Our Pride Class

Our Pride Class
•Chapter 9•


__ADS_3

“Lo pikir drakor.” April menoyor kepala Alexa. Ia memang suka korea, tapi tidak dengan dramanya. Katanya suka sakit hati kalau lihat bias-nya romantis-romantisan dengan perempuan lain. 


“Gue nggak setuju. Ihhh.” Vero pura-pura merinding.


“Oii pembunuhan aja.” Bobby berbicara lagi.


“Tentang pelajar aja gimana?” Jeto memberi usul.


“Sabar gue mah, sabar, sabar kok, sabar gue, SABAR.” Bobby mengelus dadanya. Ia merasa ingin membunuh seseorang karena usulnya tidak ditanggapi sama sekali.


Rio yang menyadari itu hanya bisa cengengesan “Kacangnya mantap bos.” Rio mengacungkan jempolnya.


•••


“Kayaknya nggak bakal seru deh.” Vero menyanggah usul Jeto.


“Kalo tentang mimpi?” Vanesha memberi saran lagi.


“PEMBUNUHAN OIII PEMBUNUHAN.” 


Krik..


Bobby mengusap wajahnya dengan kasar. “Ya ampun suara gue udah pake Caps Lock semua tuh.”


“Kalo mimpi bahasanya mesti tinggi biar bagus.” Lagi-lagi Vero yang menyanggah.


"Lo tuh dari tadi bisanya cuma komen doang. Kasih saran dong.” April marah karena Vero sama sekali tidak membantu.


“Emang lo kasih saran gitu? Nggak kan?”


“O iya.”


Huuu...


Sementara itu Bobby pergi ke samping dan mengambil sapu. Ia menggebrak meja sampai semua siswa di kelas menatapnya.


BUK BUK BUK....


“Berisik Bob.”


“Kenapa sih Bob? Kesurupan lo?” 


“Bobby itu sapunya masih baru, jangan di rusak ihh.”


“Tenang Bob. Semua pasti ada jalan keluarnya. Jangan pake cara kekerasan. Ceritain lo kenapa?” Vero menenangkan Bobby.


“BUSYET DAH DARI TADI GUE NGOMONG KAGAK ADA YANG NANGGEPIN. BERASA JADI KACANG GUE, SAKIT OII... GUE BERASA JADI ANGIN YANG BERHEMBUS DARI TIMUR KEBARAT SELATAN KE UTARA TENGGARA KE BARAT DAYA, ADA TAPI GAK DIANGGEP.” Omel Bobby sambil ngos-ngosan karena ia berteriak tidak jelas.


“Sorry Bob.”


“Emang tadi lo usul apa?” Tanya Alexa.


"Pembunuhan." Jawab Bobby.


“Ohh... Gue kek nya nggak setuju deh.”


“Yaps.. serem.”


“Takut ada hantunya.”


"Nggak suka genre yang begitu gue.”


“Gue juga nggak setuju.”


“Kita semua nggak setuju Bob, sorry.” Ucap Vero yang berada di sebelah Bobby sambil menepuk pundak Bobby.


Bobby hanya melongo. Ditolak mentah-mentah lebih sakit ternyata.


“Lo ada usul apa Ver?” Tanya Vivi.


“Mmm Gimana kalo fantasi aja. Anime gitu misalnya kayak Tokyo Ghoul.” Kata Vero yang notabennya pecinta Anime.


“TOKYO GHOUL KAN JUGA PEMBUNUHAN BEGO!!!!”  Suara Caps Lock Bobby mode on sambil menoyor kepala Vero sampai hampir terjatuh.


“Oh iya lupa ehehe.” Vero cengengesan nggak jelas.


“Ada yang bawa gergaji mesin nggak?” Bobby muka pembunuh mode on.


“Di tas gue ada silet noh.” April menunjuk tasnya dengan dagu.


“Siappp”


“Woyyy serius dong.” Jeto menggebrak-gebrak meja dengan tangannya.


“Kalo temanya tentang pelajar yang mirip sama kita-kita, trus ada tentang mimpi, cinta, sahabat, bully sama komedinya juga, gimana? Jadi digabungin semuanya.” Hani yang sejak tadi diam mulai berbicara.


“Boleh juga tuh.” Jeto menyetujui ide Hani.

__ADS_1


“Ya udah coba aja dulu.” Vivi juga menyetujuinya.


“Oke. Kalo gitu gue setuju.”


“Lo semua emang tega ya sama gue. Gue yang dari tadi perlu usaha buat bias usul eh malah dikacangin, giliran udah ditanggepin malah ditolak mentah-mentah. Nah si Hani, ngomong sekali langsung pada setuju. Sakit gue, sakit. BROKEN LIVER GUE.” Bobby pergi ke sudut ruangan dan berjongkok disana.


Semua siswa yang melihat itu tertawa terbahak-bahak karena sikap Bobby yang enak untuk dibully. Dan tentunya itu hanya candaan semata.


Sementara itu Darel dari tadi tidak berbicara sama sekali. Sekarang ia sedang tidak minat untuk bercanda. Darel sedang menahan emosinya yang sejak tadi terus meningkat setiap kali melihat orang yang ia benci. Aray.


Dalam kegiatan kelompok seperti ini Aray tidak pernah bergabung, ia lebih memilih tidur dan para guru juga sudah memaklumi sikap Aray yang seperti ini. Dalam kesehariannya Aray memang jarang belajar, tapi bila ulangan tiba Aray selalu mendapat nilai diatas rata rata. Aray juga pernah dituduh mencuri soal ujian karena ia bisa mendapat nilai bagus tanpa pernah terlihat belajar. Namun gosip itu tidak terbukti benar.


Darel terus menatap Aray yang tidak jauh darinya. Tatapannya menyiratkan amarah dalam, tangannya bahkan mengepal. Tanpa diketahui Darel, sejak tadi Hani menyadari sikap Darel yang aneh.


“Rel! Lo kenapa?” Hani menepuk bahu Darel yang ada di sebelahnya.


Darel sedikit tersentak. “Nggak papa kok.” Darel menjawabnya singkat dan kembali pada buku catatannya, tapi sesekali ia menatap Aray.


“Kapan beresnya sih nih cerita? Pegel tangan gue.” Alexa merenggangkan tangannya.


“Yaelah baru juga komplikasi awal Lex.” Vanesha menjawab Alexa namun pandangannya masih pada buku.


“Sini gue bantu nulisnya.” Bobby menghampiri Alexa.


“Ogah tulisan lo kek ceker ayam.” 


“Nggak ngaca lo ya, masih untung ada yang bantuin.” Bobby menoyor kepala Alexa.


“Ehh Ver kok gue gatel-gatel ya?” Rio menggaruk-garuk tangannya.


“Gatel kenapa Yo?” Vero agak meninggikan suaranya.


“Nggak tau kek nya digigit nyamuk deh.”


“Ohh iya baru nyadar gue kalo banyak nyamuk di sini.” Vero menepuk-nepuk tangannya di udara.


“Duh nyamuknya banyak amat ya.” April juga ikut-ikutan.


“Ohok... Obat nyamuknya di mana oyy.” Jeto sedikit melirik Alexa dan Bobby.


“Lo semua apa-apaan sih?” Bobby mulai risih.


“Tau nih.” Alexa juga mulai kesal.


“Cieee saling bela.” Teriak Vanesha.


“Ciee salting cieee.”


“Mmmm Alexa pipinya merah tuh.” Vivi mencolek-colek pipi Alexa.


“Apaan sih Vi.”


“Ahaaha pada salting.” Tawa Vero pecah diikuti tawa semua teman-temannya.


Kringgg...


Bel istirahat berbunyi, semua siswa langsung membereskan buku mereka dan merapikan mejanya. “Tugasnya dikumpulkan minggu depan ya anak anak.” Ucap guru bahasa indonesia sekaligus wali kelas mereka dari depan pintu.


“Baik Bu.” Jawab mereka serempak.


Semua siswa berhamburan dari kelas menuju kantin, begitu juga Hani. Namun tidak dengan Darel dan Aray. Aray masih tidur dan tidak terganggu oleh berisiknya murid-murid dan suara bel. Sedangkan Darel, ia sedang menunggu kelas dalam keadaan sepi. Sampai akhirnya di kelas hanya tersisa Darel, Aray, Vero, Bobby dan sedikit siswa lainnya. Setelah dirasa lumayan sepi, Darel menghampiri Aray dan duduk di kursi depan Aray.


“Oyy bangun lo!” Ucap Darel sambil mengetuk meja Aray.


Aray bangun sebentar dan melihat siapa yang ada di hadapannya. “Mau ngapain lo?” Aray menatap Darel dengan malas.


“Gue udah nahan buat nggak nonjok lo dari  kemarin ya. Tapi sekarang gue udah nggak kuat sama sikap lo... sama nyokap lo.” Darel menahan perasaan marahnya dengan mengepalkan tangannya lagi.


Aray langsung menatap Darel serius saat Darel membawa nama Mamahnya. “Maksud lo apa?”


“Lo kemarin ngapain ke rumah gue minta duit banyak lagi dan parahnya lo datang pas bokap gue lagi ke luar kota. Pinter banget ya lo cari kesempatan.” Darel tersenyum sinis.


“Bukan urusan lo.” Aray menatap Darel tak kalah tajam.


•••


Kemarin malam pukul 19:15


Ting tong...


“Darel tolong bukain pintu dong! Mamah lagi masak.” Teriak Mamahnya Darel dari dapur dan Darel sedang di kamarnya tanpa ada niatan membuka pintu.


Mamahnya Darel yang menyadari Darel tidak keluar kamar, akhirnya mematikan kompor dan pergi ke depan untuk membukakan pintu. “Aray?” Mamahnya Darel terkejut melihat Aray yang sudah lama tidak mengunjunginya dan sekarang ada di depan matanya.


Mamahnya Darel memeluk Aray yang tingginya tidak beda jauh. “Mamah kangen sama kamu.” Mamahnya Darel mengeratkan pelukannya, tapi Aray tidak membalas pelukan itu.


Aray melepas pelukan Mamahnya Darel dengan sepihak. “Kamu ngapain kesini?” Tanya Mamahnya Darel dengan raut muka senang.

__ADS_1


Darel mendengar sepintas wanita itu sedang berbicara dengan seseorang membuatnya penasaran dan beranjak dari kasur untuk menghampiri wanita yang enggan ia panggil dengan sebutan ‘Mamah’. Darel sedikit terkejut melihat ada Aray di rumahnya. “Ngapain tu anak di sini?” Darel memperhatikan mereka berdua dari tangga.


Darel hendak menghampiri mereka, namun...


“Kapan transfer uangnya?” Tanya Aray kepada Mamahnya Darel. Darel yang mendengar itu mengurungkan niatnya dan tetap mendengarkan percakapan mereka.


“Oh iya mamah lupa. Mamah minta maaf banget sama kamu ya.” Jawab Mamahnya Darel dengan muka menyesal.


“Harusnya ditransfer tepat waktu!.” Aray menatap sendu wanita yang ada di hadapannya itu.


“Ya udah nanti Mamah transfer 10 juta ke rekening kamu ya. Sekali lagi Mamah minta maaf.” Mamahnya Darel memegang pundak Aray.


“Sebaiknya cepat!” Aray menurunkan tangan Mamahnya Darel dan menunduk.


“Mamah ngerti.” Ibu Darel tersenyum manis.


Darel yang sejak tadi menguping, tersenyum sinis melihat kelakuan dua orang yang lumayan jauh dari nya itu. “Ohh jadi ceritanya mau porotin duit bokap gue, anak sama nyokap sama aja.” Darel menatap Aray sekilas sebelum ia pergi ke kamarnya lagi.


•••


“Gue nggak ngerti sama lo dan nyokap lo, mau nya apa sih? Apa masih nggak cukup sama kejadian bertahun-tahun lalu?” Darel mulai meluapkan emosinya.


Vero yang sedang mengobrol dengan Rio, sejak tadi menguping percakapan Darel dan Aray yang mulai memanas. Vero melirik mereka berdua dengan sudut matanya. Saking fokusnya Vero menguping sampai Bobby yang sedang bercerita sejak tadi pun dikacangin... Lagi.


“Lo nggak perlu tau.” Aray sedikit enggan membahas soal kemarin.


“Jelas gue perlu tau lah. Siapa tau gue korban selanjutnya dari nyokap lo.” 


“Jaga ucapan lo!” Tegas Aray. Sehina-hinanya wanita itu, ia tetaplah Ibu kandung Aray. Meskipun Aray tidak ingin mengakuinya tapi tetap saja wanita itu telah bekerja keras untuknya.


“Emangnya ucapan gue sebanding apa sama kelakuan nyokap lo?” Tanya Darel sinis.


Aray tidak menjawab pertanyaan Darel, karena sebagian besar yang diucapkan Darel benar. Aray mulai terpancing emosinya, Aray menghembuskan nafas panjang untuk menenangkan emosinya.


“Nyokap sama anak emang sama ya kelakuannya, yang satu penggoda yang satu tukang morotin... Satu paket deh tuh.” 


Aray kembali menatap tajam Darel dan berdiri sambil nunjuk Darel. “JAGA OMONGAN LO!” Teriak Aray yang membuat semua orang yang ada di kelas menatap ke arah mereka. Vero yang melihat itu mulai khawatir kalau Aray tidak bisa mengontrol emosinya.


Darel tidak mempedulikan sorot mata teman-temannya yang penuh tanda tanya. “Emangnya gue salah? Dasar anak haram...”


Belum sempat Darel tertawa, ia sudah dipukul oleh Aray di bagian pipi dengan emosinya yang sudah berada di puncak. Darel sedikit terpental karena kerasnya pukulan Aray dan itu juga menyebabkan pipinya kebiru-biruan. Darel berdiri dengan senyum sinisnya, ia melayangkan pukulannya tepat di kepala Aray, karena ia tidak terima dengan sikap Aray yang tiba-tiba memukulnya. Aray sempat kehilangan keseimbangannya dan terjatuh namun dengan cepat ia kembali berdiri dan siap untuk membalas Darel. Ada sedikit bercak darah yang keluar dari pelipis Aray.


Semua siswa yang melihat itu, langsung terkejut dan menghampiri mereka berdua. Hani dan teman-temannya yang baru datang dari kantin pun ikut terkejut karena melihat kerumunan di meja Aray. Hani dan teman-temannya menghampiri kerumunan itu dan melihat apa yang sedang terjadi.


“Lo berdua ngapain berantem?!” Bentak Vero yang langsung menahan Aray yang hendak memukul Darel lagi. Tapi Aray seakan tuli, ia tidak peduli dengan apa yang diucapkan Vero dan padangan teman-temannya. Aray melepaskan tangan Vero yang menahan pundaknya dan ia mendorong Vero sampai tersungkur ke lantai.


Aray hendak memukul Darel lagi, namun pukulannya ditahan oleh Darel. Darel melihat kesempatan untuk memukul Aray lagi dan ia tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Darel memukul perut Aray berkali-kali, ia mengeluarkan semua amarah yang sudah ia bendung sejak kemarin.


Aray berusaha menghentikan pukulan Darel dengan cara mendorongnya sekuat tenaga. Tapi itu tidak berhasil sampai Aray merasa kalau pukulan Darel melemah, Aray pun membanting Darel dengan sekuat tenaga sampai menabrak tembok yang ada di belakangnya. Aray berjongkok untuk memukul Darel lagi. Aray memukul pipi Darel terus menerus sampai keluar darah dari sudut bibir dan hidung Darel. 


Vero yang melihat Darel sudah tidak bisa apa-apa hanya melihatnya dengan tatapan sendu. “Jeto! Bantuin nahan mereka!” Vero memanggil Jeto yang sejak tadi hanya melihat Darel dan Aray berantem. Percuma saja jika ia memanggil Bobby atau Rio karena mereka berdua anaknya penakut. Jeto mengangguk dan menghampiri Aray untuk menghentikannya.


Aray masih emosi dan berusaha memberontak dari tahanan Jeto. “Diem bego!” Jeto membentak Aray dengan tangan yang memegang pundak Aray. Awalnya Aray ingin terus memukul Darel tapi kali ini sudah cukup baginya memberikan pelajaran kepada Darel.


Aray melepas tangan Jeto dengan kasar dan pergi dari kelas dengan darah yang bercucuran dari pelipisnya.


Sedangkan Vero, ia membantu Darel untuk bangun. Vero sedikit melihat Darel yang mukanya hancur babak belur. “Gue perlu ngomong sama lo nanti.” Bisik Vero ke Darel saat ia membantu Darel berdiri.


Darel tidak menjawabnya dan hanya fokus pada rasa sakit yang ada di wajahnya.


Semua siswa perempuan tidak bisa berbuat apa-apa selain menutup mulut mereka saking terkejutnya. Tetapi berbeda dengan Hani yang seperti takut saat melihat Darel. Keringat bercucuran dari pori-pori kulit Hani, dadanya sesak, dan kepalanya sangat pusing. Hani memegang dadanya sambil mencoba untuk mengontrol nafasnya. Hani tidak ingin terlihat seperti orang penyakitan di depan teman-temannya. Hani berusaha untuk tidak gemetar tapi tetap saja tangannya tidak bisa berhenti bergetar sejak tadi. Mata Hani bahkan mulai memanas karena melihat keadaan Darel yang sekarang membuatnya teringat kejadian di masa lalu yang membuatnya trauma hebat.


“Han bantuin gue obatin si Darel di UKS!” Ucap Vero yang sedikit membuyarkan pikiran Hani. Vero sudah ada di depan Hani sambil menopang Darel dengan Rio. Vero sengaja menyuruh Hani untuk ikut dengannya karena Hani adalah orang yang paling dekat dengan Darel.


Hani mencoba untuk mengatur raut mukanya agar tidak terlihat ketakutan meskipun badannya yang semakin bergetar mungkin terlihat sedikit oleh yang lainnya. Sebelum semuanya terbongkar, Hani memilih untuk pergi tanpa menjawab ajakan Vero.


“Apa lo marah?” Batin Darel saat melihat Hani yang bahkan seperti tidak mempedulikannya. 


“Tu anak kenapa lagi?” Vero bertanya kepada dirinya sendiri karena jengkel melihat Hani yang tiba-tiba kabur.


Hani berlari keluar kelas sambil menunduk, ia tidak peduli kalau ada orang yang ia tabrak, yang ada dipikirannya sekarang adalah untuk menenangkan dirinya. Tidak ada tempat lain yang selalu sepi selain di gudang yang berada di atap sekolah. Hani memutuskan untuk pergi kesana. Siapa tau ia bisa tenang dengan melihat pemandangan sekitar dari atap sekolah.


Setelah sampai, Hani membuka pintu ke atap dan berlari lagi ke sudut ruangan yang agak teduh. Hani mengatur nafasnya yang memburu karena terus-terusan berlari dan karena dadanya yang sesak. Tapi bukannya tenang, kepalanya malah sakit membuatnya melorot karena kesakitan. Hani berusaha memenuhi semua sudut pikirannya dengan hal-hal lain agar masa lalunya tidak melintas lagi. 


Hani mengatur nafasnya lagi yang sudah mulai tenang. Akhirnya Hani bisa menenangkan pikirannya. Dada dan kepalanya pun sudah tidak terasa sakit. Hani menengadahkan kepalanya dan memejamkan matanya.


“Lo kenapa?” Tanya seseorang yang sontak membuat Hani membuka matanya. Hani terkejut melihat orang yang ada di hadapannya.


•••


Sekarang Darel, Vero dan Rio sedang berada di UKS. Darel membersihkan dan mengobati lukanya sendiri. Tidak ada dari mereka yang berniat membantunya, apalagi Vero yang mengetahui akar permasalahan Darel dan Aray. Menurut Vero Darel lah yang bersalah karena sudah memancing amarah Aray. Jadi Vero tidak mau mengobati Darel sekarang, karena Darel harus bertanggung jawab sendiri.


Darel sibuk dengan lukanya yang tidak bisa diobati sendirian. Andai saja Hani berada di sisinya dan mengobatinya, mungkin ia akan sedikit senang. Tapi nyatanya Hani malah pergi. Hani memang tidak memiliki perasaan apapun kepadanya. 


“Yo! Lo bisa tinggalin gue sama Darel nggak?” Ucap Vero memecah keheningan.


•••

__ADS_1


Tbc...


__ADS_2