
"E ... Erick ... di mana kamu ..."
"Hei ... keluarlah kalau kamu dengar ..."
Victoria sangat panik. "Apa kamu bodoh?! Apa kamu nggak lihat danau besar ini? Apa kamu nggak tahu sangat berbahaya? Apa kamu jatuh ke dalam?! Erick, E ..."
Tiba-tiba suara berhenti.
Victoria melihat ke satu tempat.
Di sebuah paviliun di sisi kiri danau buatan, dia samar-samar melihat seseorang.
Victoria segera berlari ke sana.
Ketika dia sampai di depan, dia pun menghela napas lega.
Di paviliun, Erick yang basah duduk di satu sudut dengan patuh, ketika melihat Victoria datang, dia menengadahkan kepala untuk melihatnya.
Sepasang matanya tidak ada gejolak apa pun, hanya terlihat sangat tenang, tapi lebih banyak adalah rasa bingung dan linglung.
Saat ini, Victoria baru menghela napas lega.
Lalu, Victoria tersenyum. "Tampaknya kamu juga nggak bodoh sekali ..."
Dia duduk di samping dengan tenang, lalu sekarang dia baru mulai mengatur pernapasannya.
Victoria memelintir tetesan air di rambutnya yang panjang, sambil menatap Erick.
"Aneh sekali, menurutmu kenapa aku begitu gugup?"
Air menetes ke tanah.
__ADS_1
Tangan Victoria yang menyeka rambut pun berhenti. Entah apa yang dia pikirkan, kemudian dia berdiri di sana sebentar, lalu berjalan kemari dengan tenang.
Dia duduk di samping Erick, lalu menatap Erick yang sedang menatap ke satu arah.
Victoria menggigit bibirnya, kemudian berkata dengan suara kecil. "Aku seharusnya tahu kenapa aku datang kemari, karena ... merasa bersalah padamu."
"Semalam, nggak hanya ada video, aku juga sudah mengingatnya dengan cermat, seolah-olah juga ada ingatan akan hal itu ..."
Hati Victoria sangat kacau, saat ini dia melihat Erick, lalu merasa dirinya sangat kejam.
Bagaimana bisa dia memperlakukan pria yang IQ-nya di bawah anak 3 tahun.
"Tak peduli itu karena aku diracuni atau alasan lain, aku seharusnya nggak boleh menindasmu, Erick."
Tiba-tiba mata Victoria memerah.
Dia menghela napas sambil melihat hujan. "Lihatlah, sekarang kita berada dalam situasi yang sama."
Di tengah hujan ini, di dalam paviliun ini. Saat ini, mereka seolah-olah saling bergantungan.
Erick sangat tampan.
Sungguh tampan.
Rupanya terlihat sangat jelas, juga sangat tampan dan elegan. Setiap bagiannya sangat tepat, bisa dikatakan orang tertampan di dunia ini. Dia belum pernah melihat orang yang lebih tampan darinya.
Tapi, orang seperti ini tidak memiliki nasib yang baik.
Victoria menggigit bibirnya yang pucat.
Bagaimanapun juga, malam ini dia melihatnya diusir dari rumah, mungkin ini adalah takdir.
__ADS_1
Di dalam paviliun sangat tenang.
Erick patuh seperti biasa, juga tidak bergerak. Kalau bukan karena pupil matanya berputar dari waktu ke waktu, dia benar-benar seperti patung.
Victoria menatapnya sangat lama.
Entah sudah berlalu berapa lama, akhirnya Victoria mengambil keputusan dan memutuskan.
Dia berdiri sambil menarik napas dalam, tahu dirinya kelak akan sangat sulit.
Tapi, tidak apa-apa.
Tatapannya terlihat dingin, tapi dia malah tersenyum.
Victoria mengulurkan tangannya ke arah Erick. "Kemarilah."
Erick mengalihkan pandangannya, lalu dia menatap Victoria yang mengulurkan tangan dengan perlahan.
Victoria menunggunya dengan sabar, dia menggunakan tatapan yang lembut dan jernih menatap Erick dengan serius.
Setelah lewat satu menit, Erick yang tampaknya ingin duduk selamanya, tiba-tiba berdiri dengan pelan.
Dia menatap Victoria dengan mata jernih, kemudian ... dia mengulurkan tangannya pada Victoria.
Tiba-tiba dalam hati Victoria merasa kasihan.
Akhirnya dia tersenyum lega.
"Karena situasi sudah kacau seperti ini, kita hanya bisa menerimanya saja."
Dia menggenggam balik tangan Erick.
__ADS_1
"Karena aku telah berbuat tidak senonoh padamu, kelak aku akan merawatmu, Erick."