
Darel yang melihat Hani akan pergi, dengan cepat menarik Hani kehadapannya lagi. “Pokoknya lo harus mau! Nggak boleh nolak!” Darel tersenyum dan memperlihatkan deretan giginya yang rapi.
•••
“Gue nggak mau. Lagian mau kemana sih?”
“Emangnya mesti gue kasih tau dulu gitu?” Wajah menyebalkan Darel benar-benar ingin Hani tampar bolak-balik karena menurutnya ini sangat tidak lucu dan ia sedang tidak berniat untuk bercanda.
“Ya iyalah, siapa tau lo culik gue kan?”
“Iya gue mau nyulik lo.” Darel masih tetap tersenyum apalagi melihat muka Hani yang sedang menahan marah.
“Sumpah lo buang-buang waktu gue banget, mending lo pergi deh. Gue lagi ada urusan.” Rumah. Itulah yang sekarang ada dipikiran Hani. Ia tidak ingin dimarahi lagi.
“Nggak. Lo harus ikut gue! Ini juga demi kebaikan lo.” Darel langsung meraih tangan Hani lagi dan membawanya ke parkiran. Darel tidak peduli dengan Hani yang sejak tadi sudah merutukinya.
Darel sampai di parkiran dan tentu saja dengan Hani. Pokoknya Darel harus berhasil membuat Hani ikut dengannya agar hubungan mereka kembali seperti biasa. Setelah Darel berpikir ternyata berdiam dengan Hani cukup tidak enak, walau hanya sebentar.
Darel memasang helm-nya. “Nih pake!” Darel memberikan helm yang satunya lagi kepada Hani.
“Emangnya siapa sih yang mau ikut sama lo. Kan gue nggak mau.” Hani masih tetap dengan pendiriannya.
“Banyak omong lo.” Darel hendak memakaikan helm-nya ke Hani tapi dengan cepat Hani menahan helm itu dengan kedua tangannya.
“L-lo mau ngapain?” Hani masih menahan helm Darel.
“Awas. Lepasin tangan lo!”
“Nggak. Gue tetep nggak mau.”
“Please deh Han kali ini aja.”
“Sekali nggak ya tetep nggak!” Hani semakin memperkuat pertahanannya karena memang ia tidak mau pergi dengan Darel.
Darel menurunkan tangannya dan menghela nafas kasar. Darel menatap Hani dengan muka jutek.
“Apa liat-liat?”
“...”
“Nggak suka?”
“...”
“Biasa aja kali liatnya.” Kata Hani pelan.
“...”
Darel tidak berkata apapun, ia hanya melihat Hani dengan tatapan datarnya. Detik selanjutnya Darel melangkahkan kakinya sehingga jaraknya dengan Hani menjadi dekat.
Hani yang melihat itu terkejut dan berniat untuk mundur tapi ia tidak sempat. Karena Darel langsung memeluknya tanpa sebab dan sontak membuat Hani terkejut. Ia sama sekali tidak percaya kalau Darel memeluknya di sekolah. DI SEKOLAH. Untung saja saat itu semua siswa sudah pulang hanya tersisa siswa yang sedang ekstrakurikuler.
Hani tidak menyangka jika Darel akan berbuat nekat seperti ini. Berani-berani nya Darel memeluknya di tempat umum seperti ini. Yah walaupun sudah tidak siswa yang berlalu lalang.
Pelukan itu berakhir, Darel kembali melepaskan pelukannya tapi ia belum mundur dari tempatnya. Darel tersenyum ketika melihat Hani diam membeku. “Nah diem kan. Dari tadi kek.” Darel memakaikan helm yang sejak tadi ia pegang.
Tujuannya memeluk Hani adalah untuk membuat Hani diam. Tidak ada cara lain yang ia pikirkan selain hal nekat itu. Darel juga sekaligus ingin membuat Hani tersipu karena perlakuannya dan ternyata melihat Hani diam seperti ini sangat lucu. Tapi bukan hanya itu saja tujuan Darel.
Darel ingin memberikan pelajaran kepada seseorang yang sekarang sedang memperhatikan mereka dari belakang Hani dan agak jauh dari parkiran.
“Yuk naik.” Perkataan Darel membuat Hani sadar kembali.
“Lo... LO NGAPAIN SIH MELUK GUE?”
“LO PIKIR LO SIAPA BISA MELUK GUE?”
“LO PIKIR DONG INI TUH TEMPAT UMUM!”
“NGGAK PUNYA OTAK YA LO?”
“KELAKUAN LO TUH BENER-BENER NGGAK ADA FAEDAHNYA TAU NGGAK?”
“DASAR NYEBELIN!”
“TOLOL!”
“BEGO!”
Hani berteriak tanpa malu sambil memukul-mukul punggung Darel yang sejak tadi sudah berada di atas motor. Hani tidak peduli dengan Darel yang kesakitan karena pukulan Hani. Intinya Hani sangat sangat sangat kesal terhadap Darel. Jika saja Hani tidak ingat kalau Darel ini sahabatnya, pasti Hani sudah mengeluarkan gunting dari tasnya dan membunuh Darel ditempat.
Darel yang dipukuli hanya bisa berteriak. Darel mencoba menghalangi tangan Hani agar tidak memukul punggungnya. Karena pukulan Hani cukup keras.
“AAAA.”
“AU AU...”
“SAKIT HAN SAKIIIT.”
“BERENTI WOYYY!”
“HANN SORRY TADI GUE KELEPASAN!”
“YA AMPUN HANN!”
“STOP STOP!”
Hani berhenti karena ia rasa sudah cukup memberikan hukuman kepada Darel. Hani menurunkan tangannya dan menatap kesal Darel.
“Hehe sorry Han.” Darel berbalik dan langsung cengengesan.
“Hehe hehe.” Hani menatap jengkel Darel.
“Ya udah cepet naik.” Ucap Darel setelah ia melihat jam tangannya. Jika ia dan Hani tidak berangkat sekarang mungkin nanti saat pulang mereka bisa kesorean atau mungkin malam.
__ADS_1
“Enak banget lo ngomong, gue tetep nggak mau.”
“Udah deh nurut aja apa susahnya sih?”
“Harus banget gitu gue nurut sama lo?”
“Apa perlu gue gendong lo ke motor hah?” Tanya Darel membuat Hani terkejut lagi.
“Ya nggak lah!”
“Yaudah makanya cepetan naik.”
“Ish. Iya iya tapi jangan lama-lama.”
Akhirnya Hani menyerah karena tidak ada gunanya juga ia berdebat dengan Darel yang sama-sama keras kepala sepertinya.
“Iya bawel. Dari tadi kek. Ouhh jadi sekarang biar lo nurut jadi mesti gue peluk dulu ya.” Darel sedikit bercanda dan tertawa.
“Apa lo bilang?” Hani yang sudah kelewat kesal dengan Darel menoyor kepala Darel karena tenaganya yang sudah hampir habis untuk memukul Darel.
“Nggak.”
“Kalo gitu cepet jalan.”
“Iya ini juga mau.” Darel menghidupkan motornya dan pergi dari area sekolah.
Tanpa mereka sadari sejak Hani sampai di parkiran dan berbicara dengan Darel ada yang melihat mereka dengan tatapan berapi-api.
“Mereka jadi pergi? Ikutin deh.” Orang itu langsung berlari ke arah mobilnya yang juga terparkir di sana dan mengikuti motor Darel.
Darel mengendarai motornya dengan kecepatan sedang. Ia tidak berani ngebut ketika ia sedang membonceng seseorang. Tapi lain lagi jika ia sendirian.
Setelah 15 menit, Darel dan Hani sampai di tempat tujuan Darel. Hani turun dari motor Darel dan melepas helm yang sejak tadi ia pakai. Hani sekarang tau kalau Darel membawanya ke lapangan basket yang cukup luas di pinggir jalan.
Hani heran dengan sikap Darel hari ini. Sikapnya terus berubah. Tadi pagi Darel dingin kepadanya, barusan jail, terus serius, dan sekarang Darel membawanya ke lapangan basket. Padahal tadi pagi Darel jelas-jelas menolak ajakan Hani untuk mengajarinya bermain basket. Tapi sekarang Darel yang ngotot mengajaknya ke sini.
“Lo ngajak gue ke lapang basket?” Hani sedikit melirik Darel dan mengedarkan pandangannya ke lapangan lagi. Karena memang lapangan basketnya cukup luas.
“Kan katanya lo mau belajar main basket.”
“Tapi kan tadi bukannya lo nggak...”
“Udah cepetan yuk!” Darel memotong perkataan Hani dan jalan mendahului Hani.
“Aneh deh.” Hani berbicara sendiri sambil mengikuti Darel.
“Kok gue nggak tau ya kalo di sini ada lapangan basket.” Hani menghampiri Darel yang sedang membawa bola basket di pinggir lapang.
“Makanya main dong, jangan belajar mulu. Gue aja yang juara satu biasa-biasa aja.” Darel melempar bola basketnya ke Hani.
Hani menangkap bolanya. “Lo kan tau sendiri gimana nyokap gue.” Hani tersenyum dan memantul-mantulkan bola yang sedang ia pegang ke permukaan lapang.
“Nyokap lo masih sama kayak dulu?” Darel menatap Hani dengan tatapan kasihan.
Hani cukup trauma untuk persoalan cinta. Sekarang ia sudah menutup hatinya rapat-rapat untuk siapa pun. Ia tidak ingin merasakan cinta lagi. Setidaknya sampai ia keluar dari SMA dan melupakan masa lalu dan masalah yang sekarang ia hadapi. Selama ini yang ada di pikiran Hani hanya untuk menjadi orang yang pintar dan mendapatkan juara satu.
“Mmm.” Hani hanya mengangguk kepada Darel pertanda kalau Hani berkata ‘Ya’.
Darel mendekat ke Hani yang berada di tengah lapangan. “Sabar ya. Lo pasti kuat.” Darel tersenyum dan mengelus rambut Hani.
“Sini bolanya!” Tanpa menunggu jawaban dari Hani Darel langsung membawa bola yang berada di tangan Hani.
Darel mendrible bola basket itu sebentar dan bersiap-siap untuk melakukan three point. Darel mengarahkan bola itu dengan tenang agar bolanya bisa masuk pas ke dalam ring. Setelah menemukan titik yang pas Darel melempar bola yang sejak tadi ia pegang. Bolanya memantul dan masuk ke dalam ring.
“Nah bisa nggak kayak gitu?” Darel berbalik menatap Hani yang dari tadi memperhatikan Darel.
“Lo gila ya? Two point aja gue nggak bisa apalagi three point.” Hani menatap kesal Darel.
“Itu sih lo nya aja yang nggak becus.” Darel berlari mengambil bola basket yang ada di bawah ring.
“Apa lo bilang.” Hani sedikit tersinggung dengan perkataan Darel karena walaupun Hani pintar tapi pasti ada saja yang Hani tidak bisa.
“Udah jangan banyak omong cepet lempar nih!” Darel melempar bolanya ke Hani.
Hani menangkap bola yang dilempar Darel. “Tapi kan gue nggak bisa.”
“Trus gunanya lo kesini buat apa sih?”
“Ya buat belajar main basket lah.”
“Nah tuh tau, ya udah cepet lempar!” Darel berjalan ke pinggir lapang dan duduk di sana.
“Oke oke.” Hani ingin jujur kalau Darel bukanlah pelatih basket yang bagus. Darel seperti memanfaatkan kesempatan ini untuk mengerjainya.
Hani bersiap-siap untuk melempar bola tapi ia sama sekali tidak berniat untuk memasukkannya ke dalam ring. Mau ia berniat untuk memasukkannya atau tidak juga hasilnya pasti tetep nggak masuk. Hani melempar bolanya asal dan tentu saja bolanya tidak masuk. “Gitu?” Hani melihat Darel yang juga melihatnya.
“Lo... Lo jangan asal-asalan dong! Kalo mau belajar three point tuh mesti konsentrasi. Aduh gimana cara ngajarinnya sih.” Darel menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
“Emangnya kapan lo ngajarin?”
“Kan tadi gue udah dikasih contoh.”
“Kalo contoh doang itu bukan ngajarin namanya.” Hani marah-marah kepada Darel karena sia-sia saja ia ikut dengan Darel jika ternyata Darel tidak pandai mengajari Basket.
“Ya suka-suka gue lah, kan gue pelatihnya.” Darel tidak mau kalah.
“Lo tuh emang ngeselin ya.”
“Iya emang.” Darel tersenyum melihat Hani marah. Baginya melihat Hani tertawa dan marah karenanya adalah suatu kesenangan tersendiri.
“Huh sini lo!” Perintah Darel.
Hani menghampiri Darel karena itu lebih baik dari pada harus bentak-bentak Darel lagi. Hanya buang-buang tenaga.
__ADS_1
Darel mengambil bola basket dan kembali lagi ke tengah lapangan. Darel berdiri dibelakang Hani dan membantu Hani untuk memegang bola basketnya dengan benar. Darel memegang tangan Hani yang sedang memegang bola dan membenarkan posisi tangan Hani.
“Arahin dulu ke kotak yang ada disana! Trus konsentrasi!” Darel menunjuk ke ring yang jaraknya lumayan jauh.
Awalnya Darel fokus pada ring, tapi kemudian ia sedikit melirik Hani yang juga sedang fokus ke ring. Karena jarak mereka yang dekat membuat Darel lama kelamaan menatap Hani. Darel tidak tahu rasa apa yang sedang ia rasakan sekarang. Intinya sekarang jantung Darel sedang berdegup kencang apalagi ketika ia menatap Hani. Darel hanya berdoa agar Hani tidak mendengar detak jantungnya yang seperti akan copot itu.
Darel tidak menyadari jika semakin lama ia menatap Hani, semakin ia mendekatkan wajahnya ke Hani.
Hani yang menyadari jika dirinya sedang diperhatikan, merasa risih. Hani menengok ke arah Darel dan terkejut mendapati Darel yang sedang menatapnya dengan jarak sedekat ini. Hani tidak dapat mengartikan tatapan Darel yang sekarang, sangat sulit ditebak.
Tak lama kemudian Hani sadar dan memalingkan wajahnya kembali ke depan. “Kalo ngajarin ya ngajarin aja kali. Nggak usah pake modus-modusan segala!” Hani menginjak kaki Darel dengan sangat keras.
Darel melepaskan tangannya yang sejak tadi memegang tangan Hani. Darel berjalan mundur sambil memegangi kakinya yang sakit. “Aaaa....Aaaa.” Darel meringis sambil melompat-lompat dengan sebelah kakinya.
Hani menutup mulutnya karena menahan tawa.
“Lo mau diajarin nggak sih?” Darel setengah membentak Hani sambil sesekali meringis.
“Lagian lo nya juga sih pake modus segala.” Hani menjawab Darel dengan wajah tanpa dosanya.
“Siapa yang modus?!” Darel berteriak dengan mukanya yang aneh.
“Tadi apa coba maksudnya liatin gue?”
“Ada nyamuk di kepala lo.”
“Alesan.”
“Dihh nggak percaya?”
“Nggak.”
“Terserah deh. Mau lanjutin nggak nih?” Darel berusaha mengubah topik nya. Darel berjalan ke pinggir lapangan dengan berjinjit dan kembali duduk disana.
“Ya iyalah.”
“Ya udah cepet masukin bolanya sendiri. Pokoknya kita nggak bakalan pulang sebelum lo masukin bolanya.” Darel mengambil handphone-nya dari dalam saku dan memainkannya.
“Yahh kok gitu sih?” Hani cemberut.
Darel tidak menjawab pertanyaan Hani dan tetap fokus pada handphone-nya.
Karena jengkel, Hani melempar bola basketnya dengan asal lagi. Tapi entah keberuntungan dari mana karena bola itu bisa masuk. Hani tidak percaya jika ia akhirnya bisa juga walaupun mungkin itu murni hanya keberuntungan.
“Masuk. Yeee... Rel lo liat nggak?” Hani meloncat-loncat kegirangan.
“Hmm? Mana? Gue nggak liat tuh.” Darel yang sejak tadi fokus pada handphone-nya melihat Hani dan bertanya dengan polos.
“Yahhh. Makanya jangan fokus sama HP dong!” Hani kecewa karena bola yang ia masukkan tidak terlihat oleh Darel.
“Ya ya.” Darel menjawabnya dengan malas.
Hani menghela nafas dan mengambil bolanya lalu kembali lagi ke tempatnya tadi. Hani melempar bolanya lagi tapi hasilnya tidak seperti yang tadi. Bolanya meleset bahkan sampai ke ring pun tidak.
“Yahh kok nggak masuk sih.”
“Nah kan nggak masuk.” Darel tertawa menang.
“Ini tuh gara-gara diliatin sama lo kali.”
“Pake nyalahin gue lagi.”
“Buktinya tadi pas lo nggak liat bolanya masuk.” Hani tidak mau kalah.
“Paling juga lo nya yang boong kan?”
“Nggak kok. Tadi beneran masuk.”
“Trus kenapa sekarang bolanya nggak masuk?”
“Emangnya harus masuk terus?”
“Ya mesti lah.”
“Au ah.” Hani kali ini menyerah dengan Darel yang sikapnya sangat keras kepala.
Hani mengambil bolanya lagi, ia tidak mau kalah bicara dengan Darel. Hani akan membuktikan jika tadi memang ia memasukkan bolanya. Kali ini Hani harus bisa memasukkan bola tersebut agar Darel mengakuinya.
Hani konsentrasi melihat ring yang ada di depannya. Hani melempar bola basket itu dengan sekuat tenaga setelah ia menemukan titik yang pas agar bolanya memantul ke dalam ring. Hani berhasil memasukkan bolanya. Hani sangat senang karena mungkin ia sudah mulai bisa bermain basket.
“Yuhuuu, nah kan masuk.” Hani berbalik melihat Darel dengan senyum kemenangannya.
“Yaelah baru juga satu.” Darel terlihat sangat acuh.
“Udah dua!”
“Satu!”
“Kan tadi diawal udah masuk.”
“Tapi kan gue nggak liat.”
“Dasar curang!” Hani berbalik lagi karena ia bosan terus menanggapi Darel. Hani tidak peduli dengan hitungan Darel yang penting sekarang Hani sudah cukup bisa bermain basket.
Hani terus melanjutkan bermain basketnya. Begitu juga dengan Darel yang terus mengajari Hani tanpa lelah. Darel mengajari Hani teknik-teknik dasar bermain basket agar Hani mengerti untuk kelanjutannya.
“Udah dulu deh, gue capek.” Hani melempar bola basketnya sembarang dan pergi ke pinggir lapangan untuk beristirahat disana.
•••
Tbc
*Maaf ya buat chapter 5 nya ke hps, aku ups chapter 5 nya setelah chapter 7 atau 8... Maaf sekali lagi
__ADS_1