Our Pride Class

Our Pride Class
•Chapter 8•


__ADS_3

“Udah dulu deh, gue capek.” Hani melempar bola basketnya sembarang dan pergi ke pinggir lapangan untuk beristirahat disana.


•••


“Yaelah baru juga sebentar.” Darel mengikuti Hani dan duduk di samping Hani.


“Besok lagi aja deh, ini juga udah sore, gue mesti pulang.” Hani beranjak dari tempat duduknya.


“Yahhh kok gitu sih? Bentar lagi aja deh.” Darel menahan tangan Hani, tapi ia masih duduk sedangkan Hani sudah berdiri.


“Nyokap gue pasti marah kalo gue pulang malem-malem.”


“30 menit aja, 30 menit lagi.” Darel memasang wajah memelasnya.


“Kelamaan lah, emang mau ngapain?”


“Oke oke. Tunggu bentar di sini, tunggu, bentaran doang! Nanti gue balik lagi.” Darel berdiri dan berlari keluar lapangan entah kemana.


Apa boleh buat Hani harus menunggu Darel sebentar. Sekaligus ia juga masih perlu istirahat karena permainan basket benar-banar menguras tenaganya. Padahal ini hanya bermain-main, apalagi jika permainan yang sesungguhnya. 


Hani sudah pasrah jika nanti saat pulang ia akan dimarahi habis-habisan oleh Mamahnya. Itu sudah biasa bagi Hani. Mungkin Hani harus menikmati hari-hari bebas seperti ini yang jarang sekali ia rasakan. Ternyata memang menyenangkan. Tidak heran jika banyak siswa yang lebih suka bermain daripada belajar. Tapi sekarang belum saatnya untuk Hani bersenang-senang. Hani masih harus belajar sekuat tenaga sampai sesuatu yang Mamahnya inginkan tercapai.


Tidak membutuhkan waktu lama Darel sudah kembali dengan membawa dua ice cream di tangannya.


“Lo beli ice cream?” Hani tertawa karena ternyata alasan Darel memintanya untuk menunggu hanya untuk membeli ice cream saja.


“Iya. Rasa coklat buat lo.” Darel memberikan ice cream coklat kepada Hani. “Dan rasa vanila buat gue.” Mereka duduk di kursi pinggir lapang. Tanpa menunggu lama lagi Darel langsung menyantap ice cream-nya, begitu juga Hani.


Hani menggigit sedikit ice cream nya. “Hmm enak juga ya kayak gini.” Hani menghela nafas lembut.


“Kayak gimana?” Darel masih fokus dengan ice cream-nya.


“Main.” Jawab Hani singkat dan menggigit ice cream-nya lagi.


Darel menatap Hani. Entah dorongan apa yang membuatnya ingin menatap Hani sedekat ini dan sedalam ini. Darel menyadari jika Hani tidak pernah merasakan kebahagiaan selama ini. Apa mungkin ini pertama kalinya Hani bersenang-senang? Pertanyaan itu berputar di kepala Darel.


“Nggak usah kasihan sama gue.” Seperti tau apa yang dipikirkan Darel, Hani langsung memberitahu Darel. Hani menatap lurus ke jalanan yang sepi karena jalan menuju lapangan basket ini bukan jalan utama.


Darel tidak peduli dengan pernyataan Hani. Karena ia tahu persis jika Hani hanya pura-pura kuat. 


Darel tau jika ada sesuatu yang Hani sembunyikan dari dia selama ini. “Lo punya masalah?” Tanya Darel dengan hati-hati.


Hani berhenti memakan ice cream-nya dan menatap Darel dengan tatapan biasa saja. “Nggak ada.” Hani menggelengkan kepalanya seolah-olah ia memang tidak punya masalah.


Darel mendengus dan mengangkat ujung bibir kanannya. “Lo emang jago akting.” Darel mengacak-acak rambut dan kembali memakan ice cream-nya.


“Gue beneran nggak papa kok.” Hani mencoba meyakinkan Darel agar percaya dengan kebohongannya. Sepertinya kesedihan yang selama ini Hani sembunyikan akan segera terungkap.


“Oke oke. Terserah lo aja deh.” Darel tidak ingin membuat masalah baru dengan Hani, dan memilih untuk diam sampai Hani sendiri yang menceritakan masalahnya. Kedepannya mereka berdua hanya berdiam dengan pikirannya masing-masing sampai Hani menyadari jika ia harus segera pulang.


“Rel! Nggak ada apa-apa lagi kan? Gue mau pulang.” Hani berdiri dan menunggu jawaban Darel, tapi Darel tidak menjawabnya, ia hanya menatap lurus.


“Apa sekarang aja?” Batin Darel


“Gue duluan ya.” Hani membawa tas nya berniat untuk pergi.


Dengan cepat Darel menahan Hani. “Lo lagi deket sama Aray? Kenapa nggak cerita?” Tanya Darel yang sedang menatap Hani tanpa ada niatan untuk beranjak.


“Nggak kok. Cuma kebetulan doang.” Hani menanggapi Darel dengan santai.


“Lain kali kalo pun cuma kebetulan jangan deket-deket sama dia!” Darel kembali menatap lurus.


“Kenapa? Dia asik kok.”


“Gue nggak suka.”


“Lo kenapa ? Aneh deh.” Hani sedikit tertawa.


Darel tidak menjawab Hani, ia hanya menatap Hani dengan tatapan serius dan itu membuat Hani sedikit canggung.


Darel berdiri dengan tangan yang masih menggenggam tangan Hani. “Nggak suka aja, pokoknya jangan deket-deket sama dia.”


“Ya... kenapa dulu? Emang Aray kenapa?” Hani merasa Darel semakin semakin aneh.


“Harus gitu gue kasih tau alasannya?” Tanya balik Darel.


“Ya iyalah. Lagian lo tiba-tiba larang gue buat deket sama A...”


“Gue cemburu.” Darel memotong perkataan Hani.


Darel pikir ini memang waktunya. Entah sejak kapan timbul perasaan dalam hatinya kalau ia menyukai perempuan yang ada di hadapannya ini. Ia tidak peduli dengan perkataan Hani jika ia tidak akan berpacaran. Darel ingin mencoba membuka hati Hani kembali.


“Cemburu? Buat apa lo cemburu? Lo lucu deh.” Hani tertawa dan menganggap perkataan Darel hanya lawakan saja.


“Gue serius Han.” 


Hani melepaskan genggaman Darel. “Udah deh, ayo pulang!”


“Lo pikir gue bercanda Han?”


“Ya iy...”


“Lo pikir perasaan gue cuma candaan?”

__ADS_1


“Rel...”


“Lo pikir pengakuan gue cuma lawakan?”


Darel terus berbicara tanpa membiarkan Hani menjawabnya, sebab ia yakin Hani pasti akan menyangkalnya. Sungguh sekarang dirinya yang selalu tenanh sudah tidak ada.


“...”


“Peka dong Han! Gue suka sama lo.” Darel memelankan suaranya.


Hani membuang nafas kasar. Hani benci dengan percakapan seperti ini. Percakapan yang sama seperti Rendi yang berujung pada pengkhianatan. Hani tidak tau kenapa Darel bisa menyukainya. Tapi yang pasti ia tidak pernah menyukai Darel sebagai laki-laki sedikit pun. Ia hanya menganggap Darel sebagai sahabat. 


Hani tidak tahu apa yang harus ia jawab, ia ingin menolak Darel dengan halus, tapi ia takut jika Darel akan marah kepadanya. Bagaimanapun juga Darel adalah sahabat terpercayanya. Tempat ia berbagi rasa sedih. Tapi Hani harus tetap menolak Darel agar perasaannya terhadap Hani tidak membesar. 


“Sorry... Gue nggak bisa.” Kata Hani dengan santai.


Darel tersenyum kecut. “Udah gue kira.”


“Lo tau sendiri kan gue nggak mau pacaran.”


“Tau kok. Waktu itu gue sendiri yang dukung lo buat nggak pacaran, tapi gue sendiri yang suka sama lo. Gue emang bego.” Darel tertawa kaku.


“...”


“Ya udah yuk pulang!” Darel berjalan mendahului Hani.


Hani sudah menduga jika keadaannya pasti akan canggung seperti ini. Itulah salah satu alasan ia benci dengan ‘pengakuan perasaan’. Jika ditolak pasti akan seperti ini, terasa tidak saling mengenal. Jika diterima, hanya awalnya saja yang manis tapi lama-kelamaan akan timbul rasa bosan hingga akhirnya putus dan kembali canggung. Sama saja. 


Hani melihat punggung Darel yang sudah agak jauh.


“Ternyata lo lagi Han.” Batin seseorang yang sejak tadi mengikuti Hani dan Darel.


•••


Cklek...


Hani melepas sepatunya dan masuk ke rumah.


“Kenapa baru pulang?” Tanya Mamahnya Hani yang sedang menonton acara TV.


Hani melihat jam dan ternyata sudah hampir malam. “Maaf mah.” Kali ini hanya itu yang bisa Hani ucapkan, ia benar-benar capek.


“Hani dari mana kamu?” Mamah Hani mematikan TV-nya dan menatap Hani dengan tatapan marah.


“Belajar basket.”


“Jadi sekarang udah berani pulang malem cuma buat main basket doang. Pinter banget ya kamu.” Mamah Hani menyilangkan tangannya di depan dada.


"Hani belajar Mah bukan main.”


“Mamah tau sendiri kan kalo nilai olahraga Hani kecil, jadi Pak Doni minta temen Hani buat bantuin Hani belajar basket.” Jelas Hani.


“Temen atau pacar kamu?”


“Temen lah Mah.” Hani mulai kesal dengan Mamahnya. Ia sedang dalam keadaan emosi karena kecapekan.


“Tapi itu laki-laki.”


“Ya emangnya temen Hani perempuan doang?”


“Bohong kamu.”


“Nggak mah.” Hani sedikit berteriak karena sekarang ia sangat capek dan ingin istirahat sedangkan Mamahnya  terus memancing amarah Hani.


“Kamu udah berani bentak Mamah yah ternyata. Udah salah, nggak sopan lagi. Ini nih alasan Mamah nggak ngebiarin kamu keluyuran kayak tadi. Mamah liat juga kamu makin kesini makin ngelunjak sama Mamah. Kamu...”


“Mah udah ya cukup, Hani capek, Hani pengen tidur.” Hani memijat kepalanya yang terasa pusing dan pergi meninggalkan Mamahnya yang masih dalam keadaan marah.


“Hanii... Haniii..!” Teriak Mamahnya.


Hani pergi ke kamarnya dengan langkah gontai. Ia sangat pusing dengan omelan Mamahnya tadi ditambah pengakuan Darel tadi yang entah kenapa menjadi beban baru bagi Hani.


Hani melempar tas nya sembarang dan pergi ke kamar mandi. Hani tidak mandi ia hanya mencuci mukanya yang terlihat kusut. Ia menatap pantulan dirinya di cermin sampai pertanyaan itu kembali melintas dipikiran Hani. Kenapa semua penderitaan terjadi kepadanya?


Belajar. Kekangan. Masalah. Penderitaan. Amarah. Kesedihan. Mamahnya. Papahnya. Darah. Darah yang mengalir dari kepala Papahnya. Darah itu. Darah. Darah yang keluar karenanya.


“Arrrggh.” Hani memegang kepalanya yang tiba-tiba sakit. Nafasnya kembali memburu.


Hani melorotkan tubuhnya ke lantai kamar mandi, sebelah tangannya memegang kepalanya dan sebelah lagi berpegangan pada wastafel. Bayangan itu muncul lagi. Perasaan itu timbul lagi. Perasaan yang membuatnya takut sampai seluruh tubuhnya bergetar.


“...P-Pa...pah..” Hani meneteskan air matanya dan mengatur nafasnya. Hani menyingkirkan kenangan buruk itu agar ia bisa mengontrol dirinya lagi. Meskipun pada akhirnya ia tetap menangis.


•••


Keesokkan harinya, Hani tidak fokus saat belajar. Hani juga sering ditegur karena melamun dan itu membuat Darel merasa bersalah. Karena mungkin ia adalah salah satu penyebab Hani terus melamun.


“Han lo kenapa?” Tanya Vivi teman sebangku Hani.


“Mmm? Gue nggak papa kok.” Hani tersenyum tipis.


“Jangan ngelamun mulu dong. Kayak bukan lo aja.” Vivi sedikit tertawa sedangkan Hani hanya tersenyum.


Hani memang dikenal sebagai orang yang serius saat belajar. Ia selalu fokus pada apa yang sedang diterangkan oleh guru. Tapi anehnya tetap saja ia tidak bisa mengalahkan kepintaran Darel.

__ADS_1


Bel istirahat berbunyi. Tanpa aba-aba semua siswa langsung berhamburan ke kantin termasuk teman-teman Hani. Namun kali ini Hani tidak mengikuti teman-temannya ke kantin. Hani memilih untuk pergi ke perpustakaan, ia ingin menenangkan dirinya yang sedang badmood.


Hani tidak benar-benar membaca buku ia hanya melihat-lihat gambarnya saja. Tapi itu sukses membuat mata Hani mengantuk dan akhirnya tertidur. Beberapa menit kemudian terdengar suara yang membangunkan dirinya. Otak Hani menyuruhnya untuk bangun tapi lain dengan tubuhnya yang tidak ingin bergerak.


“Oi bangun.” Ucap seseorang sambil ngetok-ngetok meja yang ditiduri Hani.


Akhirnya Hani bangun dan mendapati Gina dan teman-temannya yang sedang berdiri di depannya. “Mau apa lagi sih kalian?” Tanya Hani masih dalam posisi tidur.


“Gue mau ngomong penting sama lo.” Gina mencondongkan kepalanya ke Hani dan tangannya bertumpu pada meja.


“Ohh mau ngomong, kirain mau ngeroyok.” Hani menegakkan badannya dan melihat Gina dan teman-temannya satu persatu.


“Yaudah mau ngomong apa?” lanjut Hani.


“Lo pacaran sama Darel.”


“Nggak!”


“Lo suka sama Darel?”


“Nggak!”


“Atau lo permainin Darel?”


“Nggak!’


“Trus hubungan lo sama Darel apa?” Kini Gea yang bertanya.


“Lo semua datengin gue kesini, ganggu tidur gue cuma buat nanya hal-hal yang nggak bermutu kayak gitu? Nggak ada kerjaan ya lo semua?” Tanya Hani yang memang sedang tidak bisa menjaga emosinya.


“Ngaku aja deh lo, lo cuma mau permainin Darel doang kan. Kemarin gue lihat Darel nembak lo di lapang basket trus lo tolak.” Sahut Gea yang ternyata kemarin mengikutinya.


“Maksud lo, lo jadi penguntit?” Hani tersenyum sinis, ia tidak terima jika kemarin ia diikuti.


“Udah nggak usah banyak nanya deh! Jawab jujur aja lo punya hubungan apa sama Darel?” Tanya Gina lagi.


“Gue nggak ada hubungan apa-apa sama Darel, cuma temenan kok.” Hani menjawab dengan santai.


“Ngaku aja! Kita semua juga tau kali, lo cuma mau bales dendam kan?” Sharla mulai angkat suara.


“Bales dendam buat apa?” Hani bingung sama mereka semua yang asal nyimpulin kejadian kemarin.


“Kalo lo nggak terima waktu Rendi permainin lo, dan sekarang bales dendam dengan cara permainin Darel. Tapi kenapa mesti Darel? Emang nggak kasian? Mending buat gue aja.” Gina menjelaskannya panjang lebar tapi satupun tidak ada yang benar menurut Hani.


“Gue nggak ngerti sama pemikiran lo semua. Pantes aja ya lo semua nggak dimasukin ke Kelas Favorit, punya otak aja nggak dipake. Otak lo semua pada kemana? Asal nyimpulin kejadian aja. Terutama lo Gin, pake dong otak lo! Kalo lo marah gara-gara Darel ya marah aja jangan maen keroyokan kek gini! Dasar manja.” 


Checkmate 


Hani tidak bisa mengontrol emosinya lagi. Mungkin banyaknya masalah berpengaruh pada emosinya. Biasanya Hani tidak mudah tersulut emosi tapi ini beda.


“A-Apa lo bilang? Berani-beraninya ya lo bilang gitu?” Gina kehabisan kata-kata.


“Gue nggak peduli sama lo sekarang, kalo mau ambil Darel ambil aja! Gue nggak ada rasa sama dia. Jangan cari-cari gue lagi! Bosen gue liat muka lo.” Hani pergi meninggalkan Gina dan yang lainnya dengan wajah masam.


“Han... Hani!!” Gina hendak mengejar Hani tapi teman-temannya menahan Gina. Karena tidak ada gunanya juga mereka debat dengan orang seperti Hani.


Hani mendudukkan dirinya di kursi koridor. Ia sangat lelah. Hani ingin sekali mencari tempat yang bisa membuatnya tenang. Dirumah sudah pasti ia tidak nyaman. Hani selalu berharap jika ia akan mendapatkan ketenangan itu di sekolah. Namun nyatanya tidak, di sekolah pun Hani tetap mempunyai masalah.


Hani menghembuskan nafas kasar.


“Udah gue duga, lo pasti jadi beban baru gue.” Batin Hani.


•••


1 bulan kemudian...


Tidak terasa hari begitu cepat berlalu saat menginjak kelas 12. Satu hari bagai satu jam. Hari berjalan dengan mulus, tapi tidak bagi orang yang menjalaninya. Satu bulan ini Hani bisa menahan semua masalah yang mendatanginya. Seperti biasa tidak ada yang istimewa. Mamahnya tetap sering marah-marah. Bayangan Papahnya sering muncul. Kepala Hani yang selalu tiba-tiba terasa sakit. Hubungannya dengan Darel pun sudah membaik. Hani dan Darel memilih untuk melupakan kejadian itu dan kembali berteman.


Jika keadaan kelas. Semakin hari semakin seperti di pasar. Apalagi Bobby dan Vero, sepertinya persentase kegilaan mereka bertambah per harinya. Ditambah sekarang mereka sudah mempunyai anggota baru yang tertular virus kegilaan mereka. Rio. Ya si siswa baru yang polos diubah menjadi siswa yang kacau oleh mereka berdua, walaupun tidak sepenuhnya. Jangan tanya bagaimana keseharian mereka bertiga di kelas. 


Seperti saat ini, mereka semua diberi tugas membuat cerpen bertema bebas per kelompok. Hani, Alexa, Vivi, Vanesha dan April kelompok tiga. Darel, Vero, Bobby, Rio dan Jeto kelompok 5. Tapi tetap saja mereka mengerjakan bersama.


“Jadi temanya mau apa nih?” Tanya Jeto kepada semuanya.


“Persahabatan aja.” Vanesha tiba-tiba berbicara dengan semangat.


“Nggak nggak. Alay alay.” Rio menyela.


“Pembunuhan aja.” Bobby angkat suara.


“Romance Comedy aja.” Alexa senyum-senyum sendiri.


“Lo pikir drakor.” April menoyor kepala Alexa. Ia memang suka korea, tapi tidak dengan dramanya. Katanya suka sakit hati jika melihat bias-nya romantis-romantisan dengan perempuan lain. 


“Gue nggak setuju. Ihhh.” Vero pura-pura merinding.


“Oii pembunuhan aja.” Bobby berbicara lagi.


“Tentang pelajar aja gimana?” Jeto memberi usul.


“Sabar gue mah, sabar, sabar kok, sabar gue, SABAR.” Bobby mengelus dadanya. Ia merasa ingin membunuh seseorang karena usulnya tidak ditanggapi sama sekali.


Rio yang menyadari itu hanya cengengesan “Kacangnya mantap bos.” Rio mengacungkan jempolnya.

__ADS_1


•••


Tbc


__ADS_2