
Darel sibuk dengan lukanya yang tidak bisa ia obati sendirian. Andai saja Hani berada di sisinya dan mengobatinya, mungkin ia akan sedikit senang. Tapi nyatanya Hani malah pergi. Hani memang tidak memiliki perasaan apapun kepadanya.
“Yo! Lo bisa ninggalin gue sama Darel nggak?” Ucap Vero memecah keheningan.
•••
“Ogah ahh, nanti lo berdua macem-macem lagi.” Rio tidak terlalu menanggapi permintaan Vero.
Vero menghela nafas karena ini benar-benar bukan waktunya untuk bercanda. Kalau saja bukan karenanya dan Bobby yang membuat Rio menjadi konyol seperti ini mungkin ia sudah membunuh anak yang berada di sampingnya ini. Vero hanya menatap Rio tajam sebagai jawaban dari penyataan Rio.
Rio yang menyadari aura negatif yang keluar dari Vero pun langsung melihat ke arah Vero. Ia terkejut karena pandangan Vero yang seperti ingin melahapnya. “Oke deh gue balik ke kelas duluan ya.” Rio tersenyum kaku. “Awas orang ketiga setan.” Sahut Rio sebelum ia benar-benar kembali ke kelas.
“Mau marahin gue lo?” Tanya Darel yang sudah tau hal yang ingin dibahas oleh Vero.
“Menurut lo?’ Tanya balik Vero dengan nada tajam.
“Iya. Keliatan banget lo mau bela bocah itu.” Darel berbicara tanpa mengalihkan pandangannya pada cermin dan mengobati lukanya.
“Gue bukannya bela si Aray, tapi di sini emang lo yang salah. Lo tuh...”
Darel memotong perkataan Vero yang sudah ia tebak. “Kan! Tetep aja ujung-ujungnya nyalahin gue, trus gue yang mesti minta maaf. Basi lo Ver!” Darel melirik Vero sekilas dengan lirikan tajam dari sudut matanya.
“Karena emang lo salah Rel. Lo yang mancing emosi Aray, gue denger sendiri omongan lo sama si Aray, sorry bukan maksud gue mau nguping, tapi emang kedengeran.”
Darel meletakkan kapas yang ia gunakan untuk mengobati lukanya dan menatap Vero tidak suka. “Gue nggak pernah mukul orang tanpa alesan, dia yang mulai duluan. Kalo lo nggak tau apa-apa mending nggak usah ikut campur deh!”
“Asal lo tau ya, gue lebih tau semuanya dibanding lo.”
“Tau apa lo? Yang lo tau cuma dari sudut pandang bocah itu doang kan? Jangan karena Aray sering cerita ke lo terus sekarang lo bisa jadi pahlawan buat belain dia.” Darel sebenarnya tidak ingin berbicara seperti ini kepada Vero yang selama ini cukup baik terhadapnya. Tapi keadaan yang membuatnya harus benci terhadap Vero untuk saat ini.
“Gue tau semuanya kok. Aray cerita semuanya dari awal sampe akhir, dan bukan dari sudut pandang dia doang. Mungkin juga gue lebih tau dari pada lo.” Vero merasa menang karena sedikit lagi ia bisa menyudutkan Darel dan membuatnya minta maaf kepada Aray.
“Dan begonya lo percaya gitu aja?”
“Gue yakin kok, Aray bukan orang yang suka lebih-lebihin cerita.”
“Lo emang tolol Ver, sama tololnya kayak orang yang lo panggil sahabat itu.” Darel tidak mau mengalah begitu saja.
“Setolol-tololnya gue, gue nggak akan pernah sebrengsek lo.” Vero melempar tatapan tajamnya.
Vero dikenal sebagai orang yang periang dan jail. Tapi disaat seperti ini atau keadaan serius lainnya ia bisa merubah sikap seketika.
“Maksud lo apa?”
“Sayangnya ada satu hal yang nggak lo tau.” Vero sedikit tertawa.
“Apa yang nggak gue tau, sedangkan lo tau? Apa?” Darel merasa tidak ada yang tidak ia ketahui tentang keluarganya yang hancur karena wanita itu.
“Gue nggak mau kasih tau.”
“Tuh kan, keliatan banget kalo lo cuma mau mojokkin gue doang.” Darel menyenderkan kepalanya pada kursi.
“Lo harus rasain sendiri penyesalannya nanti.”
Darel sedikit terpancing dengan perkataan Vero, tapi ia tetap tidak ingin mempedulikannya. Baginya itu hanya sebuah omong kosong yang dibuat-buat supaya dirinya meminta maaf kepada Aray.
“Udah deh, nggak guna gue ngomong sama lo.” Darel beranjak dari kursinya dan pergi.
“Lain kali lo harus sopan... Sama Kakak lo sendiri!” Ucap Vero yang menghentikan langkah kaki Darel. Darel berhenti sebentar lalu tersenyum miring sebelum ia pergi tanpa menoleh terlebih dahulu.
•••
“Darel sebenernya adek gue.” Kata Aray kepada Hani yang sekarang sedang berada di sampingnya.
Aray dan Hani masih di atap. Hani mencoba bertanya dengan hati-hati kenapa Aray dan Darel bertengkar tadi. Awalnya Aray tidak menjawab pertanyaan Hani, ia hanya terdiam sambil melihat pemandangan di bawah. Hani yang mengerti kalau Aray mungkin sedikit sungkan bercerita kepada Hani hanya ikut berdiam menatap lurus. Sampai akhirnya keluar sebuah kalimat dari mulut Aray yang membuatnya seketika amat terkejut. ‘Darel sebenernya adek gue.’
“Hah?” Hani menutup mulutnya yang menganga.
“Nggak. Nggak mungkin. Lo kalo bercanda liat situasi dong.” Hani menepis pikirannya yang tidak-tidak.
Bagaimana bisa Darel dan Aray bersaudara. Secara otak, sifat apalagi fisik sama sekali tidak mirip. Tapi bila dilihat dari umur, Aray memang lebih tua dari Darel. Hani juga sempat menangkap tatapan tajam dari Darel untuk Aray, begitu pun sebaliknya. Seperti ada sesuatu diantara mereka.
“Kenapa? Nggak mirip ya?” Aray tertawa seolah tau apa yang sedang berputar di otak Hani. “Tapi emang kenyataannya gitu.”
__ADS_1
“Iya nggak mirip banget. Lo beneran sodaraan sama Darel?” Hani masih terkejut.
Aray mengangguk. “Sodara tiri sih, kita berdua beda nyokap.” Aray tersenyum.
“Seriusan?” Hani kembali terkejut, ternyata ia belum bisa menjadi sahabat yang baik untuk Darel sampai-sampai Darel tidak menceritakan hal ini kepadanya. Kenapa Darel tidak menceritakan hal sepenting ini kepadanya?
“Kok Darel nggak pernah cerita ya?” Hani bertanya kepada dirinya sendiri.
“Nggak ada yang tau kok selain Vero, dan sekarang lo tau.”
“Si Vero juga tau? Si cowok cabe itu?” Hari ini Hani banyak terkejut, sepertinya ia harus menenangkan pikirannya lagi. Sungguh luar biasa Vero si tukang gosip itu bisa menyimpan rahasia dengan baik.
“Dia nggak kayak yang lo pikir kok. Dia temen yang baik buat gue. Semua rahasia gue ada sama dia.” Aray sendiri juga percaya tidak percaya kalau ia mempercayakan semua rahasianya kepada Vero yang notabennya seperti ember bocor.
“Tapi gimana ceritanya lo bisa sodaraan sama Darel? Tanya Hani kembali ke topik awal.
“Ceritanya udah lama, pasti panjang.” Aray seperti memperingatkan Hani, takutnya Hani akan bosan dengan cerita masa lalunya.
“Nggak papa kok, gue siap denger.” Hani tersenyum manis.
Aray seperti mendapat dorongan untuk bercerita setelah melihat tatapan dan senyuman Hani yang meneduhkannya. Aray awalnya tidak berniat untuk membongkar semuanya kepada Hani tapi tiba-tiba hatinya berubah pikiran dan mulai mempercayai Hani seperti percaya kepada Vero. Mungkin saja Hani bisa memberikannya solusi yang tepat untuk menghadapi Darel karena Hani adalah orang yang dekat Darel. Hani mungkin mengetahui segalanya tentang Darel.
“Satu hal yang perlu lo tau dulu. Gue sebenernya anak dari wanita gak bener. Gue anak haram Han.” Aray tersenyum miris. Hatinya terasa teriris jika mengingat hal itu.
Kaki Hani melemas, baru saja Aray mulai bercerita tentang masa lalunya tapi Hani sudah dikejutkan untuk yang kesekian kalinya. “Kenapa bisa?” Hanya itu yang bisa Hani ucapkan di tengah-tengah keterkejutannya.
“Gue juga nggak tau kalo cerita ini bener ato nggak, gue tau dari nyokap gue dulu.”
•••
Dulu...
Dulu Mamahnya Aray adalah selingkuhan Papahnya Darel. Papah dan Mamahnya Darel menikah hanya atas dasar perjodohan. Papahnya Darel tidak pernah setuju dengan perjodohan itu, tapi mereka tetap menikah secara terpaksa.
Meskipun peristiwa itu sudah lama, tapi Papahnya Darel tetap tidak menerima perjodohan itu dan selingkuh dengan Mamahnya Aray. Mamahnya Aray juga tertarik dengan Papahnya Darel. Sampai akhirnya mereka berdua mempunyai hubungan khusus di belakang Mamahnya Darel.
Suatu hari Mamahnya Darel hamil dan tanpa diketahui olehnya, Mamahnya Aray sudah melahirkan Aray 2 tahun yang lalu. Tapi Papahnya Darel dan Mamahnya Aray belum menikah sampai Aray SMP.
Waktu itu, Mamahnya Aray sudah tidak kuat dengan statusnya yang hanya selingkuhan. Akhirnya Mamahnya Aray membawa Aray untuk menemui Papahnya Darel. Saat itu Aray tidak berani untuk ikut berbicara, karena percuma. Pendapat anak kecil sepertinya tidak akan dianggap. Aray hanya berdiri sambil melihat pertengkaran Mamahnya, Mamahnya Darel dan Papanya Darel.
“Bukan begitu, kamu salah paham...”
Mamahnya Aray memotong percakapan Papahnya Darel. “Udahlah, sekarang saatnya kamu ngaku kalau sebenernya dari dulu kamu nggak pernah cinta sama perempuan ini.” Mamahnya Aray menunjuk muka Mamahnya Darel.
“Jadi gitu, kalo emang kamu nggak mau nikah sama aku dulu, kenapa nggak ceraikan aku dari dulu. Kenapa harus nunggu sampai sekarang? Sampai Darel udah besar, kenapa? Kamu nggak kasian sama Darel?” Tanya Mamahnya Darel dengan mata yang sudah berair.
“Aku minta maaf.” Hanya itu yang bisa diucapkan Papahnya Darel.
“Kamu juga nggak bisa terus giniin aku, aku udah nunggu kamu selama bertahun-tahun, aku bosan jadi no dua.” Ucap Mamahnya Aray yang berharap jika Papahnya Darel mengerti keadaannya yang tidak menguntungkan.
Aray melihat Papahnya Darel yang kebingungan. Aray sendiri juga marah karena ternyata selama ini Mamahnya hanya selingkuhan. Kemungkinan Aray akan memukul Papahnya Darel jika ia tidak bisa menahan emosinya.
“Ini semua memang salah aku. Aku minta maaf sama kalian berdua udah permainkan kalian. Aku minta sekarang buat ngomong sama salah satu dari kalian secara 4 mata.” Papahnya Darel menatap kedua wanita yang ada di hadapannya. “Mending sekarang kamu pergi! Aku selesaikan dulu masalah aku di rumah.” Lanjut Papahnya Darel kepada Mamahnya Aray sambil memegang pundaknya.
“Kenapa harus aku? Kenapa nggak dia aja?” Mamahnya Aray tidak terima, karena ia mengira kalau dirinya akan ditinggalkan begitu saja.
“Please, aku minta sama kamu, kamu pergi dulu! Nanti aku pasti bakal datang ke rumah kamu.”
“Oke, aku tunggu di rumah.” Mamahnya Aray akhirnya mengalah dan meninggalkan pasangan suami istri itu agar menyelesaikan masalahnya terlebih dahulu dan mendapatkan solusi yang paling tepat.
“Aray ayo pergi!” Mamahnya Aray menarik tangan anaknya dan pergi.
Setelah Aray mendengar semua pertengkarang mereka, Aray mengetahui jika ia hanyalah anak selingkuhan. Anak haram. Aray sangat marah saat itu. Aray tidak berbicara sama sekali dengan Mamahnya sampai Mamahnya menceritakan semuanya dari awal sampai akhir. Anehnya, bukannya Aray tenang karena telah mendapat penjelasan dari Mamahnya, Aray malah semakin marah terhadap Mamahnya. Karena Mamahnya mau-mau saja dijadikan selingkuhan.
Hari itu Papahnya Darel tidak datang ke rumahnya Aray membuat Mamahnya Aray marah-marah sendiri. Aray yang melihat itu hanya bisa berdiam di kamarnya. Aray tidak tahu apa yang ada di pikirannya. Tujuan Aray hilang. Ia bahkan bolos sekolah, Mamahnya juga tidak memarahinya. Aray sedikit berpikir, seharusnya ia tidak usah hadir ke dunia ini. Ini pertama kalinya Aray menyesal karena telah dilahirkan jika nyatanya membuat keluarga orang lain hancur.
Seminggu kemudian, Papahnya Darel datang ke rumah Aray. Aray mendengar percakapan mereka berdua dari dalam kamar. Aray mendengar jika Papahnya Darel sudah menceraikan istrinya dan memilih Mamahnya Aray. Aray sama sekali tidak senang mendengar kabar itu. Karena keluarga adiknya yang masih kelas 1 SMP sedang hancur sekarang.
Aray sempat bertemu dengan Darel beberapa hari kemudian. Tapi Aray menyadari jika Darel tidak menyukainya. Mungkin Darel sedang tertekan karena Mamahnya yang bunuh diri tidak lama setelah proses perceraian dengan suaminya selesai. Aray tidak mengetahui selebihnya dari itu.
Pernikahan Mamahnya Aray dan Papahnya Darel bertepatan dengan masuknya Aray ke SMA. Aray menolak saat diberitahu akan tinggal serumah dengan keluarga barunya. Aray lebih memilih tinggal di kos-an. Aray juga agak risih dengan Darel yang seperti menyimpan dendam terhadapnya.
“Kamu yakin mau tinggal sendiri?’ Tanya Mamahnya Aray sambil menangkup pipi Aray.
__ADS_1
“Iya Mah. Aray males tinggal di sini.” Aray melepaskan tangan Mamahnya. Jujur ia masih punya rasa kesal terhadap Mamahnya.
“Ya udah Mamah ijinin. Hati-hati ya di kos-an.”
Aray hanya mengangguk sebagai jawaban.
Di SMA Aray jadi anak berandalan. Ia sering bolos, malas belajar, dihukum terus. Padahal waktu SMP Aray adalah anak yang baik dan sering mendapat peringkat 3 besar. Tapi saat masuk SMA, Aray menjadi malas melakukan apa pun. Aray juga sampai tidak naik kelas 2 tahun gara–gara pernah membuat beberapa ruangan di sekolah hancur. Tapi anehnya ia tetap berada di Kelas Favorit.
Setelah itu Aray bertemu dengan teman-temannya sekarang, termasuk Darel. Aray ingin menyapa Darel saat pertama kali bertemu, tapi tidak jadi. Aray melihat sorot mata Darel yang masih saja terlihat menyimpan dendam terhadapnya.
Darel menarik kerah baju Aray. “Lo! Lo Aray kan. Nggak mungkin salah, gue nggak bakal lupa sama wajah so polos lo dulu.” Darel melempar tatapan super tajamnya ke Aray.
“Masih inget lo.” Aray tertawa remeh. Aray melihat kepalan tangan Darel di kerah bajunya yang sangat kuat, lalu ia menepisnya dengan kasar sampai tangan Darel terlepas dari kerah baju Aray.
•••
“Itu alesan gue nggak pernah akur sama Darel.” Aray mengakhiri ceritanya. “Sorry ya gue jadi banyak ngomong kayak gini.” Aray menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
“Nggak papa kok gue seneng kalo lo mau cerita.” Hani tersenyum tipis.
“Jadi gimana menurut lo masa lalu gue?” Aray tertawa kaku.
“Gue nggak percaya aja, ternyata cowok tukang buat onar kayak lo punya masa lalu kayak gitu.” Hani menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Ya mau gimana lagi emang udah harusnya kayak gini. Gue nggak kayak lo yang mungkin masa lalunya kisah manis pacaran ala monyet monyet pas SMP.” Aray tertawa lepas. Ia merasa nyaman setelah bercerita dengan Hani.
“Lo salah besar. Gue emang punya pacar pas SMP tapi ujung-ujungnya tetep aja nggak bener.” Hani tampak malas jika membahas tentang mantan pacarnya.
“Cerita dong. Siapa tau gue kenal mantan pacar lo.” Aray mengangkat kedua alisnya.
“Nggak bakal kenal lo. Lagian gue males kalo mesti cerita tentang dia.”
“Yahh kok gitu?”
“Heheh. Btw gue mau nanya. Lo masih marah sama nyokap lo sampe sekarang?” Tanya Hani dengan hati-hati.
“Nggak tau.”
“Trus sekarang Darel tinggal sama orang tua lo, dan lo sendiri?”
Aray hanya mengangguk.
“Duh sorry ya suasana jadi canggung gara-gara gue nanya mulu.”
“Sans aja!” Aray tersenyum tipis.
Tiba- tiba Hani melihat ada sedikit darah yang keluar dari pelipis Aray, ia sempat terkejut dan langsung memalingkan wajahnya. “Tuh ada darah keluar dari pelipis lo.” Hani mengeluarkan sapu tangan dan menyerahkannya kepada Aray dengan wajah yang masih berpaling. “Lap dulu cepet!”
Aray menyentuh pelipisnya dan benar saja ada darah yang keluar lagi. “Yaelah lebay amat sih.” Aray menyingkirkan tangan Hani.
“Udah cepet lap ihhh!” Hani setengah membentak Aray.
“Perhatian banget sih.” Aray tertawa lagi.
“Terserah deh lo mau nganggep apa, pokoknya lap dulu cepet.” Hani menyodorkan sapu tangannya lagi.
“Iya bawel.” Aray mengambil sapu tangan itu dan mengelap darah yang keluar dari pelipisnya.
“Udah belom?”
“Udah. Kenapa sih? Ampe kek gitu.”
“Kepo.”
“Ohh iya gue tadi belum dapet jawaban. Tadi lo kenapa?” Aray menanyakan keadaan Hani saat ia melihat Hani di sudut ruangan sambil berjongkok dengan keringat bercucuran. Hani belum sempat menjawabnya karena ia terlalu grogi. Akhirnya Hani menyangkal Aray dengan bertanya balik keadaannya.
“Gue nggak papa kok. Udah ahh gue mau balik ke kelas, bentar lagi mau bel. Gue nggak mau telat buat yang kedua kalinya gara-gara lo.” Hani pergi. Sangat terlihat oleh Aray jika Hani menghindari pertanyaan tadi.
“Woyy! Jawab dulu pertanyaan gue!” Teriak Aray.
“Kapan-kapan gue cerita deh.” Hani melambaikan tangannya dengan posisi badan yang membelakangi Aray.
“Hann!” Teriak Aray tapi ia tidak mengikuti Hani untuk kembali ke kelas, ia sedang malas untuk bertemu dengan Darel.
__ADS_1
•••
Tbc...