Our Pride Class

Our Pride Class
•Chapter 6•


__ADS_3

Belajar. Belajar. Belajar. Hani muak dengan kata itu. Hani merasa bosan dengan belajar. Hani ingin menghapus kata terkutuk itu dari kehidupannya. Tapi sepertinya kata itu tidak akan pernah menghilang sampai kapan pun.


•••


“Pritttt...” Waktu Hani habis.


Pada akhirnya Hani hanya bisa memasukkan dua bola dalam dua menit. Satu bola dalam satu menit. Hani sudah menduga kalau hasilnya pasti akan seperti ini. Hani tersenyum hambar dan menghembuskan nafas kasar sambil menatap bola basket yang ada dihadapannya.


“Hani! Sudah saya bilang kan dari dulu, kamu harus berlatih bermain basket kalau kamu tidak mau nilai olahraga kamu jelek.” Pak Doni membentak Hani yang masih terdiam di tengah lapangan.


“Maaf Pak, saya nggak ada waktu buat latihan.” Jawab Hani dengan suara pelan karena ia takut dengan guru galak yang satu ini.


“Tapi mulai sekarang kamu harus perbaiki nilai olahraga kamu.”


“Baik Pak.”


“Ya sudah apa boleh buat.” Pak Doni menghela nafas. “Darel! Aray! Rio! Ke sini kalian!” Perintah Pak Doni.


Darel, Aray dan Rio menoleh ke Pak Doni dan langsung berlari ke arahnya.


“Ada apa ya Pak?” Tanya Rio si anak baru yang bisa masuk Kelas Favorit.


“Saya akan memberikan tugas kepada kalian untuk mengajari Hani bermain Basket. Siapa saja yang sedang luang waktunya.” Jelas Pak Doni.


Alasan Pak Doni menyuruh mereka bertiga adalah karena diantara murid yang lain, mereka bertiga lah yang paling hebat bermain basket. Termasuk Rio yang postur tubuhnya tinggi itu berhasil memasukkan 15 bola dalam 2 menit.


“Ehm Pak maaf. Kayaknya kalo sama Rio bakal canggung deh, kan baru kenal.” Kata Hani dengan hati-hati karena takut menyinggung Rio. “Ya kan?” Hani menatap Rio dan berharap jika Rio satu pendapat dengannya.


Mana mungkin Hani bisa fokus kalau ia diajari oleh orang yang bahkan belum sempat kenalan dengannya. 


“Iya Pak, saya juga setuju sama Hani.” Untungnya Rio mengerti kalau ia memang belum akrab dengan Hani.


“Baiklah saya mengerti, kamu boleh kembali.” Jawab Pak Doni.


“Makasih Pak.” Rio langsung berlari ke pinggir lapangan lagi.


“Berarti sekarang siapa diantara kalian yang mau mengajari Hani?” Tanya Pak Doni sambil melirik Darel dan Aray secara bergantian.


“Jangan saya deh Pak, saya lagi sibuk banget.” Celetuk Aray tanpa menunggu jawaban dari Pak Doni, ia berbalik dan pergi ke arah kantin.


Pak Doni menggelengkan kepalanya saat melihat sikap Aray yang sering berubah-ubah. “Kalau begitu sisanya tinggal kamu Darel. Mau tidak mau kamu harus mengajari Hani bermain basket.”


Hani berharap kalau Darel mau mengajarinya, karena ia sudah putus asa dengan olahraga basket. Seharusnya Darel pasti mau karena ia adalah sahabat Hani satu-satunya yang bisa Hani andalkan.


“Gimana nanti aja deh Pak.” Jawab Darel dengan nada malas dan langsung pergi. Entah kenapa hari ini ia menjadi tidak mood dengan sesuatu yang berhubungan dengan Hani. Darel sendiri juga tidak tau kenapa ia jadi seperti ini. Biasanya ia pasti akan semangat dengan hal-hal yang menyangkut Hani apalagi mengajarinya bermain basket. Tapi hari ini tidak.


Jawaban yang diberikan Darel sedikit membuat Hani kecewa. Kenapa sikap Darel beda? Hani mengerucutkan bibirnya karena ternyata jawaban Darel di luar dugaannya.


“Ya sudah intinya kamu harus berlatih bermain basket, kapan-kapan saya akan tes ulang kamu. Saya jarang memberikan kesempatan seperti ini jadi saya harap kamu bisa menggunakan kesempatan ini dengan baik.” Pak Doni memberikan kesempatan yang sangat langka ia berikan kepada murid lain.


“Serius Pak? Saya janji saya pasti akan bisa bermain basket.” Hani sangat senang karena diberikan kesempatan kedua.


Pak Doni mengangguk sambil tersenyum. “Sekarang kamu kembali ke kelas sudah mau bel pergantian pelajaran.”


“Siap Pak.” Hani mengangkat tangannya seperti posisi menghormat bendera dengan senyuman manisnya dan pergi setelah mendengar bel berbunyi.


Hani lari mengejar Darel yang sudah mendahuluinya sejak tadi. Hani ingin menanyakan kalau Darel setuju atau tidak untuk mengajari Hani bermain basket. Sekarang Hani sangat membutuhkan Darel agar nilainya bisa meningkat.


“Darel... Darel... Tunggu!” Hani berhenti didepan Darel dengan terengah-engah.


“Apaan?” Tanya Darel dengan muka ketus.


“Kusut amat muka lo. Lagi ada masalah ya?” Hani yang menyadari perubahan Darel merasa heran karena biasanya Darel tidak seperti ini.


“Nggak ada. Minggir gue mau lewat.” Jawab Darel singkat dan menyingkirkan Hani dari hadapannya.


“Lo kenapa sih?” Hani berjalan disamping Darel. “Harusnya kan gue yang marah sama lo gara-gara tadi pagi, tapi kenapa sekarang jadi lo yang marah?” Hani mencoba mengimbangi langkah kaki Darel yang seperti sedang buru-buru.


“Siapa yang marah sih?” Darel bertanya tanpa melirik Hani.

__ADS_1


“Lo.” 


“Nggak, perasaan lo doang kali.” Darel masih tetap tidak melirik Hani.


“Gue ada salah ya sama lo?”


“...”


“Jawab!”


“...”


Hani berjalan mendahului Darel dan berhenti di depannya dan otomatis membuat Darel juga ikut berhenti. “Jawab cepet! Gue ada salah sama lo?” Hani benar benar tidak mengerti dengan sikap Darel hari ini kepadanya. 


“Gue bilang nggak ya nggak.” Darel setengah membentak Hani dan pergi mendahului Hani. Lagi.


“Ish.”


•••


Darel berjalan cepat menuju kelasnya, ia tidak ingin kalau Hani berhasil mengejarnya lagi. Tapi untunglah saat ia berbalik Hani tidak mengikutinya lagi. Darel tidak tau perasaan apa yang sedang ia rasakan. Perasaan yang belum pernah ia rasakan dan perasaanya itu berdampak pada sikapnya terhadap Hani. Karena perasaannya sekarang menyangkut Hani. Atau mungkin lebih tepatnya karena Hani.


Darel mengakui jika akhir-akhir ini ia sedikit kesal karena Hani dekat dengan Aray. Orang yang paling ia benci, dan kekesalannya itu berakhir pada kemarahan, karena lagi-lagi Hani dan Aray selalu berdua. Darel tidak mengerti kenapa ia bisa marah karena hal itu. Hani bukan siapa-siapanya, tapi kenapa ia merasakan amarah yang dirasakan oleh seorang pasangan. Cemburu.


Pertama, Darel kesal karena Hani terlambat bersama Aray saat pertama masuk. Kedua, karena keterlambatan itu membuat Hani dan Aray dihukum berdua di perpustakaan. Ketiga, untuk yang kedua kalinya Hani dan Aray dihukum bersama. Apa karena hal sepele itu Darel sampai marah kepada Hani?


Selama di perjalan menuju ke kelas Darel berpikir apa mungkin ia cemburu? Darel memang sempat menyukai Hani karena kepribadiannya yang berbeda dari perempuan lainnya. Hani adalah orang yang selalu bekerja keras jika ia mempunyai suatu keinginan. Awalnya juga Darel sangat canggung dengan Hani tapi lama-kelamaan Darel merasa Hani adalah perempuan yang asik diajak berbicara. Bahkan Hani sering memberikan saran bagus saat Darel menceritakan masalahnya. Tidak jarang juga Hani bercerita tentang Rendi yang meninggalkannya karena sahabatnya. Tapi Hani tidak memberitahu Darel jika sahabatnya yang dulu itu adalah Gina.


Apa karena kedekatan Darel dan Hani selama ini membuat Darel menyukai Hani sebagai seorang perempuan bukan karena sahabat?


Darel mengacak-acak rambutnya karena ia pusing memikirkan perasaannya terhadap Hani. Sampai tiba-tiba ada seseorang yang memeluk lengannya.


“Hai Darel.”


Gina.


“Gin jangan kayak gini! Ini tuh di sekolah.” Darel berusaha melepaskan tangan Gina. Kalau ini Hani sih tidak masalah, tapi mana mungkin Hani melakukannya.


“Nggak enak diliatin orang.” Darel akhirnya bisa melepaskan tangan Gina dari lengannya dengan susah payah karena ia takut akan muncul gosip kalau ia berpacaran dengan Gina.


“Ihh lo nggak romantis banget sih.” Gina melipat kedua tangannya di depan dada dengan muka cemberut.


“Ngapain juga gue harus romantis sama lo. Nggak guna banget.” Sekarang Darel sedang tidak mood berbicara dengan siapa pun dan emosinya juga sedang tidak bisa dikontrol.


“Kok lo gitu sih.” Gina kesal dan menghentak-hentakkan kakinya di lantai.


“Lo bisa diem nggak sih? Gue lagi males ngomong.” Darel menatap Gina sekilas dengan tatapan dingin.


“Ya udah deh gue diem. Tapi gantinya nanti lo harus temenin gue ke toko buku.” Gina tidak pernah menyerah untuk membuat hati Darel luluh.


Gina sudah menyukai Darel dari kelas 1 SMA. Tepatnya satu bulan setelah ia putus dari Rendi. Pertama melihat Darel pun ia langsung menyukainya. Darel yang mempunyai tubuh tinggi dan jago basket adalah tipe ideal Gina. Apalagi selama ini Darel selalu menjadi juara di kelasnya.


Gina sangat menyukai Darel. Ia tidak peduli dengan apapun, asalkan ia mendapatkan Darel. Meskipus Gina harus mengorbankan segala sesuatu untuk mendapatkan Darel, ia pasti akan mengorbankannya.


“Nggak deh, males gue.”


“Yahhh kenapa? Gue traktir nanti.”


“Nggak!”


“Ya tapi kenapa?” Gina masih belum mau nyerah dengan penolakkan Darel.


“Pokoknya gue nggak mau aja.” Darel sedikit menggelengkan kepalanya.


“Ya kan pasti ada alasannya.” 


“Mmm.” Darel berpikir alasan apa yang bagus untuk menolak ajakan Gina. Tidak ada alasan lain lagi selain alasan itu. “Gue ada janji sama Hani.” 


Gina agak kesal mendengar nama Hani disebut. Kenapa harus Hani lagi? “Hani yang mana?” Gina bertanya dengan ragu.

__ADS_1


“Emangnya di sekolah ini tuh ada berapa yang namanya Hani? Kalo setau gue cuma satu yang namanya Hani.”


Sudah pasti Hani yang dibicarakan Darel adalah Hani mantan sahabat Gina. Entah kenapa mendengar nama Hani yang keluar dari mulut Darel membuat Gina tidak enak Hani. Mungkin mulai sekarang ia harus agak hati-hati dengan Hani. Karena tidak menutup kemungkinan jika Darel dan Hani mempunyai hubungan.


“Lo punya janji apa sama Hani?” Tanya Gina sinis.


“Latihan basket.”


“Mesti banget apa latihan basketnya sama lo?” 


“Kan Pak Doni nyuruh gue buat ajarin Hani main basket.” Kata Darel santai tanpa mempedulikan Gina yang sudah kesal dari tadi.


“Trus lo mau gitu?” Gina terus bertanya tanpa henti karena ia ingin mengetahui alasan kenapa Darel lebih mementingkan Hani dari pada dirinya. Memangnya Darel dan Hani mempunyai hubungan apa?


“Lo tuh jadi orang banyak nanya tau nggak? Kan tadi udah gue bilang gue lagi nggak mood ngomong.” Darel kembali menatap Gina dengan malas.


“Gue ke kelas dulu.” Lanjut Darel tanpa melirik Gina yang sejak tadi mengepalkan tangannya.


Darel sampai di kelasnya, dan untung saja belum ada guru karena Darel sudah terlambat 10 menit. Saat di depan pintu Darel berpapasan dengan Aray yang hendak keluar. Darel menatap Aray dengan tatapan tajamnya. Tapi Aray tidak menyadari kalau ada Darel di hadapannya dan malah fokus pada handphone-nya. Darel menabrakkan bahunya ke bahu Aray dan otomatis membuat Aray berbalik dan menatap orang yang menabraknya. 


Aray mendengus ketika melihat orang yang menabraknya itu adalah Darel. “Cih.” Hanya itu kata yang keluar dari mulut Aray, tidak lupa dengan tatapannya yang menyimpan amarah.


Sedangkan Darel hanya tersenyum miring lalu pergi ke kursinya. Darel terkejut karena melihat Hani yang sudah berada di kursinya. Hani memilih jalan yang lain menuju ke kelas agar tidak bersama Darel yang mood nya sedang jelek.


Darel duduk dikursinya dan membuka buku paket IPA yang sampai sekarang gurunya belum datang juga. Tapi tiba-tiba dari belakang ada seseorag yang menepuk pundaknya dan itu adalah Vero.


“Eh Ver, ada apa?” Darel menutup buku IPA yang tadi sempat ia baca sekilas.


“Gue cuma mau nanya kabar lo sama si Aray gimana?” Vero agak ragu untuk menanyakan hal ini kepada Darel. Tapi jika ia tidak menanyakannya maka rasa penasarannya itu tidak akan terobati.


Hanya Vero seorang yang mengetahui masalah yang terjadi dengan Aray dan Darel. Semua siswa yang ada di kelas pun tidak ada yang mengetahuinya bahkan sadar juga tidak. Hani yang selalu menjadi tempat curhat Darel juga tidak mengetahuinya. Darel tidak mau membebani Hani dengan masalahnya yang cukup besar ini. Karena ia tau jika Hani mempunyai masalah yang lebih berat. Meskipun Hani tidak pernah menceritakannya.


Walaupun Vero adalah anak yang cerewet dan bisa dibilang tidak normal. Tapi ia adalah seseorang yang dapat menyimpan rahasia. Vero juga berteman baik dengan Aray dari SMP sampai sekarang. Jadi meskipun di kelas Aray dan Vero biasa-biasa saja tapi sebenarnya mereka sudah sangat tau sifat masing-masing.


“Ya gitu deh. Masih kayak dulu.” Darel sangat males membahas masalah yang tidak ada ujungnya ini.


“Apa nggak sebaiknya lo berdua baikan aja.” Vero duduk di kursi sebelah Darel.


“Nggak tau lah.”


“Saran aja sih ya. Kalo menurut gue mending baikan aja deh. Kan nggak baik musuhan lama-lama. Nggak bosen apa?” Vero sedikit bercanda dengan percakapan yang cukup serius itu.


“Lagian kalo misalnya kejadian itu nggak terjadi semuanya pasti baik-baik aja dan gue nggak akan pernah punya masalah apapun. Jadi ini semua tuh murni salah dia.” Jawab Darel dengan nada tegas.


“Susah emang kalo ngomong sama orang yang emosian. Dua-dua nya juga keras kelapa eh kepala.” Vero pasrah jika harus menasihati Darel atau pun Aray karena mereka berdua memang keras kepala.


Tanpa Darel dan Vero sadari, sejak tadi ada yang menguping pembicaran mereka dari belakang.


“Emangnya Darel sama Aray punya masalah apaan?” Gumam orang itu.


•••


Bel pulang berbunyi, dan tanpa disuruh pun semua siswa-siswi langsung membereskan peralatan sekolah masing-masing. Untuk hari ini Darel terpaksa harus mengajari Hani bermain basket walaupun suasana hatinya sedang kacau karena Hani. Darel lebih memilih mengajari Hani dari pada harus jalan-jalan dengan Gina. Darel juga tidak enak dengan Hani karena sikapnya tadi dan sekarang ia yang harus mengajak Hani latihan basket.


Hani berjalan sendiri menuju gerbang keluar. Hari ini ia harus langsung pulang ke rumah karena jika ia terlambat ia pasti akan dimarahi oleh Mamahnya. Bukannya Hani tidak mau dimarahi, hanya saja ia sangat bosan mendengar celotehan Mamahnya yang semakin hari semakin menyakiti hatinya. Hani tau kalau maksud Mamahnya itu baik, ingin anaknya mempunyai pendidikan yang bagus. Tapi, Hani pikir cara yang dilakukan Mamahnya itu salah. Dengan memaksa seorang anak untuk belajar bisa saja membuat anak tersebut menjadi stres karena mendapat tekanan dari ibunya. Mungkin Hani juga sudah mengalaminya.


Hani terus melamun di perjalanan menuju gerbang sampai tidak sadar jika sejak tadi Darel memperhatikannya dari parkiran. Darel yang melihat Hani berjalan sendiri tanpa teman-temannya langsung menghampiri Hani dengan setengah berlari. Setelah sampai di hadapan Hani, Darel langsung tersenyum sambil memegang pergelangan tangan Hani dan menariknya. “Ikut gue yuk!”


Hani sangat terkejut karena ada yang membuyarkan lamunannya. Hani lebih terkejut lagi karena yang mengagetkannya itu Darel, terlebih lagi Darel dengan tidak sopannya langsung menarik Hani. “Ehhh.” Hani berhenti dan melepaskan tangan Darel membuat Darel juga berhenti.


“Lo mau ajak gue kemana?” Tanya Hani 


“Mmm.” Darel memasang wajah jailnya. “Ada deh.”


“Gue nggak mau. Gue sibuk.” Tanpa menunggu jawaban Darel Hani langsung berbalik dan hendak pergi.


Darel yang melihat Hani akan pergi, dengan cepat menarik Hani kehadapannya lagi. “Pokoknya lo harus mau! Nggak boleh nolak!” Darel tersenyum dan memperlihatkan deretan giginya yang rapi.


•••

__ADS_1


Tbc


*Maaf ya buat chapter 5 nya ke hps, aku ups chapter 5 nya setelah chapter 7 atau 8... Maaf sekali lagi


__ADS_2