Our Pride Class

Our Pride Class
•Chapter 13•


__ADS_3

“Lo nggak nyadar banget ya. Sejak lo putus cinta, lo berubah drastis. Darel yang selama ini suka sama lo nggak lo lirik dan lo malah deket sama Aray.” Gina menatap Hani dengan tatapan penuh emosi.


•••


“Dari mana lo tau?”


“Gue tau semuanya.” Gina tersenyum sinis. “Lo emang cewek yang nggak tau malu.”


“Kalo menurut lo gue berubah, seenggaknya gue berubah dari sekarang doang nggak kayak lo yang emang udah gak bener dari dulu.” Hani membalas perkataan Gina yang membuatnya sedikit tersinggung.


“Maksud lo apa?” Gina bangun dari duduknya.


“Kalo lo juga pinter, lo pasti tau dong maksud gue apa.”


“Wahhh gue takut sama lo, lo yang dulu pendiam sekarang jadi berani kayak gini.” Gina bertepuk tangan dan tertawa meledek,


“Udah cukup kan ngomongnya? Gue mau balik.” Hani tidak ingin terlambat pulang lagi karena masalah masalah seperti ini.


“Tunggu. Lo perlu tau kalo gue nggak bakal nyerah buat dapetin Darel, jadi jangan harap lo dapet celah buat deketin dia lagi.” Gina menatap tajam Hani.


“Silahkan, gue nggak peduli.”


“Awas aja lo sampe deketin dia. Gue nggak bakal tinggal diem sekarang. Karena gue udah berusaha buat diem selama ini.” 


Hani memasang wajah santainya. “Oke. Semoga lo berhasil.” Hani tidak peduli dengan apa yang akan dilakukan Gina kepadanya karena ia juga akan berusaha untuk menjauhi Darel, meskipun mungkin tetap saja tidak bisa.


“Sayang yah orang yang berjuang mati-matian kayak lo malah nggak dianggep sama Darel.” Lanjut Hani.


“Sayang juga orang yang Darel suka ternyata orang yang nggak bener.” Gina membalikkan perkataan Hani.


“Gue duluan.” Hani pergi dan melambaikan tangannya.


“Gue bakal gantiin posisi Hani buat Darel meskipun harus pake cara kekerasan.” Gumam Gina.


Gina berbalik dan pergi menuju mobilnya. Gina berjanji pada dirinya sendiri jika ia pasti akan mendapatkan Darel. Gina tidak mengerti dengan perasaannya yang tidak bisa berpaling dari Darel, seorang yang sangat pintar dari kelas sebelahnya. Sebenarnya sangat mudah bagi Gina untuk mendapatkan laki-laki. Bahkan setiap harinya loker yang ia punya penuh dengan surat cinta dan coklat. Tapi tetap saja ia memilih Darel untuk menjadi orang yang ia sukai.


•••


Hari ini semua guru rapat dan otomatis semua pelajaran jam kosong. Tapi anehnya semua  murid tidak dipulangkan. Tetap saja pulangnya seperti biasa. Memang tidak adil bagi sebagian siswa yang malas ke sekolah.


Kelas Hani adalah salah satu kelas yang senang dengan jam kosong yang full. Semua siswa seperti burung yang bebas dari sangkarnya. Semuanya kesana kemari tanpa memperdulikan apapun, kursi berantakan, ada yang digabung menjadi 4 kursi ada juga yang ditumpuk ke atas. Murid-muridnya pun sama ada yang duduk di meja ada juga yang selonjoran di lantai. 


“Darel! Lo liat Hani nggak?” Tanya Alexa yang ingin mengembalikkan catatan fisika Hani.


“Dari tadi gue belum liat.” Darel juga baru menyadari jika sejak tadi Hani tidak ada.


“Kemana sih tuh anak.” Alexa berbicara sendiri.


Darel celingukkan mencari-cari keberadaan Hani dan berakhir di kursi Aray yang kosong. “Apa mungkin...” Gumam Darel. “Kalo gitu biar gue cariin dia ya.” Darel berdiri dari tempat duduknya.


“Ehh nggak usah, nanti juga balik.” 


“Nggak papa, gue juga ada perlu sama dia.” Tanpa menunggu jawaban Alexa, Darel langsung berlari keluar kelas.


Saat sampai di koridor Darel melihat ada Gina tidak jauh darinya. Darel ingin berlari ke arah lain untuk menghindari Gina. Tapi...


“Darel..” Teriak Gina yang membuat Darel terpaksa berhenti.


“Lo mau kemana?” Tanya Gina yang langsung menggandeng tangan Darel. 


“Bukan urusan lo.” Jawab Darel cuek.


“Mending ke kantin bareng yuk.” Gina berjalan sambil menarik tangan Darel, tapi Darel tidak mau mengikutinya dan hanya diam.


Darel melepaskan tangan Gina. “Lain kali aja, gue mau nyari Hani dulu.” Darel hendak pergi tapi tangannya ditahan lagi oleh Gina.


“Ngapain sih nyariin Hani? Emang dia anak kecil apa yang mesti dicariin.” Gina mengerucutkan bibirnya.


“Udah deh Gin nggak usah manja kayak gini, males gue ladeninnya.” Darel menunjukkan wajah resahnya.


“Ya lagian lo sendiri gue ajak ke kantin malah nggak mau.”


“Lo ke kantin sendiri aja ya. Bye.” Darel menyudahi percakapannya dengan Gina dan langsung pergi agar percakapan tersebut tidak memanjang.


•••


Sementara itu, Hani pergi ke taman yang ada di belakang sekolah. Ia sangat risih dengan keadaan kelas yang terlalu ramai untuknya. Saat Hani sampai di taman, Hani melihat ada Aray yang sedang duduk di kursi, Hani menghampiri Aray dan duduk di sampingnya.


Aray sedikit tersentak dengan keberadaan Hani secara tiba-tiba. “Lo ngapain kesini?” Tanya Aray.


“Cuma mau nenangin diri doang. Dikelas rame banget.” Hani menatap lurus bunga-bunga yang ada di depannya.


“Sama.”


“Nggak nanya.”


“Cuma ngasih tau.”


Kedepanya mereka hanya diam dan melihat sekitar mereka. Hani berdiri dan menghampiri bunga mawar yang ada di depannya. Niatan Hani ia ingin memetik bunga itu tapi tangannya malah terkena duri dan berdarah. 

__ADS_1


Hani terkejut melihat darah yang keluar dari tangannya. Mata Hani membulat dan detak jantungnya seketika bertekanan tinggi membuatnya sesak. “Tangan gue.” Hani menjauhkan tangannya. “Ray tolong bersihin darahnya!” Hani memperlihatkan lukanya kepada Aray.”


“Yaelah cuma luka gitu doang. Cengeng amat sih lo.” Aray tertawa melihat betapa lemahnya Hani.


“Jangan banyak omong udah cepet tolong bersihin!” Hani menggoyang-goyangkan tangannya dan menyembunyikan wajahnya di balik tangan yang satunya lagi.


“Ogah ah. Gue nggak bawa sapu tangan.” Aray tetap tidak peduli.


“CEPET TOLONGIN GUE!!!” Bentak Hani yang sukses membuat Aray terkejut.


“Lo nggak kenapa-napa kan?” Tanya Aray yang mulai khawatir.


“Lo bisa cepetan nggak sih?!” Hani ingin membentak Aray lagi tapi suaranya sangat parau dan tidak kuat untuk membentak Aray.


“Gue mesti ngapain, gue nggak ngerti soal ngobatin.” Aray terlihat sangat bingung menghadapi Hani yang seperti ini.


“G-Gue nggak tau, pokoknya cepet aja.” Hani mulai memegangi kepalanya yang terasa mulai berdenyut.


Aray memikirkan satu cara yang bisa ia lakukan. Apa Hani tidak akan jijik? Tapi Aray bodo amat dengan hal itu. Aray memegang jari tangan Hani yang berdarah lalu menyedot darah itu dengan mulutnya dan membuangnya. Aray terus seperti itu sampai darah nya benar-benar tidak keluar lagi. Lidah Aray sedikit merasakan amis ketika darah Hani berada di mulutnya.


Hani tidak peduli dengan apapun cara yang digunakan Aray. Hani hanya fokus pada keadaanya dan parahnya ini terjadi di depan Aray yang tidak tahu apa-apa, kemungkinan besar Hani harus menceritakan itu.


“Udah selesai.” Kata Darel sambil menatap Hani bingung. Ia ingin bertanya tapi sepertinya sekarang Hani harus tenang terlebih dahulu karena wajah nya terlihat pucat.


Hani duduk di kursi lagi dan terdiam sambil mengontrol nafasnya yang tidak teratur. 


“Makasih.” Kata Hani setelah merasa semuanya sudah terkontrol.


Aray mengangguk sebagai jawabannya karena ia merasa suasana dirinya dan Hani jadi canggung.


“Lo...” Aray menahan perkataannya. “Mmm...” Aray sangat tidak enak menanyakan kejadian tadi, tapi rasa penasarannya itu tidak bisa dihentikan.


“Tanya aja, lo pasti pengen tanya banyak, ini juga salah gue yang nggak bisa jaga keadaan.” Jawab Hani tapi tatapannya mengarah ke depan.


“Lo takut sama darah?” Tanya Aray pada akhirnya.


Hani terkejut karena Aray langsung bertanya pada inti permasalahannya. Hani berpikir keras antara jujur atau berbohong. Jika ia berbohong ia harus punya alasan yang cukup masuk akal, tapi sekarang otaknya sedang tidak bisa berpikir. Jika ia jujur kepada Aray, semua masa lalu yang ia tutupi dari awal akan terungkap hanya karena kesalahan sepele seperti ini tapi fatal. Haruskah Hani jujur seperti yang dilakukan Aray?


“G-Gue...” Hani masih berpikir.


“Kalo nggak bisa jawab nggak usah.” Aray mengerti keadaan Hani sekarang, karena ia juga pernah merasakannya. Saat ia berpikir akan menceritakan semuanya kepada Hani atau tidak. Jadi Aray berkesimpulan bahwa Hani juga sedang berpikir tentang itu.


“Gue bingung mau cerita atau nggak.” Cicit Hani. “Kalo gue tahan lama-lama nggak enak juga.” Lanjut Hani dengan kepala menunduk.


“Kalo gue rasa sih, mending lo cerita biar beban lo berkurang. Itu yang gue rasain waktu cerita sama lo.”


Hani menatap Aray ragu, tapi ia akan mencoba untuk menceritakannya kepada Aray. “Gue... punya phobia darah.” Lirih Hani.


“Udah parah?”


“Udah dari dulu. Jadi kemungkinan udah parah.” Jawab Hani jujur.


“Kenapa lo bisa punya Phobia Darah?”


Akhirnya pertanyaan yang sangat tidak ingin Hani jawab keluar juga. Hani tahu ujung-ujungnya pertanyaan itulah yang keluar dari mulut Aray. Hani tidak ingin menceritakan masa lalunya yang cukup mengenaskan.


“Sama kayak lo. Masa lalu gue juga nggak baik.” Hani tersenyum sendu.


Aray mengangkat alisnya. “Gimana ceritanya?”


“Huh...” Hani menarik dan menghembuskan nafasnya sebelum ia bercerita.


•••


Dua tahun yang lalu...


Hari ini adalah hari pembagian raport kelas satu semester satu dan Hani sangat menanti-nantikan peringkatnya. Hani berharap ia akan mendapatkan peringkat satu karena setengah tahun terakhir ini ia sudah berusaha keras. Namun hasilnya nihil, ia mendapat peringkat dua Ia kalah oleh murid jenius bernama Darel. Tapi Hani masih tetap senang karena mendapat peringkat dua.


Hani pulang dengan senyuman yang terus mengembang di wajahnya, ia tidak sabar untuk memberitahu kedua orang tuanya. Orang tua Hani tidak datang kesekolah untuk membawa raportnya karena ada urusan mendadak, jadi raport Hani dibawa oleh tantenya.


Sampai di rumah Hani sudah mendapati kedua orang tuanya sedang duduk di ruang tamu, tapi baju mereka belum diganti. Mungkin baru pulang dari suatu tempat, pikir Hani. 


“Mah, Pah!! Hani dapet peringkat dua di kelas.” Hani melambai-lambaikan buku rapornya.


“Bagus dong sayang.” Ucap Papahnya Hani yang memang selalu bangga terhadap putrinya itu.


Hani sangat sayang kepada Papahnya. Karena ia merasa dimanja oleh Papahnya. Papahnya selalu mendukung semua keputusan yang ia buat, tidak seperti Mamahnya yang kadang melarangnya melakukan sesuatu karena tidak ingin putri satu-satunya itu kenapa-kenapa.


“Coba Mamah liat raport anak Mamah yang pinter ini.” Mamahnya Hani tersenyum senang.


Hani menghampiri Mamahnya dan memberikan raportnya. Mamah Hani membolak-balik buku raport Hani dan melihat nilai Hani.


“Kedepannya kamu harus lebih rajin belajar yah biar dapet peringkat satu.” Mamahnya Hani menyerahkan raport Hani dan tersenyum.


“Siap Mah.”


“Pah, main yuk.” Hani duduk di samping Papahnya.


“Main kemana? Papah kan capek baru pulang.”

__ADS_1


“Ayolah Pah. Hani kan udah dapet peringkat dua, masa jalan-jalan aja nggak bisa sih.” Hani mengerucutkan bibirnya.


“Nanti sore aja.”


“Ini kan udah sore Papah.”


“Besok-besok aja mainnya Hani, biarin Papah kamu istirahat dulu.” Mamahnya Hani pergi ke dapur.


“Yahhh, padahal Hani pengen jalan berdua sama Papah buat hadiah peringkat dua Hani.”


Papah Hani menghembuskan napas lembut. “Ya udah deh ayo.” Papahnya Hani tersenyum.


“Beneran Pah?” Hani bertanya girang.


“Iya. Apasih yang nggak buat anak Papah yang cantik ini? Sana ganti baju dulu!”


“Yeee. Makasih Pah.” Hani pergi ke kamarnya yang berada di lantai dua.


Hani keluar dengan pakaian yang sudah lengkap. Hani turun dan menghampiri Papahnya yang sudah berada di dalam mobil. “Yuk Pah.” Hani masuk ke dalam mobil dengan senyuman yang tidak pernah luntur.


“Mau kemana tuan putri?” Papahnya Hani sedikit bercanda.


“Ehehe, makan ice cream aja atau kalo nggak ketaman kota aja.”


“Siap tuan purti.”


Hani tertawa. “Papah apaan sih?”


Hani dan Papahnya terus bercanda di dalam mobil dan tertawa bersama. Hani sangat bahagia jika ia bisa terus seperti ini. Sayangnya Papahnya ini sering ditugaskan oleh kantor untuk kerja di luar kota sehingga Hani tidak bisa merasakan kebahagiaan ini setiap waktu.


Hani terus menggoda Papahnya membuat Papahnya berbalik menghadap Hani dan tertawa. Mereka berdua tidak menyadari jika di depan mereka ada truk yang berkecepatan di atas rata-rata. Si sopir truk tidak bisa mengendalikan truknya yang berkecepatan tinggi itu. Hani yang menyadari jika di depannya itu ada truk yang semakin dekat. Awalnya ia berbalik melihat truk itu dan berniat memberitahu Papahnya tapi kecepatannya kalah oleh truk yang sudah terlanjur menghantam mobil mereka.


Hani terpental ke depan dan kepalanya terbentur sangat keras menyebabkan kepalanya berdarah. Mobil mereka juga berguling karena kerasnya hantaman truk tadi dan membuat mobil-mobil yang ada di belakang mereka juga ikut mengalami kecelakaan. 


Hani yang tidak terluka terlalu parah melihat Papahnya yang ada di sampingnya. Hani terkejut melihat Papahnya tidak sadarkan diri dan banyak darah yang melumuri tubuh Papahnya. Kaca mobil yang ada di depan Papahnya pecah dan mungkin serpihan kaca itu ada yang menggores tubuh ayahnya.


Hani merasakan ada darah yang mengalir di pelipisnya. Hani memegang kepalanya yang basah, saat Hani melihat tangannya yang ternyata berlumuran darah. Sesaat kemudian Hani baru merasakan rasa sakit pada kepalanya. Namun Hani mengabaikan sakitnya itu dan kembali fokus kepada Papahnya yang dalam keadaan lebih parah darinya. 


“Pah.. bangung.. Pah.” Hani menggoyang-goyangkan tubuh Papahnya.


“Papah... cepet bangun... Papah... PAPAH...” Hani berteriak histeris saat Papahnya tidak bangun-bangun juga. Ia takut terjadi apa-apa pada Papahnya.


Hani menatap lamat-lamat tubuh Papahnya yang berlumuran darah itu lalu menangis. Tapi tiba-tiba ia merasakan rasa sakit di kepalanya semakin parah. Hani akhirnya tidak kuat untuk bertahan lagi dan  pingsan di sebelah Papahnya. Sebelum pingsan Hani berharap jika ini hanya mimpi.


Hani mengedipkan matanya berakali-kali, yang ia lihat hanyalah ruangan putih dan... Mamahnya. Hani membuka matanya dengan sempurna dan melihat Mamahnya yang sedang menangis di depannya. Hani heran kenapa mamahnya itu menangis padahal ia sudah sadar.


“Mah.” Lirih Hani dengan suara yang lemas.


Mamahnya Hani sontak terkejut melihat Hani yang sudah sadar. “Kamu nggak papa sayang?” Nada bicara Mamahnya Hani terlihat sangat khawatir.


Hani mengangguk


“Papah mana Mah?” Tanya Hani yang berharap jika Papahnya tidak kenapa-kenapa.


Tangis Mamahnya Hani pecah. “P-Papah.. meninggal sayang.” Ucap Mamahnya Hani dengan suara terisak.


Hani terkejut dengan perkataan Mamahnya. Dadanya sesak dan air matanya mengalir deras. Hani tidak tahu jika Papahnya akan meninggal karena kecelakaan mobil itu.


Seminggu kemudian setelah Hani pergi ke pemakaman Papahnya, ia pulang dengan lemas dan tidak punya semangat apapun. Hani sangat bersalah pada dirinya sendiri karenanya Papahnya harus menemui ajalnya lebih cepat.


Hani pergi ke kamar Mamahnya dan melihat Mamahnya yang masih menangis. “Mah..” Lirih Hani sambil memegang pundak Mamahnya.


Tanpa disangka Mamahnya Hani menepis tangan Hani. “Pergi kamu. Dasar anak bodoh!” Hani terkejut dengan perkataan Mamahnya disaat seperti ini.


“Mamah ngomong apa?” Hani berusaha untuk tetap tenang.


“Gara-gara kamu, Papah kamu jadi meninggal. Kalau aja kemarin kamu nggak paksa Papah kamu buat jalan-jalan mungkin Papah kamu masih ada sampai sekarang.” Bentak Mamahnya Hani diiringi dengan tangis.


“Hani minta maaf Mah, Hani nggak tau kalau jadinya bakal kayak gini.” Hani yang juga tahu hal itu hanya bisa menangis.


“Pergi kamu, keluar sana!” Bentak Mamahnya Hani untuk yang kedua kalinya.


Hani pergi ke kamarnya. Mungkin sekarang Mamahnya sedang ingin sendiri. Hani masuk ke kamarnya dan melorotkan tubuhnya di depan pintu. Hani kembali menangis mengingat kejadian yang menimpanya kemarin yang menyebabkan Papahnya meninggalkan dirinya. 


Hani menyesal pada dirinya sendiri. Kenapa kemarin ia harus mengajak Papahnya jalan-jalan? Kenapa Hani harus memaksa Papahnya? Kenapa Hani tidak mendengarkan Papahnya? Kenapa Hani tidak mendengarkan ucapan Mamahnya? Hani memang anak yang bodoh, mungkin lebih dari itu.


Hani menenggelamkan kepalanya diantara kedua kakinya yang melipat ke atas. Hani menumpahkan semua amarahnya dengan cara menangis. Hanya itu yang bisa Hani lakukan.


Kenapa harus Papahnya yang sangat ia sayangi yang diambil? Kenapa dirinya tidak? Setidaknya jika Papahnya diambil Hani juga harus diambil. Setidaknya jika seperti itu Hani tidak akan merasakan penyesalan yang amat sakit ini.


Hani tidak tahu harus melakukan apa sekarang. Hani menghubungi pacarnya, yaitu Rendi dengan tangan bergetar. Setelah berhasil mengirim pesan kepada Rendi, Hani pergi keluar dengan mata sembab untuk menemui Rendi di tempat biasa.


Setelah hampir sampai, Hani melihat Rendi sedang bersama perempuan yang ia kenal. Gina sahabatnya. Hani tidak langsung menghampiri mereka dan melihat mereka terlebih dahulu. Dan peristiwa selanjutnya membuat Hani sangat terkejut. Gina sahabatnya itu memeluk Rendi dan Rendi juga membalas pelukan sahabatnya. 


Air mata Hani kembali menetes. Kenapa harus sekarang? Sekarang Hani sedang membutuh dua orang yang ada di hadapannya itu untuk mencurahkan semuanya. Tapi di luar dugaan mereka berdua sudah mengkhianatinya. Hani berbalik dan berlari sambil menangis.


Apa tidak ada hari lain selain sekarang untuk menghancurkan Hani? Kenapa semuanya harus terjadi sekaligus? Apa Papahnya saja belum cukup untuk membuatnya hancur? Kenapa sekarang harus pacar dan sahabatnya yang membuatnya tambah hancur? Semua pertanyaan-pertanyaan itu mengisi seluruh ruang yang ada di otak Hani.


•••

__ADS_1


Tbc...


__ADS_2