
Hani benar-benar menceritakan semuanya kepada Aray. Semua kata-kata itu mengalir begitu saja keluar dari mulutnya. Ternyata yang dikatakan Aray memang benar setelah semua masa lalu yang ia pendam dikeluarkan, sekarang membuat Hani merasa tenang.
“Masa lalu lo sulit juga yah.” Aray menatap sedih Hani.
“Lo kaget ya gue punya kenangan buruk?” Hani tersenyum kaku.
Aray mengangguk. “Tapi Gina yang lo maksud itu...”
“Gina 12 IPS I.” Hani memotong ucapan Aray.
“Dia dulu sahabat lo?”
“Hmm.”
“Dia juga rebut pacar lo?”
“Gitu deh, bisa nggak, nggak usah bahas dia, gue nggak mood banget.” Hani menjawab Aray dengan malas.
“Sorry.”
“Nggak papa. Sejak bokap gue meninggal, nyokap gue langsung berubah.” Hani mendongakkan kepalanya, menatap langit yang cerah.
“Jadi gimana?”
“Dia sekarang jadi pemaksa. Dia nyuruh gue buat belajar bahkan sampe begadang cuma buat dapet peringkat satu. Tapi bodohnya gue, gue nggak bisa ngalahin Darel.” Hani terus bercerita dan Aray menjadi pendengar tanpa menyangkal. “Lama-kelamaan gue benci sama sikap nyokap gue yang ngekang gue. Gue nggak bebas. Gue pengen kayak yang lain. gue pengen kayak lo. Rasain hidup bebas, main kesana kemari, kumpul-kumpul, main. Gue pengen ngerasain itu di masa SMA gue. Tapi kayaknya nggak bakal bisa. Gue emang udah ditakdirin kayak gini.” Hani meneteskan air matanya karena menyadari dirinya yang begitu tersiksa dengan cobaan yang dihadapkan kepadanya.
Aray masih diam dan membiarkan Hani untuk meluapkan semua emosi yang ia tahan selama bertahun-tahun itu.
“Apalagi pas gue liat darah. Gue kesiksa banget kalo liat darah. Bayangan bokap gue waktu kecelakan sering muncul dan buat gue nggak bisa mengontrol diri gue sendiri, dan waktu gue periksa ke RS ternyata gue phobia darah. Phobia darah itu juga tambah parah seiring sama keadaan gue yang makin stres. Gue stres sama kehidupan gue sekarang, gue stres sama masa lalu gue. Gue mau bebas...” Hani tidak melanjutkan perkataannya karena suaranya semakin parau dan air mata yang membanjiri pipinya.
Aray sangat kasihan melihat Hani dalam keadaan seperti ini. Hani kini benar-benar rapuh di depannya. Mungkin itu adalah alasan kenapa selama ini ia jarang bergaul dengan teman-temannya.
Aray menghapus air mata yang ada di pipi Hani dan memeluk Hani. Hanya ini cara yang tepat untuk menenangkan Hani yang sedang menangis. Aray mengusap rambut Hani dengan lembut. Hani juga tidak menolak pelukan Aray.
“Lepasin aja semua emosi lo, nangis yang kenceng, kalo mau mukul pukul aja gue. Gue nggak papa kok asal lo bisa tenang.” Aray terus mengusap rambut Hani.
Hani semakin terisak mendengarkan perkataan Aray yang seperti mengerti dirinya. Hani mengeluarkan semua kekesalannya. Untuk sekarang, Hani ingin sekali melepas beban hidupnya.
“Aray. Kenapa mesti lo lagi sih yang jadi sumber masalah gue?” Gumam Darel yang baru saja tiba di taman belakang dan melihat Aray yang memeluk Hani. Orang yang sedang ia perjuangkan.
Darel yang berniat untuk mencari Hani pun mengurungkan niatnya karena melihat itu. Darel kesal dengan Hani yang pura-pura tidak menyukai Aray. Seharusnya Hani bilang jika alasan menolaknya adalah karena Aray. Kenapa harus menutupinya, atau lebih tepatnya membohonginya? Apa sebegitu tidak percayanya Hani kepada Darel hingga Hani bertindak seperti ini? Setaunya Hani bukan orang seperti itu.
•••
“Kayaknya ulangan matematika gue kemarin salah yang no tiga deh.” Vero menghampiri teman-temannya yang sedang berkumpul dengan wajah lesu.
“Masih mending lo cuma no tiga doang. Nah gue, KKM di tangan lah.” Balas April dengan wajah pasrahnya.
Bobby memegang pundak Vero. “Kerjakan dan lupakan.”
Rio mengacungkan jempolnya.
“Tapi kan gue kalah sama si Darel sama Hani. Si Vanesha juga.” Vero menatap kesal Vanesha.
“Lah napa jadi ke gue?”
“Ulangan lo pasti bagus kan? Udah gue kodein minta jawaban juga, masih aja kagak peka.”
“Ehehe sorry gue lupa.” Vanesha tersenyum tanpa dosa.
Tiba-tiba dari luar kelas ada Darel yang berjalan terburu-buru menghampiri kursinya. Semua orang yang ada di kelas heran melihat Darel dengan wajah kusut dan seperti sedang marah. Darel mengambil tas nya dengan kasar dan pergi.
“Rel!! Lo mau kemana?” Teriak Rio.
“Bolos.” Jawab Darel singkat dan meninggalkan kelas.
“Napa tuh anak?” Tanya Bobby.
“Tau. PMS kali.” Sahut Alexa. “Tapi kayaknya ada hubungannya sama Hani deh.” Lanjut Alexa.
“Kenapa emang?” Tanya Vivi.
“Kan tadi dia mau cari Hani, tapi pas balik langsung gitu.” Jelas Alexa.
“Tuh anak punya masalah apa lagi sih?” Vero menghembuskan nafas kasar.
Tidak lama kemudian datang Hani dengan muka lesu.
“Nah nah... Tuan putri kita datang nih.”
“Panjang umur lo.”
“Yang lagi dimasalahin dateng juga.”
“Abis dari mana lo, muka udah kayak kembalian angkot aja.” Ejek Vero.
“Dari luar. Kenapa emang?” Jawab Hani sekenanya.
“Lo tadi ketemu sama Darel?” Tanya Vanesha.
“Nggak. Gue nggak liat dia.”
“Trus tadi kenapa si Darel kek ngamuk gitu? Gue kira gara-gara ketemu sama lo.” Kata Alexa.
Hani berpikir sedikit. “Nggak mungkin kan kalo Darel tadi liat gue di taman sama Aray?” Batin Hani. “Sekarang mana Darel nya?” Tanya Hani dengan cepat.
“Tadi sih katanya mau bolos.” Jawab Rio.
__ADS_1
Hani berdecak, Ia langsung berlari keluar kelas dan mengejar Darel kalau saja itu masih sempat.
“Busyet dah tuh anak berdua kenapa sih?” Tanya Bobby entah kepada siapa.
“Kek FTV dah.”
“Sinetron ini mah.”
“Kayak lagi liat drama korea gue.”
“Kayak gambar di komik yang gue baca.”
“Kayak lagi liat adegan lari-larian di film india.”
Hani berlarian mencari Darel, berharap ia belum keluar dari area sekolah. Benar saja Darel baru sampai di depan perpustakaan. Tanpa pikir panjang lagi Hani langsung menghampiri Darel.
“Darel!!!” Panggil Hani.
Darel hanya menoleh dan saat tahu kalau Hani yang memanggilnya, ia berbalik dan mengabaikan panggilan Hani.
“Darel tunggu!” Hani menahan tangan Darel.
Darel menepis tangan Hani dengan kasar.
Hani terkejut dengan sikap kasar Darel. “Lo kenapa?”
Darel yang menyadari kalau ini bukan tempat yang tepat untuk berdebat dengan Hani sekarang, jadi ia membawa Hani ke pinggir perpustakaan. Darel menarik tangan Hani dan melepaskannya begitu sampai di pinggir perpustakaan.
Darel menatap dingin Hani.
“Lo kenapa?” Tanya Hani lagi dengan nada lembut.
“Nggak kebalik?”
“Maksud lo?”
Sedangkan di sisi lain ada Gea teman Gina yang baru keluar dari perpustakaan. Ia melihat Darel dan Hani yang sedang berbicara serius. Gea menguping pembicaraan Darel dan Hani untuk menjadi informasi bagi Gina.
“Nggak usah pura-pura lagi deh. Mau lo apa?” Tanya Darel dengan nada yang masih dingin.
Untuk yang kedua kalinya Hani melihat tatapan itu. Tatapan yang belum pernah Darel tunjukkan kepadanya. “Pura-pura apa? Gue nggak ngerti.” Hani menjawabnya jujur.
“Lo suka kan sama Aray.” Sebenarnya Darel tidak ingin mengatakan ini tapi ia butuh kepastian dari Hani agar Darel bisa terus berjuang untuk Hani atau tidak.
“Apa? Nggak.” Jawab Hani cepat.
“Udahlah lo nggak usah boong lagi.” Darel tersenyum sinis.
“Gue emang nggak suka sama Aray.”
“Lo kan tau sendiri kenapa gue nggak mau pacaran. Lo tau betul.” Hani akan kehabisan kata-kata jika harus berdebat dengan Darel.
“Iya. Gue yang paling tau. Tapi lo nggak mungkin bakal nutup hati lo terus-terusan kan.”
“Gue nggak mau pacaran!” Hani menekankan setiap perkataannya. Hani rasa dirinya mulai terpancing dengan sikap Darel yang tidak mau kalah.
“Trus maksud lo apa peluk-pelukan di taman sama Aray? Gue nggak setolol itu buat nggak ngerti hubungan lo berdua.” Darel mulai kehilangan kesabarannya.
Hani sudah menduganya. Ternyata hanya gara-gara itu Darel marah kepadanya. Apa tidak ada masalah yang lebih bermutu untuk dipermasalahkan selain itu? “Kalo lo nggak liat dari awal, nggak usah asal nyimpulin.” Hani yang sudah mengetahui akar permasalahannya pun mulai membalas semua perkataan tajam Darel.
“Nggak perlu liat dari awal juga gue udah tau kali.”
Hani kini memilih untuk menyerah, ia tidak tahu harus berkata apa lagi agar Darel mempercayainya. “Terserah. Mau lo peduli atau nggak juga gue nggak peduli.” Hani menatap Darel dengan tatapan malas dan berbalik untuk pergi ke kelasnya lagi.
Darel menyadari perubahan sikap Hani yang tiba-tiba. Darel tau Hani bukanlah tipe wanita yang berbohong untuk menutupi sesuatu. Tapi Darel tidak terima saja jika ia harus dipermainkan seperti ini. Jelas-jelas di sini ada orang yang memperjuangkannya, tapi Hani malah berpelukan dengan laki-laki lain. Darel merasa semua yang telah ia usahakan sia-sia.
Darel ingin mencobanya lagi, tapi ia ragu. Namun, mungkin ini adalah kesempatan terakhirnya sebelum Hani benar-benar marah kepadanya. Darel berjanji jika Hani menolaknya kali ini ia akan menghindari Hani untuk melupakannya. Karena percuma saja jika ia ingin melupakan Hani tapi Hani masih terus berada di sampingnya, care kepadanya. Maka bentengnya akan runtuh lagi nanti.
Darel dengan cepat memegang pergelangan tangan Hani sebelum Hani pergi. Hani menoleh. “Apa lagi?”
“Lo bisa nggak kasih kesempatan gue buat buka hati lo lagi?” Darel menatap Hani dengan tatapan yang tak dapat diartikan. Darel mengeratkan tangannya.
“Kenapa lo ngotot banget sih pengen rubah pendirian gue?”
“Karena gue sayang sama lo.” Darel sekarang sudah tidak malu lagi mengungkapkan isi hatinya secara frontal.
“Kayak nggak ada kerjaan aja. Nggak guna tau nggak.” Hani tidak berani menatap Darel.
“Maksud lo?” Darel ingin mendengar semuanya secara jelas agar ia tidak salah mengartikan.
“Ya nggak ada gunanya lo perjuangin gue, nggak bakal gue anggep juga kan.” Hani memberanikan dirinya menatap mata Darel. “Jadi mendingan lo jangan buang-buang waktu lo cuma buat gue.” Lanjut Hani.
Darel tidak bisa berkata-kata dengan jawaban Hani yang membuat dadanya terasa dicabik-cabik. “Han Please. Gue sayang sama lo.” Dan akhirnya kata itulah yang keluar dari mulut Darel.
“Tapi gue nggak Rel.” Hani melepaskan tangan Darel dari tangannya.
“Han gue mohon sama lo.” Darel mengacak-acak rambutnya frustasi.
“Darel jangan kayak gini dong, ini nggak kayak lo.”
“Iya gue tau. Tapi mau gimana lagi, gue udah nggak bisa ngontrol hati gue.” Mata Darel memerah antara ia akan menangis atau marah.
“Tapi Darel gue tetep nggak...”
“Hann..”
“Gue nggak mau kalo...”
__ADS_1
“Hann...”
“Darel please...”
“HANI!!!” Bentak Darel. Darel terus memotong perkataan Hani agar ia tidak mendengarkan penolakkan itu terus-menerus.
Kini mata Hani juga memerah saking kesalnya ia kepada Darel. Hani menunduk dan menghindari tatapan tajam Darel.
“Lihat gue Han” Lirih Darel.
Hani tidak menjawabnya dan tetap menunduk, ia tidak mau Darel melihat matanya yang berkaca-kaca.
“Gue bilang liat gue Han.” Dalam Hati Darel ia meminta maaf kepada Hani karena telah berubah. Untuk kali ini saja izinkan ia untuk memperjuangkan Hani. Darel tidak ingin kehilangan Hani, karena ia yakin setelah kejadian ini sikap Hani akan berubah kepadanya.
Hani akhirnya menatap Darel yang juga sudah menatapnya terlebih dahulu.
“Gue mohon...”
Mungkin ini cara terakhir yang harus Hani lakukan. “Nggak.” Hani melangkah mundur.
“Kenapa sih?”
Hani mengubah tatapannya menjadi tatapan dingin. “Gue nggak tau cara apa lagi yang bisa berhentiin perasaan lo ke gue. Tapi yang pasti gue nggak suka sama lo.”
“Lo bukannya nggak suka sama gue. Lo cuma trauma sama kisah cinta lo dulu kan?” Darel masih ingin berpikiran positif kali ini.
“Nggak. Gue emang nggak suka sama lo tanpa ada sangkut pautnya sama masa lalu gue, gue juga nggak trauma soal cinta. Cuma gue nggak mau aja.” Hani memberikan tatapan menantang kepada Darel.
“Lo nggak bisa boong dari gue.” Tatapan Darel melembut.
“Gue tau lo yang paling ngerti gue selama ini. Tapi sayang kali ini lo nggak ngerti gue.”
“Apa yang nggak gue ngerti dari lo?” Darel masih lembut kepada Hani, Darel yakin Hani akan menerimanya jika ia bertahan sebentar lagi tanpa terbawa emosi.
“Tentang perasaan gue.”
"Gue udah ngertiin perasaan lo selama ini dengan cara nunggu lo, tapi kayaknya lo yang nggak mau ngertiin gue.” Darel berharap Hani mengerti apa yang Darel inginkan.
“Lo tuh keras kepala banget sih. Gue nggak mau pacaran. Gue nggak suka sama lo. Gue nggak sayang sama lo. Lo emang bener gue agak trauma sama masa lalu gue, gue nggak mau disakitin lagi. Gue nggak mau beban gue bertambah dengan adanya lo. Lo tuh beban gue tau nggak. LO BEBAN BUAT GUE!” Mata Hani merah menahan tangisnya. Mungkin ini satu satunya cara agar Darel bisa berhenti menyukai Hani. Tentunya Hani juga harus menanggung konsekuensi dari tindakannya barusan.
Darel membeku dengan semua perkataan Hani. Apa sehina itu dirinya untuk Hani sehingga menjadikannya sebagai beban Hani?
Tatapan Darel kembali dingin menatap Hani. “Beban?” Darel tersenyum sinis. “Gue nggak habis pikir ya sama lo. Gue yang selama ini selalu sabar sama lo yang nggak pernah mau peka. Gue yang selalu sabar sama semua penolakan lo, dan lo bilang gue beban lo? Lo mikir dong! Apa kabar gue yang selama ini nggak dapet kepastian dari lo? Bayangin! Seberapa besar penderitaan gue gara-gara lo yang cuek aja. Lo tuh cuma mentingin perasaan lo doang. Lo nggak pernah mikirin perasaan gue. Lo tuh egois. Lo tuh...” Darel sudah kehilangan akal sehatnya. Darel bisa gila gara-gara Hani.
Hani memotong perkataan Darel. “Darel udah stop. Berhenti! Gue nggak mau denger lagi. Mending sekarang lo jauh-jauh dari gue, gue nggak mau liat lo. Jangan deketin gue lagi, lo tuh cuma ganggu hidup gue doang.” Hani menghapus air matanya yang sudah menetes. Hani berbalik untuk pergi, Hani yakin jika ia tidak pergi masalah ini pasti tidak akan sampai pada ujungnya. Karena ia mengerti sikap Darel yang keras kepala.
“Gue nggak nyangka lo kayak gini.” Lirih Darel membuat Hani berhenti melangkah. “Oke. Mulai sekarang gue nggak akan pernah kenal sama lo lagi. Makasih karena lo udah jujur selama ini dan buat gue intro sama semuanya.” Ucap Darel dengan suara pelan, tapi masih bisa Hani dengar.
Darel pergi mendahului Hani yang masih membeku di tempatnya.
Hani ingin pergi untuk mengejar Darel, tapi kakinya sangat berat untuk digerakkan. Sebenarnya Hani sendiri tidak ingin hubungannya dengan Darel pecah begitu saja, yang Hani ingin hanya lah persahabatan.
Hani melorotkan tubuhnya sampai berjongkok. Hani menenggelamkan kepalanya dan menangis, ia tidak peduli jika banyak orang yang melihatnya. “Sialan!” Umpat Hani. Semuanya tidak sesuai dengan yang ada di pikiran Hani. Seolah-olah semuanya adalah kesalahan Hani. Hani hanya ingin hidup tanpa beban. Hanya itu.
Hani bukannya tidak suka dengan Darel dan malah menyukai Aray. Hani ingin berteman dengan semua orang. Hanya teman tanpa ada hubungan lain lagi. Apa bedanya menerima dan menolak Darel? Dua-duanya tetap akan menjadi beban bagi Hani.
Hani mengangkat kepalanya dan menghapus semua air matanya. Hani berdiri setelah ia merasa tenang dan pergi ke kelas.
•••
Sementara itu Darel pergi ke ruangan OSIS untuk menenangkan dirinya. Darel tidak ingin pergi ke kelas, karena Hani juga pasti akan ke sana. Darel adalah anggota OSIS, tapi hanya sebatas anggota. Karena menurutnya menjadi ketua tim basket saja sudah cukup. Ia tidak mau direpotkan dengan tugas-tugas ketua OSIS. Darel lebih suka belajar .
Darel mengacak-acak rambutnya dengan perasaan frustasi. “Lo gila Rel.” Darel berbicara dan tertawa sendiri, tawa sedih. Bagi Darel sekarang, Hani lah orang yang paling berharga baginya. Orang tua? Dengan kejadian bertahun-tahun lalu, sungguh mustahil Darel masih menganggap orang yang membesarkannya itu sebagai orang tua.
Darel ingin mempunyai hubungan yang istimewa dengan Hani. Jika hanya sebatas teman atau sahabat, Darel tidak bisa mencemaskan Hani dengan berlebihan, Darel tidak bisa marah jika Hani dekat laki-laki lain. Darel ingin memiliki Hani untuk dirinya sendiri. Namun, seperti yang sudah Darel duga dari awal, Hani sudah menutup hatinya untuk siapapun.
Darel memang orang bodoh yang sudah menyukai Hani yang jelas-jelas tidak pernah menganggapnya lebih dari teman. Darel juga bodoh karena sudah berusaha untuk meyakinkan Hani akan perasaannya. Karena nyatanya semua itu sia-sia.
“Halo... boleh masuk nggak?” Tanya seseorang yang membuka pintu ruangan OSIS.
“Gea? Mau apa lo? Lo kan bukan anggota OSIS.” Tanya Darel dengan suara yang serak.
“Ciee yang abis ditolak.” Gea mengabaikan pertanyaan Darel dan bersandar di pintu.
“Lo denger?”
“Semuanya.” Gea tersenyum iblis.
“Lo temen Gina kan?” Tatapan Darel menajam lagi.
“Yap.”
“Awas kalo semuanya nyampe bocor ke Gina.” Darel menghampiri Gea dengan langkah cepat.
"Menurut lo gue bakal nurut gitu?” Gea menyilangkan tangannya di depan perut. “Menurut lo apa yang bakal Gina lakuin kalo dia tau? Karena di mata dia tetep aja Hani yang salah, bukan lo.”
“Lo sama geng lo emang licik ya. Gue nggak bakal tinggal diem kalo lo semua nyakitin Hani.” Meski berusaha sekuat apapun, untuk sekarang Darel masih belum bisa melepas Hani sepenuhnya. Darel tetap saja mencemaskan Hani.
“Gue nggak berani jamin. Keputusannya ada di Gina. Makanya jangan deketin Hani mulu.” Gea menepuk bahu Darel lalu pergi ke kelasnya.
BUKK...
Darel memukul pintu yang tidak jauh darinya untuk melampiaskan semua amarahnya. “Kenapa semua masalah nggak pernah kelar sih?”
•••
Tbc...
__ADS_1