
Dua tahun kemudian.
Victoria duduk di dekat jendela bus. Dia memandang keluar dengan ekspresi sedikit cemas.
Waktunya sangat terbatas, dia hanya berharap bisa tiba tepat waktu.
Hari ini adalah rapat tender yang sangat penting bagi perusahaan. Hasil proposal tender yang dia dan rekan lainnya kerjakan dengan susah payah akan diumumkan hari ini. Karena hidup dan mati perusahaan tergantung pada hal ini, jadi bos mereka sudah memberi pesan kepada semua orang untuk wajib hadir. Jika tidak, mereka akan langsung dipecat.
Namun, tidak peduli betapa mendesak dirinya, bus juga tetap harus dikemudikan dengan perlahan. Victoria hanya bisa menghitung waktu sambil bermain dengan ponsel di tangannya.
Tepat di saat itu, dia mendengar obrolan menggebu-gebu dari beberapa gadis yang duduk di belakangnya.
"Tuan Denny ... Tuan Denny adalah orang terkaya yang baru!"
"Cepat lihat! Daftar orang terkaya di dunia baru saja dirilis. Tuan Denny, si orang kaya misterius yang meningkat pesat tahun ini ternyata menduduki posisi pertama di daftar ini!"
"Sebelumnya, aku hanya pernah mendengar rumor bahwa ada orang kaya kelas dunia yang muncul di Indonesia dan nggak ada orang yang pernah melihat wajah aslinya. Sekarang, dia malah menduduki posisi pertama di daftar ini. Sungguh hebat sekali!"
"Intinya adalah dia sangat misterius dan nggak ada orang yang tahu bagaimana rupanya. Sepertinya orang beruntung yang pernah melihatnya juga hanya pernah melihat dirinya yang mengenakan topeng emas mahal yang menutupi setengah wajahnya. Tapi menurut perkataan orang-orang, meskipun hanya setengah wajahnya yang terlihat, wajah dan tubuhnya itu sudah cukup membuat orang ngiler."
"Kamu memang sudah ngiler ..."
"Dasar!"
"Tapi ada orang yang mengatakan bahwa pria tampan bertopeng itu hanyalah sosok pengganti yang dicari Tuan Denny, sedangkan Tuan Denny yang sebenarnya adalah orang gemuk yang tua dan jelek. Kalau dia benar-benar masih begitu muda, bagaimana mungkin dia bisa membangun reputasinya sebagai raja di dunia bisnis dalam waktu yang begitu singkat ..."
"Aku nggak mendengarnya ... aku nggak mendengarnya ... Pujaanku itu pasti adalah orang paling tampan di dunia ini!"
…
Victoria yang sedang mencemaskan urusan perusahaan juga ikut mendengarkan diskusi yang melewati telinganya itu.
Dia sudah pernah mendengar tentang pria kaya misterius itu sebelumnya. Orang itu dapat disebut sebagai tokoh yang paling menggemparkan di seluruh Indonesia bahkan seluruh dunia dalam satu tahun terakhir ini. Hampir semua majalah bisnis dan berita utama akan memberitakan tentang pria itu dari waktu ke waktu. Meskipun dia sangat jarang menunjukkan wajahnya, media-media itu juga merasa bangga dapat menangkap jejak-jejak pria misterius itu.
Hanya sedikit orang yang pernah melihat rupanya dan bahkan lebih sedikit lagi orang yang mengetahui namanya. Berita, majalah dan masyarakat kalangan atas hanya berani menyebutnya dengan Tuan Denny.
Meskipun Victoria tidak ingin mengikuti berita tentang pria misterius itu, ada banyak penggemar super yang menyukainya di perusahaan Victoria. Jadi, sangat sulit bagi Victoria untuk mengabaikannya.
Dia menghela napas.
Tidak peduli betapa kaya pria itu, uangnya juga hanya miliknya sendiri. Bagaimanapun juga, hanya orang yang berada di puncak piramida yang bisa dihormati oleh semua orang. Tokoh kecil seperti dirinya sebaiknya melangkah maju dengan kerja keras sendiri. Lagi pula, jarak dirinya dengan tokoh besar seperti itu juga sangat jauh.
Jalanan di kota dipenuhi dengan pekerja kantor yang berjalan dengan langkah kaki cepat. Victoria buru-buru turun dari bus dan berjalan cepat di dalam kerumunan orang dengan keringat di dahinya.
__ADS_1
Hari ini, dia memakai baju terusan berwarna biru langit yang membentuk pinggang. Pinggangnya yang ramping beserta wajahnya yang manis ditambah dengan warna baju terusan ini membuatnya terlihat lebih cerah dan lincah.
Rambut panjangnya yang halus bagaikan sutra diikat menjadi kuncir kuda yang rapi dan membuatnya terlihat penuh dengan semangat. Hanya saja, ekspresinya saat ini masih terlihat cemas.
Bola matanya yang besar terlihat panik dan tidak berhenti melirik jam tangannya. Saat dia sudah tiba di depan clubhouse yang elit, dia baru bisa menghela napas lega. Kemudian, dia langsung bergegas menuju lantai tiga.
Hari ini, dia tidak bisa tiba lebih awal karena tertunda oleh beberapa urusan sehingga waktunya menjadi sangat terbatas. Namun untungnya, dia masih bisa tiba tepat waktu.
Setelah sampai di lantai tiga, Victoria merapikan penampilannya dengan hati-hati. Kemudian, dia melangkah masuk ke dalam ruang konferensi rapat tender.
Akan tetapi, dia tercengang setelah membuka pintu ruangan itu.
Kenapa ruang konferensi yang besar itu kosong melompong tanpa ada satu orang pun?
Victoria mengedipkan matanya dan menyapu ruangan itu dengan pandangan yang aneh.
Dia mengeluarkan ponselnya untuk mengkonfirmasi ulang alamatnya.
Tidak salah, lokasinya memang di sini.
Ada seorang pelayan yang kebetulan lewat, jadi dia buru-buru menghentikannya.
"Halo, bukankah akan ada rapat tender yang akan diadakan di ruangan ini?"
Pelayan wanita itu berjalan ke arah Victoria. Dia tersenyum dengan sopan, lalu berkata, "Benar, acaranya akan dimulai sekitar dua jam lagi. Harap tunggu sebentar."
Victoria tercengang.
Setelah menyampaikan hal itu, pelayan itu pun langsung pergi sebelum Victoria sadar dari keterkejutannya. Namun saat pelayan itu membalikkan badannya, dia tiba-tiba menangkap ada sedikit penghindaran dari pelayan itu.
Victoria tiba-tiba menjadi waspada.
Dia kepikiran situasi para rekan kerja yang sedang bersaing secara diam-diam dan terbuka akhir-akhir ini. Setelah berpikir sambil mengerutkan dahi, dia pun mengeluarkan ponselnya.
"Lara, apakah kamu sudah sampai di clubhouse? Aku sudah sampai."
"Hah? Oh ... aku ... aku ... aku juga sudah sampai."
"Kamu ada di mana? Dalam perjalanan datang tadi, aku sekalian membeli kue sus favoritmu dari toko yang kamu suka itu."
"Benarkah? Baguslah! Aku sekarang sedang berada di ruang resepsi lantai tujuh di Era Club. Kami sedang mempersiapkan ..."
Suara Lara tiba-tiba terhenti karena dia sudah menyadari apa yang dia katakan.
__ADS_1
Nada Victoria juga berubah menjadi dingin, "Lara, kamu adalah satu-satunya kolega yang memiliki hubungan baik denganku di dalam perusahaan. Ternyata kamu juga mengkhianatiku? Era Club? Kenapa informasi yang aku terima adalah clubhouse lain?"
Suara Lara di telepon terdengar penuh keraguan. Namun setelah beberapa detik kemudian, sepertinya dia memantapkan hatinya dan berkata dengan suara rendah, "Jangan salahkan aku, Victoria, aku juga terpaksa. Kamu baru bekerja nggak lama di perusahaan tetapi sudah menunjukkan hasil yang luar biasa. Para karyawan lama nggak dapat menerima keunggulanmu, jadi mereka sama-sama memikirkan cara untuk mendekapmu."
Victoria menekan amarahnya. Keunggulannya itu bukanlah bawaan lahir, melainkan hasil kerja keras dan begadang setiap hari.
Dia tidak mempunyai latar belakang ataupun koneksi dan hanya mengandalkan dirinya sendiri, tetapi ada juga orang yang memusuhinya?
"Lara, aku sangat keras kepala dan akan terus bertarung sampai akhir. Kalau kamu nggak ingin mencari masalah denganku, beri tahu aku alamat lengkapnya!"
Terutama dalam dua tahun terakhir ini, Victoria merasa dirinya sudah banyak berubah. Saat ini, sifatnya sudah sangat berbeda dari sifat nona keluarga kaya yang tumbuh di menara gading seperti dulu.
Hal ini sangat bagus. Dia menjadi lebih fleksibel dan tahu cara untuk melindungi dirinya sendiri.
Lara lagi-lagi ragu sejenak. Kemudian dia membuka suara setelah beberapa saat.
"Era Club di Kota Bandung."
Hati Victoria langsung tenggelam.
Kota Bandung?
Ternyata rapat tender itu diadakan di kota tetangga!
Lara merasa bersalah, "Meskipun kamu mungkin terlambat, masih ada waktu dua jam sebelum rapat tender dimulai. Victoria, cepatlah datang!"
Victoria sudah tidak mempunyai waktu untuk menjawab dan langsung berlari keluar dengan cepat.
Sebelum berjuang sampai akhir, dia tidak akan menyerah dan mengaku kalah.
Satu jam kemudian, di jalan tol dari Jakarta ke Bandung.
Victoria duduk di kursi belakang taksi dan memandang ke luar jendela. Wajahnya terlihat sangat putus asa.
Kenapa! Dia sudah dengan berat hati membayar uang untuk naik taksi, tetapi malah terjebak macet di jalan tol!
Tidak tahu ada apa hari ini! Kemacetan di jalan tol berlangsung sangat lama dan dia sudah terjebak selama dua puluh menit!
Jika terus menunggu, dia akan dipecat dari perusahaan!
Berdasarkan apa! Dia tidak terima!
Victoria menjulurkan kepalanya keluar dari jendela taksi, lalu menopang tubuhnya dan melihat ke kanan kiri untuk mencari jalan keluar.
__ADS_1
Kemudian, dia benar-benar menemukannya.
Hati Victoria bergetar. Ada sebuah ide yang melintas di benaknya, lalu dia pun buru-buru turun dari mobil.