
“Kapan-kapan gue cerita deh.” Hani melambaikan tangannya dengan posisi badan yang membelakangi Aray.
“Hann!” Teriak Aray tapi ia tidak mengikuti Hani untuk kembali ke kelas, ia sedang malas untuk bertemu dengan Darel.
•••
Hari sudah hampir menjelang sore, dan tentunya ini adalah jam siswa-siswi di sekolah untuk pulang. Keadaan di kelas Hani tadi sangat canggung, tidak ada seorangpun yang bercanda seperti biasa. Vero yang biasanya paling heboh pun menjadi pendiam dan fokus pada pelajaran. Hani juga tidak mengobrol dengan Darel. Hani mengerti keadaan Darel sekarang, mungkin ia sedang tertekan. Hani sangat berharap jika Darel juga akan bercerita kepadanya.
Di parkiran sekolah semuanya hanya berdiam dan menaiki kendaraannya masing-masing.
“Van.” Rio menghampiri Vanesha dan menepuk pundaknya.
Vanesha sedikit tersentak. “Apaan?”
“Lo mau langsung ke tempat les?” Tanya Rio.
Seperti biasa hari ini adalah jadwal Vanesha untuk les yang kebetulan sama dengan Rio. Vanesha sangat niat untuk les karena ingin masuk jurusan kedokteran saat kuliah nanti. Tentunya menjadi dokter harus pintar. Berbeda dengan Rio yang hanya menuruti orang tua nya untuk pergi les. Rio lebih suka belajar di rumah daripada les yang hanya buang-buang uang saja.
“Iya.” Vanesha mengangguk.
“Mau bareng nggak? Gue bawa mobil.” Rio menggaruk sedikit kepalanya yang tidak gatal menandakan ia agak gugup.
“Emang boleh?”
“Ya iyalah kan gue yang ngajak. Gimana sih?” Rio sedikit tertawa.
Vanesha ikut tertawa. “Oke deh, yuk.”
Vanesha dan Rio masuk ke mobil Rio lalu pergi ke tempat les yang cukup jauh letaknya. Di dalam mobil mereka banyak berbicara karena sikap Vanesha yang periang dan agak cerewet, Rio juga tidak jauh dengan Vanesha yang banyak ngomong. Tapi Rio lebih ke hal-hal yang tidak jelas yang dibicarakan.
Vanesha dan Rio sampai di ruangan les dan melihat jika belum banyak orang yang datang. Jadi, mereka menunggu yang lain datang dengan membahas sesuatu dari yang penting hingga yang sama sekali tidak penting.
“Yo! Kembaliin pensil gue, gue mau isi soal.” Vanesha ingin merebut pensilnya dari tangan Rio karena akan mengerjakan soal yang tadi dikasih oleh guru Fisika.
“Ambil aja sendiri!” Rio tersenyum jail.
“Cepet kembaliin ihhh.”
“Sini ambil, sini... Sini!” Rio berdiri dan mengangkat tangannya yang sedang memegang pensil Vanesha setinggi-tingginya.
“Yang bener aja dong. Lo kan tinggi mana bisa gue nyampe.” Vanesha terus berjinjit untuk membawa pensilnya. Sebenarnya Vanesha tidak pendek, hanya saja Rio yang kelebihan tinggi.
“Yah kasian nggak nyampe.” Rio tertawa melihat ekspresi Vanesha yang mencoba mengimbangi ketinggiannya dengan berjinjit.
“Ihhh kok nggak nyampe mulu sih?” Vanesha mulai kesal dengan sikap jail Rio.
“Iyalah, lo kan pendek.”
“Nggak kok. Lo nya aja ketinggian kek tiang listrik.”
“Nih buktinya nggak nyampe.” Rio semakin meninggikan tangannya kala tangan Vanesha sudah hampir sampai.
“Au ahh.” Vanesha menyerah dan memilih untuk duduk. Rio sudah menghancurkan moodnya untuk mengerjakan soal.
“Ciahh ngambek.” Tawa Rio pecah.
Semua orang yang ada di sana melihat ke arah mereka dan mengira jika mereka adalah pasangan.
“Siapa yang ngambek.” Vanesha menjawabnya dengan nada acuh.
“Ciee yang ngambek cieee.” Rio mencolek-colek pipi Vanesha dengan pensil Vanesha yang tadi.
“Diem ihh!” Vanesha menepis pensil itu.
“Ciee ngambeknya tambah parah.” Rio terus menggoda Vanesha dan sesekali tertawa cekikikan.
“Nggak lucu deh sumpah.”
“Mmm ngambek cieee mmm.” Rio tidak henti-hentinya mencolek pipi Vanesha dengan pensil.
Vanesha menggunakan kesempatan itu untuk mengambil pensilnya yang hanya tersisa satu itu dengan kecepatan kilat. Vanesha tersenyum menang. “Wlee ketipu.” Vanesha menjulurkan lidahnya dan tertawa.
“Awas lo ya.”
“Sekarang lo diem! Gue mau ngerjain soal dulu, kalo lo sampe gangguin gue lagi, gue pastiin leher lo bakal bengkok.” Vanesha mengeluarkan tatapan iblisnya di balik kacamata bening dan kotaknya.
“Hmmm.”
Kedepannya mereka hanya fokus pada kegiatan masing-masing. Vanesha fokus dengan soal yang ia kerjakan. Begitu pun dengan Rio, tapi Rio tidak belajar ia justru bermain game online di handphone-nya. Rio juga sesekali melirik Vanesha yang sedang mengerjakan soalnya.
“Masih banyak ya?” Rio melihat buku Vanesha yang sudah penuh dengan rumus dan jawaban dari pertanyaan yang lumayan sulit itu.
“Dikit lagi.”
“Nanti gue nyontek ya.” Rio tersenyum tanpa dosa.
Vanesha meletakkan pensilnya dan menatap Rio. “Buat apa lo ikut les kalo PR aja mesti nyontek.”
“Dari dulu juga gue nggak mau ikut les kali. Gue cuma nurutin kemauan bokap nyokap gue.”
“Ohh. Pantesan dari tadi kerjaan lo cuma main-main doang.” Vanesha kembali mengerjakan soalnya yang tersisa satu soal.
“Kalo lo kenapa ikut les?” Tanya Rio.
“Kemauan gue sendiri. Bokap nyokap juga dukung untungnya.”
“Lo suka belajar?”
“Suka.” Vanesha tersenyum sambil mengangguk. “Tapi gue nggak maniak belajar kayak Hani.”
“Hani? Emang dia maniak belajar?”
Vanesha mengangguk. “Tiap hari dia gadang nyampe malem buat belajar, nggak ada hari libur buat dia belajar. Nyokapnya juga orang yang keras. Feeling gue sih Hani agak ketekan sama nyokapnya yang ngedidik dia keras.”
__ADS_1
“Kasian juga ya. Tapi bukannya Darel yang sering dapet peringkat satu, berarti dia lebih maniak dong dari Hani.” Rio tidak bisa membayangkan bagaimana Hani dan Darel bisa sangat suka dengan belajar.
“Kalo itu sih gue nggak tau. Tapi kayaknya dia emang jenius dari lahir.”
“Yaelah gue juga sama kali.” Rio berbicara dengan nada sombong.
“Sama apanya?”
“Tingginya. Tinggi badan gue nggak beda jauh sama Darel.” Rio cengengesan.
“Garing lo.”
Tidak terasa sudah hampir 30 menit mereka berbicara dan ruangan pun sudah penuh. Tidak lama kemudian datang guru les yang mereka tunggu-tunggu sejak tadi dan memulai pembelajaran.
•••
“WOYYY SEMUANYAAA, GUE PUNYA BERITA BARU NIHH.” Teriak Vero dari luar kelas sampai masuk. Semua siswa yang sedang sibuk bergosip dan lain-lain, langsung menatap Vero dengan tatapan malas.
“Nah tukang gosip gilanya kambuh.” Batin Jeto.
“Paling juga tadi dia kecebur di got.” Batin Alexa.
“Paling juga dijajanin sama Ibu kantin.” Batin Vanesha.
“Paling juga dapet tawaran mobil dari operator.” Batin Vivi.
“Sumpah gue bakal gantung nih orang kalo minta bayarin pulsa daruratnya.” Batin Bobby.
“Gak mau denger, kepala gue ketutup ember pel.” Batin Rio.
“Lo pada udah tau belum?” Tanya Vero sambil ngos-ngosan.
“Apa Ver?” Tanya Bobby mencoba untuk bersikap lembut.
“Ini nih, nih anak.” Vero menunjuk-nunjuk Vivi.
“Kenapa sama gue?” Vivi heran dengan sikap Vero.
“TERNYATA PACARAN SAMA MURID SEKOLAH SEBELAH.” Vero berteriak lagi, membuat Vivi yang ada disampingnya menutup telinga.
“Hah?
“Apa?”
“What.”
“The.”
“Hell.”
“Ciusan?”
“Emang lo semua belum tau? Padahal semua temen cewek gue udah tau?” Vivi menatap teman-teman cowoknya dengan tatapan seorang anak kecil tanpa dosa.
“Gilaa nih si Vivi, ternyata diam-diam merayap. Gue aja dari dulu masih jomblo ae.” Rio mengelus dadanya.
“Ya lo masih mending jomblo. Lah gue cinta gue bertepuk sebelah tangan.” Bobby pura-pura menangis.
“Kode tuh.” Sela Vero.
“Alay lo.” Rio menoyor kepala Bobby lalu pergi.
“Kapan jadiannya Vi?” Tanya jeto.
“Seminggu lalu.”
“Nggak mau tau, pokoknya gue mau PJ.” Vero menyodorkan tangannya di depan muka Vivi.
“Iya nih, dari kemarin juga belum kasih PJ.” Vanesha ikut nimbrung.
“Katanya nanti tapi janjinya palsu.” Alexa juga ikut-ikutan.
“Alay lo.” Rio menoyor kepala Alexa dan pergi lagi. Kuker.
“PJ Vi PJ.” April menyenggol lengan Vivi.
“Oke deh, nanti gue traktir lo semua cilok 2000 per orang.” Vivi mengeluarkan uang 20000 selembar. “Noh beli sendiri-sendiri!”
“Yahh masa cuma cilok sih, nggak elit banget sih lo.”
“Aroma-aromanya sih kayak lagi bokek.”
“Aroma dompet tipis.”
“Siapa bilang. Duit gue banyak kok, tapi di ATM.” Vivi cengengesan.
Semuanya terus mengolok-ngolok Vivi yang punya pacar baru. Tapi tidak dengan Darel yang sejak tadi hanya menyimak dan sesekali melihat Hani yang tidak seperti biasanya. Hari ini Hani tidak berbicara kepadanya sama sekali. Apa mungkin Hani marah gara-gara waktu itu dirinya berantem dengan Aray.
“Han!” Darel menghampiri tempat duduk Hani dan mengundang semua tatapan orang-orang yang ada di sana. Seketika mereka menjadi diam menyimak apa yang akan dikatakan Darel.
“Ikut gue! Gue mau ngomong sama lo.” Tanpa persetujuan Hani, Darel langsung menarik tangan Hani dan membawanya keluar.
“OII ANAK ORANG MAU LO BAWA KEMANA?”
“REL JANGAN DIBAWA KETEMPAT YANG GELAP-GELAP.”
“SI HANI MASIH PERAWAN OYYY.”
“AWAS DI LORONG GELAP BANYAK GENDERUWO.”
Bisa ditebak siapa saja yang teriak seperti itu. Mereka semua memang hobi ngomporin murid lain.
Darel membawa Hani ke koridor yang sekarang tidak terlalu banyak siswa disana. Darel melepaskan tangan Hani dan berbalik sambil menatap Hani.
__ADS_1
“Lo kenapa tiba-tiba narik gue?” Tanya Hani yang bingung karena tidak biasanya Darel seperti ini.
“Seharusnya gue yang nanya. Lo kenapa?”
“Emang gue kenapa?” Hani bertanya balik.
“Kenapa dari tadi lo nggak ngomong sama gue?”
“Lagi nggak pengen aja.” Hani tertawa kaku.
“Lo marah sama gue?” Darel langsung ke inti alasannya menarik Hani tadi.
“Marah gara-gara apa?” Hani terus bertanya karena ia masih belum bisa menangkap arah percakapannya dengan Darel.
“Gara-gara kemarin gue berantem sama si Aray.” Jawab Darel jujur.
“Ohh itu. Nggak kok, ngapain juga gue mesti marah.” Hani pikir ini adalah suatu hal yang penting sampai-sampai menariknya kesini.
“Ternyata bener, lo emang nggak peduli sama gue.” Batin Darel.
“Lagian gue udah tau semuanya kok.” Hani menatap Darel dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.
“Tau apa?”
“Semuanya tentang lo... sama Aray.” Hani berbicara pelan.
Sontak Darel membulatkan matanya. Nggak mungkin kalau Hani tahu hubungannya dengan Aray. “Apa yang lo tau?” tanya Darel cepat.
“Semuanya.” Hani mempertegas jawabannya.
“Jadi lo tau kalo gue sama Aray...”
“Sodaraan kan?” Hani memotong perkataan Darel
Darel sangat terkejut dengan perkataan Hani. Bagaimana bisa Hani mengetahui tentang hal itu? Apa mungkin Hani juga tahu latar belakangnya? Siapa yang memberitahu Hani tentang kehidupannya? Kenapa Hani? Kenapa harus Hani yang mengetahui hal yang tidak ingin Darel ungkap? Kenapa? Berbagai pertanyaan itu muncul di pikiran Darel tanpa ada jawaban sama sekali.
“Dari mana lo tau?” Suara Darel berubah menjadi parau dengan kerutan di dahinya.
“Aray yang kasih tau gue.”
Setelah mengetahui siapa yang memberitahu Hani, Darel langsung tersenyum sinis. Tentu saja, siapa lagi yang akan memberitahukannya selain orang itu. Sepertinya rahasia memang lebih aman di tangan Vero daripada orang itu.
“Kayaknya lo makin deket ya sama Aray.” Tatapan Darel berubah lagi dengan tatapan yang belum pernah Hani liat. Tatapan dingin yang menyelundup ke hatinya. Ada sedikit rasa sesak di hati Hani saat melihat tatapan itu.
“Lumayan.” Hani mencoba menghindari tatapan Darel.
“Lo suka sama Aray?” Tanya Darel dengan tatapan yang sama.
“Nggak.” Tandas Hani dengan cepat.
“Ohh. Aray cerita apa aja sama lo?” Darel mengubah topik tadi yang pasti membuatnya dan Hani canggung.
“Pokoknya dari awal sampai akhir.”
Darel tersenyum miring. Sekarang Vero dan Hani pasti akan menyalahkan dirinya karena bertengkar dengan Aray. Karena yang Vero dan Hani tahu hanya cerita dari Aray saja. Tanpa ingin mengetahui bagaimana terpuruknya Darel di masa lalu. Aray memang mempunyai trik di luar dugaan untuk membuatnya tertekan.
“Trus sekarang lo mau apa? Marahin gue, sama kayak si Vero?” Darel langsung menggertak Hani.
“Nggak. Kan gue belum denger penjelasan dari lo.”
Darel sedikit terkejut dengan jawaban Hani. Ia telah salah mengira Hani tadi. Emang tidak ada bedanya Hani yang dulu tetaplah Hani yang dulu. Hani yang selalu mendengarkan curhatannya dan Hani yang... Tidak pernah menyukainya.
Untuk mengungkapkan semuanya, Darel sedikit berpikir. Apa ini saatnya untuk menceritakan betapa lemahnya ia di masa lalu? Tapi Darel percaya jika Hani tidak akan mengejeknya atau pun sampai membocorkan ceritanya. “Lo yakin mau denger?”
Hani mengangguk.
“Jangan ketawa ya, soalnya gue yang dulu beda sama yang sekarang.” Darel sedikit tertawa.
“Iya gue ngerti kok.” Hani tersenyum manis.
Senyuman itu. Senyuman yang membuat Darel tenang setiap saat. Hani adalah orang yang istimewa bagi Darel, tapi Darel bukan siapa-siapa di kehidupan Hani. “Ya udah duduk di sana aja yuk.” Darel menunjuk kursi kayu yang tidak jauh dari sana.
Hani mengikuti Darel dan duduk di sana. “Nah sekarang lo ceritain semuanya, gue bakal dengerin.”
•••
Dulu...
Mamah dan Papahnya Darel menikah karena keinginan Nenek Kakeknya Darel yang sangat keras kepala. Jadi, Mamah dan Papahnya Darel tidak bisa menolak itu. Setelah menikah mereka sering bertengkar karena masalah sepele. Meskipun hanya bertengkar biasa, tapi Darel tidak bisa menahan tangisannya.
Suatu hari, entah kenapa keluarga Darel tidak seperti biasanya. Mamah dan Papahnya tertawa bersama, tidak bertengkar lagi dan itu berjalan selama satu bulan. Satu bulan itu, Darel menjadi Darel yang baru. Rumah selalu menjadi tempat menyenangkan untuk Darel. Papahnya Darel jadi sering bermain dengan Darel. Setelahnya mereka akan masuk dan makan masakan Mamahnya.
Darel berpikir itu akan bertahan selamanya. Sampai suatu ketika ada seorang wanita yang merebut kebahagiaan keluarga Darel. Mamahnya Aray. Saat itu Darel sedang berada di kamarnya dan dia mendengar suara ribut dari luar. Darel yang penasaran pun keluar dari kamarnya dan melihat seorang wanita yang tidak ia kenal sedang bertengkar dengan Mamah Papahnya. Darel juga melihat anak laki-laki yang terlihat seumuran dengannya didepan pintu.
Dari lantai dua Darel mendengarkan pertengkaran mereka. Darel mendengarkan semuanya sampai akhir dan ia tidak menyangka jika Papahnya ternyata sebrengsek itu. Wanita yang tidak Darel kenal juga sama saja, sudah tahu jika dirinya hanya selingkuhan tapi tetap saja mempertahankan Papahnya. Darel mendengar tangis Mamahnya yang membuatnya juga ikut menangis.
Darel mengamati wanita itu dan anak laki-lakinya. Darel tidak akan pernah melupakan wajah itu.
Setelah peristiwa itu, semua kembali seperti dulu. Darel menjadi pendiam di rumah. Rumah menjadi tempat yang Darel benci kembali dan yang paling membuat Darel muak adalah Mamah dan Papahnya kembali bertengkar. Tiga hari berturut-turut mereka bertengkar di malam hari. Bahkan perpecahan diantara mereka berdua semakin hebat. Darel mendengar suara barang-barang yang ada di kamar Mamah dan Papahnya pecah. Wanita itu berpengaruh besar pada keadaan keluarganya yang berubah 180 derajat lagi.
“Berisik... Berisik... Berisik... Berisik...” Darel menyetel lagu keras-keras dengan headphone-nya. Ia bahkan menekankan headphone itu agar suara ribut orang tuanya tidak terdengar. Buku pelajaran yang ada di hadapannya sudah basah karena dijatuhi oleh air mata Darel. Darel menangis sejadinya, air matanya mungkin sudah habis karena setiap hari harus menangis. Matanya juga sembab dan merah. “Berisik... BERISIIIK!” Teriak Darel sambil melepas dan membanting headphone-nya.
Keesokkan harinya saat Darel hendak berangkat ke sekolah, ia melihat pintu kamar mandi bawah terbuka. Darel berniat untuk menutup pintu itu, tapi disaat Darel melihat ke dalam, ia melihat Mamahnya. Dia bunuh diri. Darel melihat keadaan Mamahnya yang... menyedihkan. Banyak darah di sekitar kamar mandi, Darel juga melihat pecahan kaca yang tidak jauh dari Mamahnya. “Ma... Mah... Mamah.” Kata Darel terbata-bata.
Darel tidak tahu apa yang harus ia lakukan saat itu. Kakinya lemas seketika membuatnya ambruk ke lantai, tangannya bergetar dan air matanya menetes secara perlahan. Darel sangat blank saat itu. Satu sisi Darel ingin menghampiri Mamahnya, tapi disisi lain Darel ingin segera menelpon Rumah Sakit. Tapi Darel tidak bisa melakukan keduanya, Darel hanya duduk sambil menangis. Sampai akhirnya Papahnya Darel datang dan terkejut melihat Mamahnya Darel dengan kondisi seperti itu. Tanpa basa basi Papahnya Darel segera menelpon Rumah Sakit dan menenangkan Darel.
Saat sampai di Rumah Sakit, hasilnya nihil. Mamahnya Darel tidak tertolong. Darel tidak akan bertemu dengan Mamahnya lagi. Dia meninggalkan Darel. Masakan kemarin juga masakan terakhir Mamahnya yang Darel makan. Anehnya masakan itu sangat enak.
Dari pemakaman sampai ke rumah, Darel tidak henti-hentinya menangis. Darel mengurung diri di kamarnya. Ia tidak mau keluar. Tidak mau makan. Ia juga tidak ingin bertemu dengan Papahnya.
•••
Tbc
__ADS_1