustakaan. “Gin sorry ya gue nyela, tapi kayaknya urusan kita udah selesai jadi gue mau pergi dulu. Telinga gue sensitif denger ocehan lo mulu.” Hani pergi namun sebelum benar-benar pergi ia sedikit berbalik. “Gue ingetin ya buat lo Gea kalo temenan sama Gina hati-hati, punya pacar kan? Jagain! Takutnya ilang.” Hani tersenyum tipis ke Gea lalu pergi tanpa mempedulikan kalau hukumannya itu belum selesai karena jam istirahat masih 15 menit lagi.
__ADS_1
“Han tungguin gue!” Darel hendak mengejar Hani namun Gina menahan tangan Darel.
“Darel lo jangan ngejar Hani! Di sini aja temenin gue!”
“Terserah gue dong.” Darel melepaskan tangannya yang sedang dipegang oleh Gina.
“Lo gak kasian apa sama gue? Tadi gue abis dimarahin lho sama Hani. Malahan dia juga bentak-bentak gue. Kalo nggak percaya tanyain nih sama temen-temen gue.”
“Gue nggak peduli.” Singkat Darel yang membuat hati Gina sakit.
Aray terbangun dari tidur pura-puranya. Aray sedikit menguap lalu detik selanjutnya ia menatap tajam Darel yang juga sedang menatapnya. “Emang kapan sih lo pernah peduli sama perasaan cewek?” Aray bertanya dengan nada angkuh, atau mungkin itu lebih disebut dengan menyindir bukan pertanyaan yang patut dijawab.
Keduanya saling menatap dengan tatapan tajam. Tatapan itu tersirat amarah yang sudah lama mereka pendam. Darel mengangkat sebelah sudut bibirnya lalu pergi tanpa sepatah kata pun. Sedangkan Aray, ia sudah mengepalkan tangannya yang ada di bawah meja sejak tadi. Aray sangat muak melihat wajah Darel.
•••
Hani berjalan jalan di koridor sambil melamun. Melamun adalah kebiasaan Hani jika sedang sendiri. Hani sering berpikir sendiri kenapa ia ditakdirkan hidup seperti ini. Kenapa ia ditakdirkan untuk hidup di dalam bayang-bayang masa lalunya yang pahit? Kenapa takdir tidak pernah berpihak kepadanya?
Hani duduk di kursi yang ada di depan koridor, Hani menghela nafas panjang. Hani lelah dengan semuanya, ia ingin sekali kabur dari hidupnya sekarang dan menjalankan kehidupan sendiri tanpa ada kata ‘larangan’. Tapi Hani tau kabur tidak akan menyelesaikan semua masalahnya, karena kemanapun Hani pergi masa lalu pasti akan selalu setia berada di belakangnya. Bagaimanapun juga Hani harus menerima semuanya dan berharap jika semuanya akan segera berakhir.
Hani rindu dengan semua hal yang membahagiakannya di masa lalu. Hani rindu pelukan Papahnya, ia rindu ketika Papahnya selalu menyemangatinya ketika Hani mengeluh. Hani rindu dengan sikap Mamahnya yang hangat, berbeda dengan sekarang yang Hani sendiri sulit untuk mengatakannya, sangat berbanding terbalik dari yang dulu.
Andai saja kejadian 2 tahun lalu tidak terjadi, Hani pasti akan sangat bahagia sekarang. Setiap Hani mengingat kejadian itu ia pasti akan menyalahkan dirinya sendiri yang sangat bodoh ini.
“Aarrgh!” Hani memegang kepalanya yang mulai sakit.
Hani selalu merasakan sakit yang amat mendalam di kepalanya ketika ia mengingat masa lalu, apalagi kecelakaan yang ia alami. “Oke stop Hani, lupain kejadian itu. Aarrggh!” Hani mencoba menenangkan dirinya tapi kepalanya malah semakin sakit.
Semakin Hani berusaha untuk melupakannya semakin jelas juga gambaran masa lalunya. “ Huh... Huh... Arggh!” Nafas Hani memburu, dadanya juga sesak menyebabkan ia sulit untuk bernafas. Tangan Hani bergetar hebat dan keluar keringat dingin dari pori-pori kulitnya. Sebelah tangan Hani memegang kepalanya yang semakin berdenyut-denyut dan sebelahnya lagi memegang roknya dengan erat karena menahan sakit dikepalanya.
“Han?” Tiba-tiba ada seseorang yang memegang pundak Hani.
“HAH!” Hani terkejut seperti terkena sengatan listrik, Hani sedikit mendongak dan melihat orang itu. “Darel?” Darel sejak tadi mencari-cari Hani dan ia menemukan Hani yang sedang duduk, tapi ia terkejut melihat Hani yang sepertinya kesakitan.
“Lo kenapa? Lo sakit? Keringat lo banyak banget.” Tanya Darel dengan nada khawatir sambil mengusap pelipis Hani yang berkeringat.
“Ng.. gak kok g-gue cuma lagi banyak pikiran aja.” Hani mencoba setenang mungkin untuk menjelaskannya kepada Darel, namun tangannya masih bergetar.
Darel yang melihat itu langsung duduk dan memegang tangan Hani yang sedang bergetar. “Kalo lo ada masalah cerita sama gue! Jangan dipendem akibatnya bakal bikin lo sakit. Gue nggak mau lo sakit.” Darel menatap serius Hani.
Hani tidak mempedulikan Darel yang sedang khawatir kepadanya, bahkan ia biasa saja saat Darel memberikan perhatian-perhatian kecil kepadanya. Hani menunduk dan menatap kosong ke arah lantai.
“Han!” Darel sedikit meninggikan suaranya dan sontak membuyarkan lamunan Hani untuk yang kedua kalinya. “Lo kenapa sih? Lo sakit?” Darel yang sedang khawatir tidak sadar bahwa ia membentak Hani.
Hani hanya diam sambil menatap Darel dengan tatapan yang sulit diartikan, lalu Hani sedikit memalingkan wajahnya. “G-gue ke kelas dulu bentar lagi bel.” Hani tidak menjawab pertanyaan Darel dan memilih untuk pergi. Karena bila ia menjawabnya besar kemungkinan kepalanya akan sakit lagi.
Darel tetap duduk dan tidak mengikuti Hani masuk ke kelas, ia menundukkan kepalanya.
“Sayangnya gue udah nggak tertarik sama yang namanya pacaran, sekalipun ada cowok keren yang nembak gue, gue nggak bakal terima.”
Darel mengingat perkataan Hani tadi dan tersenyum miris. “Apa lo serius sama perkataan lo tadi?” Darel berbicara sendiri.
__ADS_1
•••
Tbc