Pacar Pungutku Rupanya Bos Global

Pacar Pungutku Rupanya Bos Global
Bab 8 Cepat Pergi!


__ADS_3

Erick yang biasanya terlihat bodoh, saat ini seluruh tubuhnya tiba-tiba memancarkan aura yang mengerikan, terutama sepasang matanya itu. Saat ini sepasang matanya penuh dengan rasa kejam dan mengerikan seperti serigala.


"Ka ... kamu ..."  Manajer ketakutan sampai melawan, tapi Erick seperti kerasukan. Dia menatap manajer itu dengan kejam, sehingga membuat orang merasa takut!


Ketika terdengar suara patah tulang lagi, Victoria segera berjalan ke depan. "Lepaskan! Lepaskan!"


Seluruh otot di tubuh Erick terlihat, kekuatan di tangannya juga tidak berkurang.


Victoria pun panik. "Lepaskan! Erick! Kalau nggak lepaskan, aku nggak mau kamu lagi!"


Dia asal mengancamnya.


Nggak disangka ancaman ini berguna, Erick tercengang, kemudian terdiam beberapa detik. Lalu, dia melepaskan tangan manajer itu.


Manajer berhasil menarik balik tangannya, lalu memeluk lengan sendiri dengan ekspresi kesakitan.


Victoria menarik Erick yang sudah tenang ke belakangnya, lalu menatap dingin manajer itu. "Apa kamu masih nggak mau pergi?"


"Kamu!!!" Manajer merasa sakit, pada saat yang sama wajahnya juga sangat masam karena marah. "Victoria! Kamu masih anak buahku, jangan lupa aku bisa memecatmu dengan satu kataku saja!"


"Terserah kamu!" Victoria melindungi Erick seperti induk ayam yang melindungi anak ayamnya. Meskipun dia ramping, tapi tinggi badan dia dengan Erick berbeda jauh.


Pada saat ini, matanya yang jernih penuh dengan amarah dan memelototi manajer itu. "Kejadian hari ini memang harus kamu dapatkan, kelak kita nggak akan bertemu lagi. Sekalian aku kasih tahu kamu untuk jangan bernapas banyak sekali, kalau nggak akan membuang-buang oksigen ini!"

__ADS_1


Manajer nggak tahu Victoria yang biasanya patuh dan diam, saat ini berubah menjadi pandai bicara. Di saat wajahnya terlihat sangat masam, dia merasa dirinya tidak bisa melawannya.


"Baik! Tunggu saja kamu!" Selesai berbicara, manajer itu pulang dengan marah!


Emosi Victoria belum mereda, dia terus berteriak dari belakang manajer itu, "Meskipun aku masih ingin bekerja di sana, aku juga akan merasa jijik."


Setelah manajer itu pergi, Victoria baru menenangkan diri.


"Orang macam apa sih, perusahaan apa sih, aku nggak ingin bekerja di sana lagi."


Selesai berbicara, Victoria mulai sakit hati pada gajinya. Bagaimanapun juga, hari pembagian gaji bulanan sudah mau dekat, sedangkan dia malah berkonflik dengan manajer, dia pasti tidak akan mendapatkan gaji lagi.


Victoria mengerucutkan bibir, lalu menoleh kepala dengan kesal.


Sepasang matanya menatap Victoria, meskipun dia tidak bergerak, Victoria dapat melihat sesuatu dari matanya ... itu rasa mengeluh? Benci? Sedih?


Tatapan apaan sih?


Sebelum dia melihat dengan cermat, Erick tiba-tiba masuk ke dalam dengan ekspresi cemberut.


Victoria baru sadar, lalu buru-buru masuk ke dalam.


Setelah masuk ke dalam, Victoria melihat Erick masuk ke kamarnya sendiri, bahkan menutup pintu tanpa menolehkan kepala.

__ADS_1


Victoria merasa bingung, jadi berjalan ke depan kamarnya.


"Erick, kenapa kamu?"


"Bukankah kamu sudah lapar? Aku buatkan kamu makanan, ya?"


Tidak ada suara dari dalam.


Victoria mengerutkan bibirnya. "Ini nasi goreng kesukaanmu, loh."


Masih saja tidak ada suara.


Ini pertama kalinya Victoria melihat Erick bersikap begini.


Sebulan ini, Erick patuh seperti anak kecil, bahkan membiarkan dia berbuat apa pun, dia akan menurut dan jarang berbicara.


Kecuali ketika dia sedang mandi, dia tidak akan membiarkan Victoria masuk ke kamar mandi. Dia akan mandi dengan asal, rambutnya juga sering basah ketika dia keluar.


Tapi, Erick yang hari ini berbeda dengan sebelumnya.


Setidaknya ekspresinya berubah menjadi banyak.


Victoria berjalan bolak-balik di depan kamarnya sambil memikirkan apa yang baru saja terjadi dan apa yang dirinya katakan tadi ...

__ADS_1


Tiba-tiba dia mengerti sesuatu ...


__ADS_2